Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 62. Kejujuran Hati


__ADS_3

Dada Gio masih sangat sesak, hatinya hancur seketika. Wanita yang sangat ia sayangi sejak delapan tahun yang lalu ternyata masih tak berubah, masih tidak memiliki perasaan apa apa padanya.


Apa aku memang ditakdirkan untuk menjaganya saja tanpa bisa memilikinya? batinnya.


Helaan demi helaan nafas berat keluar dari mulutnya, membuat Remon ikut gusar. Jika suasana hati Bossnya sedang tidak baik bisa dipastikan sepanjang hari ia yang akan kena amukan seorang Giondra.


Dua jam sudah Arya berada di pesawat. Ia sudah sampai di Ibukota. Ia memesan taxi online menuju sebuah Rumah Sakit. Entah kenapa sedari tadi hatinya teringat terus akan sosok bocah berkupluk yang biasa ia panggil Gundul.


Tibalah ia di Rumah Sakit, ia segera menuju ruang perawatan Raska.


"Arya!" panggil seseorang.


Arya sudah sangat hafal dengan suara itu, ia pun menghentikan langkahnya. Eki sedikit berlari menghampirinya.


"Bagaimana dengan Echa?" tanyanya.


Arya menghembuskan nafas kasar, bingung menjawabnya.


"Ada sebuah keajaiban yang membuat kondisinya stabil lagi," jawabnya.


"Syukurlah, Andra hubungi gua dan minta nomor lu dengan suara yang sangat cemas," ujarnya.


"Andra pria terbaik, berbeda dengan Andra yang dulu gua kenal," pujinya.


"Andra sudah berubah setelah mengenal Ayanda, Ayanda mengajarkan banyak hal kepadanya sehingga ia bisa menjadi seorang yang sangat amat disegani di negara ini," ungkapnya.


Arya sangat tidak menyangka ternyata Ayanda lah yang membuat seorang buaya rawa buntung menjadi sosok setia. Arya mendengar sendiri jika Giondra lah yang meminta dirinya untuk membawa Rion menemui putrinya. Meskipun sangat terlihat jelas wajahnya sedikit berubah ketika melihat Rion dekat dengan Ayanda. Mungkin jika ia yang berada diposisi Giondra tidak akan sekuat dan tahan banting seperti itu. Berjuang tapi tetap tak dilihat.


"Lu mau nemuin bocah itu?" Tebak Eki. Arya hanya menganggukkan kepalanya.


"Dia lagi kemoterapi," jawabnya.


Arya pamit kepada Eki dan menuju ruangan kemoterapi yang sahabatnya maksud.


Dari kaca jendela ia melihat badan kurus Raska yang sedang diberikan beberapa obat dan suntikan, sesekali ia meringis menahan sakit seorang diri tanpa ada keluarganya yang menemani. Hanya seorang perawat yang berada disampingnya.


Kenapa sekarang gua jadi peduli gini sama lu Ndul? Melihat lu seperti melihat keponakan gua yang sudah lama meninggal.


Maafkan gua yang udah membenci lu, padahal lu juga korban dari kekejaman ibu kandung lu. Emak lu udah seperti iblis yang bisa dengan mudah masuk dan merusak manusia.


Bertahan dulu, Ndul. Sampai permainan gua selesai. Gua pastiin lu akan pergi dengan tersenyum bahagia.


Raska sudah selesai menjalani kemoterapi, ia di dorong oleh perawat menuju ruangannya. Wajahnya sangat terlihat pucat karena telah menjalani kemoterapi yang mengharuskan ia menahan sakit.


"Om!" sapanya dengan suara lemah.


Arya buru buru menyeka ujung matanya dan tersenyum kearah Raska.


"Mbak, biarkan saya yang membawa anak ini," pintanya. Perawat pun mengiyakan dan membiarkan Arya mendorong kursi roda yang telah diduduki si Gundul.


Ia membopong tubuh lemah Raska dan meletakkan badannya dengan sangat hati hati diatas kasur kesakitan.


"Makasih, Om," ucapnya lemah dengan seulas senyum dibibirnya.


Arya hanya bisa tersenyum meskipun hatinya ingin sekali menangis melihat keadaan bocah tak berdosa ini.

__ADS_1


"Setiap kemo lu sendiri," seru Arya.


Raska hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa kemo sakit?" tanyanya lagi.


"Sangat sakit sekali, Om. Makanya aku pengen cepet-cepet dipanggil Tuhan," jujurnya pada Arya.


Jawaban bocah sekecil ini mampu membuat hati Arya teriris iris.


"Ayah mana, Om," tanyanya. Sudah dipastikan jika ada Arya pasti ada Rion.


"Ayah Rion di Singapore. Kamu tau Tante Ayanda?" tanya Rion, Raska hanya menganggukkan kepalanya.


"Ini!" memperlihatkan foto Ayanda sedang menangis dihadapan Echa yang terbaring lemah dengan segala alat bantu medis.


