Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 79. Kejutan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Siapa Sayang?" tanya Gio yang menuju ke arahnya.


"Mamah mertuaku, Gi," jawabnya.


"Mamah mertua?" tanyanya heran.


"Beliau sudah ku anggap seperti ibuku sendiri Gi, sama seperti Ayah," jelasnya.


Gio melangkahkan kakinya menuju balkon, ia bersandar pada pinggiran balkon dengan wajah datar.


"Apa kamu marah?" tanya Ayanda yang sedari tadi mengekori Giondra. Gio hanya terdiam.


"Gi, jangan marah," pintanya pada Gio sambil bergelayut manja di lengannya.


"Gi, jawab aku jangan diem terus," katanya.


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Gio membuat Ayanda frustasi sendiri.


"Ya sudah, aku minta maaf," ucapnya. Ayanda melangkahkan kakinya menjauhi Gio, namun Gio langsung memeluknya dari belakang membuat langkahnya terhenti.


"Aku cemburu," ucapnya pelan.


Ayanda menghembuskan nafas kasar, ia membalikkan badannya menghadap Gio.


"Kenapa kamu cemburu? Itu Mamahku," timpalnya.


"Aku tau, tapi dibalik itu semua pasti karena putranya," jawabnya.


Ayanda hanya terdiam, menatap wajah Gio lekat-lekat. Ia pun menggenggam tangan Giondra.


"Gi, aku hanya khawatir dengan Mamah. Putranya adalah masa laluku yang harus aku lupakan, bantu aku untuk bahagia jika kamu ingin menjadi seseorang di masa depanku," terangnya.


Gio menarik wanita mungilnya ke dalam dekapannya dengan bibir yang sedikit terangkat. "aku akan selalu membuatmu bahagia Sayang, karena hanya kamu yang bisa buat aku bahagia."


Ayanda tersenyum mendengar ucapan Gio, hatinya selalu hangat ketika Gio mendekapnya karena selalu mengerti dirinya.


"Apa aku boleh ke Indonesia? Mamah memintaku untuk kesana, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di sana," ucapnya yang masih berada dalam dekapan Giondra.


Gio melonggarkan pelukannya, menatap wajah Ayanda dengan tatapan tak terbaca.


"Jika kamu tidak mengizinkan, aku juga tidak akan pergi, biar aku menghubungi Arya sekarang, " ujarnya. Ayanda langsung menekan nama kontak di ponselnya namun Gio mencegahnya.


"Kamu boleh pergi tapi harus dengan aku dan juga ...." ucapannya menggangtung.


Ayanda mengernyitkan dahinya melihat Gio sedang merogoh sakunya mengeluarkan kotak kecil berwarna navy dan memberikannya kepada Ayanda.


"Pakailah ini," pintanya. Gio menunjukkan cincin emas putih dengan bertulisakan namanya di atasnya.


Cincin yang sangat sederhana tapi terlihat sangat mewah, detailnya pun sama persis dengan yang dipakai Gio.


"Apa kamu sedang mengikatku?" tanya Ayanda tak percaya.


"Ini hanya simbol Sayang, agar tidak ada yang berani menggangu calon istriku," jelasnya.


Gio memasangkan cincin di jari manis kekasihnya, bibirnya pun melengkung dengan sempurna.


"Aku hanya ingin orang lain tau jika kamu adalah milikku," ujarnya.


"Kok posesif sih," ungkapnya dengan memeluk pinggang Gio.


"Karena aku sayang dan cinta sama kamu," jawabnya.


Senyuman merekah indah di bibir Ayanda. Ia memeluk Gio dengan erat. Getaran-getaran aneh mulai tumbuh di hatinya. Sejenak bisa melupakan apa yang telah terjadi dan mulai bisa menata hatinya kembali.


Keesokan paginya Gio dan juga Ayanda berangkat ke Indonesia. Kegundahan melanda hati Giondra. Selama di pesawat ia mendekap tubuh Ayanda dan menyandarkan kepala kekasihnya di dada bidangnya.


"Kenapa Gi?" tanya Ayanda. Ia tau sekarang Giliran sedang tidak baik-baik saja.


"Aku hanya sedikit takut, jika masa lalumu akan ..." Ayanda mengecup pipi Gio, membuat Gio melebarkan matanya tak percaya.


"Kamu harus selalu ada disampingku agar aku bisa melupakannya," ujarnya. Gio hanya menganggukkan kepalanya.


Tibalah mereka di salah satu Rumah sakit ternama di Bandung. Ayanda menuju ruangan Rion terlebih dahulu sedangkan Gio masih menerima telepon penting.

__ADS_1


"Teteh!" panggil Nisa.


Ayanda tersenyum melihat Nisa yang sedang menghampirinya. Nisa langsung memeluk tubuh kakaknya dan langsung membawanya menuju ruangan Rion.


