
Rion masih meratapi penyesalannya. Gurat-gurat kesedihan sangat nampak di wajah tampannya. Kepiluan sangat kentara, terlebih pandangannya tak lepas dari dua buah foto yang selalu ia tatap.
Ayah tidak bisa hidup tanpa kalian, kalian dimana sekarang? Biarkan ayah menemani kalian disana. Jangan hukum ayah seperti ini. Sesungguhnya ayah sangat tak sanggup.
Air matanya pun jatuh tak tertahan, foto Echa yang terbaring lemah dengan semua alat bantu medis membuat hatinya sangat teriris, dan foto Ayanda yang sedang menggenggam tangan Echa dengan raut lelah, mata yang bengkak dan badan yang sedikit kurus membuatnya semakin pedih. Tidak ada yang ia lakukan selain menangis dan menangis. Menyesali setiap perbuatan bodohnya yang ternyata menjerumuskannya ke dalam jurang kepedihan dan kesakitan sendiri.
Sekecewa apapun seorang ibu pasti tidak akan mampu hanya berdiam melihat anaknya sedang terpuruk seperti sekarang ini. Sang mamah memperhatikan anak laki lakinya dari kejauhan, penyesalan yang sangat dalam sangat terlihat dari wajah dan hati anak sulungnya. Hatinya tak tega melihatnya, rasa kecewanya kalah dengan rasa iba dari naluri seorang ibu.
"Gak ada gunanya aa menangis sekarang, semuanya sudah terjadi." Sang mamah duduk disamping Rion mengusap lembut punggung putranya. Rion hanya bisa terdiam mendengar ucapan sang mamah.
"Aa diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk memperbaiki semuanya, tapi malah aa sia siakan dan sekarang bukan hanya istri dan anak aa yang tersakiti tapi ada anak lain yang akan aa sakiti juga." Rion menatap wajah sang mamah dengan tatapan pilu, ia pun langsung memeluk tubuh sang mamah.
"Maafin aa mah, maaf." Suaranya terdengar berat karena menahan isakan. Sang mamah mengusap lembut punggung sang putra.
"Bukan sama mamah aa minta maafnya, tapi sama istri dan anak aa. Wanita itu bukan untuk dijadikan pilihan, mereka itu hanya ingin jadi satu satunya. Semuanya yang terbagi pasti tidak akan pernah menyenangkan." Rion melepaskan pelukannya dan bersimpuh di hadapan sang mamah.
"Sekarang apa yang harus aa lakukan?" Meletakkan kepalanya dipangkuan sang mamah. Sang mamah mengusap lembut rambut putranya.
"ikuti kata hati aa, buatlah keputusan yang tepat. Meskipun mamah tau aa gak akan pernah bisa melepaskan istri dan anak aa, tapi untuk apa dipertahankan jika nantinya mereka akan sering aa sakiti lagi? Mereka itu bukan boneka a, yang tidak memiliki hati. Mereka memiliki hati dan kesabaran yang sangat luas, hingga mereka bisa bertahan disamping aa sampai detik ini meskipun sering aa sakiti. Sudah cukup a, sekarang waktunya aa melepaskan mereka. Kemarin aa fokus kepada anak laki laki aa kan? Hingga aa lupa ada Echa anak aa juga." Rion menangis pilu dipangkuan sang mamah jika nama Echa disebut.
"A, Mamah udah pernah ngalamin hal seperti ini. Satu hal yang sangat sulit di maafkan untuk seorang wanita, yaitu perselingkuhan. Dulu aa juga kecewa kan sama papa karena udah mengkhianati mamah. Bagaimana dengan perasaan Echa sekarang a? Mungkin lebih kecewa dari apa yang aa rasakan dulu. Terlebih Echa adalah perempuan, hatinya lebih lembut dan juga lebih rapuh." Rion tidak bisa berbicara apa apa perihal yang diucapkan oleh sang mamah. Semua ucapannya benar, tidak ada yang bisa ia bantah.
