Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 104. Pernikahan Yang Tak Diinginkan


__ADS_3

Ayanda termenung dalam kamarnya. Pinangan dari mamah mertuanya membuat ia pusing. Ia menggenggam cincin pertunangannya dengan Gio, lalu menatapnya dengan nanar. Bayang-bayang wajah Gio tak mampu hilang dari ingatannya. Tidak dipungkiri rasa cinta dan sayang itu masih ada di hatinya. Ayanda meyakini, jika Gio pergi bukan tanpa alasan. Ada alasan yang kuat yang membuatnya menjadi pecundang seperti ini.


Echa masuk ke kamar mamahnya, mendekati Ayanda yang tengah merenungi hidupnya.


"Mah," panggil Echa.


Ayanda tersenyum ke arah putrinya. Senyuman yang sangat menyiratkan kesedihan.


"Echa harap Mamah mau menerima lamaran Nenek," kata Echa.


Hati Ayanda bagai kekurangan oksigen mendengar ucapan dari putrinya. Sedangkan dirinya sudah tidak memiliki rasa apa-apa terhadap Rion. Ayanda tak bisa menjawab apapun. Hanya pandangan kosong yang banyak menyimpan luka.


"Echa hanya ingin kita kembali seperti dulu, menjadi keluarga yang lengkap dan bahagia," ucapnya lagi.


"Tidak semudah itu, Dek," sahut Ayanda.


"Bukannya Mamah pernah bilang, cinta akan datang karena terbiasa," balasnya.


Seketika Ayanda langsung terdiam. Cinta akan datang karena terbiasa jika bersama orang yang tidak pernah membuat dirinya terluka. Masalahnya ini berbeda, akankah cintanya akan kembali datang bersama pria yang sudah menggoreskan luka yang sangat dalam?


"Jika Mamah menolak, Echa akan ikut nenek dan onty pulang ke Jakarta," timpalnya.


Ayanda sangat tak percaya mendengar ucapan dari Echa. Ancaman yang mampu menggoyahkan hati Ayanda.


"Dek, jangan bicara seperti itu. Jangan tinggalin Mamah," pinta Ayanda.


"Mamah tinggal pilih, menerima lamaran Nenek atau Echa ikut ke Jakarta dengan onty dan Nenek," sahutnya.


Pilihan yang Echa berikan seperti makan buah simalakama. Tidak ada yang membahagiakan, menyakitkan semua.


"Echa tunggu jawabannya besok pagi," Berlalu meninggalkan mamahnya dalam kebingungan.


--------


Pagi harinya, Ayanda masuk ke kamar mamah mertuanya. Bu Dina tersenyum melihat Ayanda yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Mah, aku akan menerima lamaran Mamah," ucapnya sendu.


Bu Dina mengernyitkan dahinya, ia curiga ada yang tak beres dengan jawaban menantunya. Sedikit banyak ia tau sifat Ayanda.


"Teh, jika terpaksa lebih baik jangan. Mamah tidak mau melihat Teteh terluka lagi," ujar Bu Dina.


"Tidak ada pilihan lain, Mah," balasnya seraya menundukkan kepalanya. Menahan sesak di dadanya yang sejak semalam ia rasakan.


"Ada apa?" tanya mamah mertuanya lembut dengan menggenggam tangan putrinya. Dijawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Teh, apa masih ragu bercerita kepada Mamah?" timpalnya lagi.


"Maafkan aku Mah," kata Ayanda yang sudah menitikan air mata.


"Aku tidak ingin Echa meninggalkan ku. Echa adalah segalanya untukku," jelasnya.


Hati Bu Dina sangat terenyuh mendengar penjelasan dari Ayanda. Demi putrinya, ia rela mengorbankan kebahagiaannya lagi dan lagi.


"Teh, biar Mamah yang berbicara kepada Echa," ujar Bu Dina.


Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. "aku tidak ingin Echa semakin membenciku. Semuanya akan ku korbankan untuk putriku. Meskipun hati dan perasaanku," lirihnya.


Bu Dina langsung mendekap tubuh Ayanda. Tangis Ayanda pun tumpah dalam dekapan mamah mertuanya. Beban hatinya kini semakin berat harus menanggung luka dan pedih untuk ke sekian kali.


Ayanda dan mamah mertuanya memberitahukan kabar bahagia ini. Hanya Echa yang terlihat gembira, berbeda dengan Nisa yang menatap wajah kakak iparnya dengan intens. Sangat terlihat jelas, jika Ayanda tidak bahagia dengan keputusannya ini.


Ketika mamah mertua dan juga Nisa telah kembali ke Jakarta, di sinilah Ayanda. Menatap kegelapan dari balik jendela kamarnya. Hatinya sendu, semua ini seperti mimpi buruk baginya.


"Aku masih berharap, kamu akan datang menjemputku dan membawaku terbangun dari mimpi buruk ini," gumamnya.


Hari terus berganti, tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Kabar rujuknya Ayanda dan juga Rion membuat sebagian orang senang mendengarnya. Tapi tidak dengan Arya, Nisa dan juga mamahnya.


"Menikah karena ancaman Echa," ucap Arya pada Nisa.


"Aku cuma kasian sama Teteh. Berkorban lagi dan lagi, kapan dia merasakan bahagia?" tanya Nisa.


