
Hati ibu mana yang tidak ikut sakit melihat anaknya terbaring kaku di ranjang pesakitan. Melihat tubuh Echa yang semakin hari semakin kurus membuatnya sangat terluka, setiap hari ia selalu membersihkan tubuh Echa dengan telaten dan selalu mengajak Echa berbicara. Hari telah berganti Minggu, sudah dua Minggu berlalu, namun tetap saja tidak ada perubahan pada kondisi putrinya.
Lelah pasti ia rasakan, tapi demi anak semata wayangnya ia harus kuat dan tak boleh lemah. Meskipun wajahnya tidak bisa berbohong. Sangat jelas sekali guratan guratan lelah, sedih, kecewa di wajahnya, tapi selalu ia tepis dengan senyuman kepada orang orang yang dekat dengannya.
"Dek, apa kamu tidak lelah tidur terus? Ayo bangun dek! Kita jalan jalan keliling Singapura bareng Papa Gi. Kita nginep di rumah kakek pasti kamu senang. Bangun dong dek, temani mamah dalam kesendirian mamah. Kita sama sama lagi kayak dulu lagi, hanya kamu dan mamah. Tanpa ayah,," suaranya bergetar ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Ayanda menunduk sambil terus memegangi tangan sang putri, tak terasa air matanya jatuh ke tangan Echa. Echa merespon dengan air mata yang menetes di ujung matanya tanpa Ayanda sadari.
Ternyata ucapanmu tak sebanding dengan hatimu Ayank, kamu masih mencintainya. Masih,,
Helaan nafas berat keluar dari mulut Gio yang tidak sengaja mendengar ucapan Ayanda dan melihatnya menangis. Sebenarnya Gio sengaja datang ke Rumah Sakit sebelum jadwalnya ia datang. Ia ingin memberikan kejutan tapi ia yang dikejutkan. Gio berbalik arah, membatalkan rencananya. Pura pura tidak tahu kadang membuatnya sangat pilu.
Mencintai sendiri ternyata semenyakitkan ini. Selalu ada disaat keadaanmu rapuh tetap tak mengubah hatimu. Masih saja menjadikanku sebagai orang kedua bagimu.
Remon yang baru saja menyusul Bossnya tak sengaja mendengar gumaman Bossnya itu. Mulutnya ingin sekali mengejek Boss tampannya tapi hatinya tak tega, ia sangat jelas melihat betapa Bossnya itu sangat menyayangi Ayanda meskipun statusnya masih istri orang belum menyandang status janda.
Seseorang menepuk pundak Remon, membuatnya sedikit terkejut. Ketika ia menoleh ia langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Ada apa?" tatapan Boss Besar menuju pada Gio yang sedang menyandarkan kepalanya di tembok.
"Saya juga tidak tau Boss Besar, saya hanya sedikit mendengar kekecewaan dari gumaman kecil Boss." Masih dengan menundukkan kepalanya.
"Gio, Gio, anak bodoh!" sedikit tertawa karena melihat kondisi putranya. Remon hanya diam mendengar Boss Besar mengatai anaknya bodoh.
Kalo anaknya bodoh gimana bapaknya? batinnya.
Genta menghampiri Gio yang sedang meratapi kekecewaannya, Remon pun mengikuti Boss Besarnya.
"Gio!" Membuat Gio menoleh ke asal suara. Ayahnya sudah berada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya sang ayah, namun hanya dijawab dengan gelengan oleh anaknya.
"Ada yang ingin ayah bicarakan, ikut ayah!" ucapan ayahnya sudah seperti perintah yang tidak bisa dibantah oleh siapapun, pekerja dan anak buahnya termasuk Gio putranya sendiri. Dengan langkah lesu Gio mengikuti langkah ayahnya dengan pikiran tidak fokus.
Mereka sudah masuk ke dalam Private Room, Genta menyuruh Remon untuk meninggalkan mereka karena ia hanya ingin berbicara empat mata dengan putranya.
"Giondra!" ucapan itu sudah sebagai kode di mode serius untuk Gio. Gio menatap ayahnya dengan
tatapan sendu.
"Besok ayah kirim kamu ke Indonesia." Kalimat yang membuat Gio kaget bukan main, tak henti hentinya hari ini ia mendapat surprise yang menyakitkan.
"Ayanda gimana yah?" Hanya itu yang sekarang ada dipikiran Gio. Cuma Ayanda yang mengisi penuh hati dan pikirannya.
"Dia akan tetap aman dalam pengawasan ayah. Jangan khawatirkan tentang Ayanda, dia akan baik baik saja. Pikirkan hatimu, apakah kamu akan begini terus?" Membuat Gio menghela nafas kasar, menyenderkan badannya di sofa.
__ADS_1
"Aku sangat menyayanginya yah, perasaan aku gak pernah berubah sedikitpun untuk Ayank." Memijat pangkal hidungnya karena pusing dengan pertanyaan tiba tiba dari sang ayah.
"Dia ditakdirkan menjadi adikmu, bukan jodohmu."
Jleb!
Perkataan ayahnya benar benar sangat menusuk hatinya. Mulut Gio seakan terkunci rapat tidak bisa
menjawab apapun yang diucapkan ayahnya itu.
"Lepaskanlah Gi! Mengejar yang tak mungkin hanya akan membuatmu kecewa dan menutup hatimu untuk yang lain." Menyeruput teh hijau yang sedari tadi tersedia di meja.
"Ayah hanya ingin anak anak ayah bahagia, keinginan yang sederhana kan." Menatap wajah Gio yang sudah kacau.
"Bahagiaku hanya bersama Ayank ayah." lirihnya. Hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Genta.
