Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 45. Selamat tinggal


__ADS_3

Setelah kepergian mamah mertua dan adik iparnya Ayanda mulai meratapi kesendiriannya. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya.


Biarkan aku melepas genggamanmu, memulai untuk melangkah sendiri mencari bahagia yang sudah lama lari dariku. Kamu yang membuat aku bahagia dan kamu juga yang membuat aku terluka. Aku tak bisa menahan beban ini terlalu lama, sayapku tak sanggup dan sekarang malah patah. Jangankan untuk terbang, jalan pun aku tertatih. Itulah keadaan hatiku sekarang. Mulai hari ini aku akan melepaskanmu, menghilangkanmu dari ingatanku dan menghapus namamu di hatiku. Kamu adalah masa laluku yang sangat berharga, kamu yang memberiku banyak luka dan kini meninggalkan duka dengan terbaringnya Echa. Aku sudah tak sanggup, luka yang kamu beri sangat dalam dan meninggalkan bekas yang tak akan pernah bisa hilang, bukan hanya untukku tapi juga untuk anakmu. Aku cape selama ini pura pura bahagia demi orang lain, dan sekarang waktunya aku pergi memulai semuanya sendiri dan menata hidup dan hatiku lagi. Selamat tinggal,,


Menatap foto Rion yang ada di meja kerjanya. Luka yang berujung duka membuatnya menjadi kuat, tak sedikitpun ia meneteskan air mata. Hatinya sudah membeku untuk Rion.


Setelah semuanya beres Ayanda langsung ke Rumah Sakit, sudah ada Gio disana dengan beberapa pengawal untuk berjaga jaga.


"Are you ready?" Ayanda hanya mengangguk.


"Jika kamu ragu, tetaplah disini gak usah memaksakan diri." Menatap mata Ayanda yang penuh dengan ketidaksiapan.


"Aku siap Gi, sangat siap. Demi Echa aku harus pergi, menata semuanya dari awal lagi meskipun nantinya aku harus tertatih." Menundukkan kepalanya dalam.


"Tidak akan ada yang membiarkanmu tertatih, aku akan selalu disamping mu menunutun mu menuju kebahagiaan sesungguhnya. Terlalu banyak luka yang kamu simpan, sekarang buanglah lukamu


bersihkan hatimu dengan berada disamping orang orang yang tak akan pernah melepas genggaman mu dalam situasi apapun. Kamu segalanya buat aku dan ayah." Menangkup wajah Ayanda sambil tersenyum manis. Ayanda langsung memeluk tubuh Gio sangat erat dan dibalas tak kalah erat oleh Gio. Dibalik duka Ayanda ada sepasang mata yang mengawasinya dan tersenyum penuh kemenangan.


*****


Arya mendapat kabar dadakan dari Sita agar ke Rumah Sakit tempat Echa dirawat, ibu Boss ingin mengadakan meeting sebentar sebelum keberangkatannya. Arya mulai bergegas menuju Rumah Sakit. Ketika ia baru masuk ke dalam Rumah Sakit,dari kejauhan ia melihat dua sosok manusia yang tidak asing baginya sedang berbicara serius. Ia perlahan lahan berjalan mendekati tempat mereka berdua.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu merahasiakan semua ini dari dia? Kamu telah membohongi anakmu dan juga lelaki bodoh itu." Ucap seorang pria berjas putih dengan wajah sedikit memerah karena menahan marah.


"Sampai bocah itu mati aku gak akan membongkar rahasianya, kalo kamu berani ngebongkar semua ini aku gak segan segan membunuh bocah itu. Hahaha,"


"Ibu jahanam kamu, gak punya hati!" Dengan wajah yang mulai tambah merah.


"Aku akan menaklukkan si bodoh itu dan aku akan menjadi Nyonya Besar, karena istri dan anak yang penyakitan itu akan lenyap dari hidup si bodoh." Tertawa dengan penuh kemenangan.


Senyum bahagia berkembang di bibir Arya, satu potongan puzzle lagi sudah ia temukan. Tinggal satu potong puzzle lagi untuk melengkapi semuanya. Setelah puas mendengarkan pertengkaran dua manusia licik, Arya mulai bergegas menemui Ibu Bossnya.


