
"Apa maksudmu?" teriaknya pada Dinda.
Dinda hanya tersenyum lebar mendengar teriakan Rion.
"Kamu akan menikah dengan aku," sahutnya dengan begitu santai.
Rion membelalakkan matanya tak percaya. "aku tidak akan pernah menikahimu!" serunya.
Ucapan Rion membuat semua orang yang berada disana terdiam melihat calon pengantin yang sedang bertengkar.
"Ini gimana sih, Mbak? Jadi nggak acara nikahnya, saya masih harus berangkat ke tempat lain," ujar sang penghulu.
"Gak jadi," tegas Rion.
"Jadi, Pak. Calon suami saya emang suka bercanda," jawabnya dengan cengengesan.
"Kamu lihat anak itu!" bisiknya pada Rion.
"Dia akan segera mati, apa kamu tidak kasihan? Aku hanya melaksanakan permintaan terakhir dari anakmu itu," ungkapnya.
"Kau menjebakku, sial*n!" umpat kesalnya.
"Sebentar lagi kamu akan bercerai, kan. Apa salahnya kita nikah siri dulu sekarang untuk menghalalkan hubungan kita sekaligus membahagiakan anak kita disisa-sisa hidupnya," terangnya.
"Atau kamu memang setuju jika aku menyebarkan berita ini kepada media tentang seorang Rion Juanda yang sudah menelantarkan anak kandungnya yang sedang sakit parah," katanya lagi.
Inilah alasan sebenarnya kenapa Rion selalu menuruti permintaan Dinda? Wanita itu selalu mengancam akan membuka aibnya ke semua media cetak ataupun elektronik tentang dirinya yang telah menelantarkan putranya yang sedang sakit parah. Berita itu sudah pasti akan mencoreng namanya di dunia pebisnis dan juga akan menghancurkan reputasi usahanya yang sedang naik daun.
"Benar-benar wanita licik!" sarkasnya.
*****
Arya sedang berfikir keras tentang surat gugatan cerai Rion dan Ayanda. Ia tau jika sahabatnya itu sangat mencintai istrinya dan sebaliknya juga, dirinya melihat jika Ayanda masih menyayangi Rion. Terlebih putrinya yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Gua kasih gak ya surat ini?" monolognya.
Dari tempat duduknya ia melihat seseorang yang sedang duduk termenung sendiri. Arya sangat mengenal orang itu. Ia pun mendekat ke table pria tersebut.
"Apa kabar, Papa Dokter?" sapanya pada Dokter Erlan dengan tersenyum licik.
Dokter Erlan melirik kearah samping tempat duduknya, Arya sudah duduk manis disana dengan gaya songongnya.
"Ada perlu apa?" tanya balik Dokter Erlan.
Arya hanya tertawa mendengar pertanyaannya, ia mengambil sesuatu dari tasnya. Lalu menyodorkan amplop putih panjang kehadapan Dokter Erlan.
Dokter Erlan mengambilnya dan membukanya.
Ternyata hasil Tes DNA waktu itu, batinnya. Ia pun menyesap kopi pesanannya.
"Apa itu asli? Atau hanya rekayasa," ucap Arya.
Perkataan Arya membuat Dokter Erlan tersedak kopi yang sedang ia minum. Arya hanya tersenyum tipis.
"Hasil Tes itu asli, untuk apa saya memalsukannya?" jawabnya sedikit gugup.
"Kalo ini," menyodorkan amplop cokelat besar kepada Dokter Erlan. Perlahan ia pun membuka amplop itu.
"Bacalah!" ujar Arya, ketika Dokter Erlan sudah memegang kertas putih yang berada dalam amplop besar tersebut.
Perlahan ia buka, betapa terkejutnya dirinya ketika membaca isi dari kertas itu.
"Jadi, lu mau jujur atau tetap menyimpan kebohongan ini?" tanya Arya.
"Siapa yang berbohong? Saya pastikan hasil tes itu salah," kilahnya sambil menunjuk kertas yang berada diatas amplop cokelat.
"Iyakah?" kata Rion dengan senyuman tipis yang penuh dengan makna.
__ADS_1
"Saya ini seorang Dokter, jadi tidak mungkin saya berbohong," ujarnya dengan suara sedikit meninggi.
"Karena lu seorang Dokter harusnya lu tau kode etik kedokteran, kan. Lu sudah pasti tau apa hukumannya jika seorang Dokter melanggar kode etik," jelasnya.
Arya memperlihatkan ponselnya kepada Dokter Erlan dan akan memanggil satu kontak nama di layar ponselnya.
Dokter Erlan memelototkan matanya ketika melihat nama kontak di ponsel Arya, dr. Ilham kepala dokter di Rumah Sakit tempat ia praktek. Akhirnya ia pun menyerah.
"Sebenarnya itu rekayasa," jujur Dokter Erlan.
Arya yang mendengar pernyataan Dokter Erlan hanya bisa menghela nafas berat. Arya menajamkan matanya kepada Dokter Erlan agar melanjutkan bicaranya.
"Itu semua karena Dinda, Dinda yang memintanya," jelasnya.
"Dia anak lu, kan?" tanya Arya.
Dokter Erlan hanya menganggukkan kepalanya, ia mencari sesuatu didalam tasnya. Lalu memberikannya pada Arya.
Arya membacanya, senyuman merekah dari bibirnya.
"Kenapa lu tega?" cecar Arya lagi.
"Dinda selalu mengancam akan membunuh Raska jika saya tidak menuruti perkataannya," jelasnya dengan menundukkan kepalanya.
Hh, helaan nafas terdengar dari mulut Arya.
"Lu ini lelaki, kenapa begitu lemah?" ucap Arya emosi.
