
Pak Mat sudah berada di dalam mobil bersama majikannya. Sebelum berangkat ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Bossnya.
"Pak Boss, kita mau kemana?" tanyanya ragu.
"Bandung, rumah orangtua saya," sahutnya tanpa ekspresi.
Pak Mat langsung melajukan mobilnya ke arah Bandung sesuai tujuan Bossnya. Hanya kesunyian yang ada dalam mobil ini. Sesekali pak Mat melirik ke arah majikannya, terlihat sangat jelas wajah Bossnya sendu dan sedih. Sama sekali tidak bergairah dan semangat. Ingin mulutnya bertanya namun ia urungkan. Disini ia hanya sopir tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan pribadi majikannya.
Empat jam sudah perjalan yang dilalui mereka, kini tibalah mereka di rumah yang sederhana nan asri. Rion langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Aa!" sapa Nisa ketika Rion sudah berada di dalam rumah.
Rion hanya menoleh dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Direbahkan tubuhnya yang lelah dan hati yang teramat sakit dan hancur. Tak terasa air matanya membasahi pipinya.
Aku harap ini hanya mimpi buruk, gumamnya lirih.
Pintu kamarnya terbuka, sang Mamah dan adiknya memasuki kamarnya dan mendekat ke arahnya. Mereka melihat Rion sangat hancur sekarang lebih hancur dari delapan tahun yang lalu.
"Ada apa, A?" tanya Mamahnya sambil mengusap punggung sang putra yang sedang bergetar karena menangis.
Rion pun langsung memeluk tubuh sang Mamah, menumpahkan semua air matanya di bahu Mamahnya. Nisa yang berdiri dihadapan kakak dan ibunya ikut menitikan air mata karena sedih melihat kakak satu-satunya rapuh seperti ini.
"Cerita sama Mamah, " pintanya.
Rion melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang bunda dengan tatapan penuh luka dan pilu. Mamahnya menghapus air mata yang sudah membasahi pipi putranya.
"Aa sudah bertemu Yanda dan juga Echa."
"Echa sudah sadar," ucapnya.
"Alhamdulillah," ucap syukur ibundanya dan juga adiknya.
"Tapi ...."
Mamahnya menatap wajah putranya, memintanya agar ia melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Ayanda menginginkan pisah dengan aa," ungkapnya dengan air mata yang kembali jatuh.
Tanpa aba-aba Nisa dan ibunya langsung memeluk tubuh Rion yang sedang sangat tidak baik-baik saja sekarang ini.
Suara isak tangis lirih terdengar di telinga Nisa
dan Mamahnya. Isakannya terdengar sangat pilu sehingga mereka ikut merasakan kesedihan dan kesakitan kakak dan putranya rasakan.
"Aa gak bisa hidup tanpa mereka, Mah. Mereka sangat berarti untuk aa, merekalah kekuatan aa," jelasnya dengan sangat sedih.
"Yanda juga sebenarnya masih mencintai aa. tapi kenapa ia memilih untuk mencari kebahagiaannya? Apa selama ini aa tidak bisa membuatnya bahagia?"
Sang Mamah melepaskan pelukannya kepada Rion. Ia menggenggam tangan putranya.
"Sampai saat ini aa belum mampu untuk membahagiakan si teteh, aa hanya sering membuat hati si teteh terluka. Wajar jika ia memilih untuk mencari kebahagiaannya sendiri karena selama ini ia sudah terlalu banyak berkorban untuk aa dan juga Echa. Selalu mengesampingkan kebahagiaannya. Hati wanita itu rapuh a dan wanita itu ahli sejarah. Sekali aa menyakiti pasti akan sulit terobati, sekali aa mendua memori itu akan selalu diingatnya selamanya," jelas Mamahnya.
"Terlebih tentang anak laki-laki itu, a," ucap Ibunya menahan sesak karena tidak ada satupun wanita yang tidak akan sakit dan hancur ketika mengetahui suaminya memiliki anak dari wanita lain.
"Dia bukan anak aa, Mah. Wanita itu telah menipu aa dan semuanya hingga keluarga aa hancur seperti ini karena tujuannya adalah menguasai harta aa," sangkalnya.
"Kalo teteh udah tau kebenarannya kenapa teteh masih ingin pisah? Apa karena pria tampan itu?"
"Ups!" Nisa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Bocor banget sih ini mulut sampe keceplosan begini, gumamnya.
Rion melirik ke arah adiknya dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh.