*****


Di ruangan rawat Echa sudah berkumpul Ayanda, Sita, Mbak Ina, Pak Mat juga Gio. Arya membuka pintu ruangan rawat Echa, alangkah kagetnya Arya melihat tubuh lemah Echa yang sudah dipenuhi dengan kabel kabel dan alat medis. Hatinya sangat teriris tak terasa air matanya terjatuh.


Mengecup kening Echa sangat dalam, seolah mengatakan perpisahan. Air matanya pun tak terasa menetes lagi. Mengingat dulu ia yang disakiti dan dibuang oleh ayahnya dan sekarang karena ayahnya pula ia terbaring koma.


Manusia seperti lu gak sepantasnya hidup, kenapa lu gak mati aja? Biar luka wanita tersayang lu bisa sembuh dengan sempurna. Melihat ini semua, jujur ingin sekali gua membunuh lu. Apa lu ditakdirkan jadi lelaki jahat? Hadir hanya untuk melukai mereka?


Wajah murka terlihat sangat jelas, urat urat kemarahannya timbul, tangannya mengepal sangat kuat. Ingin sekali sekarang ia menonjok sahabat bodohnya itu.


"Pak Arya!" Amarahnya pun mereda ketika suara wanita memanggilnya.

__ADS_1


"Ibu Boss sudah menunggu." Arya hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Sita. Dilihatnya wajah sang Boss yang sudah benar benar lelah dengan guratan luka dan kesedihan yang sangat terpampang nyata. Ia juga tersenyum ketika seorang lelaki yang sangat ia kenal merengkuh tubuh tak berdaya Ibu Bossnya.


Sepertinya Andra benar benar tulus mencintai Ayanda. Semoga ia bisa membahagiakanmu Bu Boss, dia lelaki baik dan kesetiaan cintanya untukmu membuat aku yakin jika Andra sudah berubah. Terlebih sikapnya yang seperti itu kepadamu, memasang badan untukmu di saat saat seperti ini dan selalu setia berada disampingnya sebagai penenang hati dan ragamu yang rapuh.


Arya bergabung dengan semua asisten Ayanda. Ada beberapa map dihadapan Ayanda. Ayanda menghela nafas kasar, dan memulai pembicaraan.


"Arya, Sita, kepemilikan semua Toko akan saya balik namakan atas nama Rion Juanda. Semuanya sudah diurus, nanti jika sudah selesai mereka akan menghubungi kalian. Saya kembalikan yang bukan menjadi hak saya." Arya tercengang mendengar keputusan Bu Bossnya ini, di masa masa tersulit yang ini dan butuh banyak biaya perawatan untuk Echa tapi ia dengan rela mengembalikkan semua Toko kepada Rion. Arya benar benar dibuat kagum.


"Untuk Pak Mat dan Mbak Ina, kalian tetap kerja sepertinya biasanya meskipun saya dan Echa tidak tinggal disana untuk sementara waktu." Mata Ayanda mulai berkaca-kaca namun ia harus tetap kuat tak boleh terlihat rapuh dihadapan para asistennya.


"Semua gaji kalian akan diurus Arya, saya serahkan keuangan keluarga pada kamu Arya." Arya hanya bisa mengangguk pelan.


"Terimakasih sudah bersedia bekerja dengan saya selama ini, maafkan atas segala kekurangan saya dalam hal materi dan juga perkataan saya yang mungkin sering menyakiti kalian. Kalian bukan hanya asisten untuk saya tapi sudah seperti keluarga saya sendiri. Terimakasih untuk semuanya, saya pamit. Doakan Echa agar ia bisa pulih kembali." Tak terasa air matanya jatuh, Sita dan mbak Ina berhambur memeluk tubuh sang Boss Dan majikannya. Suasana haru pun menyelimuti ruangan itu.


"Boss, waktunya berangkat." Kehadiran Remon menyudahi kisah haru sore ini. Ayanda memeluk Sita dan Mbak Ina secara bergantian. Hanya ucapan terimakasih yang bisa ia ucapkan.


"Andra, jaga Ayanda dengan baik. Buat dia bahagia." Menepuk bahu Gio, dibalas dengan pelukan hangat oleh Gio.


"Tanpa lu minta, gua akan selalu jagain Ayank." Dengan senyuman tulus dari bibirnya.


*****

__ADS_1


Happy reading semua,


__ADS_2