
"Rion, aku sangat merindukanmu," ucap Dinda dan langsung memeluk tubuh Rion. Rion hanya mematung saking terkejutnya.
Setelah membeli minuman Ayanda bergegas kembali ke kursi di mana Rion berada. Apa yang Ayanda lihat, suaminya sedang dipeluk oleh wanita lain dan ia memicingkan mata untuk menajamkan penglihatannya kepada sosok wanita itu. Sontak minuman yang dipegangnya terjatuh dari tangannya.
"Dinda!" ucapnya terkejut. Seketika badannya mulai lemah, hatinya terasa sesak dan sakit, air matanya seolah ingin terjun bebas dari mata teduhnya.
"Lepaskan!!" bentak Rion dan mendorong tubuh Dinda hingga tersungkur.
"Jangan pernah kamu ganggu hidupku lagi," seru Rion penuh dengan penekanan dan emosi.
Rion pun meninggalkan Dinda yang sudah tersungkur dan sedang menangis, namun ia sama sekali tak peduli. Ketika ia berbalik dan akan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, ternyata istrinya sudah ada di jarak lima meter dari tempat ia berada. Tatapannya menyiratkan luka yang kembali lagi. Rion bergegas berlari menghampiri istrinya yang sedang mematung dengan tatapan tak terbaca.
"Sayang," panggilnya lalu berhambur memeluk tubuh Ayanda dan menciumi puncak kepalanya.
"Aku akan jelasin semuanya ke kamu, dan ini semua tidak seperti yang kamu duga," ujarnya meyakinkan Ayanda.
Mereka pun akhirnya pergi dan meninggalkan Dinda seorang diri yang sedang menangis karena perlakuan Rion.
Jadi kamu kembali lagi ke istrimu, gumamnya.
Di Mobil hanya deru mesin yang bersuara, tidak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulut Ayanda maupun Rion. Rion melihat Ayanda yang diam dengan tatapan tak terbacanya hanya bisa terus menggenggam tangan Ayanda dan sesekali menciumnya.
Maafkan aku sayang, aku yang telah membuat kamu terluka. Hingga kamu tidak pernah bisa sembuh dari luka yang pernah aku buat, gumamnya sambil mencium tangan Ayanda.
Sesampainya di rumah, Rion memapah tubuh Ayanda menuju kamarnya.
"Loh Mamah kenapa?" tanya Echa yang baru keluar dari kamarnya.
"Jangan ganggu Mamah dulu ya dek," ucap Rion lembut.
Echa menganggukkan kepalanya, Echa tau pasti telah terjadi sesuatu antara mamah dan ayahnya tapi Echa tidak mau ambil pusing, wajar jika suami istri bertengkar bumbu dalam rumah tangga. Yang terpenting mereka bisa menyelesaikan permasalahannya dan nanti juga mereka kembali akur lagi. Begitulah pemikiran sederhana Echa.
Di kamar Rion membaringkan tubuh Ayanda.
"Kamu mau minum?" tanya Rion.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Rion hanya bisa menarik nafas dalam saat ini, membiarkan Ayanda sendiri dulu mungkin akan lebih baik. Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan badannya.
__ADS_1
Ketika Rion masuk ke dalam kamar mandi Ayanda beranjak dari tempat tidurnya. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar atas.
Di kamar atas ia berdiri di depan jendela, pikirannya melayang-layang akan luka masa lalunya. Luka yang perlahan-lahan sudah sembuh kini menganga kembali. Betapa sakit dan perihnya yang ia rasakan kini, merasakan luka namun tak berdarah. Mendengar namanya saja sudah seperti kata keramat apalagi melihat wajahnya, yang terlintas hanya kejadian menyakitkan dan menyedihkan yang membuat ia sangat hancur.
Air Mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tak mampu lagi untuk di bendung. Betapa derasnya air mata yang mengalir di pipinya. Dadanya pun terasa sesak karena rasa sakit masa lalunya.
Jika wanita sudah disakiti, pasti tidak akan pernah lupa dengan rasa sakit itu apalagi sakit yang meninggalkan goresan luka yang dalam, mungkin bisa sembuh tapi tidak akan sepenuhnya sembuh.
Rion keluar dari kamar mandi tapi ia tidak melihat istrinya di tempat tidur. Ia segera memakai baju dan bergegas mencari istrinya.
