
Waktu menunjukkan pukul 01. 25 AM mereka berdua baru saja selesai mandi. Mandi apa yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Hanya Gio dan Ayanda yang tau.
"Sayang, mau makan apa?" Gio sudah memeluk tubuh Ayanda yang sedang memakai baju.
"Sayang, aku mau pake baju dulu. Kamu gak liat kulitku keriput begini," Ayanda menunjukkan telapak tangannya yang keriput karena kelamaan berendam di dalam air.
"Nikmat banget, Sayang," bisiknya. Ayanda hanya berdecak kesal.
"Sayang, lihat ini, ini dan ini," tunjuknya kepada kissmark yang Gio berikan di hampir memenuhi lehernya.
"Kiss mark itu tanda kepemilikanku atas tubuhmu, Sayang," kilahnya. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak berani keluar untuk hari ini. Tidak mungkin ia keluar dengan leher seperti orang yang baru saja kerokan tapi tidak rata. Padahal ia ingin menikmati suasana luar dan rindu akan putrinya.
Gio sudah memesankan makanan sehat untuknya dan juga Ayanda. Ia sedang bertanya ke Mbah Google tentang cara mengobati kandungan yang lemah. Ia membaca banyak artikel tentang penyebab kandungan lemah tapi isinya semua sama. Ayanda menghampiri Gio yang sedang duduk di sofa, suaminmya tengah fokus dengan benda pipihnya. Ayanda hanya menyandarkan kepala di bahu sang suami. Tak ingin mengganggu kefokusan Gio pada layar ponselnya. Suara bel berbunyi, petugas hotel yang mengantarkan makanan pun tiba. Semua makanan sudah tersedia di meja di depan sofa. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ini terlalu banyak," Ayanda menyandarkan kepalanya pada sofa.
Gio mengambilkan salad buah kesukaan istrinya namun kali ini Ayanda menggelengkan kepala. Gio sangat tahu jika istrinya ini adalah wanita yang susah makan.
"Sayang, makan dulu ya," pinta Gio yang sudah menyendokkan salad agar istrinya makan.
Mau tidak mau Ayanda pun membuka mulutnya. Dengan telaten Gio menyuapi istrinya. "kamu harus makan makanan yang sehat. Biar nanti pas hamil kandunganmu lebih kuat," ucapan Gio menghentikan kunyahan Ayanda. Ia menatap sendu ke arah suaminya.
"Sayang, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita mau berusaha," ujarnya seraya menggenggam tangan istrinya.
"Jika aku tidak ...."
Gio langsung memeluk tubuh istrinya. "kita berusaha dulu. Jika pada akhirnya Tuhan tidak memberikan di situlah kita hanya bisa pasrah," ucapan Gio membuat Ayanda menitikan air mata. Bukan keinginannya ditakdirkan untuk memiliki kelainan pada rahim. Inilah ujian di awal pernikahannya.
----------
Keesokan paginya Gio dan Ayanda memutuskan untuk meninggalkan hotel. Semua keluarga mereka sudah kembali ke rumah besar. Sebelum kembali ke sana, Gio mengajak Ayanda untuk menemui dokter kandungan terbaik di Singapura. Ayanda pun menuruti keinginan suaminya. Di lubuk hatinya paling dalam, Ayanda pun ingin memiliki buah hati lagi. Akan tetapi, kondisi rahimnya yang tidak memungkinkan.
__ADS_1
Tibalah mereka di sebuah rumah sakit ternama di Singapura. Dengan posesif Gio menggenggam tangan Ayanda. Semua orang yang berada di rumah sakit sangat kagum dengan mereka berdua. Pasangan yang serasi, begitulah yang mereka katakan. Gio dan Ayanda sudah berada di depan ruangan dokter kandungan. Seorang perawat mempersilahkan mereka untuk menemui dokter tersebut.
"Halo, dokter Giondra Aresta Wiguna," sapa dokter wanita yang cantik dengan senyum yang sangat indah.
Ayanda hanya melirik ke arah Gio. Dengan tak tahu malu ia mencium kening istrinya di depan dokter dan juga perawat.
"Biasa aja lu gak usah sok pamer kemesraan di depan gua, nyet," pulpen pun mendarat di tubuh Gio. Hanya kekehan geli yang Gio tunjukkan pada Sarah. Ya, dokter Sarah Atmaja Sp.OG, teman tapi mesranya dokter Giondra Aresta Wiguna semasa di bangku kuliah.
