
Pagi ini jadwal keberangkatan Gio ke Indonesia, bukan tanpa alasan Genta mengirim putranya kembali ke Tanah Air, karena ada masalah urgent yang mengharuskan petinggi perusahaan turun tangan.
Ayanda hanya menatap sang mentari yang sedikit demi sedikit mulai menampakkan sinarnya. Udara segar dan hangatnya matahari bisa ia rasakan. Namun, hatinya muram dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan dan juga keceriaan. Setelah sang suami mengkhianatinya, sang putri terbaring koma belum sadarkan diri hingga saat ini, dan hari ini sang sahabat sekaligus kakak baginya akan pergi juga meninggalkannya sendiri. Tidak ada lagi alasan untuknya menjadi kuat sekarang ini.
Seseorang melangkahkan kakinya pelan, mendekatinya tanpa suara. Ia memeluk tubuh Ayanda dari belakang. Wangi maskulin yang sedikit strong membuat Ayanda tak segan menyenderkan bahunya ke dada bidang lelaki itu.
Gio memeluknya sangat erat seolah tak ingin pisah dengan wanita yang sangat ia cintai. Lama mereka berada dalam posisi itu hingga Ayanda membalikkan badannya. Menatap Gio dengan tatapan sendu.
"Aku sekarang sendiri disini, tanpa kamu," lirihnya.
Gio tak kuasa menatap mata merah Ayanda yang menahan tangis, ia memeluk Ayanda dengan begitu erat.
"Masih ada aku dan ayah yang selalu ada buat kamu Yank, kami gak kemana mana," ucapnya memastikan.
Tak sanggup Ayanda menahan air matanya, akhirnya kesedihan yang ia rasakan tumpah ruah bersama air mata yang mengalir deras.
"Aku gak bisa tanpa kamu disini, aku gak bisa Gi. Kamu adalah penguat aku, tanpa kamu aku lemah," timpalnya dengan suara yang sangat berat.
Gio melonggarkan pelukannya, menangkup wajah Ayanda yang penuh dengan air mata. Ia menghapus semua air mata yang membasahi wajah Ayanda dan mencium keningnya dalam.
"Kamu wanita hebat Yank, kamu harus berjuang demi Echa. Aku yakin kamu sangat bisa," ucapnya setelah melepaskan kecupan pada kening Ayanda.
Ayanda terus memeluk erat tubuh Gio seolah tak membolehkan Gio pergi meninggalkannya, disaat kondisinya sedang rapuh rapuhnya.
Ayah Genta yang baru masuk ke ruangan Echa dan melihat pemandangan seperti itu hatinya sedikit meringis, teringat akan kemanjaan Giandra pada sang kakak Giondra.
Hampir semua yang ada pada diri Giandra ada pada Ayanda. Itulah alasan ayah menyukaimu dan tidak menyetujui Giondra menikahimu. Hampanya hati ayah terobati dengan kedatanganmu dikeluargaku dan memberi keluargaku warna dengan kehadiran cucu tersayangku.
"Gio tidak akan lama kok pergi ke Indonesianya, hanya mengurus kekacauan sedikit disana," ujar Ayah Genta, membuat Ayanda melepaskan pelukannya dengan wajah memerah.
Gio yang melihat perubahan wajah Ayanda, tersenyum sumringah, dan kembali memeluk Ayanda. Ayanda mencoba memberontak namun tenaganya tidak sanggup menyaingi tenaga Gio.
"Jakarta Singapura paling lama dua jam kok, aku pasti akan segera terbang jika kau memintaku. Benarkan Ayah," tanyanya pada sang ayah.
"Tentu saja, demi anak perempuan Ayah semuanya akan Ayah lakukan dan korbankan," dengan senyuman yang melengkung sempurna diwajah renta sang Ayah.
"Menantu ayah! Bukan anak," jelas Gio.
"Anak! Bukan menantu, dia itu adikmu Giondra," tegas sang ayah.
"Ayank calon istriku Ayah," balas Gio tak mau kalah.
Ayanda yang mendengar perdebatan sengit antara ayah dan anak mencoba melerainya dengan berlari ke arah sang Ayah dan memeluknya erat.
"Aku anak ayah, kan. bukan menantu," katanya.
