
Rasa sesak masih menyelimuti hati Ayanda, semua orang sudah meninggalkan acara diselenggarakannya konser tapi Ayanda dan Gio masih tetap berada disana. Gio tak sedikitpun melepaskan pelukannya terhadap Ayanda meskipun bajunya basah karena air mata Ayanda.
"Kalo lu begini terus, gua harus gimana yank?" Membuka suara memecah keheningan.
"Gua lelah Gi, semakin gua mencoba melupakannya semakin hati ini sakit." Masih terisak dan sangat lirih.
Gio menghela nafas kasar, karena sebegitu besarnya cinta Ayanda untuk suaminya meskipun sudah disakiti berkali kali juga.
"Jika lu benar benar sayang sama suami lu, relakanlah. Merelakan adalah salah satu bentuk mencintai yang paling dalam. Sama kayak gua, gua rela melepaskan lu untuk orang lain, itulah cara gua menunjukkan betapa dalamnya cinta gua sama lu."
Mendengar kejujuran Gio isakan Ayanda terdengar lagi, air matanya terjun bebas untuk kesekian kalinya. Gio menggenggam erat tangan Ayanda, dan mengunci tatapan mata mereka.
"Gua sayang dan cinta sama lu, rasa sayang gua gak sedikitpun berubah untuk lu meskipun jarak dan waktu telah tega memisahkan kita. Bahagia lu adalah bahagia juga dan tangis lu adalah tangis gua juga." Ayanda langsung memeluk erat tubuh Gio dan menangis dalam pelukannya. Ia tak percaya seorang Giondra masih setia menjaga cintanya hanya untuknya.
*****
Malam ini entah kenapa pikiran Echa menjadi tak karuan. Di rumah ia sendiri hanya ada Pak Mat Dan juga Mbak Ina yang menemaninya. Hatinya terasa hampa tanpa kehadiran kedua orangtuanya. Mamahnya masih bertugas dan ayahnya entah kemana. Echa sengaja tidak mengangkat telpon dari ayahnya tadi pagi sebagai aksi protesnya, tapi ayanhnya sama sekali tidak peka. Tak terasa cairan bening menetes dari matanya.
"Non," panggilan itu membuyarkan lamunannya dan buru buru ia menyeka air matanya.
"Mau makan apa malam ini?" Karena memang dari kemarin nafsu makan anak majikannya ini berkurang.
"Mbak, temani Echa ke mall aja ya. Echa pengen makan disana." Mbak Ina pun mengangguk setuju. Ia melihat ada gores sedih di mata anak majikannya ini. Putri semata wayang yang biasanya disayang dan dimanja oleh kedua orangtuanya tapi sekarang malah di anak tirikan karena permasalahan orangtuanya.
Sesampainya di Mall, Echa berkeliling keliling dulu untuk mencari sesuatu yang selalu dibuntuti oleh Mbak Ina. Setiap Toko ia masuki tapi tak satu pun yang ia beli, hingga ia sudah lelah dan masuk ke food court. Sengaja ia memilih food court daripada restoran, ia cukup senang ketika ia makan ada suara riuh berisik dari orang orang yang sedang mencoba permainan. Mbak Ina memesan makanan yang diminta anak majikannya itu sedangkan Echa sudah duduk di tempat yang sudah ia pilih.
Ia tersenyum melihat orang orang yang sedang asyik bermain, hingga mataya mengunci pada sosok yang sangat ia kenali. Ia menajamkan matanya, tanpa ia sadari ia menghampiri orang itu.
"Ayah!" Yang dipanggil pun menoleh dan sedikit terkejut.
"Ayah, aku mau main itu." Sambil menunjuk nunjuk permainan yang ia mau. Echa membelalakkan matanya tak percaya, ada anak laki laki yang memanggil ayahnya dengan sebutan ayah juga.
Siapa dia? Kenapa memanggil ayahku dengan sebutan ayah juga?
__ADS_1
Tak terasa kristal bening jatuh membasahi pipinya, ia mencoba tersenyum pada ayahnya dan langsung meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Mbak Ina yang mencari Echa pun dibuat kaget karena baru kali ini melihat wajah ceria Echa yang mengeluarkan air mata.
