Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 78. Menikahlah Denganku


__ADS_3

Hari-hari Ayanda, Gio dan juga Echa sangat bahagia. Mereka bagaikan keluarga harmonis dan sangat sempurna, Gio yang sangat tampan dengan kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan, Ayanda yang cantiknya abadi ditambah postur tubuhnya yang mungil dan terlihat masih sangat muda, dilengkapi dengan adanya seorang gadis sangat cantik yang semakin besar mirip sang Mamah.


Genta merasa keluarganya sangat lengkap saat ini. Seperti melihat Gio dengan istri dan anaknya. Rumah besar pun terasa sangat ramai dengan kehadiran gelak tawa dari Echa.


Sedangkan di Indonesia, Rion masih dengan keterpurukannya. Hidupnya semakin hari semakin hancur. Ibunya selalu menangis ketika melihat putranya mulai depresi, hatinya terasa teramat sakit.


"Mamah harus bagaimana a?" ucapnya lirih. Ia sedang mengintip anaknya dari balik pintu.


"Mah," seru Nisa dan langsung memeluk sang Mamah yang sedang menangis. Ia pun ikut menangis karena baru kali ini menyaksikan kakak kesayangannya hampir gila seperti ini.


"Kita bawa ke psikiater aja Mah," usul Nisa.


"Jangan," jawab seseorang dari belakang.


"A Arya," serunya.


"Biar dia menikmati kesedihannya dulu, kita cukup mengawasinya saja. Obat mujarabnya hanya Ayanda," ujarnya.


"Tapi bagaimana caranya Arya?" tanya sang Mamah.


"Nanti pasti ada caranya," jawabnya. Padahal ia sendiri juga bingung dengan cara apa bisa mendatangkan Ayanda kesini. Sedangkan Ayanda sudah bahagia dengan teman SMA-nya, Giondra.


Waktu terus berputar, Rion semakin terpuruk. Ia merasa hidupnya sudah tak berarti lagi. Hidup sendiri dengan penuh penyesalan yang kini ia rasakan. Rion mencoba mengambil karter di lacinya. Ia arahkan ke nadi tangannya.


"Lebih baik aku mati daripada harus tersiksa seperti ini, kalian tega pergi meninggalkanku," gumamnya.


Tajamnya karter sudah berada diatas nadi tangannya, ia menutup matanya untuk menekan karter yang ia pegang.


"Jangan pernah sia-siakan mereka yang tulus kepada lu, setelah mereka pergi baru kan lu ngerasain arti kehilangan sesungguhnya. Apa jarum jam bisa berputar ke arah kiri?" ucap Arya yang baru saja masuk dan melihat tingkah konyol sahabatnya.


Rion pun menghentikan perbuatannya. Ia hanya mematung di tempatnya.


"Lanjutin mau bunuh diri mah, gua liatin," ujarnya santai.


Arya mendekati Rion. Memegang karter yang Bossnya pegang. Ia pun tersenyum.


"Apa mau gua bantu proses bunuh diri lu biar lebih cepet?" lanjutnya dengan mengarahkan karter ke nadi tangan Bossnya. Rion masih terdiam tak membuka suara sedikitpun.


"Kenapa lu diam?" bentaknya.


"Jawab gua," teriaknya.


Rion mendongakkan kepalanya ke arah Arya, wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Gua menderita begini Bas, sangat menderita,," ujarnya dengan suara bergetar.


Arya tertawa renyah mendengar pernyataan Rion.


"Menderita lu bilang, bagaimana dengan anak istri lu dua bulan lalu? Dia lebih menderita dari lu, mereka lebih sakit dari lu," jelasnya dengan sangat emosi.


"Di saat mantan istri lu terpuruk melihat anak lu koma, apa dia gak menderita? Apa dia baik-baik saja berjuang sendiri tanpa seorang suami yang mendampingi? Apa lu pernah merasakan sesakit apakah mereka karena kelakuan bodoh lu?"


Wajah Rion pun berubah pilu mendengar ucapan Arya, tubuhnya lemah dan tersungkur ke lantai dengan tangisan kecil.


"Jangan lu pikir di sini cuma lu yang tersakiti, tapi mereka lebih amat tersakiti karena keegoisan lu," bentaknya.

__ADS_1


"Apa dengan lu nangis dan jadi gila kayak gini Ayanda sama Echa akan kembali? Gak akan!" tegasnya.


Rion pun semakin terisak mendengar ucapan dari Arya. Isakannya sangat menyentuh hati bagi orang yang mendengarnya.


"Terserah lu deh, capek gua sama lu. Berasa punya anak badung yang gak pernah denger ocehan pedas emaknya," ucapnya dan langsung meninggalkan Rion.


Baru beberapa langkah menjauh dari tempat Rion, Arya menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya.


"Kalo lu mau mati, usahakan jangan nyusahin gua," imbuhnya. Ia pun melanjutkan langkahnya menjauhi sahabatnya.


*****


Ayanda sedang asyik mendengarkan musik di halaman belakang dengan memejamkan matanya. Seseorang yang baru saja pulang kerja tanpa permisi memeluknya dari belakang.


"Sayang," panggilnya, meletakkan dagunya di bahu Ayanda.


"Kenapa Gi," sahutnya.


"Menikahlah denganku," ucapnya.


Deg, jantung Ayanda terasa berhenti seketika. Ia mulai membeku, mulutnya terkunci rapat.


"Sayang, kenapa diam?" tanyanya. Setelah melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Ayanda menghadap ke arahnya.


Ayanda hanya tertunduk diam, sesungguhnya ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Gio.