"Jangan salahkan orang lain dalam kehancuran rumah tangga aa ini. Bukan salahnya tapi karena kesalahan aa sendiri. Pria itu datang disaat istrimu membutuhkan kekuatan, ketika aa menorehkan luka baru diatas luka lama ditambah harus menghadapi putri aa yang terbaring tak berdaya. Mamah sangat merasakan penderitaannya a, hanya saja si teteh adalah wanita tangguh. Serapuh apapun dirinya tapi dia tidak akan menunjukkannya kepada orang lain, cukup dia yang merasakan semuanya," terang sang Mamah.
"Kenapa Yanda tidak memberikan kesempatan lagi untuk aa seperti dulu? Aa sangat menyayanginya, Mah. Hati aa sakit ketika melihat dia dipeluk oleh pria lain, dada aa sesak ketika dia menangisi pria lain dihadapan aa," ucapnya dengan bulir air mata yang terjatuh lagi.
"Kesempatan hanya diberikan kepada orang-orang yang mau berubah, aa memang sudah berubah tapi aa masih tetap sama selalu menyia-nyiakan mereka yang tulus mencintai aa. Manusia pasti berubah, tapi apa rasa sakit hati karena luka yang sangat dalam bisa berubah dalam waktu singkat?" tanya balik sang Mamah.
Rion hanya diam membisu, perkataan Ibunya sama sekali tidak bisa ia sanggah.
__ADS_1
"Sekarang cobalah aa berkorban sedikit saja untuk kebahagiaan si teteh dan juga Echa. Berpisah bukan berarti tidak bisa bertemu, kan. Kalian hanya beda status saja tapi kalian masih ada kesempatan untuk kembali lagi jika Tuhan mengijinkan," ucap sang Mamah.
"Fokuslah menjaga putri satu-satunya aa, jangan biarkan cucu Mamah kekurangan kasih sayang dari aa dan si teteh. Jadilah orangtua yang bijak tidak mementingkan ego karena status kalian nanti. Anak yang akan jadi korban jika kalian tidak sejalan dalam mengurusnya," nasihatnya kepada putra kesayangannya.
"Aa boleh sedih dan terpuruk sekarang, tapi jangan lama-lama. Hidup akan terus berlanjut sama halnya dengan si teteh. Pergi bukan berarti melupakan a, hanya saja si teteh perlu ruang untuk sendiri untuk mengembalikan semuaya yang sudah hancur berantakan. Jangan egois a, jangan hanya ingin dicintai tanpa mau mencinta dengan tulus, karena itulah yang menyebabkan hubungan menjadi pupus,"
"Jika takdir baik masih memihak kepada aa, percayalah suatu saat nanti aa dan si teteh akan dipersatukan kembali. Jika pernikahan aa cukup sampai disini, cobalah lepaskan apa yang sudah aa genggam," timpalnya.
"Aa sekarang istirahat ya, pasti aa sangat capek kan," ujar sang Mamah karena sudah melihat raut wajah putranya sangat pilu mendengar perkataan adiknya.
Nisa dan Mamah pun meninggalkan kamar Rion, membiarkan Rion mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya.
Ayanda sudah melepaskan pelukannya dari Gio. Mata sembab dan hidung memerah menghiasi wajahnya. Tak henti-hentinya Gio menatap intens ke arah wanita yang sangat amat dicintainya.
"Aku mencintai Ayank, selamanya akan tetap mencintaimu," ungkapnya pada Ayanda.
Gio mengecup kening Ayanda sangat dalam dan lama. Ayanda hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
Apakah ini saatnya aku membuka hati pelan-pelan untukmu, Gi? Apa benar cinta akan datang karena terbiasa? Apa bisa aku mencintaimu seperti aku mencintai suamiku dulu?
Hati Ayanda masih diisi penuh oleh suaminya yang sebentar lagi akan berubah status menjadi mantan suami. Bukannya munafik, hanya saja lukanya sangat dalam hingga ia harua melambaikan tangan bertanda menyerah. Sekuat apapun batu karang jika dihantam ombak terus-menerus pasti akan hancur. Apa kabar dengan hati jika terus dilukai?
*****
Hay,,
Maaf telat up,
Keasyikan nulis di buku jadinya malas ngetik😁
Hari ini niatnya gak up, tapi karena mungkin banyak yang nungguin ceritanya (PD banget deh gua😂) makanya aku up.
Jangan lupa like, komen dan juga vote ketika kalian sudah selesai membaca dan sudah mampir ke cerita bubuk rengginang aku ya,,
Happy reading semua,,
__ADS_1
Kalianlah penyemangatku,