"Mbak, liat Ibu?"
"Di kamar atas Pak," Rion pun langsung berlari menuju kamar atas
Ada apa dengan Ibu dan Bapak? gumam Mbak Ina.
Rion perlahan membuka pintu, Ia melihat wanitanya sedang berdiri dengan kepala yang menunduk dengan punggung yang bergetar. Ia sangat merasakan kesakitan yang wanitanya rasakan sekarang. Ia pun langsung berhambur memeluk wanitanya dari belakang, dan membalikkannya agar menangis di dadanya. Ayanda tak bisa menahannya, ia pun menangis dalam dekapan Rion.
"Aku tau kesakitanmu, aku juga merasakannya. Maafkan aku yang telah memberimu luka, dan maafkan aku yang tidak akan pernah bisa menyembuhkan lukamu itu, maafkan aku," ujarnya sambil mengecup kepala Ayanda, tak disangka air mata Rion pun terjatuh.
"Aku sangat terluka melihatmu menangis seperti ini, hatiku sakit dan hancur melihat air matamu jatuh lagi karena kesalahanku," jelasnya.
Rion mulai membuka suara "Sayang, tadi aku ...." ucapannya langsung dipotong oleh pelukan erat Ayanda.
"Aku tidak ingin kamu membahas wanita itu lagi, aku tau kamu sangat membencinya aku tau itu," jawabnya dengan terus menangis memeluk Rion.
"Hanya kata maaf yang mampu aku ucapkan, karena sudah terlalu banyak kesalahanku yang menyakitimu dan mungkin tidak akan pernah termaafkan olehmu," ujarnya dengan mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah memaafkanmu," balas Ayanda dalam pelukan Rion dan masih meneteskan air mata.
******
Di villa
"Akhirnya bisa kesini lagi, sejuk banget," ucapnya sambil menghirup udara sore yang segar.
"Boss, Apa kita akan tinggal di villa ini selama kita disini?" tanya asistennya
__ADS_1
"Kita lihat nanti, aku ingin disini dulu untuk beberapa hari ke depan."
"Baiklah," ia hanya bisa mengikuti perintah Bossnya.
Ia pun berkeliling villa melihat sudut demi sudut villa yang telah lama tidak ia tempati. Ia berjalan ke taman belakang, masih dengan suasana sejuk, masih banyak bunga karena selalu diurus dengan sangat baik oleh penjaga villa. Ia merasa sangat nyaman berada disini dan ia pun duduk di kursi panjang taman.
"Sejuknya," monolgnya sambil memejamkan matal dan bersandar dikursi. Tiba-t0iba bayangan wajahnya hadir lagi di pikirannya.
Dimana sekarang kamu Ayank?
Masihkah kamu ingat denganku?
Ini tempat kesukaanmu, kan?
Taman dan udara sejuk jauh dari hingar bingar, apakah kamu sering kesini? Atau kamu sudah lupa dengan tempat seperti ini karena kamu sudah bahagia di sana? Di sini aku hanya manusia bodoh yang selalu merindukanmu dan mengharapkanmu, meskipun aku tau kamu sudah memilihnya dan hidup bersamanya lagi. Kamu tau, entah kenapa rasa ini sulit sekali hilang dan posisi dirimu di hatiku masih tetap sama, masih nomor satu. Maafkan aku yang tidak bisa berpaling dan move on darimu karena dirimu terlalu berarti bagiku. Dirimu lah yang mengubah hidupku. Meskipun waktu dan jarak memisahkan ku denganmu, tapi perasaanku tidak pernah memudar untukmu. Andaikan dulu kamu memilih aku ....
Hanya helaan nafas berat yang terdengar.
"Yaelah Boss kayaj anak perawan aja menyendiri begini," ujar Remon yang sedanf mendekati sang boss.
"Sialan ku asisten gila, ngagetin gua aja."
"Kenapa sih Boss, lagi galau?"
"Sotoy lu," jawabnya langsung meninggalkan asistennya.
******
Hay para readers,,
Aku up lagi nih,,
Tetap dukung karya aku ya dengan cara like, comment, Dan vote agar aku tetap semangat nulis dan up tiap hari,,
Dukungan kalian adalah semangatku,,
Masukkan nove Air Mata Ayanda ke dalam rak buku kalian ya biar tau updatenya terus.
__ADS_1
Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘😘