
Arya menopang dagunya menyaksikan Dokter Erlan yang sedang bercanda ria dengan Raska, sedangkan Rion sedang asyik melihat ponselnya. Menggeser foto demi foto dirinya, Ayanda dan juga Echa.
"Sebenarnya disini yang ayah kandung lu siapa sih ndul?" tanyanya pada Raska. Raska hanya melirik sebal kearah Arya.
"Aku bukan gundul om," tegasnya.
"Terus apa? Botak? Tuyul?" ejeknya.
"Bisa gak sih kamu bicara sopan sama anak kecil," tukas Dokter Erlan.
Arya tersenyum, "noh ayahnya juga biasa aja, ngapa lu yang sewot?" sambil menunjuk kearah Rion yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Dokter Erlan langsung terdiam mendengar ucapan Arya, sepertinya dia sudah tau yang sebenarnya. batinnya.
Kehadiran Arya membuat Dinda tidak bisa berkutik, mulut Arya bisa sepedas boncab* level 30. Ucapannya juga bisa menembus lapisan hati yang paling dalam saking menyakitkannya.
"Disini lu cuma mau main hp doang?" tanyanya pada Rion. Rion menyudahi melihat foto fotonya bersama sang istri dan sang anak.
"Kita pulang," ajaknya pada Arya.
Membuat orang orang yang berada disana menatapnya heran.
"Untuk apa kamu kesini jika hanya memainkan ponselmu?" tutur Dinda.
"Kau yang memintaku kesini, ya aku kesini. Sudahkan," balasnya santai.
"Kamu bodoh atau apa sih? Harusnya kamu temani anak kamu yang lagi terbaring lemah itu," cetusnya dan menunjuk kearah putranya.
"Kamu buta? Dia sudah bersama Papanya, kan," jawab Rion.
Arya tersenyum lebar mendengar ucapan sahabatnya itu, berbanding terbalik dengan Dinda yang tak mampu berbicara apa apa.
"Kalian cocok jadi keluarga bahagia," serunya.
Rion yang mendengarnya tertawa, "keluarga apa Bas?" tanyanya.
"Keluarga cemacem," jelasnya. Disambut tertawa renyah oleh Rion. Sedangkan mereka yang sedang dighibah hanya bisa terdiam mendengar ejekan dan celaan dari mulut ember Arya.
"Apa yang lu lakuin sekarang bisa mempercepat kematian anak lu," bisiknya kepada Dokter Erlan dan meninggalkan ruangan itu.
Raska terdiam melihat kelakuan dan perkataan ayahnya. Tatapannya kosong, tak terbaca.
__ADS_1
"Apa aku bukan anak kandung Ayah?" tanyanya.
Dinda dan Erlan hanya bisa saling menatap, bingung untuk mengungkap.
*****
Gio sudah sampai di Indonesia, ia langsung menghadiri meeting penting tanpa beristirahat dulu. Pikiran Gio sangat tidak tenang, terlebih mengetahui kondisi Echa yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi jika tanpa bantuan semua alat medis.
Apa yang harus Papa Gi lakukan incess? batinnya.
Remon yang melihat Bossnya tidak fokus langsung mengakhiri meeting karena sudah mendapatkan jalan keluar yang sama sama menguntungkan.
"Boss!" panggilnya.
Gio menoleh ke arah Remon, tatapannya menyiratkan kebingungan dan kesedihan.
"Ada apa?" tanya Remon.
"Cari tau Echa sekolah dimana dan disapa saja sahabat sahabatnya," seru Gio.
"Hah!" balasnya tak percaya. Baru saja datang ke Indonesia sudah dikasih tugas diluar pekerjaannya, Remon hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti.
"Besok udah harus ketemu," ujarnya. Langsung meninggalkan Remon yang masih mematung.
Remon langsung menjalankan tugas dari Bossnya, tidak harus menunggu lama ia langsung mendapatkan kabar tentang sekolahan Echa dan juga sahabat sahabatnya. Remon melaporkan semuanya kepada Gio. Gio hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Besok minta izinlah ke sekolah mereka dan kita terbang ke Singapura," jelasnya. Remon semakin tak mengerti dengan Bossnya ini. Entah apa yang dipikirkannya tapi Remon enggan untuk bertanya, wajah Bossnya sedang berada di fase tak bersahabat. Nanti yang ada ia yang dimaki maki oleh Bossnya dengan kata kata pedas nan seuhah.
Suka suka dirimu ajalah Boss, anak Sultan mah bebas mau ngapain aja. Apalah dayaku yang hanya kacung bagimu Boss, gumamnya.
Di Singapura Ayanda menikmati kesendiriannya, baru setengah hari ditinggal Gio hatinya sudah hampa. Entah hampa karena ada rasa atau hampa karena ditinggalkan seorang kakak, hanya Ayanda yang tau akan hatinya.
"Sudah dua Minggu lebih dek kamu tertidur, bukalah matamu sebentar saja dek. Lihatlah mamah!" ucapnya sambil mengelus rambut Echa yang sudah panjang.
Air Mata Ayanda pun sudah sedikit mengering untuk putrinya, setiap hari ia selalu mengajak bicara anaknya setiap hari pula Echa selalu saja memejamkan matanya.
