
Gio mampir ke kedai kopi favorit Ayanda, ia duduk di pojokan samping kaca dengan tatapan tak terbaca. Hingga sebuah iringan lagu membuyarkan pikirannya.
Mungkin ini jalan takdirku
Mencintai tanpa dicinta
Tak mengapa bagiku
Asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
Telah lama ku pendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku
Mencintaimu pun adalah bahagia untukku
Bahagia untukku
"Kenapa lagunya selalu pas sama soundtrack hidup gua sih? Kedai kopi ini selalu tau perasaan gua" ucapnya sambil tersenyum kecut.
Ponselnya berdering,
Iya,
Apa? mengepalkan tangannya.
Ikuti dia jangan sampe kehilangan jejak.
Gio pun meninggalkan kedai kopi dengan wajah yang sangat khawatir.
"Shiit, pergi kemana kamu ayank." Sambil terus menatap layar ponselnya.
******
Disinilah Ayanda sekarang, di sebuah taman yang jauh dari ibu kota.
# flashback on
"Harusnya kamu malu wanita laknat, karena telah merebut Rion dari aku" ucap Dinda di depan banyak kolega Rion dengan sangat emosi.
"Cukup Dinda!!" Bentak Rion.
"Jangan pernah kamu menghina istriku, yang lebih hina itu adalah kamu!" Ucapnya dengan wajah yang sudah merah padam.
"Apa kamu lupa dengan hubungan kita dulu?" Ucapnya dan membuat semua orang terkejut tak terkecuali Ayanda.
"Hubungan yang sangat bodoh, karena aku rela mencampakkan istriku hanya demi wanita sampah sepertimu," ucapnya dengan penuh penekanan sambil menunjuk tepat di depan wajahnya.
"Cukup Rion, dengan semua penghinaanmu itu, kamu lihat anak laki laki ini." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Raska yang sedang kebingungan disana.
"DIA ANAKMU! DARAH DAGINGMU!" Ucapnya setengah berteriak.
__ADS_1
Jleb,
Hati Ayanda seperti ditusuk pedang tajam, kekuatannya runtuh seketika, seluruh badannya seolah tak bertulang, hatinya hancur lebur.
Tidak hanya Ayanda, Arya dan juga para koleganya terkejut dibuatnya.
"Sita, bawa Bu Boss pergi dari sini." Perintah Arya. Arya sangat paham keadaannya semakin memanas. Sita pun membawa Ayanda pergi dari Toko Cabang. Di tengah perjalanan ia meminta Sita untuk menurunkannya di kedai kopi.
"Tapi Bu, nanti kalo pak Arya dan Pak Boss nanya gimana?"
"Bilang saja saya ingin sendiri." Ucapnya turun dari mobil.
Ketika mobil yang membawanya tak terlihat lagi, Ayanda menelpon seseorang untuk menjemputnya. Disinilah akhirnya ia tiba, di sebuah Taman asri nan indah dan sejuk, jauh dari keramaian.
# flashback off
*****
"Jangan membual kamu, apa buktinya jika anak itu adalah anakku?"
"Apa kamu lupa kita pernah melakukannya, dan ini darah dagingmu Rion," ucapnya dengan meneteskan air mata. Rion dan Arya pun benar benar dibuat shock.
"Ayah," ucap Raska dan berlari memeluk tubuh Rion. Tidak ada reaksi darinya, hanya emosi yang memenuhi hati dan pikirannya sekarang ini. Rion melepaskan pelukan anak itu dan meninggalkan tempat itu diikuti oleh Arya. Ada guratan kecewa dari wajah Raska.
Di dalam mobil, Rion tidak berkata sepatah kata pun. Dia hanya menyenderkan kepala sambil memejamkan matanya. Arya pun tidak berani memulai obrolan karena situasi yang tidak memungkinkan. Sampailah mereka di Toko Pusat. Ia bergegas masuk ke ruangannya dengan keadaan sangat kacau.
"Nih minum dulu," ucap Arya sambil menyodorkan botol air mineral kepada Rion. Rion pun meneguknya.
Arya memberanikan diri menanyakan hal yang tadi. "Apa bener anak itu anak lu?" Interogasi Arya.
"Hey bro, lu masih ingatkan si Dinda itu mantan pegawai club dan lu selalu diajak kesana kan?" Tanyanya.