Raska memandangnya tak percaya.


"I-ini kakak yang waktu itu ..." ucapnya terpotong.


"Iya, ini putri kesayangan Ayah Rion dan Tante Ayanda. Kamu lihat, kan," tukasnya.


Raska menganggukkan kepalanya dan menangis.


"Kenapa lu nangis?" tanya Arya.


"Aku iri kepada kakak itu," jawabnya.


Arya mengerti maksud dari jawaban Raska.


"Ya, Ayah Rion pasti akan menjaganya dengan semua kemampuannya," jelasnya.


Raska hanya tersenyum mendengar penjelasan Arya. Ia pun menghela nafas halus,


"Mungkin bahagia ya jika dikelilingi oleh orangtua yang menyayangi aku, ingin sekali aku seperti kakak itu," ujarnya sambil memejamkan matanya.


Arya seperti mendengar jeritan hati si Gundul yang sejujurnya.


"Aku juga ingin seperti itu, Om. Tapi aku tidak mau banyak meminta," jelasnya.


"Kenapa?"


"Tuhan sudah sangat baik kepadaku. Telah mempertemukanku dengan Ayahku. Itu sudah lebih dari cukup, meskipun aku tak dianggap olehnya. Setidaknya ketika aku pergi aku telah mengetahui siapa ayah kandungku," ucapnya sambil tersenyum.


Bocah yang masih sangat kecil tapi memiliki pemikiran yang sangat dewasa.


"Apa lu gak pengen seperti anak anak yang lain?" tanyanya lagi.


"Jujur, Om, aku kadang iri melihat Raka, teman kemoku, karena kita memiliki penyakit yang sama. Dia selalu didampingi mamahnya. Kadang aku berfikir, kapan aku didampingi ayah atau ibuku ketika aku kemo? Mungkin rasanya tidak akan sesakit seperti sekarang ini," ungkapan jujurnya.


Hati Arya merasa tersayat mendengar kejujuran hati si Gundul. Bocah yang sangat mandiri diusia yang masih dini dan sekarang waktunya hanya tinggal sebentar lagi.


Coba lu denger ungkapan hati si Gundul wahai dua manusia tak berhati dan tak berakal. Masih bisakah kalian membohongi anak yang tak berdosa ini, masih sanggupkah kalian bersandiwara didepan anak ini dengan menumbalkan orang lain dalam permainan drama kalian, teriaknya dalam hati.


*****

__ADS_1


Rion masih berada disamping putrinya dan terus mengajak berbicara Echa. Tak henti hentinya ia menceritakan hal yang bahagia sambil terus menggenggam tangan Echa.


Ayanda yang melihatnya pun ikut tersenyum bahagia, senyuman lebar melengkung dari bibirnya. Pertama kalinya ia merasakan kesempurnaan dalam menjaga Echa.


Ponsel Ayanda berdering, ia tersenyum melihat siapa yang menelponnya dan langsung mengangkatnya.


Iya, Gi.


......


Iya, aku pasti makan kok. Kamu juga jangan melewatkan makan siangmu, ya.


......


Memangnya kamu masih di Singapore?


.......


Oke, aku akan tunggu Remon datang.


......


Kondisinya semakin membaik, semoga saja bisa secepatnya pulih. Pasti akan aku sampaikan salam sayang dari Papa Gi.


.......


Bye, Papa Gi.


Ayanda pun mengakhiri panggilannya. Rion melihat senyuman yang terukir dari bibir Ayanda ketika menerima telpon dari seseorang.


Papa Gi? Siapa dia? tanyanya dalam hati.


Hati Rion mulai merasa gundah dan tak rela jika Ayanda sudah menemukan pengganti dirinya karena mereka masih berstatus suami istri. Rion menerka nerka orang yang sedang dekat dengan istrinya, pikirannya melayang jauh.


Suara pintu terbuka, Rion memicingkan matanya.


Dia, kan, batinnya.


"Bu, ini kiriman dari Boss," ucapnya sambil menyerahkan bungkusan makanan yang disukainya.


"Terimakasih, Mon. Gio sudah makan?" tanyanya. Pertanyaan itu diartikan Rion sebagai perhatian lebih dari Ayanda untuk kekasihnya.


"Sudah, Bu," jawabnya.


"Jaga Bossmu, ya," ujarnya sambil tersenyum. Dijawab dengan anggukan oleh Remon.


Memang sangat berat Boss melupakan wanita seperti Bu Ayanda ini. Senyumnya aja gak bisa hilang dari ingatan. Cantik luar dalam, limited woman.


*****


Hay,,,


Up lagi,


Jangan lupa mampir dan baca karya remahan peyek aku ini ya. tinggalkan jejak kalian dengan like. komen dan juga vote biar aku semangat up tiap hari ,,

__ADS_1


Happy reading semua,,


__ADS_2