Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 111. Pengantin Baru


__ADS_3

Awas ada ranjau paku !!


--------


Acara telah selesai, para tamu sudah meninggalkan hotel. Keluarga dari pihak Ayanda maupun Gio sudah mengisi kamar hotel yang sudah disediakan.


Lelah, letih namun bahagia dirasakan sepasang pengantin baru ini. Gio sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa masih dengan pakaian pengantin. Sama halnya dengan Ayanda.


"Sayang, mandi dulu. Baru tidur," mata Gio yang baru saja hendak terpejam terbuka kembali. Dengan langkah malas ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sedangkan Ayanda tengah berada di depan meja rias, membersihkan make up yang menempel tebal di wajahnya. Perlu beberapa layer kapas untuk bisa menghapus tuntas make up-nya.


Ayanda dengan susah payah membuka resleting belakang gaunnya yang sedikit rumit hingga tak menyadari kehadiran Gio. Tanpa suara Gio merengkuh tubuh mungil istrinya. Mulai menciumi setiap inchi leher Ayanda. Suara lenguhan keluar bebas dari mulut istrinya.


"Sayang, izinkan aku mandi dulu," pintanya yang kini menghindari pergerakan Gio. Akhirnya, suaminya pun mengalah. Ia membantu Ayanda membuka resleting gaunnya yang susah sambil menahan hasratnya.


"Sabar ya, tahan sebentar," gumamnya sembari melihat ke arah bawah yang hanya ditutupi oleh handuk.


Setengah jam berlalu, Ayanda baru keluar dari kamar mandi masih menggunakan kimono mandinya. Gio yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya menoleh ke arah istrinya. Ia mengerutkan dahi melihat penampilan istrinya yang masih menggunakan handuk.


"Sayang, kenapa masih memakai handuk?" tanya Gio.


"Apa di sini tidak menyiapkan piyama? Kenapa hanya lingerie yang aku temui," jawab Ayanda dengan wajah merona.


"Ini kan malam pertama kita, Sayang," Gio menarik tangan Ayanda hingga ia terjatuh di pangkuan suaminya. Gio mulai mendekatkan wajahnya pada istrinya. Ciuman mesra mendarat di bibir mungil Ayanda. Dimulai dengan ******n, gigitan hingga lidah mereka saling membelit. Ciuman mesra kini berubah menjadi ciuman panas. Tangan Gio sudah mulai turun ke bawah. Menarik tali handuk yang Ayanda simpulkan. Lingerie hitam nan sexy yang Ayanda kenakan membuat Gio semakin nakal. Ia mulai menciumi leher Ayanda, meninggalkan jejak kepemilikannya. Hanya suara lenguhan yang terdengar. Tangannya mulai turun ke bawah, masuk ke dalam gundukan-gundukan yang masih tertutup. Ia mulai merem*snya dan memilinnya. Desahan yang saat ini terdengar. Gio membawa tubuh Ayanda, dan meletakkannya di atas ranjang.


Gio sudah menanggalkan baju jaring yang Ayanda kenakan. Ia terpesona dengan tubuh polos nan mulus istrinya. Perlahan ia mulai menikmati setiap inchi tubuh istrinya yang terawat dengan sempurna. Melihat kedua gundukan di depannya, wajah seorang Giondra seperti bayi yang sedang kehausan. Desahan keluar dari bibir Ayanda. Mulut nakal suaminya membuatnya semakin keras mendesah, ia hanya bisa menarik rambut suaminya yang semakin nakal bermain dengan gundukan miliknya. Gio pun tidak melewatkan untuk meninggalkan tanda kepemilikannya di sana. Sudah puas dengan bagian atas kini ia berhenti pada area bawah. Ia mulai bermain-main di area itu, yang kata orang adalah bagian paling sensitif dari wanita. Ia mulai mengecupnya perlahan, dan sedikit memainkan lidahnya. Benar saja tubuh istrinya tak mampu menolak kenikmatan yang Gio ciptakan. Hingga istrinya mengerang hebat menandakan jika Ayanda sudah mencapai klimaks. Gio kembali menciumi bibir mungil Ayanda. "aku masukin ya," bisiknya parau karena hasratnya sudah membuncah, meronta ingin dituntaskan. Dijawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Perlahan Gio memasukkan miliknya, hangat yang pertama ia rasakan. Ia mulai mendorongnya perlahan kemudian sedikit dinaikkan ritmenya hingga yang terdengar hanyalah desahan dari pasangan suami istri ini. Hanya kenikmatan yang mereka berdua rasakan. Desahan-desahan kecil hingga desahan yang terdengar cukup keras meluncur bebas dari mulut keduanya. Tubuh Gio bergetar hebat. "Aahh ...." Lenguhan panjang keluar dari mulut Gio. Ia baru saja menanamkan benih di rahim istrinya.


Setelah selesai melakukan kewajibannya, Gio mencium kening Ayanda sangat dalam. "makasih Sayang," dengan wajah yang sangat lelah Ayanda pun tersenyum. Karena sudah tugasnya untuk melayani suami.


