Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 88. Sedikit Tentang Arya


__ADS_3

Rutinitas seorang Arya Baskhara sehari-hari bisa dibilang monoton. Kegiatannya hanya itu-itu saja, ke toko pusat, mengecek berkas, memantau toko cabang dan hal yang paling membuatnya bosan yaitu bertemu dengan sahabatnya setiap hari, yaitu Rion.


Sebodoh apapun Rion entah kenapa Arya tidak bisa tega terhadapnya. Meskipun sahabat sekaligus atasannya itu sering merepotkannya, tapi ia merasa tak keberatan untuk ikut terjun ke dalam masalah yang sedang dihadapi Rion. Terkadang ia juga merasakan lelah, kesal dan dongkol. Mungkin ini yang dinamakan sahabat sejati, selalu ada di saat suka maupun duka. Seperti sekarang ini, Arya selalu ada di samping Rion ketika terpuruk dan selalu mendukungnya ketika sahabatnya di atas.


Ketika jam pulang kerja sudah tiba, saatnya Arya beranjak dari ruangannya dan pulang ke rumahnya. Membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk berlanjut menyusuri alam mimpi. Begitulah pikirnya.


Arya segera melajukan mobilnya menuju rumahnya, hunian dengan ukuran sedang yang ia beli sendiri dengan hasil jerih payahnya selama ini. Sebenarnya Arya terlahir dari orang tua yang serba ada, hanya saja semenjak lulus kuliah ia mencoba untuk mandiri dan mencoba membangun bisnis kecil-kecilan bersama Rion. Dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat membanggakan untuk dirinya.


Baru saja ia memasuki gerbang rumahnya, di depan halaman sudah ada satu buah mobil yang sangat ia kenali.


"Macan betina," dengusnya kesal.


Arya pun turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah. Sudah ada seorang wanita yang sedang duduk santai di ruangan tamu dengan secangkir teh hangat di depannya.


"Ngapain lu kesini sih?" tanya Arya sewot.


Si wanita itu hanya diam tidak menanggapi ocehan Arya, malah menselonjorkan kakinya ke sofa. Karena ucapannya tak ditanggapi, Arya pun melangkahkan kaki menuju kamarnya di atas.


"Gua nginep di sini," ucap si wanita.


Langkah Arya terhenti pada pijakan anak tangga yang kedua. Ia membalikkan tubuh dan berjalan menuju sofa.


"Laki lu emang kemana?" tanya Arya lagi.


"Lu keberatan gua nginep disini," tanya balik si wanita.


"Pastilah, hari-hari tenang gua sudah dipastikan akan menjadi hari yang membisingkan," sahut Arya.


"Dasar adek durjana lu," teriaknya sambil melemparkan bantal yang berada di sofa.


Arya hanya tertawa melihat kemarahan kakaknya dan lari menuju kamarnya. Ya, ia adalah Arina Baskhara, putri sulung dari Agung Baskhara dan kakak dari seorang Arya Baskhara. Perbedaan umur mereka hanya terpaut tiga tahun, makanya mereka bisa dekat seperti itu.


"Lu udah makan belum?" tanya Arin sambil berteriak.


"Belum mbak, pesan aja lah," teriak Arya dari kamarnya di atas.


Setelah selesai mandi Arya turun ke lantai bawah. Di ruang tamu hanya menyisakan cangkir teh yang berada di atas meja. Sedangkan wanita yang dicarinya tidak ada di sana. Ia berjalan ke arah dapur, Arya mencium aroma wangi masakan.


"Emang si macan betina bisa masak?" monolognya sambil terus berjalan ke arah dapur.


Di lihatnya makanan sudah tertata rapih di meja makan. Arya pun membelalakkan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Ini semua lu yang masak mbak?" tanyanya sambil menunjuk ke semua makanan yang berada di atas meja makan.


"Menurut lu?" tanya Arin.


Arya memicingkan matanya, melihat dengan detail masakan yang tersedia di meja. Ia pun mendengus kesal. "ini mah masakan boleh beli semua."


Arin pun tertawa, ia mengacungkan dompet berwarna cokelat. Arya melotot tak percaya.


"Kenapa dompet gua ada di lu?" tanyanya dan hendak mengambil dompetnya.


"Buat bayar ini semua," jawab Arin sambil menunjuk ke semua makanan yang sudah tertata di meja.


"Astaga mbak,," ujarnya sambil tepok jidat.


Mereka pun menikmati makanan yang sudah berjejer di meja. Hanya keheningan yang tercipta.


