
Sudah dua hari Gio tidak bertemu dengan Ayanda, rasa rindunya sudah menggebu. Namun, hati kecilnya enggan menemuinya, karena masih ada suaminya disana. Terlalu sakit jika dirinya harus melihat kedekatan mereka. Walaupun ia tau jika Ayanda dan Rion sekedar sedang berjuang demi kesadaran putrinya.
Sampai kapan aku akan terus mencintaimu, Yank? Kenapa susah sekali menghilangkanmu dari ingatanku?
Helaan nafas kasar terdengar, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur mewah miliknya.
"Aku sangat merindukanmu, Yank," gumamnya.
"Jika kamu merindukannya, temuilah!" ujar seseorang dari depan pintu kamarnya.
Genta berjalan kearah tempat tidur putranya, duduk disamping kasur empuk miliknya. Gio pun bangun dari posisi semula, duduk disamping sang Ayah.
Hh, hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, Gi. Ayah yakin Ayanda juga merindukanmu," serunya sambil menatap wajah sendu Gio.
"Tidak, Ayah. Dia pasti bahagia bersama suaminya, aku tidak mau merusak momen mereka," balasnya dengan senyuman pahit.
"Giondra si buaya ternyata sudah mati, digantikan dengan Giondra si setia," ledek Genta, sambil tersenyum kearah sang putra.
"Ayanda banyak mengubah hidupku, Yah. Sekuat apapun aku melupakannya, sekuat itupun hati dan pikiranku menolaknya," ungkapnya.
"Cintamu ternyata sangat besar untuk putri Ayah," kata Genta.
"Sekarang saatnya kamu perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan, dan lepaskan apa yang seharusnya kamu lepaskan," ujarnya sambil menepuk bahu Gio dan keluar dari kamar putranya.
Apa Ayah sudah mengizinkanku berjuang untuk Ayanda? terkanya.
Di Rumah Sakit, Ayanda selalu saja menatap benda pipih miliknya. Sudah dua hari Gio seolah menjauhinya, tidak ada kabar ataupun juga pesan darinya. Ada rasa kehilangan dihati Ayanda.
"Kamu kenapa?" tanya Rion, dan ikut duduk disamping Ayanda.
"Kenapa apanya?" tanya baliknya.
"Seharian ini wajahmu terlihat muram," serunya.
"Mungkin hanya lelah saja," jawabnya.
Ceklek! suara pintu terbuka.
Ayanda memutarkan matanya kearah pintu dan tersenyum lebar melihat seseorang dibalik pintu. Pria itu pun membalas senyumnya.
Ayanda berdiri dari duduknya, menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Aku kangen kamu," ucapnya dengan memeluk erat tubuh Giondra.
Gio tersenyum lebar mendengar ucapan dari wanita yang sangat ia cintai. Bukan hanya dirinya yang merindukan Ayanda, ternyata Ayanda pun juga merindukannya.
Entah Ayanda lupa atau memang sengaja, di ruangan Echa bukan hanya dirinya dan Gio. Ada Rion disana yang sedang menatap mereka dengan wajah memerah menahan amarah karena cemburu.
"Ini!" ucap Gio yang memberikan paper bag kecil. Ayanda sangat bahagia melihat bacaan dari paper bag tersebut.
"Belgian's chocolate ice," serunya dengan mata yang berbinar.
Gio menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, untuk kesekian kalinya Ayanda memeluknya lagi.
"Thank you," ucapnya dengan senyuman manis.
Sudah sangat lama aku tidak melihat senyuman manis ini, batinnya.
"Tidak hanya es cokelat kesukaanmu, ada juga ice kopi untuk suamimu," ujarnya. Mimik muka Ayanda seketika berubah ketika Gio mengatakan suamimu.
Gio melihat dengan jelas raut wajah Ayanda yang tidak suka dengan perkataannya.
__ADS_1
"Aku gak disuruh duduk nih, pegel tau," candanya.
Ayanda menarik tangan Gio dan mereka bertiga duduk dalam satu sofa dengan format Ayanda berada diantara Gio dan Rion.
Sedari tadi wajah Rion memperlihatkan ketidaksukaannya akan kedekatan Ayanda dan juga Giondra.
Apakah aku hanya dijadikan alat untuk membuat suamimu cemburu, Yank? Atau memang inilah perasaanmu yang sesungguhnya untukku?
Ayanda melihat Gio yang sedang termenung. "Gi!" panggilnya.
Gio tersadar dari ketermenungangannya, melihat bibir Ayanda yang belepotan dengan cokelat membuatnya terkekeh.
"Kebiasaan," katanya. Mengambil selembar tisu dan menyeka ujung mulut Ayanda yang berserak cokelat.
Ayanda tersenyum dengan perlakuan lembut Gio kepadanya. Memandang wajah Gio dengan seksama.
"Besok aku kembali ke Jakarta," ucapnya tiba tiba.
Ayanda seketika terdiam, menatap Gio dengan tajam. Giondra menyentuh pipi mulus Ayanda, memandangnya dengan tatapan penuh cinta.
"Aku tidak akan lama, aku pasti sering menjengukmu dan juga incessku,"
Uhuk! Rion tersedak es kopi miliknya karena mendengar ucapan Giondra.
Ayanda dan Gio pun melihat kearah Rion. Gio menyodorkan sebotol air mineral untuknya.
