
Setelah mengecek hotel, kini Gio dan juga Ayanda menuju salah satu butik ternama. Setelah sampai di depan pintu masuk, sangat jelas terbaca tulisan Di*r. Brand ternama di dunia. Ayanda sungguh tak percaya dengan ini semua. Sudah hotel yang sangat mewah dan sekarang gaun pengantin pun bermerk dunia . Hanya kalangan artis dan orang-orang berduit yang biasa memakai brand ini.
"Bang, ini gak salah?" tanya Ayanda sedikit ragu.
"Tidak, Sayang. Semuanya sudah aku atur, tinggal pilih saja gaun mana yang kamu suka," jawabnya santai.
Ayanda memilah-milah gaun yang cocok dengan tubuhnya. Sederhana tapi berkelas. Ia tersenyum ketika ada salah satu gaun yang cocok untuknya. Ketika ia lihat harga gaun yang ia pegang, 723 juta. Ayanda melototkan matanya tak percaya.
"Sayang, sudahkah?" tanya Gio yang sedang menghampirinya.
Gio melihat gaun yang dipegang Ayanda, dan ia pun tersenyum. "bagus, simple but elegant," ujarnya.
Ayanda hanya tersenyum tipis. "tapi ini ...."
"Harga tidak jadi masalah untukku, Sayang. Pilih yang lebih dari itu juga aku masih sanggup untuk membayarnya," sahutnya tenang.
Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ayanda. Ia merasa menjadi wanita yang sangat beruntung saat ini. Memiliki calon suami yang sangat baik, tajir bukan main dan yang terpenting sayang kepadanya dan juga putrinya. Terlebih ia sudah mengenal Gio dan ayahnya sudah lama. Dan mereka adalah dua pria yang sangat menyayangi dirinya.
"Makasih," ucap Ayanda kepada Gio sambil memeluk Gio. Giondra hanya tersenyum dan mengecup ujung kepala calon istrinya.
"Aku suka yang itu," kata Gio tentang gaun pengantin yang dipilih Ayanda.
Ayanda tersenyum lebar mendengarnya. Mereka pun menyelesaikan administrasi dan akan kembali beberapa hari lagi untuk fitting baju.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat bukti pembayaran untuk sebuah gaunnya dan juga satu setel jas dan toxedo. "hampir satu milyar," gumamnya pelan.
"Gak usah norak deh, Yank," seru Gio pada Ayanda yang tengah bengong.
"Kamu lupa black card yang aku kasih, sama ATM yang aku kasih. Isi saldonya nolnya ada sembilan. Bisa hitung sendiri, kan," jelasnya pada Ayanda yang sedang menatapnya tak percaya.
"Kekayaanmu berapa banyak sih, Bang?" tanyanya kepada Gio sambil bergelayut manja di tangan calon suaminya.
"Mulai deh di mode matre," ucap Gio sambil tertawa dan mengacak-acak rambut Ayanda.
Ayanda hanya merengut kesal mendengar jawaban dari Giondra. Setelah semuanya beres, mereka meninggalkan butik tersebut.
Ayanda dan Gio sudah berada di dalam mobil. "mau kemana lagi?" tanya Ayanda.
"Pulang, semuanya sudah di urus Wedding Orginizer. Karena aku tau kamu sudah lelah, contoh undangan mungkin sudah dikirim ke rumah," jawab Gio.
"Haruskah kita merayakan resepsi?" tanyanya.
"Tidak ada resepsi, Sayang. Hanya akad dan makan bersama kolega-kolega ku," jawab Gio sambil menghidupkan mobilnya. Gio pun melajukan mobilnya ke rumah besar.
- Di Jakarta -
Rion menatap ponselnya dengan nanar. Hatinya terasa sangat sakit ketika melihat foto mereka bertiga yang sedang berlibur dan nampak begitu bahagia.
"Andaikan ayah tidak membuatmu kecewa, mungkin Mamahmu tidak akan meninggalkan ayah seperti ini," lirihnya. Bulir air mata terjatuh di ujung matanya.
__ADS_1
"A," panggil Nisa. Nisa dan mamahnya sedang berada di rumah Rion di Jakarta.
"Hemm," jawabnya sambil menghapus air matanya.
Hati Nisa terasa sangat teriris melihat keadaan kakaknya yang miris ini.
"Sampai kapan aa bergelut dengan penyesalan? Sudah saatnya aa move on," terang Nisa.
"Kamu gak akan ngerti artinya penyesalan jika kamu belum pernah mengalaminya. Teori sangat mudah tapi prakteknya itu sangat sulit," sahut Rion.
"Nisa hanya gak mau liat aa sedih terus kayak gini. Hati Nisa dan Mamah juga sedih a kalo aa terus terpuruk," balas Nisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rion tersenyum mendengar ucapan dari adiknya ini. "aa gak apa-apa, biarkan aa menikmati semua ini. Karma baru saja menghampiri aa," ujarnya.
"A," panggil Nisa, lalu memeluk tubuh Rion dengan linangan air mata.