"Maafkan aku," jawabnya pelan dan masih menunduk.


Gio tersenyum dan langsung memeluk tubuh Ayanda. Ia sebenarnya tau wanitanya ini belum siap untuk membina rumah tangga sekarang. Ayanda belum sepenuhnya menemukan kebahagiannya dan tugas Gio adalah memberikannya kebahagiaan untuk Ayanda.


Ada senyuman manis yang terukir dari bibir imut Echa dengan rona bahagia ketika ia menyaksikannya dari kejauhan.


"Apa kamu bahagia melihat Papa Gi dengan Mamahmu?" tanya Kakeknya.


"Kebahagiaan Mamah yang utama, Kek. Echa yakin Mamah akan selalu bahagia bersama Papa Gi," jelasnya sambil tersenyum ke arah Kakeknya.


Setelah makan malam bersama, Ayanda memilih untuk langsung masuk ke kamarnya. Ia menuju balkon, menatap indahnya langit malam ini.


Apakah kamu baik-baik saja disana? Semoga kamu bahagia selalu Mas, tanpa aku disampingmu,


Pandangan Ayanda tak pernah lepas dari langit, senyuman tipis terukir dari bibirnya. Senyuman yang banyak menyiratkan banyak arti.


Pelukan seseorang dari belakang membuatnya terlonjak. Di lihatnya tangan yang memeluknya, jari manisnya tersemat cincin emas putih sederhana yang terukir huruf AYD berwarna hitam di atasnya. Ayanda pun tersenyum.


"Kenapa gak ketuk pintu dulu?" tanyanya dengan tidak merubah posisinya.


"Sudah Sayang, kamu yang gak denger. Asyik ngelamun disini," jawabnya.


Ayanda membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Gio. Memandang wajah tampan sang kekasih. "Ada apa?" tanyanya.


Gio mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan black card kepada Ayanda.


"Untuk apa? Aku tidak perlu ini," ucapnya sambil mengembalikkan kartu kredit unlimited kepada Gio.


"Ambillah, itu sudah jadi milikmu. Aku tau kamu memiliki banyak uang tapi aku juga berkewajiban untuk memanjakanmu dengan kartu itu," balasnya.

__ADS_1


Ayanda tersenyum mendengar perkataan Gio. "makasih, akan ku ambil kartu ini tapi tidak akan aku pakai," ujarnya sambil menatap Gio.


Gio tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pandangan mereka saling terkunci, semilir angin malam menambah keeomantisan malam ini. Gio mengusap lembut pipi wanitanya lalu mulai mendekatkan wajahnya ke arah kekasihnya. Ayanda mampu merasakan hembusan nafas Gio yang semakin mendekat dan ia pun mulai memejamkan matanya.


Tiba-tiba ponsel Ayanda berdering, sontak membuat kedua manusia ini menoleh ke asal suara dan secara otomatis adegan menuju romantis harus batal seketika.


Ayanda meraih ponselnya, ia mengernyitkan kedua alisnya ketika melihat ID si pemanggil, "Arya," ucapnya.


Siapa yang sudah membuka akses komunikasiku? batinnya.


Ia pun menerima panggilan masuk dari Arya.


πŸ“ž Ayanda : Halo,


πŸ“ž Arya : Teh, ini Mamah (dengan suara yang bergetar)


πŸ“ž Ayanda : Ada apa, Mah?


πŸ“ž Arya : Aa teh, (terdengar suara isakan)


πŸ“ž Ayanda : Kenapa dengan Mas Rion, Mah? (khawatirnya)


πŸ“ž Arya : Mamah mohon, teteh kesini ya untuk sehari saja temui mantan suamimu. (terdengar sangat lirih)


πŸ“ž Ayanda : Sebenarnya ada apa, Mah? Ada apa dengan Mas Rion? (mulai sedikit panik)


πŸ“ž Arya : (Hanya isakan tangis sang Mamah mertua) Mamah mohon, kesinilah walau hanya sebentar.


Panggilan pun berakhir.


"Mah, halo Mah," panggilnya yang masih meletakkan ponselnya di telinganya.


Wajah Ayanda mulai berubah, mendengar isakan tangis Mamah mertuanya ralat mantan Mamah mertuanya membuat hatinya gelisah.


Ada apa denganmu, Mas? Kenapa Mamah menangis seperti itu? tanyanya dalam hati.


*****


Hay,,


Up lagi aku,,


Maaf telat up, semalam ketiduran😁


Maaf, kemarin aku bertanya boleh atau tidaknya untuk beberapa hari ke depan aku libur up. Ternyata jawaban kalian membuat aku terhura.🀧


Aku putuskan aku gak jadi libur, hanya saja mungkin tidak rutin up setiap hari. Sebisa mungkin aku usahakan up tiap hari.


Ada lagi yang bertanya "Apakah cerita ini akan dilanjutkan?" jawabnya iya, niatnya juga mau dibikin beberapa season sama aku. Mudah-mudahan aja idenya gak buntu.


Ada juga pertanyaan, "Apa aku akan pindah platform?" jawabannya nggak. Aku sudah punya kalian para reader, setidaknya karya remahan peyek aku ini tidak sendiri. Kalianlah pendukung ku dan pembaca setia ku, pindah PF berati pindah rumah lagi dan harus nyari pembaca lagi. Kalianlah yang bikin aku semangat buat terus lanjutin cerita ini.


Terimakasih semuanya,


Jangan lupa like, komen dan juga vote setelah membaca ceritanya ya,,

__ADS_1


Happy reading,,


__ADS_2