Gio mencium perut rata istrinya. "tumbuhlah di sana ya, Sayang. Daddy akan selalu menunggumu," ucapnya. Ayanda merasa terenyuh dengan sikap suaminya ini. Meskipun di dalam hatinya ia merasa takut jika nanti akan mengecewakan Gio.


Ayanda memejamkan matanya karena tubuhnya sudah sangat lelah saat ini. Berbeda dengan Gio yang sudah berhasrat kembali. Meskipun Gio playboy kelas kakap, tapi ia sama sekali tidak pernah merusak wanita. Istrinya adalah wanita pertama yang ia tiduri. Wajar saja jika hasratnya tak cukup hanya sekali untuk malam pertama yang dilalui pengantin baru.


Gio kembali menerjang tubuh Ayanda. Meskipun lelah tapi tak bisa ia tolak. Memberikan service bagus untuk suaminya itulah kewajibannya. Malam ini terasa sangat panjang bagi Ayanda, karena tidak ada kepuasan bagi Gio untuk berhenti menerkam tubuhnya. Akhirnya ia baru bisa terlelap jam empat pagi. Di mana orang-orang sudah bangun untuk melaksanakan solat subuh tapi ia baru bisa memejamkan matanya dengan tubuh seperti tak bertulang.


-------


Ketika semua orang sudah berada di bawah untuk menikmati sarapan, tapi pengantin baru ini belum juga keluar dari kamar. Echa yang hendak ke kamar Papa dan Mamahnya dihadang oleh ayahnya. "biarkan saja, mungkin Mamah sama Papa masih capek," mendengar ucapan ayahnya Echa mengurungkan niatnya.


Sedangkan Andri dan Nisa hanya tersenyum geli. "kira-kira Mas Korea mampu berapa ronde ya?" bisiknya pada Nisa. "nanti kita tanya ke si Teteh, seperkasa apa suaminya," sahut Nisa yang diakhiri dengan tertawa.


"Aku tidak akan pernah menyakitimu," gumamnya dan beralih mencium kening istrinya. Gio sengaja tak membuka gorden kamar agar Ayanda tidak terganggu dengan bias cahaya yang masuk. Ia akan membiarkan istrinya tidur dengan nyenyak. Sedangkan dirinya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi, tenyata istrinya masih terlelap. Ia pun tersenyum, segera mengambil laptop untuk memeriksa laporan perusahaan lalu naik ke tempat tidur. Gio sengaja mengeceknya di sana agar ketika Ayanda terbangun ia berada di samping istrinya.


Gio terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tak menyadari jika Ayanda sudah membuka matanya. Ia sedang menatap suaminya yang terlihat sangat tampan dengan baju santainya.


"Sayang," suara khas seseorang bangun tidur membuat Gio mengalihkan kefokusannya. Senyum merekah dari bibir Gio melihat muka bantal istrinya. Ia menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja. Tangannya mulai membenarkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya.


"Mau makan apa? Biar aku pesenin," dijawab dengan gelengan kepala. "badanku pada sakit," sahut Ayanda yang kini memeluk pinggang suaminya.

__ADS_1


Gio hanya tertawa mendengar ucapan istrinya. "punyamu bikin nagih," sahut Gio. Ayanda pun mencubit pinggang suaminya hingga meringis kesakitan dan menyerah meminta ampun.


Ayanda hendak bangun dari tempat tidurnya, namun mengurungkan niatnya menyadari jika tubuhnya tak menggunakan sehelai benang pun.


"Sayang, bisa ambilkan handuk gak?" pintanya pada suaminya yang kembali fokus dengan laptopnya.


Gio melirik ke arah istrinya, senyum licik melengkung dari bibirnya. Bukannya mengambilkan handuk ia malah membopong tubuh Ayanda menuju kamar mandi.


"Sayang, aku mau mandi. Udah turunin di sini," pintanya pada Gio yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Suaminya tidak mengindahkan permintaanya, malah menurunkannya ke dalam bath up.


"Kamu mau ngapain?" melihat Gio yang sedang membuka kaos yang ia pakai.


"Mau mandi juga lah," jawabnya yang berlanjut membuka celananya.


Ayanda hanya menghela nafas kasar. Tubuhnya saja masih terasa sakit dan kewanitaannya saja masih ngilu. Melihat kelakuannya suaminya ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


"Aku ingin merasakan sensasi baru, Sayang," bisik Gio yang terdengar parau.


Kegiatan mandi yang begitu lama mereka lakukan. Sarapan terlewat dan makan siang pun ikut tlerlewat juga. Mereka hanya mengisi perut mereka dengan kenikmatan dunia yang tak terkira. Gio menanamkan benihnya lagi dan lagi. Berharap agar esok atau lusa berkembang dan tumbuh menjadi Gio junior.


*****


Maaf banget kalo adegannya kurang maksimal🙏


Kelemahan aku di sini, gak bisa bikin adegan ena-ena😁

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya ..


Happy reading semua


__ADS_2