Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 108. Pengakuan Keduanya


__ADS_3

"Boss ...."


"Ini keputusan final gua," jawabnya.


Remon tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kecuali, mengikuti kemauan Bossnya ini. Gio adalah manusia teguh pendirian. Jika ia bilang A harus A. Tidak ada satu orang pun yang akan bisa mengubah keputusannya. Meskipun, itu ayahnya. Ya, istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu amat nyata. Sifat yang dimiliki Gio adalah sifat yang diturunkan Genta Wiguna, ayahnya.


"Apa harus sekarang?" Remon sedikit ragu, karena atasannya ini masih dalam proses pemulihan.


"Lebih cepat lebih baik," jawabnya.


Selang infus yang masih menancap di tangan Giondra pun dengan terpaksa harus dilepas. Mau tidak mau, dokter pribadinya pun mengikuti kemauan Gio. Ia tidak bisa membantah, perintah Gio bagai perintah baginda Raja. Giondra lah yang berkuasa di sini.


Waktu menunjukkan tengah malam, udara yang terasa dingin sedingin hati Gio. Wajah cantik Ayanda yang mengenakan kebaya tak mampu hilang dari ingatannya.


Jika kamu menikah denganku, kecantikanmu akan lebih dari itu, batinnya lirih.


Gio hanya menyandarkan kepalanya pada jok mobil, sesekali Remon mengintip bossnya dari spion depan. Gurat luka, kecewa, sedih ada pada wajah Giondra. Hidup bergelimang harta tapi sepi akan cinta.


Setelah menempuh dua jam perjalanan, mereka tiba di rumah besar. Gio langsung masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang lelah ditambah hatinya pun lelah dengan kenyataan yang ada. Cincin yang masih ia pakai di jari manisnya, perlahan ia buka. Tatapan sedih dan senyuman penuh luka terpancar dari wajahnya.


Saatnya aku pergi, menata hariku yang baru. Mungkin, hari-hariku tidak akan secerah bersamamu, tapi akan ku coba menjalani hariku dengan tawa. Meskipun itu hanya kepalsuan..


Kita diciptakan untuk menjadi saudara, tidak untuk sebagai pasangan yang bahagia..


Gio memasukkan cincinnya ke dalam laci. Menyimpannya dengan rapat, berharap tidak akan pernah mengingat lagi segala kenangan bersama wanita yang ia cintai. Mata Gio enggan terpejam, padahal ia sudah meminum obat yang diberikan dokter untuknya. Ia terlarut dalam kesedihannya malam ini. Kenangan akan Ayanda selalu menghiasi pikirannya. Gio membiarkannya, esok semuanya akan pergi dengan sendirinya. Terbawa angin dan terkikis oleh sang waktu.


Pukul 5 pagi Gio sudah rapih dengan pakaiannya. Semuanya sudah disiapkan oleh Remon. Ia menuju kamar ayahnya untuk mengutarakan niatnya. Ternyata ayahnya tidak ada di kamar. Ia bergegas turun ke lantai bawah menuju taman belakang, tempat favorit ayahnya dan juga Ayanda. Ya, ayahnya sedang duduk di kursi rotan sambil menikmati teh hijau.


"Ayah," suara Gio menggema di heningnya pagi. Genta tersenyum melihat putranya. Terlihat wajah tampan Giondra dipenuhi dengan kesedihan.


"Ayah, keputusanku sudah bulat. Aku akan menetap di Melbourne," katanya tanpa basa-basi.


Tak ada jawaban apapun dari ayahnya. Hanya sorot mata yang mengatakan jangan pergi.


"Aku janji, akan menemui Ayah dua Minggu sekali. Atau Ayah ikut aku menetap di sana," Gio menggenggam tangan ayahnya seraya tersenyum.


"Jangan tutupi kesedihanmu, Nak," ucap Genta.


Wajah Gio langsung berubah, matanya kini berkaca-kaca. Dadanya sangat sesak, tapi tak bisa ia ungkapkan.

__ADS_1


"Aku sudah kalah dan sekarang waktunya aku menyerah," lirihnya.


"Benar kata Ayah, aku dan dia diciptakan hanya untuk jadi ...."


"Bang Gi."


Suara yang sangat Gio kenali, suara yang sangat ia rindukan selama ini. Apakah ini hanya halusinasinya saja? Gio memejamkan matanya, mencoba menghilangkan kenangan akan wanitanya.


"Aku mencintaimu," ucap Ayanda yang sudah berada di hadapannya.


"Ayank!"