"Iya sayang, kamu putri Ayah," sahutnya sedikit meledek kearah Gio.
Gio memasang wajah dibuat cemberut, seakan tidak suka. Sang Ayah hanya tertawa dan merangkul putranya, "kalian adalah putra putri Ayah, kebanggan Ayah." Membuat Ayanda melupakan sedihnya dengan berada dikeluarga hangat seperti ini yang selalu ada disaat anggota keluarga lain membutuhkan.
Gio berpamitan kepada Ayanda karena jam keberangkatannya sudah tiba. Sedangkan sang Ayah sudah menunggunya di dalam mobil.
"Jaga diri kamu baik baik, aku gak mau kalo ngedenger kamu juga sakit. Berjuanglah demi kesembuhan Echa," menangkup wajah Ayanda yang dipenuhi kesedihan dan kepedihan.
Ayanda tak bisa berkata apa apa, sesungguhnya hatinya sekarang ini sangat rapuh karena satu per satu orang yang menyayanginya pergi perlahan lahan.
__ADS_1
"Jangan nangis!" tukas Gio.
Ayanda langsung memeluk erat tubuh Gio, Gio pun membalas pelukannya.
"Hati hati!" hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya, membuat Gio tersenyum tipis.
Gio pun pergi meninggalkan Ayanda seorang diri. Sebenarnya tidak sendiri, banyak pengawal yang menjaganya dan masih ada ayahnya. Namun, Ayanda lebih merasa nyaman jika bersama Gio.
Maafkan aku Ayank karena telah merahasiakan ini. Aku hanya ingin melihat senyum tulusmu, bukan senyum palsu yang selama ini kamu tunjukkan.
Gio masuk ke dalam mobil, disana sudah Aya Ayah Genta menunggu.
"Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa basa basi.
Gio hanya menghela nafas berat, dan mencoba menceritakannya.
#flashback on
Semalam Dokter Lie, Dokter yang menangani Echa mengajaknya bertemu diluar Rumah Sakit. Setelah sampai di cafe yang ditentukan oleh Dokter Lie, ia langsung membuka suara.
"Kondisi Elthasya sudah semakin melemah, dan saya menyerah," ungkap Dokter Lie yang membuat jantung Gio berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Gio mengerti apa yang dimaksud oleh Dokter Lie, tapi ia tidak mau melihat Ayanda semakin terpuruk. Kejadian ini pun sudah menjadi kejadian sangat luar biasa dalam hidupnya.
"Jangan dilepaskan dulu, biarkanlah begitu dulu. Kita tunggu hingga satu Minggu kedepan. Jika tidak ada perubahan baru Dokter bisa melepaskan semua alat dari tubuhnya. Dokter hanya boleh mengikuti perkataan saya. Berapapun yang Dokter minta akan saya berikan, tapi tolong selamatkan Echa," imbuhnya.
Dokter Lie hanya bisa mematuhi perintah Gio sekarang, karena ia adalah dokter yang sengaja didatangkan dari Jepang khusus untuk menangani Echa.
Setelah mendengar kenyataan pahit tentang Echa, hati Gio sangat sakit. Terlebih jika Ayanda tau tentang kebenaran ini. Mungkin ia juga akan memilih mati bersama anaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk merahasiakan ini semua dari Ayanda, semoga ada keajaiban yang akan menyadarkan Echa.
"Jaga Ayank untuk Gi, Yah," kata Gio.
"Ayah pasti akan selalu menjaga keduanya, fokus dengan pekerjaanmu agar kamu bisa kembali lagi kesini," tukas sang Ayah.
Gio pun berangkat ke landasan, sudah waktunya ia kembali lagi ke Indonesia.
*****
Rion memasuki ruangannya dengan wajah yang sangat lecek dan lusuh seperti pakaian gak pernah disetrika.
"Muka lu pengen gua tampol, ngeselin banget sumpah!" tegas Arya pada Rion.
Rion hanya melirik tajam tanpa menghiraukannya. Duduk di kursi kebesarannya sambil memijat mijat keningnya yang sedikit pusing karena menangis semalam.
"Apa lu tau kabar istri dan anak gua?" tanyanya.
Arya hanya melirikkan matanya malas, "nggak," jawabnya sangat singkat membuat Rion mulai geram. Ia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar.
