Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 96. Kepergian Ayanda


__ADS_3

Dari balik pintu kamar, Gio Mendengar ucapan lirih Echa yang membuatnya semakin bersalah. Jika ia mau membicarakan semua ini kepada Ayanda, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Isak tangis Echa membuat hatinya perih.


"Maafkan Papa, Sayang. Semua ini salah Papa," gumamnya.


Dengan wajah yang sangat muram Gio turun ke lantai bawah. Di sana masih ada ayahnya dengan wajah penuh kemurkaan. Sekarang Gio hanya bisa pasrah, karena ia akui ini kesalahan terbesarnya.


"Jika kamu tidak bisa menemukan Ayanda, tidak usah kem ...."


"Ayah," panggil seseorang di depan pintu.


Genta dan Gio langsung melihat ke asal suara, Gio langsung berhambur memeluk Ayanda. Tidak ada penolakan dan juga balasan dari Ayanda. Ia hanya terdiam.


"Maafkan aku," ucapnya penuh dengan penyesalan.


"Echa sangat mengkhawatirkan mu, Nak. Temuilah dia," pinta ayah.


Seperti angin segar, ayahnya membebaskan dirinya dari pelukan Gio dan bergegas menghampiri Echa di kamarnya. Hatinya sangat sakit ketika isak tangis sangat lirih terdengar. Ayanda langsung berlari dan memeluk tubuh Echa yang sedang bergetar.


"Maafkan, Mamah," ujarnya.


Echa semakin mempererat pelukannya kepada Ayanda, seolah ia tak mau terpisah dengan Mamahnya.


"Are you oke?" tanya Echa setelah melepaskan pelukannya.


"I'm not fine, but I should be fine," Dengan senyum getir di wajahnya.


"I'm proud of you, Mah," ucapnya.


Ayanda hanya tersenyum mendengar ucapan anak semata wayangnya ini.


Di ruang tamu tatapan tajam Genta tertuju pada Giondra. "berbicaralah dengan Ayanda. Semoga saja dia mau memaafkan kebodohanmu," ujar ayahnya.


Gio seperti anak kecil, yang harus mengikuti semua perintah ayahnya beserta hukumannya.


Di depan kamar Echa, dilihatnya Ayanda sedang memeluk erat tubuh putrinya dengan wajah sendu. Ia memejamkan matanya sejenak dan mengatur nafasnya.


"Sayang, bisa kita bicara sebentar," pintanya pada Ayanda.


Echa hanya melirik ke arah papanya sekilas dengan tatapan kecewa. Sedangkan Ayanda mengangguk pelan, mengabulkan permintaan Gio.


"Sayang, maafkan aku," sesal Gio, ketika mereka telah sampai di taman belakang.


"Jika kamu masih ragu dengan hatimu, masih ada waktu untuk membatalkannya," balas Ayanda dengan senyum tipis.


Deg,


Jantung Gio seketika berhenti berdenyut. Apa yang ia rasakan diketahui oleh calon istrinya.


"Aku hanya tidak ingin membina rumah tangga dalam keraguan," lanjutnya.

__ADS_1


Gio hanya terdiam tak menjawab apa pun yang dikatakan Ayanda.


"Yakinkanlah hatimu dulu. Jika memang kamu masih ragu, aku yang mundur."


"Ketika aku sudah mencintaimu, tapi kamu malah ragu pada hatimu. Lucu ya," tuturnya dengan tertawa kecil.


"Aku hanya tidak ingin gagal lagi membina rumah tangga. Cukup sekali dalam hidupku mengenal dan merasakan kegagalan rumah tangga," kata Ayanda.


Ayanda menarik nafas lalu membuangnya. Di sini seolah dirinya sedang berbicara seorang diri. Mulut Gio enggan untuk menjawab perkataan Ayanda. Ia tersenyum tipis, diamnya Gio semakin membuatnya yakin.


"Aku tidak akan memaksa, toh ketika kamu ragu aku tinggal pergi dari hidupmu sejauh mungkin," terangnya.


Bak disambar petir di siang bolong. Ucapan terakhir Ayanda mampu mengoyak-ngoyak hatinya,


"Maafkan aku," ucapanya sembari menatap wajah Ayanda.


"Jika kamu masih ragu, bicaralah. Setidaknya aku tau hatimu," balasnya dan berlalu meninggalkan Gio.


Hanya rasa sesak yang kini Ayanda rasakan. Dengan melihat wajah Gio, ia sangat yakin jika memang ada keraguan dalam hati calon suaminya.


Tengah malam, ketika orang-orang sudah terlelap Ayanda dan juga Echa sedang berkemas.


"Mah ...."


"This is that what if we to do," jawab Ayanda.


Echa melihat sang mamah dengan tatapan sedih. Ia pun memeluk tubuh Ayanda dengan erat.