Ayanda hanya tersenyum, tubuhnya ambruk seketika. Gio membawa tubuh Ayanda ke dalam kamarnya. Sedangkan Genta sibuk menelepon dokter pribadi rumah besar. Gio menatap wajah Ayanda yang pucat dan terlihat lebih tirus dari biasanya. Andri yang baru saja bangun dari tidurnya shock melihat Ayanda yang pingsan. Tak lama dokter pun tiba. Dokter langsung memeriksa tubuh Ayanda.


"Tubuhnya kekurangan gizi dan juga kelelahan," jelas dokter.


"Sudah dua hari ini si Ay tidak menyentuh makanan apapun. Sibuk memikirkan dan mencari Mas Korea," sahut Andri.


Gio melirik tajam ke arah Andri, namun tak di gubris olehnya. Akhirnya, dokter memasang jarum infus pada tubuh Ayanda. Agar kondisinya cepat pulih. Setelah selesai dengan tugasnya, dokter pun pamit. Andri dan Genta pun keluar dari kamar Ayanda membiarkan Gio yang menjaganya.


Gio terus menggenggam tangan Ayanda, tak sengaja ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


Perlahan Ayanda membuka matanya, Gio masih fokus pada cincin yang Ayanda kenakan.


"Jangan pergi," kata yang terucap dari bibir Ayanda mampu membangunkan Gio dari lamunannya. Gio hanya tersenyum. Mengusap kepala Ayanda dengan lembut.


"Aku belum pergi, masih di sini," katanya.


Ayanda tidak melihat cincin pertunangannya di jari manis Gio. Wajahnya kembali sendu.


"Apakah kamu akan melupakanku?" tanyanya.


Gio menatap Ayanda intens. Gurat kesedihan terpancar dari dua pasang mata anak manusia ini.


"Aku harus melupakanmu, karena ...."


"Dia membatalkan pernikahan kami. Karena aku mencintaimu dan hanya ingin menikah denganmu," timpalnya.


Gio terdiam mendengar ucapan Ayanda. Ia tak percaya dengan apa yang telah ia dengar. Gio mencoba menatap mata Ayanda yang tengah mengeluarkan bulir bening. Tidak ada kebohongan yang ia tangkap.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," pengakuan Ayanda kepada Giondra untuk ke sekian kalinya.


Gio memeluk tubuh Ayanda dengan sangat erat. "aku juga sangat mencintaimu," balasnya.


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Ayanda dan juga Giondra. Seperti tak ingin terpisahkan lagi, mereka mengisi hari mereka dengan saling menggenggam dan juga berpelukan.


Waktu seperti cepat berlalu. Siang pun sudah berganti dengan malam. Kedua orang ini, kini sedang berada di balkon. Memandang langit malam yang indah, seolah ikut berbahagia bersama mereka.


Ayanda menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio. Merasakan udara dingin di malam ini. Gio hanya memeluk erat tubuh Ayanda, menyalurkan kehangatan kepada wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya. Ya, keputusan mereka sudah bulat. Satu Minggu lagi pernikahan mereka akan diselenggarakan.


Gio menangkup wajah Ayanda, pandangan mereka saling mengunci. Deru nafas Gio semakin mendekat ke arah Ayanda. Perlahan Ayanda memejamkan matanya. Merasakan bibir Gio yang kini menempel pada bibirnya. Gio mulai membuka bibir Ayanda. Mereka saling membalas, Gio semakin merengkuh tubuh Ayanda. Mereka pun saling menikmati, menyalurkan kerinduan dalam ciuman hangat.


"I love you," kata Gio setelah melepaskan ciumannya.


"I love you too," balasnya seraya tersenyum.


"Maaf aku tidak bisa menahannya," ucapnya seraya mengusap bibir mungil Ayanda.


Ayanda hanya tersenyum, Gio mendekatkan kembali wajahnya dan Ayanda pun perlahan memejamkan matanya kembali.


"Aarrgh!!" teriak Andri yang tiba-tiba sudah berada di balkon sambil menutup matanya.


Gio merasa kesal setengah mati, kemesraannya diganggu oleh makhluk astral. Untung saja bibir Gio belum mendarat di bibir Ayanda. Ingin sekali ia mencekik leher Andri yang menjadi pengganggu malam indah mereka berdua.


*****


Hay ....


Sebentar lagi End, jangan lupa kencengin lagi like komen dan juga votenya ya ....


Biar aku makin semangat,


Makasih yang udah ngasih komen positif kepada aku, makasih kepada kalian yang selalu support aku. Pokoknya makasih banyak semuanya ....


Untuk kelanjutan cerita ini lagi aku garap ya, tapi dengan judul yang berbeda. Doakan saja aku agar bisa berhalu dengan lancar jaya ....


Thank You so much,


Happy reading semua ....

__ADS_1


__ADS_2