
Echa masih memejamkan matanya, meskipun kedua sahabatnya tengah mengajaknya bicara. Terkadang mereka terdengar riang dan terdengar juga mereka menangis. Siapa saja yang mendengar obrolan mereka pasti akan ikut terbawa suasana.
Ayanda dan Gio yang memperhatikannya pun ikut meneteskan air mata, pemandangan yang amat menyakitkan untuk Ayanda. Hampir setiap hari Mima dan Sasa berkunjung ke rumahnya dengan canda tawa khas gadis remaja dan terdengar sangat riuh nan bahagia. Sekarang keadaannya terbalik, ia melihat haru biru pada mereka. Putrinya, sahabat Mima dan Sasa sedang mengalami tidur panjang yang tak berkesudahan. Hati Ayanda sangat perih melihatnya.
"Semoga ini bisa membantu kesadaran Echa," tutur Gio. Ayanda hanya mengangguk pelan dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
"Tante, apa Echa bisa sembuh?" tanya Mima dengan suara yang sangat berat dan mata bengkak karena terus terusan menangis.
Mendengar pertanyaan sahabat putri angkatnya, Gio hanya menghela nafas kecil. Ia tak bisa berkata
untuk sekarang ini. Mulutnya sudah kehabisan kata kata untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan tentang Echa.
"Doakan saja, semoga Echa bisa berkumpul bersama kita lagi," ujar Ayanda sangat lirih. Hati kecilnya mengatakan jika ia harus mengikhlaskan Echa. Namun, keegoisannya mendominasi dirinya. Ia ngin sekali menentang takdir Tuhan.
Tak henti hentinya tangisan dan isakan Mima dan Sasa terdengar, membuat Ayanda semakin rapuh. Dunianya sudah runtuh, hidupnya seakan tak berguna, tidak ada alasan untuknya terus melanjutkan hidup jika kenyataan pahit harus terjadi.
"Kamu udah makan?" tanya Gio untuk mengalihkan perasaan Ayanda, dijawab dengan gelengan kepala.
"Kita ke kantin, ya. Kita cari makan sekalian buat Echa dan Mima," ujarnya. Ayanda hanya mengikuti ucapan Gio.
Gio sangat merasakan kerapuhan Ayanda saat ini, sebenarnya sekarang ia tidak bisa berbuat apa apa. Hanya keajaibanlah yang akan membangunkan putrinya.
Sementara di Indonesia, Arya masuk ke ruangan Dokter Eki. Ia menyerahkan amplop besar kepada Arya. Arya langsung membukanya.
Senyumnya mengembang, "dugaan gua bener, kan," ujarnya. Dokter Eki hanya menganggukkan kepalanya.
"Tapi apa modus dia buat ngelabuhin semua orang?" tanyanya tak mengerti.
"Entahlah, tapi ini akan jadi bukti yang kuat. Permainan gua akan segera dimulai," tutur Arya dengan senyuman jahat yang tersungging dari bibirnya.
Dokter Eki tak mau ikut terlalu dalam dengan permainan Arya yang entah akan bermain apa? Main gundukah, layangankah, atau petak umpat. Hanya Arya dan Tuhan yang tau.
"Apa lu udah dapat kabar tentang Echa?" Arya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kenapa susah sekali menembus informasi tentang Echa dan Ayanda, ya?" tanyanya.
"Wiguna, siapa yang tidak tau nama itu? Mereka bukan orang biasa, sudah pasti memiliki penjaga dan keamanan yang ketat. Sulit untuk ditembus oleh siapapun," tegas Eki.
"Betul kata lu, kekuasaan dan uang faktor utamanya," jelasnya. Arya pun pamit kepada Eki karena harus kembali ke Toko Pusat.
Setelah keluar dari ruangan Eki, entah kenapa Arya teringat kepada si bocah gundul. Ia melangkahkan kakinya ke ruangan Raska.
Ia melihat Raska hanya seorang diri di ruangannya tengah memakan sarapannya dengan hati hati. Wajah pucat pasinya, tangannya yang gemetar ketika memegang sendok membuat hati Arya teriris.
Arya memperhatikan Raska yang sedang mencoba meraih gelas di samping ranjang tidurnya, namun tak sampai. Ia harus turun dari tempat tidurnya untuk mengambil air minum.