"Ya gua cuma minum sedikit, ga sampe mabok."
"Itu yang lu inget, mungkin banyak yang gak lu inget kalo abis dari sana setelah mabok."
Rionpun mulai berfikir keras, tapi seingatnya ia tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita itu. Sama sekali tidak pernah. Rion pun bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Bro, kalo itu anak lu gimana?" Ucap Arya sontak membuat Rion melongo.
"Apa lu akan ninggalin Ayanda dan Echa untuk kedua kalinya?" Tanyanya.
Rion terdiam mendengar pertanyaan Arya, ia sendiripun bingung jika anak itu benar benar anaknya apa yang harus ia lakukan.
"Bukan hanya miskin, pasti lu akan ditinggalin sama Ayanda gua sangat yakin." Ucapnya sambil meneguk habis air yang tersisa di botol.
"Pikirin baik baik, jangan pernah lu masuk ke dalam jurang yang sama." Ucapnya sambil menepuk bahu Rion dan meninggalkannya sendiri untuk berfikir.
Ia bergelut dengan pikirannya sendiri, tak lama Rion tersadar akan keberadaan istrinya, ia bergegas mencari Arya.
"Bas, Yanda dimana?" Tanyanya.
"Gua suruh Sita bawa dia pergi, ntar gua telpon Sita dulu." Jawab santai Arya. Rionpun duduk di kursi ruangan asistennya itu.
Setelah mengakhiri sambungan telponnya. Arya buka suara." Kata Sita Ayanda tadi mampir ke kedai kopi," membuat Rion khawatir.
__ADS_1
"Kenapa Sita gak nemenin Yanda?" Tanyanya sedikit emosi.
"Katanya Bu Boss ingin sendiri," ucap Arya menirukan ucapan Sita.
”Shit," umpatnya dan langsung berlari keluar.
"Mau kemana lu?" Teriak Arya namun tidak digubris oleh Rion.
Rion pun melajukan mobilnya ke kedai kopi favorit istrinya. Nihil istrinya tidak ada disitu. Ia yakin jika istrinya sangat shock dengan kejadian siang tadi.
"Kamu dimana sayang?" Sambil terus melajukan mobilnya tanpa arah tujuan, karena rasa khawatir yang sekarang mendominasi hati dan pikirannya.
******
Melihat lokasi yang dikirim orang kepercayaannya Gio mengernyitkan kedua alisnya, lokasinya tidak jauh dari villa miliknya. Ia pun langsung menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai disana.
Di Taman ada wanita yang sedang duduk seorang diri, wajahnya terlihat kacau dan pandangannya pun kosong. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh luka dan kecewa hingga tak terasa cairan bening jatuh dari sudut matanya dan membasahi pipinya.
"Menangislah," ucap seseorang sambil menyerahkan sapu tangannya.
Ayanda pun menoleh ke asal suara, ia tersenyum kecut kepada orang itu dan lalu meraih sapu tangan itu.
"Lap ingusnya," ucapnya dan mendudukkan diri disamping Ayanda.
"Gua nangis Gi, bukan pilek." Jawab Ayanda sambil memukul lengan Gio.
"Oh udah mulai gua guahan nih," ucapnya melirik Ayanda.
"Dari dulu kan emang begitu gua lu." Jawab Ayanda heran.
"Kirain mau sayang sayangan," ucapnya dengan kekehan.
"Maunya lu itu mah," sambil menyerahkan sapu tangannya.
"Simpen aja buat kenangan kenangan, takutnya lu kangen sama gua." Ucapnya.
"Terus gua laminating, gua kasih figura terus gua pajang gitu di tembok."
"Bagus juga idenya, tapi jangan buat lap meja tuh sapu tangan gua."
"Tau aja lu tadinya mau gua pake buat ngelap meja." Jawabnya dengan tertawa.
Kamu masih seperti yang dulu, menutupi kesedihanmu dengan tawamu yang palsu itu.
*****
Nah nah nah,,
Baru merasakan manisnya madu, sudah disuguhi racun lagi.
Apakah Ayanda akan tetap bertahan atau memilih untuk mundur pelan pelan?
Favoritkan dulu novelnya agar tak ketinggalan kelanjutan ceritanya.
Like, comment, Dan vote adalah penyemangtku.
__ADS_1
So, tetaplah mensupport ku dengan jempol jempol cantik nan lincah kalian.