Nisa membuka pintu, disana sudah ada Mamah, Arya dan juga Rion yang sedang terbaring di ranjang.


"Aa lihat! Aku bawa kejutan untuk aa," ucapnya dengan riang.


Rion melihat ke arah Nisa, matanya melebar ketika melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan beberapa bulan ini.


"Yanda," ucapnya.


Ayanda tersenyum ke arahnya dan membuat bibir Rion terangkat sempurna, senyuman yang sudah beberapa bulan ini hilang akhirnya terukir lagi dari bibirnya. Sang Mamah dan Arya pun ikut tersenyum bahagia.


"Sayang," panggil seseorang di balik pintu dan mulai masuk ke dalam ruangan.


"Sudah teleponnya?" tanya Ayanda. Hanya dijawab dengan anggukan oleh Gio.


Semua orang yang berada di dalam ruangan hanya terdiam melihat sepasang kekasih ini. Mereka tidak menyangka ternyata Ayanda dan juga Giondra bisa secepat ini menjalin hubungan. Mereka pun ikut bahagia dengan kebahagiaan Ayanda, kecuali Rion.


Hati Rion sangat panas dan juga sangat sakit melihat kedekatan Ayanda dan juga Giondra. Apalagi ia mendengar sangat jelas sebutan pria itu untuk mantan istrinya tersebut.


Apakah mereka pacaran? batinnya.


"Aku harus pergi ke Jakarta sekarang, karena ada meeting mendadak. Ada kekacauan di sana," ujarnya.


Wajah Ayanda seketika berubah. Ia takut jika tidak ada Giondra hatinya akan goyah kembali.


"Sore aku pastikan akan kembali ke sini," ucapnya sambil merangkul pinggang Ayanda.


Ayanda hanya mengangguk pelan dan mencoba untuk tersenyum.


"Tante, aku titip Ayanda, ya. Aku harus pergi," ucapnya sambil mencium tangan Ibunda Rion.


"Pasti Pak Gio, saya akan menjaga putri saya," sahutnya.


"Panggil Gio saja, Tante. Usia saya dengan Arya sama," balasnya lagi dengan senyuman menawan.


"Teh, ganteng banget. Mau dong kayak gitu satu buat aku," bisiknya pada Ayanda. Ayanda hanya tersenyum dibuatnya.


"Aku antar kamu Gi sampai depan," ujarnya.


Gio pun menggenggam tangan Ayanda berjalan menjauhi orang-orang yang berada di dalam kamar tersebut.


Arya melirik ke arah Rion. Ia sangat melihat jelas wajah Rion yang menahan amarah dan juga cemburu.


"Mantan istri lu aja udah move on, lah masa lu jadi gila sampe minum bayg*n segala. Gak sekalian tuh sianida lu cemilin biar cepat menghadap Ilahi," ejeknya.


Tidak ada sanggahan dan juga bantahan dari mulut Rion. Sedangkan Ibundanya dan juga Nisa tersenyum mendengar ocehan Arya.


# Flashback on


Ketika Arya sudah pergi, Rion masih terduduk di lantai. Karter yang ia pegang sudah ia lepaskan. Ketika ia hendak bangun dari duduknya, ia melihat racun serangga yang terselip di sela lemarinya.


Dengan pikiran kacau ia langsung mengambilnya dan langsung meneguknya. Ia mulai merasakan pusing tak lama langsung terhempas ke lantai dan mulutnya mengeluarkan buih.


Sang Mamah yang baru saja masuk membawakan makan untuk putranya langsung histeris melihat anak sulungnya sudah terkapar di lantai dengan wajah pucat dan mulut yang mengeluarkan busa. Ia berteriak sekencang-kencangnya membuat Nisa dan Arya yang berada di teras berlari menuju kamar Rion.


Arya dan Nisa membulatkan matanya tak percaya, ternyata sahabatnya dan kakaknya se-depresi hingga benar-benar nekat untuk mengakhiri hidupnya.


Mereka langsung membawa Rion ke salah satu rumah sakit ternama di Bandung, dengan cepat Rion pun langsung ditangani tim medis. Untung saja mereka membawa Rion dengan cepat jika telat sedikit saja bisa dipastikan nyawa Rion tidak akan tertolong.


# Flashback off


Wajah Rion tampak murung kembali, ia tak menyangka kejutan yang adiknya berikan hanyalah kejutan yang menyakitkan.


Ayanda sudah berada di loby rumah sakit, ia masih menggenggam tangan Gio seolah tak ingin berpisah darinya.


"Sayang, aku hanya sebentar. Aku percaya sama kamu," ucapnya sambil mengelus rambut Ayanda.


Mobil yang menjemput Gio sudah datang dan saatnya Gio pergi. Ayanda hanya bisa menghela nafas kasar. Ia kembali lagi ke ruangan Rion.


Ruangan Rion nampak kosong hanya ada sang pasien disana sedangkan menatap langit-langit.