"Yah, airnya habis," katanya yang sedang memegang gelas ditangannya dengan gemetar.
Ia berjalan pelan dengan infusan ditangan kanannya dan gelas ditangan kirinya dengan wajah yang sangat pucat menuju pintu keluar. Arya sungguh tak tega melihatnya.
"Ndul, mau kemana?" tanya Arya berpura pura.
__ADS_1
"Ini om, aku mau ambil air kedepan," ujarnya. Arya sangat jelas melihat tubuh anak kecil tak berdosa ini gemetar dan wajahnya seperti mayat hidup.
"Gua aja yang ambilin, lu lanjut makan aja," sambil melirik ke makanan yang ada di ranjang.
Arya pun memapah tubuh lemah Raska menuju ranjangnya. Lalu bergegas membelikan air minum ke kantin.
"Loh kok Om bawa air botolan, kan di depan ada," ujarnya ketika Arya kembali ke kamar perawatannya dengan membawa kantong plastik besar berisikan air mineral.
"Ini buat persediaan lu minum, jadi lu gak perlu repot repot keluar," jelasnya.
Raska menyunggingkan senyuman kepada Arya seraya berkata. "Terimakasih, Om," ucapnya.
Arya hanya menganggukkan kepalanya dan menatapnya sedih.
"Mau kemana lu?" tanya Arya, karena melihat Raska yang hendak turun dari ranjang.
"Ambil obat om," menunjuk ke arah meja. Arya pun menyuruh Raska untuk tetap berada di ranjangnya dan ia yang mengambilkan obatnya.
"Nih," ujarnya sambil meyerahkan sekantong obat. Raska pun meminumnya. Arya duduk di kursi disamping tempat tidur Raska.
"Ndul, apa lu tiap hari begini?" Raska hanya menganggukkan kepalanya.
Arya hanya bisa menghela nafas kasar.
"Aku udah biasa, Om," katanya.
Arya mengernyitkan keningnya tak percaya. Raska menyenderkan tubuhnya di ranjang.
"Mungkin aku tidak diinginkan oleh siapapun," lirihnya. Arya hanya bisa terdiam mendengarnya.
"Ibu hanya datang ketika Ayah akan kesini, tapi jika Ayah tidak ada aku sendiri. Seperti tak punya siapa siapa," kata kata yang keluar dari mulut Raska semakin membungkam mulut Arya.
"Biasanya Papa Dokter yang menemani aku, tapi hari ini Papa tak tahu kemana," jelasnya pada Arya. Arya tersenyum mendengarnya. Setidaknya masih ada orang yang peduli dengan bocah tak berdosa ini.
"Apa Om tau, umurku kan gak akan lama lagi," ucapnya sambil tersenyum girang.
"Kenapa lu keliatannya senang banget? Emang lu gak takut mati," tanyanya. Raska semakin tersenyum dibuatnya.
"Itu doaku, Om," balasnya.
"Ha!" jawab Arya tak percaya.
"Kenapa begitu?" tanya Arya yang tak mengerti.
"Dari kecil aku dirawat oleh nenekku dengan penuh kasih sayang, karena nenek sakit dengan terpaksa ibu membawa aku kesini dan merawat aku. Disini setiap pagi sampai malam Ibu selalu sibuk dengan urusannya, aku selalu sendiri. Tidak ada yang menyayangiku lagi semenjak kepergian nenekku, jadi setiap malam aku selalu berdoa agar aku bisa menyusul nenek secepatnya. Setidaknya ibu tidak memiliki beban lagi," lirihnya dengan suara bergetar. Arya hanya bisa mengusap punggung Raska.
"Di dalam setiap doaku, aku hanya memohon kepada Tuhan jika aku sudah bertemu dengan Ayahku aku ingin agar Tuhan segera mencabut nyawaku. Aku ingin menemani nenek disana," jelasnya.
"Om tau, Tuhan mendengar doaku. Tak lama aku divonis penyakit ini dan umurku tinggal sebentar. Setiap aku tidur malam, aku berharap paginya aku tidak akan pernah terbangun lagi," lanjutnya sambil tersenyum.
"Tapi Tuhan terlalu lama memberiku waktu untuk hidup, padahal aku sudah sangat siap untuk mati," tegasnya.