"Jangan lupa besok kamu harus kembali ke Indonesia, retail disana membutuhkanmu." Menepuk pundak Gio dan meninggalkan Gio dengan kekacauan dan kepiluannya.
Selang setengah jam ia menenangkan hati dan pikirannya ia keluar dari Private Room menuju kamar perawatan Echa. Dilihatnya Ayanda sedang tertidur ditepian tempat tidur anaknya dengan terus menggenggam tangan Echa.
Gio perlahan mendekat, menyibakkan rambut yang menutupi wajah wanita yang sangat ia sayangi. ia mengusap pelan rambut Ayanda dan mencium ujung rambutnya.
Tidakkah kamu bisa membuka sedikit saja hatimu untukku Yank?
"Kenapa kamu tidak bangun? Lihatlah mamahmu! Apa kamu tidak kasihan? Bukalah matamu incess, apakah kamu menunggu ayahmu?" ucapnya sangat pelan ditelinga Echa agar tidak mengganggu Ayanda yang sedang terlelap.
Gio melihat air mata yang menetes diujung mata Echa ia pun tersenyum kecil, dilihatnya ke monitor tapi tidak ada perubahan.
Kamu masih bisa merespon. Masih ada kemungkinan untukmu kembali bersama kami.
Ayanda membuka matanya perlahan, dilihatnya Gio sedang mengusap lembut rambut Echa yang sudah berdiri disampingnya. Senyuman tersungging dari bibir Ayanda.
"Gi!" suara seraknya membuat Gio menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Udah tidurnya?" dijawab dengan anggukan kepala.
"Lelah?" sambil mengusap lembut rambut Ayanda, dijawab dengan gelengan kepala.
"Besok aku harus kembali ke Indonesia." lirihnya. Membuat Ayanda menatap sendu ke arah Gio.
"Kenapa?" Berdiri dari duduknya dengan mata yang sudah berkaca kaca. Gio langsung memeluknya erat dan Ayanda pun membalas pelukannya.
"Aku hanya sendiri disini Gi, aku kesini karena permintaanmu. Tapi kenapa sekarang kamu ninggalin aku?" ucapannya sangat berat karena menahan air mata yang sangat ingin jatuh.
Gio merenggangkan pelukannya, dilihatnya wajah Ayanda yang sangat sedih dan matanya sudah memerah menahan tangis. Gio mengecup kening Ayanda sangat dalam.
__ADS_1
"Ayah menyuruhku kembali ke Indonesia, retail
disana membutuhkanku. Aku janji setiap weekend aku pasti kesini menemuimu dan juga incessku." Mencoba tersenyum dihadapan Ayanda walaupun hatinya juga enggan untuk berpisah dengannya.
Tangis Ayanda pecah, penguatnya disini akan pergi meninggalkannya dan juga putrinya. Bagaimana dengan dirinya besok tanpa Gio disisinya?
"Jangan nangis, Indonesia Singapura dekat kok. Aku bisa bolak balik demi kamu." sambil menghapus air mata yang sudah tumpah ruah membanjiri wajah Ayanda.
"Pengamanan untukmu dan Echa sudah sangat ketat jadi jangan takut. Kita masih bisa berkomunikasi, karena koneksi kita gak akan pernah diputus oleh ayah." membuat Ayanda tersenyum dan kembali memeluk Gio.
"Selalu temani aku Gi, aku gak sanggup menghadapi semua ini sendiri." Terdengar sangat pilu di telinga Gio.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Yank, karena dari dulu sampai sekarang aku masih mencintaimu." ucapan Gio sukses membuat Ayanda terdiam membisu. Tidak ada tanggapan sama sekali dari mulutnya. Hanya saja tangannya mempererat pelukannya pada pinggang Gio.
Berkali kali ungkapan cinta aku ucapkan, berkali kali juga kamu selalu membisu. Seolah pura pura tidak tahu. Apakah aku salah jika aku mencintaimu? batinnya.
Di lain negara ada seseorang yang sedang menatap senja dari belakang jendela. Tatapannya kosong, siluet kesedihan terpancar dari wajahnya. Kenangan kenangan indah dan manis berputar putar di pikirannya.
Sayang, sekarang kamu ada dimana? Kenapa sangat sulit untuk menemukan jejakmu? Aku merindukan kalian. Lirihnya membuat air matanya terjatuh.
Setiap hari Rion terus menyesali perbuatannya, tidak pernah absen air matanya jatuh. Ia hanya lelaki lemah dan rapuh sekarang. Harta yang paling berharganya sekarang sudah tidak ada. Tiada penyemangat hidupnya lagi. Ia menjadi sosok yang monokrom, tanpa warna cenderung abu abu jika ia sedang sendiri seperti saat ini.
Ponselnya berdering, nama seseorang yang sangat ia benci muncul di layar ponselnya. Berkali kali selalu ia reject berkali kali juga ponselnya terus berdering tapi selalu saja ia abaikan.
Ting! Suara pesan dari ponselnya.
Ke Rumah Sakit sekarang, Raska drop.
Setelah membaca isi pesannya, Rion masih mencoba untuk acuh. Namun ia sudah terikat janji jika ia akan bertanggung jawab dengan anak itu membuatnya melangkahkan kakinya menuju Rumah Sakit dengan langkah enggan.
*****
Hay my readers,,
Sengaja di episode ini aku gantung ceritanya, kangen dengan hujatan para readersku😁
Kalo menghujat diharapkan pake kata kata yang sopan dan lembut ya mbaknya😂
Mbaknya : Emang ada ya hujatan dengan kata kata lembut?🤔
Akunya : Entahlah, tapi aku pengen denger loh😂🤣
Mbaknya : Author sengklek, dihujat kok request 😏😏
Happy reading semua,,
__ADS_1