"Saya hanya ingin melindungi putra saya," lirihnya.
"Melindungi anak lu? Apa gua gak salah dengar?" serunya sambil tertawa sinis.
"Ketidak tegasan lu membuat anak lu semakin menderita. Tindakan lu itu sudah merusak Rumah Tangga orang yang sama sekali tidak bersalah dan hampir saja membunuh anak yang tidak tau apa apa," emosi Arya membuncah.
Dokter Erlan hanya terdiam mendengar ucapan yang penuh dengan emosi dari mulut Arya.
"Karena dia belum bertemu dengan ayah kandungnya, Rion bukan ayah kandungnya!" teriaknya.
"Lu pernah mikir gak betapa menderitanya bocah itu selama ini, disaat dia sakit parah ibunya gak ada bapaknya juga gak ada, apa lu bisa bayangin gimana menderitanya dia?" ungkapnya lirih.
"Dimana hati lu? Coba lu lihat ketika anak lu meringis kesakitan dalam menjalani kemoterapi, coba lu dengar doanya setiap malam sebelum tidur," ucap Arya yang sudah berkaca kaca ketika mendengar kejujuran hati si Gundul.
"Dia hanya ingin bertemu Ayah kandungnya sebelum dia pergi," bentaknya pada Dokter Erlan.
Dokter Erlan menangis tersedu mendengar semua perkataan Arya tentang putranya. Selama ini ia mencoba dekat dengan Raska tapi selalu dihalangi oleh Dinda.
"Umur anak lu gak akan lama lagi, apa lu masih mau menutupi semuanya? Membiarkan anak lu pergi dengan menangis sedih. Atau lu mau jujur dan menyaksikan kepergian anak lu dengan tersenyum bahagia?" tanyanya.
Dokter Erlan hanya terdiam, mencerna dengan baik setiap ucapan yang ia dengar dari mulut Arya.
"Saya gak mau hidup dalam penyesalan," ujarnya.
Arya tersenyum bahagia, mereka pun bergegas ke Rumah Sakit untuk mengungkap kebenarannya.
Di Singapura, Echa sudah tertidur setelah menangis dan meminum obatnya. Hanya Ayanda seorang diri di ruangan itu.
Suara pintu terbuka.
"Ayah!" katanya, ketika melihat Genta sudah berada didepan pintu.
"Apa Ayah bisa bicara denganmu, tapi tidak disini. Ayah tidak ingin mengganggu cucu Ayah," ucapnya dengan suara pelan.
Ayanda hanya menganggukkan kepalanya, keluar menuju kantin Rumah Sakit.
Ada apa ini? Perasaanku tak enak, batinnya.
*****
__ADS_1
Setelah tiba di Rumah Sakit Arya dan Dokter Erlan bergegas menuju ruang perawatan Raska.
"Arya!" panggil seseorang.
Langkah mereka pun terhenti. Arya sangat familiar dengan suara itu.
"Mau ketemu bocah itu?" tanyanya. Dokter Eki sedikit heran karena keberadaan Dokter Erlan bersama Arya.
"Dok!" sapa Dokter Erlan dengan sopan.
Eki hanya menganggukkan kepalanya.
"Tadi gua liat Rion masuk ke ruangan si bocah," ucapnya.
Arya mengernyitkan dahinya merasa bingung karena yang ia tau Rion sedang di Singapura.
"Sekarang hari apa?" tanya Dokter Erlan tiba tiba.
"Rabu," jawab Dokter Eki.
"Hari ini Dinda akan menjebak Rion untuk menikah dengannya," ujarnya.
Arya langsung berlari menuju lantai dua ruang perawatan si Gundul, diikuti dokter Erlan dan juga dokter Eki.
Di Ruangan rawat Raska,
"Kapan akadnya akan dimulai?" tanya Pak Penghulu.
"Sekarang saja, Pak," sahut Dinda sangat mantap.
Rion hanya menghela nafas kasar dengan perasaan yang tak karuhan.
"Ini sudah lengkap ya, sudah ada kedua calon mempelai, dua saksi dan maaf sebelumnya, ini mas kawinnya apa, ya?" kata Pak Penghulu.
"Satu buah Toko Cabang A&R bakery and cake," jawabnya sangat yakin.
"Wanita gila!" teriaknya, tak peduli dengan orang orang disekitarnya jika Rion sedang marah.
Pak Penghulu hanya menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran yang tak berkesudahan antara calon pengantin didepannya.
Turuti saja, hanya satu Toko Cabang, kan. Kamu tidak akan jatuh miskin, bisiknya pada Rion.
Rion hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pada kenyataannya semua aset milik ya sudah milik Ayanda.
"Kita mulai saja, ya. Karena saya harus menikahkan yang lain juga bukan hanya kalian saja," ucap Pak penghulu. Penghulu langsung menjabat tangan pengantin pria.
Saya nikahkan dan kawinkan engkau Rion Juanda bin Aji Juanda dengan Dinda Kania binti Purwarjo dengan mas kawin sebuah Toko Cabang A&R cake and bakery dibayar Tunai.
Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Kania dengan mas kawin tersebut tu ...
"Tunggu!!" teriak seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan.
bersambung ...
*****
Maaf up-nya selalu telat, karena lagi benar benar di mode malas akunya.
Jangan pada komplain ya, sengaja ceritanya aku gantung biar makin penasaran 😁
Makasih kepada kalian yang sudah membaca cerita dan komen komen sesuai ceritanya, terimakasih banyak sayang,,,🙏
Jangan pernah lupa untuk tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, dan juga vote setelah mampir dan baca cerita ini,ya. Agar males aku ilang dan kembali bersemangat untuk melanjutkan ceritanya.
Happy reading semua,,
Aku padamu,😘
__ADS_1