"Mau kemana lu?" teriak Arya.
"Rumah Sakit," tukasnya.
Membuat Arya berlari menyusul sang Boss Dan meninggalkan semua pekerjaannya. Rion sudah masuk kedalam mobil dulu, diikuti oleh Arya yang sudah duduk manis dikursi penumpang dengan nafas yang tersengal-sengal. Rion mengernyitkan dahinya dan menatapnya tajam.
"Gak usah segitunya juga kakak bro, gua cuma mau ketemu si gundul gundul botak aja," sahutnya santai seperti tak ada beban.
__ADS_1
"Kok lu tau gua mau ketemu tuh bocah," ujarnya.
"Lu amnesia ya, kan tadi lu bilang mau ke Rumah Sakit. Terus mau ngapain lagi kalo bukan ketemu piaraan lu itu," balasnya.
Mereka pun menuju Rumah Sakit. Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta. Sesampainya di Rumah Sakit mereka menuju ke ruang perawatan Raska.
Arya tersenyum tipis melihat Dokter Erlan, wanita gila dan si gundul di kamar itu.
"Kayaknya ada keluarga kecil bahagia nih," sindirnya kepada ketiga manusia itu. Rion hanya tersenyum tipis mendengar celetukan sahabatnya itu.
"Tadi saya kebetulan lewat habis dari kantin, dan membawakan ini untuk Raska," ungkapnya sedikit gugup dengan menunjukkan sebotol susu.
"Gak nanya," jawab Arya yang fokus dengan ponsel ditangannya. Dokter Erlan sedikit geram dengan tingkah konyol Arya.
"Ayah, aku kira Ayah udah gak mau lagi ketemu sama aku," lirihnya. Seperti biasa mulut Rion terkunci rapat jika diajak bicara oleh bocah itu.
"Eh botak," panggil Arya. Raska hanya meliriknya tak suka.
"Eh iya gundul!" sapanya dan membuat Raska geram.
"Raska om!" teriaknya, membuat Arya terkekeh geli.
"Bodolah siapalah nama lu gak penting buat gua, ngapain lu masih nyari ayah lu sih? Kan lu udah punya Papa," seru Arya. Membuat dokter Erlan melirikkan matanya kepada Dinda.
Rion sedikit terkejut dengan ucapan Arya. Ia mulai menerka nerka ucapan dari sahabatnya ini.
"Papa Dokter," jelasnya. Membuat dokter Erlan merasa salah tingkah. Wajah Dinda pun sudah mulai pias mendengar ucapan dari Arya dan jawaban dari putra.
"Sudah nak, lanjutkan makanmu!" perintahnya kepada Raska yang membuat Arya tersenyum tipis.
Baru gua sentil sedikit aja lu udah kebakaran jenggot. batinnya.
"Ayah mau kan menikah dengan Ibu?" pertanyaaan yang sama dilontarkan lagi oleh Raska.
"Udah lu ceraikan si Yanda, lu nikah noh sama kecoak centil," ucap Arya kepada Rion. Namun ucapannya tak disukai oleh Dinda karena mengatainya kecoak centil.
"Maksud lu apa? Manggil gua kecoak centil," tanyanya penuh dengan emosi.
"Lu ngerasa kayak kecoak? Serangga pengganggu ketentraman manusia, iya? Kalo gak merasa mah selow aja neng, selow gak usah pake urat," dijawab santai oleh Arya.
Dinda semakin greget kepada Arya, ingin rasanya mencabik cabik dan mencakar cakar wajah Arya. Arya hanya mendelikan matanya, dengan tatapan menantang secara dingin.
Jarang jarang nih gua bermain main sama keluarga demit, iblis sama anak tuyul, gumamnya.
*****
Hay, aku up lagi,
Hari ini tadinya gak mau up karena badan aku lagi kurang fit, tapi karena views AIR MATA AYANDA naik tak terkira dan pembacanya mulai banyak jadi aku paksakan untuk up,
Terus baca dan mampir ke cerita aku ya sayang, jangan lupa tinggalkan jejaknya like, comment and vote biar aku makin semangat nulisnya.
Maaf kalo tulisanku saat ini sedikit hambar ya🙏
Happy reading semua,,
__ADS_1