Di kamarnya, Ayanda merenungi kisah hidupnya. Kebahagian bersama Giondra pupus ditengah jalan tanpa ada kejelasan. Kini, ia harus kembali lagi kepada pria yang telah membuatnya hancur berkeping-keping.


"Akankah aku masih bisa mencintaimu, Mas?" lirihnya.


Semalaman Ayanda enggan tertidur. Memikirkan acara pernikahannya esok hari. Malam pun berganti dengan pagi. Wajah Ayanda sudah terlihat sangat cantik dengan polesan make-up dari MUA terkenal. Cocok dengan kebaya yang ia gunakan. Akan tetapi, raut wajah kesedihannya tidak bisa ia sembunyikan.


"Ay, mau jadi pengantin kok muka sedih gitu," ucap Andri.


Ayanda hanya tersenyum tipis. Andri pun memeluk tubuh Ayanda. Ia tau, pernikahan ini tidak diinginkan oleh sahabatnya. Hanya saja, Ayanda tidak mau mengecewakan Echa dan tidak ingin Echa pergi meninggalkannya.


"Kamu wanita hebat. Keep strong," lanjutnya.


Ayanda tak kuasa menahan tangisnya saat ini. Andri yang menyadari jika Ayanda sedang menangis segera melepaskan pelukannya.


"Jangan nangis, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan untukmu dengan cara-Nya sendiri," ujar Andri.


Acara akad nikah pun akan segera diselenggarakan. Penghulu pun sudah tiba di kediaman Ayanda. Rion yang sangat tampan dan juga Ayanda yang sangat cantik dengan balutan kebaya yang ia kenakan. Senyum kepalsuan yang Ayanda tunjukkan kepada semua orang yang berada di sana.


Ayanda sudah duduk di samping Rion. Pak penghulu pun sudah memberi wejangan-wejangannya menurut syariat agama. Hingga acara prosesi ijab kobul pun tiba.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Pak Penghulu.


Rion menganggukkan kepalanya dengan mantap. Sedangkan Ayanda hanya menundukkan kepalanya. Menyembunyikan kesedihannya. Bu Dina, Nisa dan juga Arya menatap sedih ke arah Ayanda. Hanya Echa yang kini tersenyum lebar. Entah itu senyum bahagia atau senyum yang penuh dengan luka. Jika sekilas, hanya wajah yang dipenuhi keceriaan yang Echa pancarkan.


Saya nikahkan dan kawinkan, saudara Rion Juanda bin Jodi Juanda dengan Ayanda Rashani binti Bima Aditya dengan mas kawin emas 50 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.


Saya terima nikah dan kawinnya Ayanda Rishani binti Bi ....


"Ayank!" panggil seseorang dengan lantang di depan pintu. Jawaban ijab kobul Rion pun terhenti.


Semua mata pun tertuju pada asal suara. Tak terkecuali Ayanda, ia menatap Gio dengan berkaca-kaca. Terlebih melihat pria yang ia rindukan terbalut selang infus dengan wajah pucatnya.


Gio melangkahkan kakinya ke arah Ayanda, baru saja beberapa langkah tubuhnya tersungkur.


"Gi," teriak Ayanda. Ia berlari ke arah Gio yang sudah tak sadarkan diri.


"Gi, bangun Gi," ucapnya yang tengah menyadarkan Gio.


Tak lama Remon dan tim medis pun datang. Mereka membawa tubuh Gio ke rumah sakit.


"Sebaiknya, ibu ikut kami ke rumah sakit," pinta Remon.


Ayanda mematung di tempatnya. Ia tidak mungkin meninggalkan acara ijab kobul yang tertunda ini.


"Baiklah, mungkin ibu akan melanjutkan acara ini. Kalau begitu, saya permisi," ucap Remon.


Ayanda masih berdiri di teras rumahnya. Sedangkan di dalam rumah suara riuh dan ghibahan para tamu sangat jelas terdengar.


"Bagaiman ini Pak? Apa acaranya mau dilanjut?" tanya Pak Penghulu.


****


Hay,,,,


Aku menepati janji ku lagi.


Notes.


Hargailah pemikiran para author yang sudah susah payah memikirkan alur cerita yang mereka buat. Sederhanakan pikiran kalian. Jika suka lanjutkan baca jika tidak suka abaikan. Be a smart reader..


Tolong dibaca notes di atas ya..


Di akhir cerita emang sengaja aku sisipkan suka duka ku jadi author remahan kayak gimana. Ada reader yang bilang jika aku membela diri dengan cuitan-cuitanku dibawah cerita ini. Untuk apa? Ini ceritaku, aku yang buat, aku yang mikir alurnya. Jika menurut kalian kayak benang kusut ya udah gak usah lanjut bacanya. Baca terus tapi nyela juga. Sama aja dong gak menghargai kerja kerasku selama ini. 🤧


Ya sudahlah, suka-suka kalian aja. Mikir cerita itu gak semudah bikin kopi. Dalam waktu 2 menit kelar.

__ADS_1


Bagi yang masih mau cerita ini lanjut kencengin lagi jempolnya, komennya dan juga votenya biar aku ngegas menuju End.nya ,,,


Happy reading semua..


__ADS_2