Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 23. Peresmian Toko Cabang 9


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Gio sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Ayanda. Ia menyadari bahwa rasa yang ia pendam selama ini kepada Ayanda adalah rasa yang salah. Biarkanlah ia mencintai dan menyayangi Ayanda dalam diam, yang terpenting Ayanda bahagia. Dua Minggu ini, ia mencari tahu tentang Ayanda dan suaminya, dan yang ia dapatkan ternyata Ayanda sangat bahagia bersamanya. Inilah waktunya Gio untuk mundur perlahan, mengubur perasaannya dalam dalam.


Dering ponselnya berbunyi.


Gio : Iya ayah,,


Ayah : Bagaimana disana.


Gio : Oke, tidak ada masalah sama sekali,


Ayah : Good job, Nak.


Gio : Ayah, karena disini oke-oke aja bolehkan GI kembali ke ausi?


Ayah : Kenapa denganmu? Bukannya kemarin kamu semangat sekali? Kenapa sekarang terdengar sangat putus asa, apa kamu tidak bertemu dengan Ayanda?


Gio : Aku sudah bertemu dengannya, dia sudah bahagia. Ucapnya lirih.


Ayah : Bagaimana keadaan putri Ayah?


Gio : Dia sangat baik dan sangat bahagia,


Ayah : Serius? Ayah senang mendengarnya.


Gio : Tapi hatiku sesak Yah, jika dulu ayah mengizinkanku bersamanya aku yang akan membuatnya bahagia.


Ayah : Hahahaha, kasian Ayanda keluar dari kandang buaya masuk kandang singa jika dia bersamamu.


Gio : Ck, Aku mencintainya Ayah.


Ayah : Tapi dia tidak mencintaimu. Ayah hanya ingin putri Ayah bahagia dengan pilihannya.


Gio : Ayah,, rengeknya.


Ayah : Tidak ada bantahan, sekarang kamu tetap stay disana sampai nanti ayah menyuruhmu untuk pulang.


Gio : Baiklah.


Sekeras apapun ia merengek kepada sang ayah, keputusan ayahnya sudah final tidak bisa diganggu gugat lagi.


Hubungan telpon pun terputus.


Sebenarnya apa yang direncanakan Ayah? Gumamnya dalam hati.


Drrt Drrrt,,


Ponselnya kembali bergetar.


📞 Iya,


📞 Tetap kau pantau dan selalu kasih kabar kepadaku.

__ADS_1


Hheehhh,,


Helaan nafas panjang yang terdengar.


****


Hari ini adalah hari peresmian Toko Cabang ke-9. Ayanda dan Rion pun sudah siap untuk pergi ke acara tersebut karena mereka berdualah bintangnya. Rion dan Ayanda mengenakan pakaian senada yang sangat cocok dipakai oleh keduanya. Banyak orang yang menyangka bahwa Rion dan Ayanda adalah pasangan pengantin baru, padahal mereka sudah memiliki anak gadis berusia 13 tahun. Karena wajah Rion yang tampan dan baby face yang tidak terihat menua sedikitpun, dan juga Ayanda yang memang kecil mungil cantik dan manis. Banyak orang yang mengira masih berumur 20 tahunan. Pasangan yang sangat serasi. Mereka juga didampingi para asisten mereka, Arya dan Sita yang menggunakan pakaian senada terlihat seperti pasangan


Acara peresmian Toko Cabang 9 berjalan dengan lancar. Dari acara sambutan, pemotongan pita, syukuran, dan sekarang waktunya makan-makan.


Bermacam-macam hidangan ada disana dengan porsi yang banyak. Para kolega mereka sangat menikmati jamuan makan siangnya. Hingga ada salah satu koleganya yang harus buru buru kembali ke kantor. Rion dan Ayanda pun mengantarnya hingga berada di depan yoko. Koleganya pun pamit setelah mobilnya sudah ada di depan toko.


"Terimakasih Pak Rion," ucapnya sambil menjabat tangan Rion.


"Terimakasih Bu Ayanda, senang berbisnis dengan kalian," ucap koleganya.


Ia pun pamit setelah mobilnya sudah ada di depan toko.


"Ayo masuk," ajak Rion.


"Tante cantik," terdengar suara anak laki-laki yang memanggil. Rion dan Ayanda pun menoleh ke arah asal suara. Seorang anak laki-laki berkupluk yang melambaikan tangannya dengan senyuman manisnya.


Ayanda tersenyum, ia mengenali anak itu. Ia adalah Raska. Setelah pertemuannya waktu itu, ia tidak pernah melihat Raska lagi. Hari ini ia bertemu kembali dengan Raska tapi dengan Raska yang terlihat lemah. Raska pun menghampiri Ayanda dan Rion.


"Tante," sapanya dan langsung berhambur memeluk Ayanda, "aku kangen Tante," ucapnya sambil memeluk Ayanda.


"Tante juga kangen kamu Raska," jawab Ayanda. Rion yang melihat adegan itu memilih masuk ke dalam.


"Sayang aku ke dalam ya," kata Rion, dijawab dengan anggukan dan seulas senyuman.


"Apa kamu sakit Raska?" tanyanya seraya mengusap lembut pipinya.


