Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 66. Ijab kobul


__ADS_3

Genta sangat terkejut dengan permintaan putranya. Ia bingung harus menurutinya atau menahannya untuk sementara waktu. Ia tau jelas jika keinginan Giondra untuk pergi ke Australia menyangkut karena Ayanda.


"Boss," ucap Remon setelah Bossnya mengakhiri teleponnya.


"Kita selesaikan tugas disini dulu, bersiaplah kita berangkat ke Ausi dan akan stay disana tanpa batas waktu yang ditentukan. Jika kamu bersedia, kamu ikutlah denganku, tapi jika keberatan aku akan mencari Asisten pribadi lain," jelasnya.


Remon hanya terdiam mendengar penjelasan dari Gio, hati kecilnya tidak ingin meninggalkan Bossnya yang sudah sangat baik kepadanya. Disisi lain ia berat meninggalkan keluarganya, anak anaknya masih sangat kecil.


"Jika kamu keberatan tidak apa, jangan dipaksakan," ujarnya dengan tersenyum kecil.


"Apakah dengan pergi seperti ini akan membuatmu melupakannya?" tanya Remon tiba tiba.


Gio melirik ke arah Remon. "dia akan tetap tinggal disini," jawabnya sambil menunjuk dadanya.


"Cintaku untuknya tak akan pernah berubah, tapi kebahagiaan dia lebih penting dari apapun. Sekarang sudah waktunya aku mengalah, bukan berarti melupakannya. Hanya saja akan kupendamkan rasaku ini sampai ia sadar bahwa aku tulus mencintainya," ungkapnya.


Remon hanya terdiam mendengar ucapan Bossnya. Ia tak mampu berkata, ia tau betapa besar cintanya untuk Ayanda hingga ia rela berkorban dan juga terluka.


*****


Di Rumah Sakit Echa sangat bahagia karena kehadiran kedua orangtuanya disisinya. Tak henti hentinya Rion bercengkrama dan bercanda ria dengan putrinya hingga terdengar gelak tawa.


Ayanda hanya diam melihat anak dan ayah sedang tertawa bahagia, hatinya sekarang sepi dan sangat merasa bersalah.


Kenapa kamu mendatangkan dia jika pada akhirnya aku yang kamu tinggalkan? tanyanya dalam hati.


Harusnya kamu yang disini sekarang, ini semua karena dirimu Gi. Kamu yang menemaniku dan putriku disaat kami terpuruk harusnya kamu juga yang berada disini ketika keadaan kami membaik. Agar perjuanganmu selama ini untuk kami tidak sia sia, ungkapnya dalam hati.


Echa melirik kearah Mamahnya, namun Ayanda hanya terdiam dengan pandangan kosong.


Tiba tiba ponsel Rion berdering, dilihatnya ID si penelpon. Ia hanya bisa mengumpat kesal.


Halo,


.....


Aku sedang diluar negeri


.....


Kenapa harus sekarang?


.....


Hmm


Panggilan pun berakhir, Rion segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana.

__ADS_1


"Ada apa, Yah? tanyanya karena melihat mimik muka sang Ayah yang sudah berubah.


"Ayah harus pulang ke Jakarta, Dek. Raska drop," terangnya.


Hati Echa terasa sangat sakit mendengar ucapan Ayahnya itu. Mendapat kabar Raska drop Ayahnya langsung bergegas akan kembali ke Jakarta. Sedangkan dirinya yang hampir sebulan koma Ayahnya tak seperti itu kepadanya.


Ingin rasanya Echa menangis, namun ia harus kuat didepan Mamahnya. Kesakitan yang ia rasakan sekarang ini tidak ada apa apanya dibandingkan kesakitan Sang Mamah.


Ayanda yang mendengar ucapan Rion pun hanya menggelengkan kepalanya.


Ternyata Raska lebih berharga dari pada anak kita, batinnya lirih.


"Kembalilah, sampaikan salam dariku untuk adikku. Aku tidak apa apa Ayah," katanya pura pura kuat.


Ayanda yang melihat wajah Echa merasa tesayat sayat hatinya mendengar ucapan sang putri yang tak sesuai dengan keinginan hatinya.


"Tapi, dek ...." ucapnya terpotong.


"Adik aku lebih membutuhkan kehadiran Ayah dibandingkan aku, pergilah Yah," serunya.


Dengan berat hati Rion meninggalkan Echa dan Ayanda di Singapura. Ia bergegas menuju bandara.


"Dek!" panggilnya, Echa hanya tersenyum.


"Mamah tau perasaan kamu," ujarnya.


"Kenapa sesakit ini, Mah?" tanyanya.


Ayanda tidak bisa menjawab apapun, ia hanya menenangkan putrinya dan tak terasa tetesan air mata mengalir dipipinya.