"Biarkan teteh dan Echa bahagia a, biarkan mereka mencari kebahagiaan mereka sendiri. Mungkin kebahagiaan mereka tanpa aa disamping mereka." Ucapan yang sederhana namun sangat menusuk ke hati Rion yang keluar dari mulut Nisa. Nisa pun pamit kepada sang mamah karena ia akan pergi menemui temannya sebentar.
Selepas kepergian Nisa Rion hanya terdiam dengan pandangan mata yang kosong, hatinya hancur raganya tak berdaya sekarang ini. Sekarang ia sangat menyadari nyawa dan raganya ada pada anak dan istrinya. Tidak ada penyesalan yang datang diawal, penyesalan hanya datang belakangan setelah seseorang itu merasakan kehilangan.
"Echa akan tetap jadi anak aa dan aa pun akan tetap jadi ayahnya Echa. Berdoalah untuk kesembuhan Echa, agar ia bisa kembali berkumpul bersama kita. Penyesalan yang aa rasakan ini karena aa sekarang merasa kehilangan mereka. Mereka yang sangat berharga, dan mereka adalah mutiara dalam keluarga aa. Tanpa aa sadari ada malah membuangnya dan menyimpan batu kerikil yang nampak seperti mutiara." Hanya air mata penyesalan yang ia tumpahkan. Rasa bersalah yang kini menyelimuti hatinya, kebodohannya yang membuatnya melenyapkan anak dan istrinya dari hadapannya sekarang.
"Anak laki laki itu butuh pengakuan juga a. Jadilah pria yang bertanggung jawab." Sang mamah pergi meninggalkan Rion dalam keterpurukannya. Semua kepiluan, kesedihan, kekecewaan, kebimbangan ada pada pikirannya sekarang.
__ADS_1
*****
Seharian ini Ayanda hanya duduk disamping Echa dengan terus menggenggam tangan sang putri. Sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini, sudah berapa banyak kepedihan yang ia rasakan ketika melihat tubuh tak berdaya anaknya.
"Apa mamah masih harus tetap pura pura bahagia dihadapan kamu dek? Agar kamu bangun. Apa mamah harus mengubur luka mamah lagi untuk kesekian kalinya agar kamu bisa sadar? Apa mamah harus pura pura masih mencintai ayahmu agar kamu bisa kembali lagi bersama mamah? Apa semua itu harus mamah lakukan dek?" Ayanda menundukkan kepalanya sangat dalam menangis sejadi jadinya dengan menggenggam tangan Echa.
"Jika itu mau kamu, mamah siap dek. Apapun akan mamah lakukan untuk kesembuhan dan kesadaran kamu. Biarkan mamah berkorban untuk kesekian kalinya demi kamu, penyemangat hidup mamah." Ayanda mengecup kening Echa sangat dalam, lalu menjauh dari ranjang kesakitannya. Tanpa ia tau Echa merespon ucapannya dengan air mata yang keluar dari ujung matanya.
Ayanda menatap senja dari jendela kaca. Kenangan manis bersama sang suami hadir dipikirannya. Ia hanya bisa menghela nafas. ia terus menatap ke arah luar jendela dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Air matanya pun meluncur bebas di pipinya.
Sesulit ini aku melupakan semua tentang kita, kisah kita terlalu singkat namun terlalu memiliki makna untukku. Pergi ku tidak membuat aku melupakanmu, malah semakin susah untukku melupakan bayangmu.
Melupakanmu mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama, meskipun kamu hanya memberiku banyak luka. Sudah saatnya kini aku menutup lembaran kisah kita yang tidak akan pernah ada akhirnya jika aku terus kalah dengan egoku, padahal hatiku sudah sangat sakit menerima semua luka yang kau beri selama ini. Aku akan menutup semua kisah tentang kita menjadi sebuah buku yang berakhir dengan sad ending. Akan aku tutup rapat rapat, dan tidak akan membiarkan orang lain membukanya. Cukuplah aku yang tau dan mengerti tentang kisah kita. Kisah yang manis namun berakhir miris.
