Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 64. Sadar Sepenuhnya


__ADS_3

Semua orang telah meninggalkan ruang rawat Echa, hanya Ayanda dan Rion yang masih berada disana menemani putri mereka.


Ayanda menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Rion melihat jelas banyak guratan kesedihan dan luka pada wajah istrinya.


"Maafkan aku," lirihnya. Rion menghampiri Ayanda dan duduk disebelahnya.


Ayanda tak bergeming, hatinya masih teramat sakit. Terlebih baru saja ia menghajar wajah Gio, malaikat penyelamat untuknya dan putrinya.


"Salah orang, harusnya kamu minta maaf kepada Giondra," jawabnya ketus dan masih memejamkan matanya.


"Maafkan aku atas segala kesalahanku selama ini, maafkan aku," ucapnya dengan penuh penyesalan.


Hh, hanya helaan nafas yang terdengar.


"Berkali kali kamu minta maaf, berkali kali juga kamu mengulang kesalahanmu. Jadi beratikah maafmu itu?" balasnya sedikit menyentil Rion.


Mulut Rion seakan terkunci mendengar ucapan Ayanda.


"Ketika vas bunga pecah jadi dua, mudah untuk memperbaikinya, bisa dilem kembali untuk menyatukannya meskipun hasil akhirnya tak akan bagus seperti pertama membelinya. Sekarang vas bunga yang sudah dilem dipecahkan lagi secara paksa hingga terpecah belah hanya menyisakan serpihan demi serpihan. Apakah serpihan itu akan bisa disatukan lagi dengan mudah? Atau akan dibuang saja," ungkapnya. Rion semakin menutup rapat mulutnya. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibirnya.


Ayanda beranjak dari duduknya, menjauhi Rion. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia menyenderkan tubuhnya pada pintu kamar mandi, cairan bening yang sedari ia tahan akhirnya terjun bebas juga.


Mengapa sesakit ini? Aku mencoba untuk kuat kenapa hatiku mendadak rapuh lagi? Cintaku masih sama kepadamu hanya saja hatiku sudah tidak mampu menahan kesakitan akan luka yang kamu goreskan lagi dan lagi.


Izinkan aku untuk melepasmu, Mas. Biarkan sang waktu yang akan membunuh cintaku padamu. Semakin aku mencoba melupakanmu, semakin sesak dadaku. Aku masih mencintaimu, Mas. Masih,, lirihnya, sambil memegang dadanya yang sangat sesak menahan semuanya.


Setelah cukup meluapkan emosinya, Ayanda keluar dari kamar mandi. Ia tidak melihat Rion didalam ruangan putrinya.


"Maafkan Mamah, Dek," ucapnya sambil menggenggam tangan Echa.


"Sepertinya Mamah sudah tidak sanggup jika harus terus mempertahankan Rumah Tangga dengan Ayahmu. Disini hanya Mamah yang berjuang sendiri tanpa ada balasan perjuangan dari Ayahmu, Dek," lirihnya.


" Tidak mudah untuk Mamah menyembuhkan luka yang teramat sakit, temani Mamah dalam menjalani proses ini. Hanya kamu yang mamah miliki sekarang," serunya.


Ayanda menundukkan kepalanya diatas lengan Echa dengan menangis. Tanpa ia tau Echa meresponnya dengan air mata yang mengalir dari ujung matanya.


Pagi hari di Jakarta, Arya baru saja sampai di Toko Pusat. Ketika ia membuka pintu ruangannya pengacara Endro sudah ada di ruangannya.


"Rajin banget, lu" sapa Arya.


"Rion mana?" tanyanya.


"Singapur," jawabnya.

__ADS_1


"Nih, berkas berkas Rion udah beres semua. Udah masuk gugatan di pengadilan," sambil menyodorkan map kearah Arya.


Arya menghela nafas lalu mengambil map yang pengacara Endro berikan. Ia pun pamit kepada Arya.


Apa lu akan melanjutkan gugatan ini? Lu dan Ayanda masih sama sama memiliki cinta yang kuat, mustàhil jika harus berpisah.


Di Singapura Rion masih tertidur di sofa, Ayanda sudah berada disamping Echa dan sesekali mengajak berbincang Echa dan sedikit demi sedikit Echa mulai merespon.


Rion mengerjapkan matanya, ia bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Ucapan demi ucapqn yang terlontar dari mulut Ayanda semalam membuatnya sedikit menyerah.


Pintu ruangan terbuka, Gio datang bersama Remon. Dilihatnya Ayanda sedang duduk disamping ranjang kesakitan, ia mulai mendekatinya perlahan.


Gio mendekap tubuh Ayanda dari belakang dan berhasil mengejutkan yang punya tubuh. Wangi maskulin strong yang sangat ia kenali, Ayanda menyunggingkan bibirnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio.