"Sunarya, lu gak punya pacar?" tanya Arin membuka obrolan.


"Kagak, pengen langsung nikah gua," jawabnya.


"Emang ada cewek yang mau sama lu?" tanya Arin lagi.


"Banyak, cuma gua punya macan betina yang selalu bikin cewek-cewek yang deket sama gua mundur," ungkap Arya dengan nada kesal.


"Hahaha, mau jadi adik ipar gua harus jelas dulu asal-usulnya. Beneran cinta sama adek gua yang kegantengannya standar atau cuma ngincer hartanya doang," jelas Arin kepada Arya.


"Tapi mbak, lu bisa kali manis dikit sama cewek yang nantinya gua kenalin ke lu. Jangan kayak macan yang mau nerkam mangsanya hidup-hidup. Mata lu itu kayak mau ngebunuh orang kalo berhadapan sama cewek yang gua kenalin," timpalnya.


"Emang udah ada calonnya?" tanya Arin sedikit mengorek-ngorek adiknya.


"Belum," jawabnya. Arya pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Nisa," ucap Arin.


Arya pun tersedak, ia bergegas mengambil air minumnya.


"Cewek ngeselin begitu, masih bocah mbak," sahutnya tanpa berani menatap wajah kakaknya.


"Terus gua kapan dong punya adik ipar?" tanya Arina terus.


"Sampe lu bisa jadi macan jinak," jawab Arya.

__ADS_1


"Si Nisa bukannya adiknya si Rion ya, yang cantik itu," ujar Arina sambil mengingat-ingat wajah kecil Nisa yang sering dibawa Rion jika sedang berada di Jakarta.


"Iya, males lah gua mbak punya kakak ipar modelan si Rion. Tiap hari aja gua ketemu dia terus, masa iya entar gua bilang Abang ke dia. Menjijikan," katanya sambil bergidik geli.


Arin hanya tertawa menanggapi ocehan adiknya itu. "lu udah gak muda lagi, Sunarya. Kasihan mami sama papi cuma berdua di rumah yang segede lapangan bola," balas Arina.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Arya. "kata siapa berdua orang banyak pelayan disana," timpalnya.


"Lu ngarti kagak sih gua lagi ngomong serius ini," cerocosnya dan melempar sendok ke tubuh Arya.


"Iya, gua tau arah omongan lu tujuannya kemana. Pasti lu diutus sama mami kan," sahutnya.


"Mami udah pengen momong cucu," lirih Arin.


Arya langsung berdiri dan mendekat ke arah Arina langsung memeluk tubuhnya. "maafin gua mbak," ujar Arya


Tak terasa air mata Arina menetes, ia teringat akan putranya yang belum lama ini meninggal karena kanker.


"Jangan nangis lagi mbak, gua yakin si Paijo udah tenang di sana," ucap Arya.


"Panji, Sunarya. Bukan Paijo," omel Arin sambil menjitak kepala adiknya.


"Lah lu juga manggil gua Sunarya, wajar kalo gua manggil anak lu Paijo," timpal Arya sambil tertawa.


Sejenak Arina pun tertawa dan melupakan kesedihannya. Arya adalah adik lelaki nakalnya. Setiap hari selalu saja beradu omong lalu bertengkar, tapi jauh di lubuk hatinya Arina sangat menyayangi Arya. Sama halnya dengan Arya. Meskipun mulutnya lemes kayak cewek tapi ia sangat menyayangi si macan betina. Ia rela memutuskan pacarnya hanya karena kakaknya tidak suka. Menurutnya pilihan kakaknya pasti terbaik untuknya. Ini juga berlaku untuk Arina. Ia menikah dengan suaminya karena Arya menyukai sifat yang ada pada suami Arina. Tanpa restu Arya, Arina dipastikan tidak akan menikah dan lebih baik mengakhiri hubungannya, meskipun orang tuanya sudah setuju. Restu adiknya lebih penting, begitu pula Arya. Restu dari si macan betina sangat utama.


*****


Hay semua,,


Maaf kemarin gak up karena kesibukan yang sangat padat dan akhirnya aku harus menyerah, aku tepar dan tak bisa melek.


Part ini aku kasih sepenggalan cerita tentang Arya, banyak banget yang suka sama karakter si Arya ini. Makanya perkenalan aja dulu ya. Kisahnya insyaallah akan aku tulis setelah Ayanda bahagia.


Bahagia dengan siapa??


Rion atau Giondra??? 😁


Jangan lupa like, komen, dan juga vote biar aku makin semangat lagi,,


Happy reading semua,

__ADS_1


__ADS_2