__ADS_1
Ucapan yang keluar dari bibir mungil si gundul menohok hatinya.
"Apa lu sangat tertekan hidup dengan emak lu?" tanya Arya.
"Bukan aku yang tertekan, tapi Ibu yang tertekan memiliki aku. Aku sungguh beruntung memiliki ibu sepertinya, meskipun tak menyayangiku tapi masih mau merawatku. Mungkin Ibu akan bahagia jika aku tidak ada, sama seperti Ayah karena aku hanya jadi parasit didalam hidup mereka," ungkapnya.
Sungguh Arya tak menyangka anak sekecil ini setiap hari berdoa hanya ingin cepat meninggalkan dunia, ingin segera menghadap Sang Pencipta. Memiliki Ibu yang Gila pun ia berucap masih beruntung. Anak yang luar biasa.
"Lu berharapnya yang jadi Ayah lu siapa?" tanya Arya lagi.
"Siapapun yang sayang sama Ibu aku tak masalah, yang penting bisa membahagiakan Ibu. Lagi pula hidupku tinggal sebentar lagi, jadi aku tidak berhak untuk meminta terlalu lebih kepada Tuhan," tegasnya.
"Hanya satu Om permintaan aku sebelum aku pergi selamanya, Ayah kandungku harus menikahi Ibu dan membuatnya bahagia," katanya sambil tersenyum.
Lu emang bocah luar biasa Gundul, tapi takdir mengharuskan lu lahir dari seorang ibu yang durjana. Apa ini cara Tuhan agar lu gak terus terusan menderita? Positif kanker yang mematikan dan umur lu hanya tinggal menghitung hari. Sangat miris kisah hidup lu Ndul. Belum saatnya lu tau kebenarannya, jika lu tau pasti lu akan sangat bahagia.
Arya hanya menghela nafas kasar, memandangi wajah Raska dengan tatapan prihatin.
*****
Rion sedang bergulat dengan pikirannya, ia sedang mencerna ucapan dari sahabatnya. Permintaan keluarganya pun sama, menyuruhnya untuk menceraikan istrinya.
Aku belum siap untuk kehilangan kalian, sungguh belum siap.
Di Singapura, Mima dan Sasa masih setia berada disamping Echa. Kedua sahabat Echa hanya bisa terdiam menatap wajah tak berdayanya.
"Mima, Sasa!" panggil Ayanda, kedua gadis remaja itu menoleh.
"Makan dulu, yuk!" ajaknya. Mereka berdua kompak menggelengkan kepalanya.
Ayanda berjalan ke arah Sasa dan Mima. Melihat kesedihan yang sangat dalam ketika melihat raut wajah mereka.
"Hati aku sakit, Tante, melihat Echa tak bergerak seperti ini," lirih Mima.
"Aku gak mau kehilangan Echa, Tante," kata Sasa yang tak mampu membendung tangisnya.
Ayanda mencoba tersenyum walaupun hatinya menangis histeris saat ini.
"Tante yakin, Echa akan kembali lagi bersama kita," tegasnya. Hatinya sangat terluka ketika mengatakannya karena dirinya pun tak tau Echa akan kembali lagi atau akan pergi untuk selamanya.
Beruntungnya kamu, Echa. Dikelilingi oleh orang orang yang tulus menyayangi kamu walaupun kondisi kamu seperti ini tapi mereka masih tetap setia disampingmu. Sadarlah, Cha! Lihatlah mereka yang sangat menginginkanmu kembali bersama lagi. Buka matamu! Lihatlah air mata mereka mengalir tiada henti karena melihatmu seperti ini. Papa Gi mohon, bangunlah! batinnya sangat lirih.
*****
Up lagi, meskipun telat ya,,
Karena aku terserang sebuah virus yang mematikan otak para author makanya aku telat up. Aslinya aku lagi gak enak badan sayang, sudah 3 hari ini aku memaksa untuk up karena kalian readersku,,
Jangan lupa like, komen, dan vote untuk terus semangatin aku terus ya,,
Sederhana dan sangat mudah kan,
__ADS_1
Terus mampir dan baca karya remahan aku, dan tekan emot ❤️ agar kalian tidak ketinggalan up selanjutnya.
Happy reading semua,,😘