
Sehari berada di Singapura tak bisa menghilangkan kepiluan Ayanda, setiap saat sakit itu hadir, luka itu setiap detik semakin mendalam. Ditambah ia mendengar vonis akan penyakit Raska yang semakin membuat hatinya hancur.
Apakah aku harus bertahan diatas kesakitan Raska? Ataukah sekarang ini waktunya untukku menyerah? Meskipun harus menyakiti hati anakku.
Tuhan, belum selesaikah permainanMu ini? Kenapa aku selalu terjebak dengan pilihan yang sama sama menyakitkan untukku? Apa ini caraMu menguji kesabaranku? Aku lelah Tuhan, biarkan aku istirahat sejenak dengan semua skenarioMu ini. Sekarang aku hanya bisa berpasrah padaMu. Jika memang perpisahan jalan terbaik tunjukkanlah jalannya, jika kami ditakdirkan bersatu maka bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini.
Gio tetap fokus pada jalanan, sesekali ia melirik ke kursi disampingnya. Wajah sendu dan pilu masih terpancar jelas di raut wajahnya. Hanya tatapan kosong yang matanya pancarkan.
Aku harus bagaimana Yank?
*****
Dokter Erlan menyuruh Rion, Raska dan Dinda masuk keruangannya. Tanpa basa basi ia menjelaskan perihal penyakit Raska.
"Kanker yang diderita Raska sudah masuk stadium 4 atau stadium akhir." Hatinya terasa sakit ketika menjelaskannya kepada mereka.
"Maksudnya apa dok?" Eajah pias Dinda sangat terlihat jelas. Rion hanya bisa menenangkan Dinda dengan mengusap usap pundak Dinda. Raska yang tidak mengerti apapun cuma bisa tersenyum bahagia ketika melihat ayahnya menenangkan ibunya.
"Aku ingin ayah dan ibu bersatu bersama aku, dan kita akan jadi keluarga bahagia," dengan wajah yang sangat berbinar dan senyum yang selalu melengkung di bibir mungilnya. Rion tampak shock dengan permintaan Raska, namun Dinda tersenyum bahagia mendengar permintaan anaknya itu.
Good Job, ternyata kamu anak pintar mengerti apa yang ibu mau. Seraya tersenyum penuh kemenangan.
Di sisi lain ada seseorang yang tertohok hatinya mendengar ucapan polos bocah kecil, dadanya sesak dan rasa bersalah menghampirinya. Menyesali karena telah mengikuti permintaan manusia licik yang jelas jelas akan merugikannya dan juga menyakiti bocah kecilnya.
Arya sedang menunggu Bossnya di depan ruangan Dokter Erlan. Ia harus tau apa yang terjadi sesungguhnya.
"Arya!!" Ia mencari asal suara yang memanggilnya. Senyumnya tersungging dengan manis ketika melihat seorang laki laki berjas putih menghampirinya.
__ADS_1
"Eki!" Langsung menubruk badan tegap lelaki itu. Mereka pun melepas rindu karena sudah lama tidak saling bertemu. Padahal mereka tinggal di kota yang sama tapi karena kesibukan pekerjaan masing masing yang membuatnya tidak pernah bertemu.
"Gimana kabar lu?" Sambil duduk di kursi tunggu.
"Baik Ar, lu gimana? Udah punya anak berapa?" To the point karena umur Arya sudah tidak muda lagi.
"Jangankan anak, pacar aja belum punya." Sambil tertawa ngenes disambut gelakan tawa Eki.
"Lu sendiri? Udah kawin berapa kali?" Tak kalah sadis nanyanya.
"Jangankan kawin berkali kali, sekalipun belum pernah." Memasang wajah suram. Arya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia merasa ada teman untuk disebut Jones Jomblo Ngenes.
"Kalo Andra gimana? Pastilah dia udah married." Tebak Arya.
"Dia mah lagi sibuk ngejar istri orang," membuat Arya membelalakkan mata mendengar ucapan Eki.
"Serius gua, wajar sih orang ceweknya juga cantik banget ditambah baik hati. Tapi sayangnya ceweknya gak mau sama dia, tapi tetep aja tuh anak gak bisa move on dan masih ngejar ngejar." Jelasnya.