Rion baru saja keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti ketika hendak mendekati Ayanda dan Echa.


Pemandangan yang teramat menyakitkan di pagi hari, batinnya.


Ia mengurungkan niatnya, tak mau mengganggu dua insan yang sedang berpelukan manja dihadapannya.


Rasa cemburu yang sekarang ia rasakan, ingin rasanya ia menjauhkan Ayanda dari pria itu tapi mengingat ucapan istrinya tadi malam membuatnya yakin Ayanda sudah sangat terluka karenanya.


"Ma-mah," panggilan lirih nan pelan, membuat Ayanda melihat kearah asal suara.


Echa kemudian melirik pelan kearah Gio, senyuman kecil mengembang dari bibirnya.


"Pa-pa Gi," sapanya dengan terbata.


"Iya, incess Papa," balasnya. Echa hanya tersenyum.


"A-ayah," panggilnya.


Mata Rion sudah berkaca kaca dari kejauhan melihat kesadaran Echa. Namun, ia enggan mendekat takut mengganggu mereka.


Perlahan Rion mendekat ke ranjang pesakitan Echa, menggenggam tangan sang putri. Echa pun menitikan air mata.


"Maafkan Ayah, Dek," ucapnya sangat lirih.


Echa hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Tak lama kemudian tim medis datang ke ruangan Echa dan mereka memastikan jika Echa sudah sadar seratus persen, hanya saja ia harus melakukan terapi bicara dan terapi otot karena sudah terlalu lama tertidur.


Air mata bahagia mewarnai kesadaran putri mereka, Gio merasa hanya sebagai orang asing diantara kebahagiaan keluarga ini. Perlahan ia menjauh dan melangkahkan kakinya keluar.


"Papa Gi!" panggilnya.

__ADS_1


Langkah Gio terhenti seketika, menoleh kearah Echa dengan tersenyum.


"Disini saja, temani Mamah," ujarnya.


Gio tersenyum dan berbalik arah mendekati incessnya.


"Papa Gi akan selalu temani Mamahmu," balasnya.


Echa tersenyum sangat lebar mendengarnya, berbeda dengan Rion yang tampak terdiam mendengarnya.


"Terimakasih," katanya lagi.


Gio mengernyitkan dahinya tak mengerti, melirik kearah Ayanda hanya dijawab dengan gelengan kepala olehnya.


"Terimakasih sudah temani Mamah dan Echa, thanks a lot," tak terasa air mata Echa terjun bebas ketika mengatakan kata yang terakhir itu.


Gio memeluk Echa, mencium keningnya dan menghapus air mata yang sudah mengalir dipipi kurusnya.


"Kamu dan Mamahmu adalah dua wanita yang Papa Gi sayangi, semuanya akan Papa Gi lakukan untuk kalian," serunya.


Jleb! Perkataan Gio menusuk hati Rion sampe kedalam. Hatinya sangat terluka melihat kedekatan mereka tanpa Rion tau selama ini.


"Mamah, jangan menangis lagi. Echa disini akan menemani setiap langkah Mamah. I love you," ucapnya.


Buliran bening pun jatuh membasahi pipi Ayanda, bahagia yang sangat luar biasa yang ia rasakan pagi ini. Mataharinya mulai bersinar lagi.


"I love you, Dek," memeluk erat tubuh Echa dan menciumi wajah putrinya.


"Ayah," panggilnya. Rion menoleh ke arah sang putri.


"Echa sudah memaafkan Ayah, tidak ada alasan untuk Echa membenci Ayah. Ayah tetap cinta pertama Echa dan selamanya akan menjadi cinta pertama Echa. I love you, Ayah," ucapnya sambil menangis.


Rion tak kuasa menahan air matanya, mendekap tubuh lemah putrinya tanpa sepatah katapun.


"Jaga adikku, jangan biarkan dia tumbuh sepertiku waktu kecil dulu. Hidup tanpa seorang Ayah sangat menyakitkan dan hanya menjadi bahan ejekan. Besarkan dia dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti Ayah membesarkanku. Jaga dia dengan baik seperti Ayah menjagaku. Aku senang memiliki adik," ungkapnya dengan senyuman manis, meskipun hatinya sangat terluka mengatakan ini semua.


Selama hampir satu bulan ia terbaring lemah bukan berarti ia tak tau apa apa. Ia bisa mendengar semuanya, hanya saja tubuhnya seolah terkunci dan matanya susah sekali untuk terbuka. Apa yang dikatakan Echa itulah yang ia dengar selama satu bulan ini. Dalam hatinya ia menjerit menahan rasa sakit yang teramat perih ketika mengetahui kenyataan pahit yang melanda keluarganya.


*****


Happy reading,.


Maaf telat up,

__ADS_1


Jangan lupa setelah mampir dan baca tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote ya biar aku makin semangat lagi lanjutinnya.


__ADS_2