"Kita pulang Mbak." Sambil berlalu meninggalkan foodcourt tersebut. Mbak Ina hanya mengikuti perintah anak majikannya itu.
Di kejauhan sorot mata kesedihan memandangnya, ingin mengejarnya namun ia sudah terikat janji pada seseorang. Bimbang dan kalut jadi satu.
Di dalam mobil Echa hanya terdiam dan menyenderkan kepalanya, tatapan sendu dan guratan kesedihan sangat nampak wajah cerianya. Pak Mat melihat ke arah Mbak Ina, tapi dijawab dengan gelengan kepala oleh Mbak Ina.
Sesampainya di rumah Echa langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya. Mbak Ina hanya bisa menghela nafas, karena ia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Echa menelungkupkan kepalanya pada kakinya, isakan demi isakan terdengar sangat pilu. Melihat kenyataan tadi sangat menyakiti hatinya sekarang ini.
Kenapa ayah tega sama Echa? Kenapa?
Anak ayah cuma Echa, tapi kenapa anak laki laki itu juga manggil dirimu ayah? Echa kecewa yah, sangat kecewa.
Air matanya sangat deras membanjiri pipinya. Hingga bayangan wajah sang mamah hadir dikepalanya.
Echa bergelut dengan pikirannya sendiri dengan air mata yang tak kunjung henti. Tangis dan air matanya mengguratkan rasa kecewa yang sangat teramat dalam. Laki laki terbaik menurutnya malah mengkhianati keluarganya. Itulah yang ada dibenaknya sekarang.
*****
Gio membaringkan tubuh Ayanda yang sudah terlelap di kamarnya, ia merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Ayanda.
"Tidurlah! Gua harap esok tangis lu mereda dan menjadi gelak tawa." Mencium dalam kening Ayanda sebelum meninggalkan kamarnya.
Pagi harinya Gio dan ayah sedang berbicara serius tentang beberapa urusan kerja bersama Remon juga tentunya.
"Gi!!" Teriak Ayanda yang membuat tiga lelaki penghuni rumah itu berlari ke arah Ayanda.
"Ada apa Yank?" Ternyata wanita kesayangannya itu sudah menangis.
"Kita pulang sekarang." Sambil memegang erat tangan Gio. Giopun merasa bingung, apa yang membuatnya ingin segera pulang.
__ADS_1
"Echa Gi," dengan air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi.
"Kenapa dengan cucu ayah?" Terdengar sangat panik.
"Echa pingsan dan sekarang masuk Rumah Sakit." Terdengar sangat lirih.
"Siapkan private jet sekarang!!" Remonpun segera mengikuti perintah Boss Besarnya itu.
*****
Waktunya berangkat sekolah tapi Echa belum keluar kamar juga, Mbak Ina berkali kali mengetuk pintu kamarnya namun tak urung dibukakan. Merasa curiga ia membuka pintunya namun dikunci dari dalam. Mbak Ina yang merasa panik pun akhirnya memanggil Pak Mat menyuruhnya mendobrak pintu kamar Echa. Alangkah terkejutnya mereka melihat anak majikannya sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat. Mereka langsung membawa Echa ke Rumah Sakit.
Di Kantor Cabang,
"Pak Arya!" Arya yang baru keluar dari mobilnya pun langsung menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Pak Mat sedikit berlari menghampiri Arya. Arya sedikit bingung karena tak biasanya supir dari Bu Bossnya ini mencarinya.
"Ada apa Pak Mat?"
"Maaf pak, tolong sampaikan kepada Pak Rion non Echa masuk Rumah Sakit." Membuat Arya kaget bukan kepalang.
"Sakit apa Echa?" Sambil mengambil benda pipihnya dan menghubungi seseorang, namun hubungan telponnya sama sekali tak terhubung.
"Brengs*k!" Umpatnya kesal.
"Saya sudah menghubungi Pak Rion tapi handphonenya tidak aktif, makanya saya kesini. Bu Boss sudah saya hubungi dan akan segera terbang dari Singapur." Arya hanya bisa menghela nafas kasar dan berjanji akan mencoba menghubungi Bossnya lagi.
Setelah kepergian Pak Mat Arya Hanya bisa merutuki kebodohan sahabatnya itu.
Sekarang lu dalam masalah besar.
*****
Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘😘
__ADS_1