
Aku sudah lelah dengan semua ini, terlalu banyak kesakitan yang aku dapatkan dan terlalu banyak pengorbananku yang sia sia. Apa aku harus mundur sekarang? Atau dengan perlahan?
Cinta yang sudah aku patenkan untukmu ternyata dibalas dengan cara yang menyakitkan seperti ini. Kenapa dunia kita terlalu sempit seperti ini? Hanya berputar putar dengan orang yang sama, orang di masa lalu yang pernah membuatku terluka dan sekarang Tuhan hadirkan lagi, malah semakin menambah luka yang teramat sangat menyakitkan, seraya tersenyum kecut.
Aku juga butuh waktu untuk menerima semua kenyataan pahit ini, meskipun nyata tapi berasa mimpi buruk bagiku. Mencoba setegar apapun diriku tetap saja wanita itu rapuh. Apalagi jika sudah menyangkut yang namanya hati, sudah sangat sensitif pasti. Maaf, bukannya aku manghindar dari kenyataan tapi aku juga perlu ruang untuk sendiri, untuk menata hatiku yang sudah hancur berkeping keping ini. Mengembalikkannya ke bentuk semula itu mustahil, meskipun bisa tapi tidak akan sesempurna seperti awalnya. Aku ingin berdamai dengan kenyataan, meskipun itu akan membuatku mundur pelan pelan.
Sesampainya Ayanda di rumah ia bergegas masuk ke kamar utama dan memasukkan pakaian ke dalam tas ransel miliknya. Ia sengaja tak membawa banyak barang, lebih baik ia membelinya disana agar lebih menghemat tempat.
"Mah, mamah mau kemana?" Menghampiri sang mamah dan langsung duduk ditepi tempat tidur. Ayanda langsung menghentikan aktifitasnya.
"Mamah mau ke Singapur dulu ya dek, ada yang harus mamah tinjau disana masalah bangunan dan juga market disana, banyak yang harus mamah urus untuk mengembangkan usaha disana." Seraya tersenyum memandang anak gadisnya meskipun hati kecilnya tak ingin jauh jauh dari anak gadisnya.
"Berapa lama mamah disana?" Sambil memeluk tubuh mamahnya. Tangan Ayanda langsung mengusap lembut rambut Indah Echa.
"Paling sebentar 3 hari dan paling lama seminggu, kamu jaga diri baik baik ya." Tak terasa air matanya terjatuh, hatinya sangat perih ketika ia harus berbohong kepada malaikat kecilnya.
Maafkan mamah, untuk saat ini biarkanlah mamah menyimpan semuanya ini sendiri. Mamah tidak ingin kamu ikut terluka dan kecewa, karena mamah tau kamu sangat menyayanginya.
"Mamah kenapa nangis?" Mendongakkan wajahnya ke arah sang mamah. Buru buru Ayanda menghapus air matanya.
"Mamah gak bisa jauh dari kamu dek, apalagi akan meninggalkan kamu sendiri disini." Echa semakin mengeratkan pelukannya.
"Mamah jangan khawatir Echa akan baik baik aja kok mah, lagi pula Echa gak sendiri disini, ada mbak Ina, Pak Mat Dan juga ayah yang akan selalu jagain Echa. Sasa dan Mima boleh nginep disini kan mah?" Ayanda menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap wajah cantik malaikat kecilnya.
"Anak mamah ternyata udah gede ya, bukan anak kecil lagi," mengelus pipi Echa yang mulus dengan penuh kasih sayang, dan di balas senyum hangat oleh Echa.
Sudah jam 15.30 Ayanda berpamitan kepada penghuni rumah. Intinya ia menitipkan malaikat kecilnya kepada para Asisten Rumah Tangganya. Lalu ia pergi menuju Bandara.
Drrrtt,,
Gak usah ke Bandara, kita bertemu di kedai kopi biasa, gua udah menyiapkan private jet untuk keberangkatan kita.
__ADS_1
Isi pesan dari Gio.
"Kebiasaan, kalo mutusin sesuatu itu seenak jidatnya." Geramnya.