"Dia dokter Sarah, katanya sih dia dokter kandungan terbaik di Singapura," Ayanda hanya mengangguk mendengar ucapan dari suaminya.
"Sarah," dokter itu pun mengulurkan tangan pada Ayanda disambut dengan uluran tangan Ayanda yang juga memperkenalkan dirinya.
"Teman tapi mesranya Giondra," lanjutnya. Mata Ayanda hendak keluar dari tempatnya. Lirikan tajam matanya seakan hendak membunuh suaminya hidup-hidup.
"Hahahaha," wajah gembira sangat terlihat di wajah Sarah.
"Santai Ay, gua udah nikah. Suami gua lebih ganteng dari laki lu. Meskipun kalah tajir sih," jelasnya dan mendapat tertawaan puas dari Gio.
Setelah puas bercanda ria, mereka pun membicarakan masalah yang dialami Ayanda tentang kandungannya yang lemah. Ayanda pun menceritakan kronologinya hingga bisa divonis seperti ini oleh dokter.
"Sebenarnya masih bisa hamil, hanya saja resikonya sangat tinggi. Bisa saja keguguran ataupun bayi lahir prematur," jelasnya. Gio fokus dengan ucapan Sarah dan mencernanya baik-baik.
"Kalo yang dialami Ayanda ini karena faktor bawaan. Kandungan lemah atau inkompetensi serviks adalah ketidak normalan dari bentuk serviks yang disebabkan oleh beberapa gangguan pada leher rahim. Ada beberapa gejala yang nantinya dirasakan, seperti kram perut, sakit punggung, keluar flek dan masih banyak lagi. Jadi, kalo istri lu udah positif hamil lu harus melakukan perawatan prenatal secara teratur," Gio hanya menganggukkan kepalanya bertanda ia mengerti dengan ucapan Sarah. karena dulunya Gio adalah seorang dokter.
"Jangan lupa makan makanan yang sehat dan bergizi dan hindari asap rokok dan alkohol,”tegasnya.
Setelah puas berkonsultasi dengan dokter gesrek mereka pun menuju rumah besar. "Sayang, jangan bilang ini kepada orang rumah, ya. Aku gak mau bikin mereka kepikiran," Gio hanya menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan istrinya.
Sesampainya di rumah besar, pengantin baru ini disambut oleh keluarga mereka. Suasana pun berubah menjadi bising. Dengan gelak tawa mereka.
"Berapa ronde Ndra malam pertama?" Gio yang baru saja mau meneguk minumnya tersedak. Ayanda kemudian menepuk-nepuk leher Gio dan menyerahkan tissue kepada suaminya. "tak terhingga," jawab singkatnya.
__ADS_1
Suara riuh pun terdengar di sana, wajah Ayanda seperti kepiting rebus sekarang. Malu semalu-malunya.
"Teh, seperkasa apa sih a Gio?" Nisa mulai memanaskan suasana.
"Yang pasti aa bisa membuat Tetehmu tak berkutik dan kalah telak," jawaban Gio membuat gaduh rumah ini.
"Apa sih? Echa gak ngerti," tanyanya polos.
"Udah lanjut main game lagi sambil dengerin musik," suruh Arya.
"Oke," jawabnya dan kembali asyik dengan dunianya.
Canda tawa mewarnai rumah ini, kehadiran orang-orang yang menyayangi Ayanda mampu menghidupkan rumah yang mati suri. Genta sangat amat bahagia melihatnya.
"Honeymoon kemana, dek?" tanya Rion kepada Ayanda. Setelah resmi menjadi istri sah pewaris tunggal Wigumart, Rion memutuskan untuk memanggil Dek kepada Ayanda. Menganggapnya seperti adiknya.
"Belum tau, Mas," jawab Ayanda.
"Belum sempet kita omongin juga bro," sahut Gio.
"Harus honeymoon lah biar fokus bikin anaknya," timpal Arya.
"Good idea," balas Gio.
"Ayah, anak ayah ternyata mesum pake banget kuadarat," keluh Ayanda pada Genta. Genta hanya tertawa diikuti semua orang yang berada di ruangan tersebut. Genta sangat bahagia, kehadiran Ayanda mampu mengubah putranya dan juga suasana rumahnya.
*****
Kira-kira bisa hamil gak ya?🤔
Kencengin lagi dong like, komen dan juga votenya. 3 bab lagi udahan loh ini ...
__ADS_1