Senyuman pahit tersungging dari bibirnya. Kini ia merasakan kehangatan tubuh seseorang yang sedang memeluknya dari belakang. Hanya kenyamanan yang ia rasakan sekarang. Entah kenyamanan seorang teman atau kakak, atau mungkin saja kenyamanan dari seorang kekasih.
*****
Ketika sudah mendapatkan info tentang Rion dan juga si pengirim pesan itu, Arya kembali ke Jakarta. Ia menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki siapa orang yang mengirim pesan kepada Nisa. Berkali kali ia mencoba menghubungi selalu gagal.
Jam sudah menunjukkan tengah malam, Arya menuju sebuah cafe yang tutupnya hampir menjelang pagi.
"Bagaimana hasil penyelidikan kalian?" Tanpa basa basi menanyakan hasilnya kepada orang suruhannya.
"Maaf pak, tidak ada informasi yang kami dapatkan. Semuanya tidak bisa dibuka pak." Arya hanya bisa mengumpat mendengar laporan orang suruhannya.
Apa ini pesan dari Andra?
Otaknya hanya bisa menerka nerka untuk saat ini. Sebenarnya ia juga ingin tau dimana tempat perawatan Echa, tidak ada satu informasi pun yang ia dapat tentang Rumah Sakit perawatan Echa. Ia sudah menyuruh beberapa orang suruhannya namun hasilnya selalu saja nihil. Sudah tiga hari berlalu dan masih tidak ada info apa apa dari orang suruhannya.
__ADS_1
"Udah lama lu?" Ketika Eki baru tiba di cafe yang Arya kirim lokasinya.
"Belum juga," sambil meminum soda yang ia pesan.
"Kenapa lu nanyain tentang Andra?" Eki merasa ada yang aneh dari Arya karena tiba tiba Arya menyuruhnya datang ke sebuah cafe tengah malam buta hanya untuk menanyakan tentang Andra.
"Apa ada yang gak gua tau tentang Andra?" Eki hanya tertawa mendengar pertanyaan Arya.
"dr. Giondra Aresta Wiguna." Dijawabnya hanya dengan nama lengkap seorang Gio, dan entah kenapa bisa membuat mimik Arya berubah drastis.
"Wiguna?" Dengan mata yang penuh dengan tanda tanya.
"Yes, dia memakai nama Wiguna setelah menyandang status sebagai dokter. Dia tidak ingin teman teman sekolah dan kuliahnya tau tentang siapa dia sebenarnya. Penggunaan nama Wiguna pun atas bujuk rayu Ayanda karena sebelum itu dia sangat tidak mau memakai nama belakang dari ayahnya."
"Andra sudah lama kenal Ayanda?" Mode detektifnya muncul kembali.
"Setau gua dia ketemu Ayanda 8 tahun yang lalu, itu juga gak sengaja ketemu di pos ronda lagi gendong anak. Terus Andra bawa pulang dan ternyata ayahnya menyukai Ayanda dan ia dianggap seperti anaknya sendiri Giandra." Sambil menyeruput kopi yang ia pesan.
Pantes semua akses yang gua cari gak bisa di bobol. Ternyata ada campur tangan keluarga Wiguna. Semoga aja dengan begini pengobatan Echa berjalan dengan lancar dan bisa cepat sadar.
Rion, menangislah dalam penyesalanmu. Lepaskan Ayanda dan Echa karena mereka sudah ada di dalam keluarga yang tepat dan mungkin juga akan memiliki pasangan yang tepat ke depannya.
*****
Happy reading semua,,
Maaf kemarin tidak up dikarenakan MT Dan NT sedang berada di mode error dan pada akhirnya otak ku pun ikutan error😁
Banyak yang nanya ini endingnya akan seperti apa sih? JuJur ya aku pun belum tau, aku tidak bisa menerka nerka juga. Jadi tetaplah setia membaca cerita remahan aku ini ya sayang,,
__ADS_1
jangan lupa like, comment Dan kalo punya poin votelah karyaku, tak perlu banyak yang penting vote tiap hari😁 ngarep banget ya aku😂