*****
Rion masih bergelut dengan kekacauannya seorang diri setelah Arya memilih untuk membiarkannya meratapi nasib malangnya. Ada hal yang sangat mengganjal di hatinya saat ini dan hanya Arya yang bisa membantunya. Ia beranjak dari duduknya dan bergegas mencari Arya ke ruangan Asisten Pribadi.
Dilihatnya Arya sedang sibuk dengan setumpukan kertas di mejanya dan ia tak menyadari ada seseorang yang masuk ke ruangannya.
"Bas!" Arya sangat mengenal suara itu dan panggilan itu. Panggilan akrab dari sahabatnya. Arya Bhaskara nama panjangnya, hanya satu orang yang memanggilnya dengan Bhaskara yaitu Boss gilanya sekaligus sahabatnya Rion.
"Udah meratapi nasibnya?" Ledeknya tapi tak bergeming dari tempatnya duduk dan juga kertas dihadapannya.
"Anak itu minta gua untuk tinggal bersamanya." Menjatuhkan diri di kursi tepat di depan meja Arya.
Arya yang sedari tadi fokus dengan kertas kertas dihadapannya langsung menatap sinis ke arah sahabatnya.
Rion hanya terdiam mendengar ceramahan Arya yang sangat menusuk hatinya itu. Ia hanya bisa memijat mijat pangkal hidungnya karena pusing dengan kekacauan ini.
"Wanita itu makhluk lemah, sekuat apapun dia berkata di hadapan para lelaki sebenarnya hatinya rapuh dan tak sejalan dengan ucapannya. Gua bisa bayangkan betapa hancurnya hati Ayanda mengetahui semua ini. Mengingat kesalahan kesalahan lu dulu aja dia sampe menjatuhkan air mata, apalagi ini mungkin sampe mengeluarkan darah." Sindirnya.
Mendengar perkataan Arya, Rion bergegas meninggalkan Toko PUsat menuju rumahnya. Setelah sampai di rumah ia langsung memasuki rumahnya dengan terburu buru.
"Ayah!" Sambil membawa jus buah di tangannya dan beberapa cemilan yang dibawa oleh Sasa dan Mima.
"Mamah mana dek?"
Echa menyuruh kedua sahabatnya itu untuk masuk duluan ke kamarnya, dan ia pun melanjutkan perbincangannya dengan sang ayah.
"Mamah ke Singapur yah, baru aja berangkat." Sambil meneguk jus yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Singapur?" Tanyanya kaget.
"Kenapa ayah kaget? Bukannya mamah udah bilang ke ayah?"
"Eh, i- iya ayah lupa dek," menunjukkan senyum terpaksa kepada anak gadisnya. Rion pun pamit masuk ke kamar utama tak lupa ia mengunci pintu kamarnya. Ia mencari cari paspor milik Ayañda namun nihil. Kini hanya umpatan demi umpatan yang keluar dari mulutnya. Ia langsung merogoh kantong celananya dan menghubungi seseorang.
Lu cari tau jadwal keberangkatan istri gua ke Singapur.
Tut Tut Tut.
Hanya umpatan demi umpatan dari si penerima telpon setelah sambungannya diputuskan secara sepihak oleh si penelepon.
*****
Gio menatap intens Ayanda dengan tatapan yang tak terbaca. Entah apa yang ada didalam pikirannya sekarang ini.
"Gak bosen apa lu mandangin gua mulu dari tadi?" Sambil meminum es kopi kesukaannya.
"Pemandangan didepan gua terlalu indah, jadi gak akan gua sia-siakan." Diiiringi dengan kekehan kecil. Hanya mendapat cebikan bibir dari Ayanda.
"Boss, private jet sudah tiba. Kita berangkat sekarang." Tiba tiba Remon datang memecah keheningan. Gio pun beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Ayanda menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke tempat lepas landas private jet milik keluarga Wiguna.
Oh ternyata ini Ibu Ayanda Rishani pengusaha bertangan dingin, pantes si Boss gak bisa move on cantik begitu, dan wajar aja suaminya sangat bucin padanya. Selera si Boss emang selalu berkelas, tapi sayangnya istri orang yang gak bisa ia lepas, diiringi dengan kekehan kecil sambil mengikuti Bossnya berjalan.
*****
Happy reading Kesayangan kesayanganku,,😘😘
Jangan bosen like, comment and vote yaa,
Aku padamu,,
__ADS_1