"Kenapa Mamah bisa bertahan sampai detik ini sama Ayah? Hati aku aja sakit, Mah," ujarnya.


"Tidak ada luka yang tidak sakit, Dek. Hanya saja Mamah punya obat penawar segala macam kesakitan, yaitu kamu," balasnya.


Echa semakin mengeratkan pelukannya, merekapun menangis dalam berpelukan.


"Mah," katanya. Perlahan ia melepaskan pelukannya.


"Jika Mamah sudah tidak sanggup bertahan dengan Ayah, berpisahlah!" serunya.


Ayanda memandang wajah putrinya, hatinya sangat lega mendengar pernyataan dari Echa. Namun, melihat wajah sang anak yang sangat sendu membuatnya menjadi iba.


"Tidak, Dek," jawabnya.


Echa hanya tersenyum mendengar jawaban dari sang Mamah, ia menggenggam tangan ibunya.


"Selama ini Mamah sudah banyak berkorban untuk Echa, sekarang sudah saatnya Mamah bahagia. Izinkan Echa untuk membalas semua pengorbanan Mamah, bahagia Mamah mungkin bukan bersama Ayah," ujarnya dengan senyuman dibibirnya.

__ADS_1


"Sudah cukup Mamah dilukai dan disakiti oleh Ayah, sekarang carilah kebahagiaan Mamah. Biarkan Echa yang berkorban untuk Mamah dengan mengubur dalam dalam keinginan Echa agar kita selalu bersama, karena jika dipaksakan Mamah yang akan jadi korban lagi. Echa tidak mau, Echa ingin melihat Mamah bahagia,” jelasnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Dek ...." ucapnya terpotong.


"Mah, meskipun Mamah dan Ayah berpisah itu tidak akan merubah takdir dan statusku untuk kalian. Mamah akan tetap jadi ibuku dan Ayah akan tetap jadi bapakku, hanya saja kita terpisah. Echa gak mau melihat Mamah sedih lagi, Echa janji akan selalu menemani Mamah disaat apapun. Kita melangkah berdua lagi seperti delapan tahun lalu," terangnya.


Ayanda menmeluk tubuh putrinya dengan linangan air mata. Dibalas pelukan erat oleh Echa.


Mamah sudah telah terlalu banyak berkorban untuk Echa hingga mamah mengorbankan perasaan Mamah sendiri hanya untuk membuat Echa bahagia. Mamah menutupi semua kesakitan, kesedihan, dan luka dari Echa agar Echa tak sedih. Hanya dengan cara ini Echa bisa membalas pengorbanan Mamah walaupun tidak sebanding dengan besarnya rasa sakit, sedih, kecewa dan terlukanya Mamah selama ini. Echa tidak akan memaksakan kehendak Echa sekarang, karena bahagia Mamah itu lebih penting dari apapun.


"I love you so much, Mah, " ucapnya berat karena menangis.


Ayanda tidak bisa berucap, ia hanya menganggukkan kepalanya. Tak terasa putri kecilnya kini berubah menjadi dewasa.


"Jangan pernah tinggalkan Echa. Hanya Mamah yang selalu ada untuk Echa," katanya lirih.


"Sampai kapanpun Mamah tidak akan meninggalkanmu, dek. Kamu adalah alasan Mamah untuk Mamah terus bertahan," balasnya lirih.


Dua wanita yang disakiti oleh pria yang sama. Hati Echa sebenarnya sangat hancur, kasih sayang yang Ayahnya beri sepenuhnya kini harus terbagi dengan adanya bocah itu. Sekeras apapun ia menutupinya tapi akan goyah jika sudah berhadapan dengan Sang Mamah.


*****


Rion telah sampai di Jakarta dan langsung menuju Rumah Sakit. Setelah sampai di Rumah Sakit ia memicingkan matanya. Dilihatnya Raska yang sedang duduk di ranjangnya dengan wajah pucat pasi, seorang pria berkopiah, dan juga dua orang paruh baya.


"Ada apa ini?" cecarnya.


"Apa ini calon mempelai prianya?" tanya pria berkopiah pada Dinda.


"Ia, Pak. Dia calon suami saya, dia baru saja kembali dari luar negeri," ujarnya.


Rion mengernyitkan dahinya benar benar tak mengerti.


"Karena sudah ada calon mempelai prianya, mari kita mulai saja ijab kobulnya," ucap Pak Penghulu.


"Apa?" kagetnya.


"Ijab kobul?" tanyanya.


*****


Happy reading,,


Maaf telat up, lagi di mode tidak semangat.


Setelah membaca dan mampir jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya dengan cara like, komen, dan juga vote.


Makasih semuanya ,,

__ADS_1


__ADS_2