"Mamah harus bagaimana dek? Apa mamah harus mengikhlaskanmu kembali ke surga? Tapi rasanya mamah gak sanggup hidup sendiri, tanpa ayahmu dan tanpa kamu hidup mamah sekarang sepi dek. Semuanya terasa abu abu tak berwarna. Mamah mencoba untuk tertawa menepis semua yang ada, tetapi hati mamah semakin sakit jika harus terus pura pura bahagia, padahal mamah juga ingin merasakan bahagia yang sesungguhnya dek, yaitu bersama kamu," ungkapnya pada Echa.
"Excuse me," ucap perawat yang masuk kedalam ruangan Echa, diikuti oleh Dokter Lie. Ayanda memperhatikan Dokter Lie yang sedang memeriksa Echa dengan teliti. Ia hanya bisa menghembuskan nafas halus.
"How is my daughter?" tanyanya pada Dokter Lie.
__ADS_1
"She's in good condition, so don't worry. For now pray a lot so your daughter will wake up quickly," jawab Dokter Lie.
"Thank you, Doctor," ucap Ayanda dan hanya dijawab anggukan kepala. Ia pun pergi meninggalkan ruangan Echa.
I'm sorry, I have lied to you. Actually she is not fine. gumam Dokter Lie.
(Maafkan aku ya jika banyak penulisan Bahasa Inggris yang salah, sesungguhnya aku tidak terlalu fasih dalam berbahasa Inggris)
Ayanda beranjak dari duduknya, ia menatap ke arah luar jendela.
Apa kamu tak merindukan anakmu ini mas? Apakah kamu tidak mencoba untuk mencari putrimu? Atau sekarang kamu sudah bahagia dengan anak laki lakimu dan sudah melupakan Echa.
Sesakit apapun hati ini kamu lukai, entah kenapa perasaanku masih tetap sama padamu. Tidak merubahnya meskipun banyak sekali luka yang kamu goreskan. Hanya saja, kesakitanku saat ini dirasakan juga oleh putrimu. Anak yang selalu aku jaga dari kecil, aku perjuangkan hidupnya agar bisa sembuh dari sakitnya, dan sekarang kamu buat anakku masuk dalam penderitaan yang sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan ketika kamu menyakitiku.
Haruskah aku memaafkanmu? Atau inilah saatnya untukku melupakanmu, menghapus kenangan indah yang kini menyisakan kenangan pedih. Aku tidak membencimu, aku hanya ingin pergi jauh dari hidupmu. Mengalah dan tak kembali, mencari bahagiaku bersama putriku. Menata hati yang sudah hancur berkeping keping itu tidaklah mudah, seperti menata hatiku untuk kembali baik baik saja dan bahagia itu sangat sulit.
Mungkin kamu hanya diciptakan untuk menjadi pelabuhan sementara bagiku, aku harus menepi di hati yang salah dulu dan meneruskan perjalanan panjang hidup ini agar aku menemukan pelabuhan terakhirku yaitu hati yang tepat untukku tinggali hingga mati. Jika aku boleh memilih, aku hanya ingin hidup sendiri tak ingin mengenal cinta lagi. Cukup kamu satu satunya yang menjadi serpihan kenangan manis dan pahit di dalam hati ini.
Di lain negara, seseorang pun menatap sore yang mendung dari balik jendela. Hatinya sangat sepi dan sunyi tanpa kehadiran mereka yang telah disia siakannya.
Hatiku bagaikan ruang kosong tak berpenghuni. Aku rapuh tanpa kalian, aku lemah ditinggalkan kalian. Aku tak sanggup untuk menopang tubuhku sendiri. Aku butuh kalian, aku rindu kalian,,
Rion menundukkan kepalanya sangat dalam, Arya yang melihatnya dari belakang pun sangat merasakan kepedihannya.
Arya melangkahkan kakinya kearah Rion, menepuknya pelan. Rion hanya bisa menghela nafas kasar.
"Melepaskan bukan karena tak cinta dan tak sayang, tapi itulah bukti cinta dan sayang yang sesungguhnya agar mereka tak tersakiti lagi," Rion mendongakkan kepalanya kearah Arya dengan tatapan hampa.
"Belajarlah menghargai perasaan wanita, terlebih dia pernah lu sakiti dan menyebabkan dia sakit namun tak berdarah," ujar Arya serius.
”Biarkan mereka bahagia tanpa lu disampingnya, lu masih tetap ayah dari Echa karena tidak ada kata mantan antara ayah dan anak ataupun ibu dan anak," serunya.
"Nanti lu akan tau apa artinya bahagia melihatnya bahagia," ucapnya.
Rion hanya bisa mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Arya. Sebenarnya ia tak mampu jika harus melepaskan orang yang sangat ia sayangi dan hatinya tak rela jika Ayanda nantinya dimiliki oleh oranglain. Keegoisannya mendominasi hatinya.
*****
Hay, aku up lagi,,
Jangan lupa semangatin aku ya dengan cara like, komen dan vote jika kalian punya poin biar aku makin semangat up-nya tiap hari.
__ADS_1
Jangan pernah bosen baca karya remahan aku ini dan jangan lupa selalu mampir ke karyaku ya,,
Happy reading semua,,😘