Seulas senyum yang manis tersungging dari bibirnya. "aku baik-baik saja Tante," jawabnya.


"Serius?" tanyanya lagi, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.


"Apa ini toko Tante juga?"


"Iya, kenapa kamu ada disini?" tanyanya heran.


"Rumah aku disekitaran sini Tante."


"Siapa lelaki tadi? Suami Tante?" tanya Raska.


"Iya Raska, kenapa memangnya?"


Raska pun berjalan ke arah kursi di depan Toko dan mendudukkan tubuhnya yang diikuti Ayanda. Ia menopang kedua dagunya.


"Aku ingin punya ayah seperti om itu," ungkapnya.


"Om itu sayang sekali sama Tante, coba jika Raska punya ayah mungkin Ibu akan bahagia sama seperti Tante," jelasnya, dan terlihat ada gores kesedihan diwajahnya.

__ADS_1


"Kalo boleh tau ayah kamu ke mana?" tanya Ayanda dengan menggenggam tangan Raska. Dijawab dengan gelengan kepala dan membuat Ayanda semakin bingung.


"Aku dibesarkan nenek, karena ibu tidak mau mengurus aku, karena nenek sakit akhirnya aku dibawa kesini oleh Ibu. Aku tidak tau ayahku di mana, dari kecil aku tidak pernah melihat ayahku. Ibu selalu bilang ayah jahat meninggalkan ibu ketika aku masih di dalam kandungan dan ibu harus berjuang sendiri membesarkan aku, meskipun ibu selalu bilang aku anak yang tidak diinginkan tapi aku yakin ibu sayang sama aku," lirihnya. Ayanda langsung memeluk tubuh kurus Raska.


"Malang sekali kamu nak," ucapnya. Mendengar cerita Raska mengingatkan ia kepada Echa kecil, yang ditinggalkan ayahnya. Ketika memori tentang ayahnya terbatas dan juga haus akan kasih sayang seorang ayah. Echa kecil ingin sekali memiliki seorang ayah seperti teman-temannya. Pada akhirnya ia memanggil Gio dengan sebutan "Papa" dan disambut hangat oleh Gio. Sekarang Echa sudah bahagia, ayahnya kembali lagi disampingnya dan sangat menyayanginya.


Arya melihat dari jendela kaca, Ayanda sedang memeluk anak kecil di kursi tunggu depan toko, la menghampiri Rion.


"Anak itu siapa?" tanyanya pada Rion.


"Gak tau," jawabnya singkat, masih sibuk dengan benda pilihnya.


"Bu boss kayaknya sayang banget sama anak itu."


"Wajarlah, naluri seorang ibu. Lagian kan Echa udah gede gak mau dipeluk-peluk kayak gitu," terangnya sambil menunjuk ke arah Ayanda yang sedang memeluk Raska.


"Kenapa lu ga nyetak lagi aja?"


"Lu kira percetakan undangan," sahutnya sambil memukul kepala Arya dengan ponsel miliknya.


"Ya lu berdua kan masih muda. Apa salahnya nambah anak lagi, biar Bu boss betah di rumah karena punya mainan."


"Setelah Ayanda dan gua kembali lagi lima tahun yang lalu, gua dan Yanda mutusin untuk gak mau punya anak lagi. Cukup fokus mengurus Echa dan memberikan kasih sayang penuh kepada Echa, karena kan masa kecilnya kurang kasih sayang terutama dari gua," ungkapnya sedikit sendu.


"Punya bapak kayak lu mah kayak uji nyali, kalo gak kuat cukup melambaikan tangan pada kamera "


"Sialan lu, emang gua uka-uka." jawabnya. Disambut dengan kekehan Arya.


"Raska!" panggil seorang wanita. Raska pun menoleh ke asal suara.


"Ibu," ucapnya pelan. Ayanda yang ikut menoleh pun dibuat terkejut.


"Kamu?" sergap Ayanda. Dinda pun terkejut melihat Ayanda yang sedang memeluk Raska.


"Pulang!!" ajaknya dan menarik tangan Raska dengan keras.


"Hey, bisa pelan gak? Dia anakmu!!" teriak Ayanda.


"Tidak usah mengurusi urusanku, dasar wanita jal*ng," ucapnya kepada Ayanda.


Mendengar kata itu tangan Ayanda terangkat dan tanpa basa basi menampar wajah Dinda.


"Yang harusnya disebut wanita jal*ng itu kamu," teriak Ayanda lagi.


Keributan dua wanita itu pun tak terelakan, mendengar kegaduhan diluar Rion dan Arya bergegas keluar. Alangkah terkejutnya mereka, Dinda ada di depan mata mereka sekarang dan sedang adu mulut dengan Ayanda.


"Sayang," panggil Rion dan menghentikan pertikaian kedua wanita dihadapannya. Rion langsung memeluk tubuh Ayanda karena melihat wajahnya yang sudah sangat kacau.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rion, yang masih mendekap tubuh Ayanda. Sijawab dengan gelengan kepala. Rion langsung mencium ujung kepalanya.


Melihat kemesraan mereka Dinda semakin geram, seharusnya ia yang diperlakukan seperti itu bukan Ayanda.

__ADS_1


******


Happy reading


__ADS_2