__ADS_1


"Mas, semua orang kemana?" tanya Ayanda.


Suara Ayanda membuyarkan lamunannya. Ia menatap Ayanda dengan tatapan penuh rindu, tapi apa lah dayanya sekarang. Hanya bisa memandang tanpa pernah bisa menyentuh.


"Lagi pada maka siang," jawabnya datar.


Ayanda mendudukkan dirinya di sofa di dalam ruang rawat Rion. Perasaan canggung menghampirinya. Ia hanya terdiam memandang layar ponselnya. Hanya suara dentingan jam yang terdengar diantara dua manusia yang sedang berada dalam pikirannya masing-masing.


Sesekali Ayanda melirik wajah Rion, wajah tampannya tertutup oleh bulu-bulu halus di sekitaran wajahnya. Kantung mata yang menghitam sangat terlihat jelas dan juga tubuh yang lebih kurus dan tak terurus nampak sekali pada dirinya.


Apa sebegitu hancurnya dirimu Mas setelah aku tinggal? tanyanya dalam hati.


"Mas, kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya ragu. Ayanda seudah msngetahui semuanya dari Arya semalam.


Rion terdiam mendengar pertanyaan dari Ayanda. Jujur akan memalukan dirinya tak jujur pun sama saja akan terus menyakiti hatinya.


"Semangatku sudah hilang, kalian telah pergi. Aku sangat tersiksa sangat amat tersiksa," jawabnya dengan nada yang bergetar.


Jawaban Rion mampu menusuk hati Ayanda. Hatinya sakit mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang mantan suami.


Ayanda berjalan mendekat ke ranjang Rion. Ia menggenggam tangan mantan suaminya seraya tersenyum dan memandang wajahnya.


"Bukan hanya kamu yang tersiksa, tapi aku dan Echa juga tersiksa Mas," ujarnya lirih.


"Kenangan-kenangan manis kita selalu tertanam di memori otakku dan hal-hal yang menyakitkan pun masih mampu merobek luka lamaku," seraya tersenyum.


Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari mantan istrinya.


"Kamu pernah menjadi bagian terindah dari hidupku, kamu pria terbaik ku dulu. Tetaplah seperti itu jangan pernah berubah," ucapnya.


"Kembalilah padaku," pinta Rion.


Ayanda mematung mendengar permintaan Rion. Ia memandang wajah Rion yang sangat tulus mengatakan semuanya tentang keinginannya.


"Aku tau kamu juga masih mencintaiku dan kamu pura-pura mencintainya."


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Yanda. Jangan egois pikirkan perasaan Echa," ucapnya.


Posisi Ayanda saat ini seakan terpojok mendengar ucapan mantan suaminya. Apalagi jika sudah membawa-bawa tentang Echa, itulah kelemahan terbesarnya.


Dalam hati Rion tersenyum karena bisa dipastikan Ayanda akan sedikit luluh atas ucapannya dengan membawa putrinya.


Rion menggenggam erat tangan Ayanda dan mengusap lembut punggung tangan Ayanda. Dilihatnya di jari manis Ayanda tersemat cincin dengan bertuliskan Gio yang membuat Rion membelalakkan matanya.


"Apa kamu ...."


"Iya aku sudah tunangan dengannya," jelasnya.


Saat ini sudah dipastikan hati Rion hancur dan remuk, berniat untuk meminang mantan istrinya lagi namun Ayanda sudah dipinang oleh pria lain. Pria yang pernah Ayanda tangisi di hadapannya.


Rion langsung melepaskan tangan Ayanda, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya saat ini.


Maaf Mas, aku terpaksa bilang seperti ini karena hatiku juga bernyawa. Aku tidak mau membunuh hatiku karena cinta yang kau beri itu terlalu menyakitkan untukku.


******


Hay,,


I come back again😁


Maaf kemarin gak up karena kesibukan yang melandaku di dunia nyata dan tiba-tiba mood ku hancur entah kenapa.


Oiya, ada yang bilang gini ceritaku ini muter-muter teruss si Ayanda dan juga Gio gak dikawin-kawinin.


Gini ya sayang, ceritanya ini baru selesai cerai kan gak mungkin langsung aku kawinin mereka berdua. Aku kasih adegan cium kening dan peluk memeluk sebelum resmi cerai aja ada yang nyeramahin aku, gimana kalo baru cerai langsung aku kawinin Trus aku tulis adegan ena-enanya, kelar hidupku🤧


Yang kedua, Ayanda baru mencoba belajar mencintai Gio lah masa iya dia mau langsung dinikahi sama Gio udah kayak cerita perjodohan aja atuh kalo gitu mah. Intinya cerita yang aku tulis berkaca pada kehidupan sehari-hari kita.


Cukup ya penjelasan dari akunya,


Jangan lupa like, komen dan juga vote setelah baca cerita remahan peyek aku,,


Happy reading semua,,

__ADS_1


__ADS_2