"Bahagia Mamah adalah bersamamu," balasnya seraya tersenyum.


"Sudah selesai?" tanya Genta kepada dua wanita yang sedang berpelukan.


"Sudah, Yah," jawab Ayanda.


Setelah menemui Gio, Ayanda segera menemui ayahnya. Ia meminta izin untuk menata hidupnya kembali. Keraguan Gio membuatnya terpukul mundur. Biarkan rasa sayang dan cintanya ia pendam sendiri. Ketulusan yang Ayanda inginkan, bukan keraguan. Genta mengerti akan perasaan putrinya. Ia tidak memaksa, karena memang Ayanda memiliki trauma dalam berumah tangga. Terlebih sikap Gio sekarang ini hanya seperti pecundang. Hanya semangat di depan tapi kendor di belakang.


Ketika taksi pesanan mereka sudah datang, Ayanda dan Echa pamit kepada Genta. Mereka memeluk erat tubuh renta ayah dan kakeknya.


"Jaga diri kalian baik-baik," serunya.


Ayanda dan Echa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian pergi dengan taksi pesanan mereka.


"Inilah pelajaran buatmu Giondra, cinta yang selama ini kamu kejar mati-matian kini malah kamu ragukan. Biarkan putri dan cucu ayah hidup bahagia," gumamnya.


Kini, rumah yang dua kali lipat dari lapangan bola terasa sepi. Kembali seperti rumah kosong yang tak berpenghuni.


Paginya, Gio bertekad akan menemui Ayanda untuk mengutarakan keyakinannya. Semalaman dirinya enggan terpejam memikirkan setiap perkataan dari Ayanda. Rasa sayang dan cinta yang begitu besar mampu meyakinkan hatinya lagi.


Sudah berkali-kali Gio mengetuk pintu kamar Ayanda. Tidak ada jawaban dari dalam. Dengan hati sedikit takut, ia membuka pintu kamar Ayanda dan masuk tanpa permisi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sayang," panggilnya.


Sama sekali tidak ada jawaban. Langkahnya terhenti ketika melihat ponsel dan cincin di meja rias.


"Ini ...."


Matanya nanar ketika yang ia dapatkan cincin pertunangannya dengan Ayanda dengan sebuah kertas dibawahnya.


Maaf, aku pergi tanpa pamit.


Aku tau kamu masih ragu, jadi yakinkanlah hatimu dulu. Jika kamu masih tetap tidak yakin, lupakanlah hubungan kita. Bahagialah dengan wanita yang mampu meyakinkan hatimu.


Aku lepas ikatan mu, karena mengikat dengan keraguan hanya mampu menyakiti hatiku. Terimakasih untuk satu tahun ini menemani segala sedihku. Terimakasih sudah memberiku cinta yang sangat tulus hingga aku pun mulai mencintaimu.


Maaf jika aku egois, tapi aku tidak ingin gagal lagi untuk kedua kalinya. Aku yakin akan dirimu, tapi kamu ragu akan hatimu,,


Aku bisa apa?


Inilah jalan terbaik untukku dan kamu. Aku akan bahagia dengan putriku dan kamu mungkin akan bahagia dengan wanita lain.


Jika suatu saat kita bertemu kembali masih dalam keadaan sendiri, mungkin kita memang ditakdirkan bersama. Jika sebaliknya, aku dan kamu memang tidak berjodoh.


Maafkan keegoisanku ini. Semua ini aku lakukan karena aku tidak ingin merasakan sakit untuk kesekian kalinya.


Aku pamit,


Aku mencintaimu, Giondra.


Tetesan air mata kini membasahi kertas yang ia genggam. Sakit dan hancur Giondra rasakan. Keraguan hatinya mampu membuat Ayanda mundur.


"Ayah!" teriaknya.


Berkali-kali ia memanggil ayahnya namun tidak ada sahutan. Ia bergegas ke ruangan kerja sang ayah. Genta sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya.


"Ayah, kemana Ayanda?" tanya Gio dengan wajah yang kacau.


"Kamu masih peduli? Bukannya kamu ragu," sinisnya.


Gio hanya tertunduk mendengar ucapan dari ayahnya.


"Kamu yang dengan keras kepalanya mengejar Ayanda selama hampir sepuluh tahun, tapi kini dengan mudahnya meragukan hatimu padanya. Pria macam apa kamu?"


"Jangan ganggu mereka, biarkan mereka bahagia. Tanpamu dan juga Rion," ucapnya dengan nada tinggi.


Perkataan ayahnya semakin membuat Gio tertunduk dalam. Merenungi kebodohannya yang terhasut oleh ucapan mantan pacarnya. Hatinya bertekad akan mencari Ayanda kemana pun juga. Ia akan memperjuangkan cintanya.


*****


To be continued,

__ADS_1


Menuju End.


Happy reading semua,,


__ADS_2