"Sendiri lagi," lirihnya.
"Kamu sebenarnya gak sendiri, kamu selalu dikelilingi orang orang yang sayang sama kamu. Tapi kamu tidak menyadarinya," jelasnya.
"Apa aku harus memohon kepada Ayah agar membatalkan keberangkatanmu?
Gio hanya tertawa mendengarnya dan mengacak acak rambut Ayanda.
"Cukup, Yanda!" teriaknya, dengan kasar menarik tangan Ayanda menjauh dari Gio.
"Kamu itu masih istriku!" bentaknya, Ayanda hanya terdiam.
Memang benar, dimata hukum dan agama ia masih sah sebagai istri dari Rion. Tapi yang ia lakukan sekarang hanyalah akting semata agar secepatnya Rion menceraikannya. Semakin Ayanda dekat dengannya semakin sulit pula ia melupakannya.
"Sakit," ringisnya.
"Pria sejati tidak akan berbuat kasar kepada wanita," seru Gio dengan santai.
"Diam kamu pebinor!" ucapnya, Giondra hanya tertawa mendengarnya.
"Cukup Mas!" jerit Ayanda.
"Gio adalah malaikat penolongku dan Echa. Harusnya kamu sadar berkat dia kamu bisa bertemu anakmu," ucap Ayanda dengan suara bergetar.
Gio menghampiri Ayanda dan merengkuh tubuhnya yang sudah bergetar karena menangis.
"Belum puaskah kamu memberi luka kepada istrimu. Belum cukupkah air mata istrimu ini mengalir setiap hari karena ulahmu, belum cukupkah pengorbanan Ayanda untukmu dan anakmu selama ini. Jika kamu tidak mampu membahagiakannya biar aku yang membahagiakannya," jelasnya.
"Sial*n" umpatnya.
Rion menarik tubuh Gio dan menghantam wajah Gio dengan pukulan kerasnya hingga ujung bibir Gio berdarah.
"Hentikan, Mas!" teriaknya.
"Keluar kamu dari ruangan Echa, keluar!" serunya dengan nada suara penuh amarah.
Rion pun keluar dari ruangan Echa dengan membanting pintu sangat keras.
__ADS_1
Ayanda menghampiri Gio dengan bibir yang sudah berdarah. Ia bergegas mengambil kotak P3K dan mengobati luka Gio.
"Sakit," tanyanya ketika ia menyentuh luka Gio.
Gio tersenyum dan memegang tangan Ayanda, menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang lebih sakit," ujarnya pada Ayanda.
Matanya mulai berkaca-kaca dan tak mampu membendung semuanya.
"Kenapa kamu datangkan dia, Gi?" tanyanya
"Dia adalah satu satunya obat untuk putriku," tegas Giondra.
Ayanda mulai terisak, air matanya tak kuasa ia tahan.
"Hatiku semakin sakit, Gi. Sakit,," ungkapnya dengan sangat lirih.
Giondra langsung memeluk tubuh Ayanda, menghapus jejak air matanya.
"Aku yang akan menjadi pengobat rasa sakitmu," ucapnya pelan.
Gio tak sengaja melihat tangan Echa bergerak, ia langsung melepaskan pelukannya dengan Ayanda. Berlari menuju ranjang kesakitan Echa.
Ia segera menekan tombol darurat, Ayanda langsung berlari kearah Gio. Kepanikan melanda Ayanda.
"Ada apa, Gi?" tanyanya.
Gio sama sekali tidak menjawab, terus memperhatikan tubuh Echa. Tak lama ia pun tersenyum.
Tim medis masuk ke ruangan Echa diikuti Rion dari belakang. Wajah Rion tak kalah paniknya.
Dokter Lie langsung memeriksa alat vital Echa, memeriksanya secara teliti. Senyuman melengkung dibibirnya. Ia segera menatap Gio dengan tersenyum. Gio menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar.
"She had regained consciousness and could respond quite well. Only she could not open her eyes," jelas dokter Lie.
Echa sudah sadar, dia sudah bisa merespon. Hanya saja ia belum mampu membuka matanya.
"Really?" tanya Ayanda dengan wajah yang sangat bahagia.
"Ya," jawab dokter Lie.
Ayanda bergegas mendekati putrinya, menggenggam erat tangannya.
"Echa, ini mamah, dek," serunya.
Jari Echa sedikit bergerak, Ayanda teramat sangat bahagia melihat sendiri perkembangan kesehatan putrinya.
Semua orang yang berada di ruangan itu ikut gembira dengan perkembangan kesehatan Echa, tak terkecuali Gio dan Rion.
"Terimakasih, Gi," ungkapnya.
Gio hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Ayanda langsung memeluk tubuh kekar Giondra.
Apa sekarang aku tak terlihat olehmu? Apa aku harus benar benar melepaskanmu? Dirinya begitu berarti untukmu, gumamnya dalam hati ketika melihat Gio dan Ayanda berpelukan didepan matanya.
*****
Happy reading semua,,,
jangan lupa setelah mampir dan baca cerita bubuk peyek akuh tinggalkan jejak kalian, dengan cara like, komen dan juga vote.
Gampang banget kan, 3 poin itu yang bikin aku makin semangat untuk up tiap hari,,
__ADS_1
Thank your semua,,