"Ada juga cewek yang nolak si Andra?" Arya mengingat ingat kelakuan sahabatnya itu yang semasa sekolah selalu menjadi rebutan para cewek cewek cantik, seingatnya tidak ada satupun cewek yang menolaknya, mungkin baru istri orang ini yang menolaknya membuat Arya terkekeh geli.
"Gua masih ada praktek lagi, gua duluan. Kapan kapan kita nongkrong bareng." Pamitnya dan memberikan kartu nama kepada Arya.
Setelah Eki pergi, Rion keluar dari ruangan Dokter Erlan diikuti oleh Raska, Dinda dan juga dokter Erlan. Arya menatap sinis kepada Dinda dan juga dokter Erlan. Entah apa yang sekarang ada dipikiran Arya. Rion mengajak Arya pergi tanpa pamit kepada orang orang yang masih berdiri disana.
*****
Sesampainya di halaman Rumah mewah kediaman keluarga Wiguna, Ayanda langsung masuk ke kamarnya. Gio hanya bisa menatap Ayanda dengan tatapan aneh, tapi ia membiarkannya. Ayanda juga punya privasinya sendiri, ia tidak bisa terus terusan mencampuri hati dan perasaan Ayanda.
__ADS_1
Ayanda masuk ke kamarnya dan langsung menguncinya. Sekarang yang ia inginkan hanyalah kesendirian, merenungi apa yang telah terjadi dihidupnya. Tetesan air membasahi kaca jendela kamarnya, rintik hujan ikut mengiringi kepedihan dan air matanya. Ia berdiri di depan kaca jendela yang terkena tetesan air hujan, air matanya pun ikut menetes.
Hujan kemarin, kamu masih memelukku supaya aku tak kedinginan. Hujan hari ini terasa sangat dingin, bukan karena tanpamu tapi karena kesendirianku. Hujan hari ini mengiringi setiap tetes air mata yang membasahi pipiku tatkala aku mengingatmu. Kemarin, kamu menjadi yang terindah dihidupku, tapi sekarang kamu hanyalah kisah sedih yang begitu banyak meninggalkan pedih.
Hujan ini menjadi saksi jika mulai hari ini aku akan melepaskanmu, meskipun menyakitkan bagiku. Biarkan luka ini mengering dengan berjalannya waktu dan sembuh dengan seiringnya waktu.
Air matanya membanjiri pipinya, batinnya terasa nyeri ketika semua beban ia utarakan. Ia tak sanggup jika harus bahagia diatas penderitaan orang lain terlebih anak itu memiliki sisa waktu yang singkat untuk hidup di dunia ini.
*****
Rion masuk ke ruangannya masih dengan wajah shock yang membuat Arya bingung karena selama perjalanan pulang sahabatnya itu tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Dokter bilang apa?" Tidak ada basa basi dari mulut Arya. sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin bertanya.
"Kanker bocah itu masuk stadium 4," dengan memijat pangkal hidungnya.
"Dia minta gua menikah dengan ibunya." Sambungnya lagi. Arya tersenyum tipis dan sinis, karena ia sudah menyangka pasti akan seperti ini jadinya.
"Anak sama Ibu sama aja, sama sama licik." Mulai fokus dengan laporan di meja Rion.
"Gua harus gimana? Setiap gua bertemu anak itu gua biasa aja, gak merasakan debaran hangat seperti pertama kali gua ketemu Echa dulu, hati gua tetap dingin dan gak pernah mencair untuk anak itu." Mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Arya. Arya sedikit demi sedikit menyambungkan kejadian demi kejadian hari ini layaknya puzzle. Kecurigaannya mulai meningkat tapi tetap ia rahasiakan sejenak karena belum tersusun secara lengkap.
"Lu udah dewasa, lu bisa ambil keputusan sendiri kan tanpa bertanya kepada orang lain. Tapi ingat ada orang orang yang sangat amat tersakiti disini, Ayanda dan Echa. Dua wanita tak bersalah yang harus menanggung dosa yang lu perbuat, dan lambat laun mereka akan merasakan kesakitan atas kesalahan lu. Jangan ambil keputusan bodoh, sekali lu salah melangkah bisa membuat lu masuk ke jurang kehancuran." Arya berlalu meninggalkan Rion dengan nasihatnya itu. Rion semakin frustasi mendengar ucapan Arya.
*****
Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘😘
__ADS_1