
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tinggal seminggu lagi menuju acara besar keluarga Wiguna. Akan tetapi, sepasang calon pengantin masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tidak ada waktu untuk mereka bertemu. Berangkat selalu awal dan pulang larut malam.
📩 Jangan lupa makan, Sayang. 😘
Hanya pesan itu yang setiap hari Ayanda terima dari Gio. Ingin rasanya ia protes kepada calon suaminya tapi dirinya tidak boleh egois. Semua perusahan ini memang Gio sendiri yang urus.
Ayanda sudah berada di rumah dari jam tujuh malam. Sekarang sudah pukul sepuluh, tapi Gio tak kunjung pulang. Ia berniat untuk menunggu Gio hingga calon suaminya pulang. Waktu terus berputar dan malam semakin larut. Rasa kantuk pun sudah tak tertahan olehnya. Ia pun terlelap di sofa.
Hampir jam dua belas malam Gio baru sampai rumahnya. Ia membuka pintu dengan wajah yang sudah sangat lelah dan dasi yang sudah dilonggarkan. Langkahnya terhenti ketika wanita yang sangat ia cintai terlelap di ruang tamu bukan di kamarnya. Gio menghampirinya, memandang wajah Ayanda yang terlihat damai dalam tidurnya. Ia kecup kening calon istrinya.
"Maafkan aku," ucapnya pelan.
Mata Ayanda perlahan terbuka, wajah Gio yang pertama kali ia lihat. Wajah yang sangat terlihat lelah.
"Abang baru pulang," ucapnya dengan suara berat.
"Iya, lanjut tidurnya di kamar yuk," ajak Gio yang sudah membantu Ayanda berdiri.
Gio hanya mengantar Ayanda hingga depan kamarnya. Sebelum pergi tak lupa ia mengucapkan selamat malam dan mengecup lembut dahi Ayanda.
Di dalam kamar Ayanda bergelut dengan perasaanya sendiri. "kenapa kamu berubah, Bang?" tanyanya pada diri sendiri. Sudah seminggu ini, dirinya tidak pernah bertemu dengan Giondra.
Di kamar lain, Gio melemparkan pakaian yang sejak tadi ia gunakan ke sembarang tempat. Rasa bersalah kini menghampirinya. Harusnya, ketika mendekati hari-H dirinya selalu bersama Ayanda tapi ini malah sebaliknya.
"Semoga kamu mengerti," Monolognya.
Di Jakarta, kehadiran Nisa di rumah Rion membuat Arya kewalahan. Paginya kerja bersama kakaknya dan pulang kerja harus jadi sopir untuk adik dari sahabatnya ini.
"Kakak lu siapa sih emang? Ngapa nyusahin gua mulu," ucap Arya dengan judesnya.
"Tuh mulut judes amat udah kayak emak-emak yang gak dibolehin ngutang. Ada ya cowok bermulut judes nan lemes kayak gitu," ledek Nisa.
"Ada. Gua!!" balasnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Pantes aja gak ada cewek yang mau sama a Arya," ketus Nisa.
Jiwa ganas Arya meronta-ronta ingin mencabik-cabik mulut pedas Nisa. Hanya Nisa yang mampu menimpali ocehan menusuk Arya.
Setelah sampai di kediaman Rion, Arya mengumpat kesal akan kelakuan Nisa. Rion yang sedari tadi mendengarnya hanya tertawa.
"Gaji gua tambahin tuh. Siangnya gawe sama lu malamnya jadi kacung si bocah bangor," sungutnya.
"Ntar gua naikin, 0,0001 persen," jawab Rion santai dan melenggangkan kakinya menjauhi Arya.
Sumpah serapah, umpatan demi umpatan, kata-kata kebun binatang keluar dari mulut Arya yang ditujukan untuk Rion.
*****
Paginya, di rumah besar. Seperti biasa Ayanda tidak mendapati Gio sarapan bersamanya.
"Ayah, Bang Gi sudah berangkat?" tanya Ayanda dengan wajah muram.
Hati Ayanda semakin kosong. Ketika hari yang spesial segera datang, hubungannya semakin renggang dengan Gio.
Di kantor pun perasaan Ayanda tak tenang. Jarang bertemu dengan Gio membuatnya merana dan pikiran jelek melandanya. Hari ini ia berniat untuk menenangkan hatinya berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan.
Sebelum ia memulai berkeliling di sebuah mall, ia menuju ke salah satu kedai kopi. Ayanda sengaja memesan kopi espresso, rasa pahitnya sama seperti hatinya sekarang.
Suara seseorang yang sangat ia hafal terdengar olehnya. Pandangannya terkunci ketika sosok yang ia rindukan sudah seminggu ini sedang bercengkrama dan tertawa bersama pria-pria ber-jas dan berdasi.
Tertawamu sangat lepas, tapi kenapa ketika dihadapan ku kamu terlihat sangat lelah. Ada apa denganmu? batinnya.
Ayanda sengaja berlama-lama di kedai kopi itu, matanya tak terlepas dari sosok prianya. Satu per satu teman-teman dari pria itu undur diri. Kini, hanya menyisakan Gio seorang. Dengan cepat Ayanda melangkahkan kakinya menuju meja Gio.
"Aku mau bicara," sergapnya langsung.
Gio yang sedari tadi sedang fokus pada ponselnya sekarang melihat ke arah Ayanda dengan tatapan terkejut. Tanpa dipersilahkan Ayanda duduk di seberang Gio.
__ADS_1
"Ayah bilang Abang ke Thailand, dan sekarang Abang ada di sini," kata Ayanda dengan penuh penekanan.
"Aku lihat, Abang tertawa sangat bahagia ketika bersama orang-orang yang tadi. Denganku ...." ucapannya terhenti.
Ayanda mengatur nafasnya dan memejamkan matanya sesaat. Menahan sesak dan air mata yang ingin meluncur bebas.
"Maunya Abang apa?" bentaknya.
Sontak Gio melototkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Wanita yang ia kenal lembut kini berubah menjadi seekor singa garang.
"Aku sibuk, tolong mengerti," jawabnya sedikit keras.
"Apa selama ini aku kurang mengerti kamu? Apa selama ini aku sering menuntutmu?" tanya balik Ayanda dengan air mata yang sudah tak tertahan.
"Jika kamu ingin membatalkan pernikahan kita, masih ada waktu. Dari pada kamu menyakiti ku ketika kita sudah menikah," ujarnya, dan berlalu meninggalkan Gio seorang diri.
Dengan air mata yang membasahi pipinya, Ayanda pergi entah kemana. Yang ia inginkan saat ini adalah menenangkan diri. Ke suatu tempat yang tidak terjamah oleh Gio dan juga para pengawalnya.
*****
Nah loh,
Drama apa lagi ini?
Pada nyatanya sebelum menikah pasti ada aja cobaannya. Ini yang Ayanda dan Gio alami sekarang.
Sebenarnya ada apa dan kenapa sih? Bukan tanpa alasan kan jika Ayanda bisa seperti itu.
Tetap stay dan baca terus AIR MATA AYANDA go to End.
Happy reading semua,,
Maaf aku gantung,😂😂😂
__ADS_1