"Nisa tau aa gak baik-baik aja," katanya sambil menangis dalam pelukan Rion.
Rion terharu dengan perlakuan adik perempuannya. "yang penting kamu dan mamah ada di samping aa itu akan menjadi kekuatan aa. Hanya kalian yang sekarang aa punya. Maafkan aa," ujarnya dengan suara berat menahan tangis.
"Ada drama Korea apa ini?" tanya Arya yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar Rion.
Nisa dan Rion pun melepaskan pelukan mereka. Dengan mata Nisa yang terlihat sembab dan merah.
"Napa lu bocah bawel?" tanya Arya pada Nisa.
"Abis ngiris bawang," jawab Nisa yang masih menghapus jejak air mata di pipinya.
"Datang-datang main ngusir aja, dasar cowok aneh. Untungnya ganteng," sahut Nisa dan meninggalkan dua pria dewasa ini.
"Makasih woiy, gua dibilang ganteng," ucap Arya.
Rion hanya tertawa melihat tingkah Arya dan juga adiknya. "cocok lu sama adek gua," kata Rion.
"Pengen banget lu punya adik ipar kayak gua," balas Arya sambil menaik turunkan alisnya.
"Amit-amit jabang bayi," ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Gua tuh imut-imut. Lagian siapa juga yang mau punya kakak ipar kayak lu. Enek gua ketemu lu mulu," sahutnya. Rion melempar bantal ke arah muka Arya dan yang dilempar hanya tertawa.
"Udah hampir setahun, masih betah sendiri?" tanya Arya yang sudah duduk di sofa single.
Rion melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya. Menatap pemandangan dari balik jendela.
"Sudah berapa kali gua bilang ke lu, gua hanya ingin menikmati penyesalan gua ini sendiri. Percuma gua mencoba membuka hati tapi pada nyatanya hati gua hanya untuk Yanda. Bukankah nantinya yang dekat sama gua akan terluka juga," jelasnya pada Arya.
Arya hanya bisa menghela nafasnya. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini benar adanya.
"Lu mau jodohin gua sama siapapun gua gak akan mau. Cinta gua hanya untuk Yanda, dan akan gua bawa cinta ini sampai mati," terangnya.
__ADS_1
Hati Arya tertohok mendengar ucapan Rion. Entah ini ucapan yang ke berapa kali yang Arya dengar dari mulut sahabatnya ini.
"Gua gak akan pernah jodohin lu. Gak ada untungnya buat gua, setidaknya gua ada teman jomblo," balasnya sambil tertawa.
Rion pun tertawa mendengar jawaban dari Arya. "anggota ganteng-ganteng mubazir nambah satu ya," seru Rion sambil tertawa.
"Senjata makan tuan itu," jawan Arya dengan kekehan lucu.
Kembali ke Singapura, Gio dan Ayanda sudah sampai di rumah besar. Setelah beristirahat sejenak mereka berdua berada di taman belakang sambil memilih-milih undangan. Ayanda hanya menyandarkan kepalanya di bahu Gio.
"Sayang, pilih mana yang kamu suka, " kata Gio.
"Terserah kamu saja, Bang," balas Ayanda yang tengah memejamkan matanya di bahu Giondra.
"Kamu lelah?" tanya Gio.
"Heeh," jawabnya.
"Masih ada satu lagi yang harus kita lakukan setelah semuanya beres," ujarnya.
Ayanda menegakkan kepalanya, menatap Gio tak mengerti.
"Kita harus meminta restu kepada mamah mertuamu," timpal Gio sambil mengelus pipi calon istrinya.
Seketika Ayanda membeku. Tidak ada jawaban maupun sanggahan dari mulutnya.
"Sayang," panggil Gio lembut dan menggenggam tangan Ayanda.
"Kamu sendiri yang bilang, jika mamah mertuamu sudah seperti Mamahmu sendiri. Jadi, kita harus meminta restu kepadanya," jelas Gio.
"Tapi ...."
"Aku tau, kamu tidak ingin menyakiti hati mantan suamimu, kan. Lebih baik berbicara kepadanya dari pada kita harus menutupi semuanya dari dirinya. Pasti akan lebih menyakitkan untuk Rion," terangnya.
Ayanda masih terdiam, sebenarnya ia hanya tidak ingin menyakiti Rion lagi. Meskipun dirinya sudah berpisah dengan mantan suaminya, tidak bisa dipungkiri jika rasa cinta dan sayang yang Rion berikan masih membekas di hati Ayanda.
*****
Hay,
Aku up lagi,
Sebelumnya aku mau minta maaf ke kalian, untuk dua hari ke depan aku gak up dulu ya sayang.
Tubuh dan otakku perlu beristirahat sejenak.
insyaallah hari Minggu aku mulai up lagi tiap hari (itu juga kalo gak buntu) 😁
Jangan lupa like, komen, dan vote ya biar aku makin semangat buat bikin ending yang seru.
__ADS_1
Happy reading semua,,,