
Jam menunjukkan pukul 21.33 ibunda Rion baru tiba di rumah putranya. Ia langsung berlari kedalam karena takut terjadi apa apa dengan anak laki lakinya. Dilihatnya Mbak Ina dan Pak Mat berdiri di depan pintu yang sudah rusak karena di dobrak paksa.
"Ibu!" sapa mbak Ina, Ibunda Rion langsung melangkah ke kamar anaknya diikuti oleh Nisa.
"Aa!" panggil sang mamah. Hatinya sangat teriris melihat anaknya sangat kacau.
"Mamah!" lirihnya. Sang mamah menghampiri putranya dan langsung memeluknya yang sedang duduk di lantai.
"Kenapa Yanda tega mah? Kenapa?" menangis dalam pelukan mamahnya seperti anak kecil. Isakannya membuat semua orang yang berada disana merasakan kesakitan yang Rion rasakan.
Nisa melihat sebuah foto yang sangat lusuh diantara kekacauan kamar kakaknya. Ia menghela nafas kasar.
"Karena ini a?" menunjukkan foto yang ia pegang kepada sang kakak.
Rion hanya terdiam, sang mamah pun meminta foto itu dari Nisa. Dilihatnya foto tersebut, ia hanya menyunggingkan senyuman.
"Aa merasa sakit melihat foto ini?" Rion hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah penuh amarah.
"Apa istri aa tidak marah jika ia melihat aa memeluk wanita lain? Apa istri aa tidak sakit jika ia mengetahui aa punya anak dari wanita lain?" pertanyaan mamahnya membuat Rion membisu.
"Kemarahan aa tidak ada apa apanya dengan kesakitan yang istri aa rasakan. Bisa saja si teteh sangat marah dan sakit tapi tidak seperti aa begini. Hanya ia pendam sendiri hingga ia lelah dan sekarang memutuskan untuk pergi. Coba berfikir jernih a," sambil mengusap lembut bahu putranya.
"Apa aa tau bagaimana perasaan istri aa ketika mengetahui putri kalian koma? Apa aa pernah tau bagaimana keadaan hatinya sekarang yang harus berjuang sendiri demi kesembuhan Echa tanpa hadirnya aa disampingnya? Apa aa tau?" menatap mata anaknya yang sudah mengeluarkan air mata.
"Jangan merasa paling tersakiti sekarang ini, kesakitan yang aa rasakan belum ada apa apanya dibandingkan dengan kesakitan si teteh yang selama ini ia rasakan. Hanya seujung kuku si teteh," ujar sang mamah.
"Aa harus tau lelaki itu yang selalu menemani si teteh ketika Echa dirawat disini, dan dialah yang membawa Echa menjalani perawatan di Singapura." Nisa ikut membuka suara.
"Siapa dia?" dijawab gelengan kepala oleh Nisa.
"A Arya yang tau siapa lelaki itu, tapi Nisa lihat dia baik dan tulus kepada teteh." ucapnya sedikit ragu takut kakaknya ngamuk lagi.
"Baskara!!" teriaknya penuh dengan kegeraman. Apa yang dikhawatirkan Nisa pun terjadi.
Ia meninggalkan sang mamah dan Nisa, berlari keluar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat sang mamah khawatir. Akhirnya mereka mengikuti mobil Rion dari belakang dengan diantar Pak Mat.
Sesampainya di rumah Arya, Rion langsung masuk dengan langkah seribu dan wajah penuh emosi yang menggebu.
__ADS_1
"Baskara!" teriaknya dan membangunkan seisi rumah. Arya yang berada di dalam kamar pun keluar.
"Ngapain lu kayak Tarzan, teriak teriak di rumah gua di hampir tengah malam begini," Rion langsung menarik tubuh Arya dan memukulnya dengan sangat keras.
Bugh! membuat ujung bibir Arya berdarah.
Rion menarik kaos Arya dengan kasar, mencoba memukulnya lagi.
"A, hentikan!" teriak sang mamah dengan suara yang sangat lantang. Rion pun melepaskan Arya dari cengkeramannya.
"Siapa pria itu? Siapa?" tanyanya dengan wajah yang sudah memerah penuh dengan amarah. Arya hanya tersenyum sinis.
"Apa peduli lu? Apa selama ini lu peduli sama anak dan istri lu? Mereka sudah sangat menderita hidup bersama lu sampe Echa koma itu semua karena ulah lu!" telunjuknya berada di depan wajah Rion.
"Karena masa lalu lu bersama si kecoak gila dan menghasilkan si gundul, keluarga lu sekarang hancur, satu per satu orang yang berharga dalam hidup lu pergi. Apa lu belum sadar juga kalo Rumah Tangga lu sekarang ini sudah berada di ujung tanduk?" timpalnya sengaja.
"Lu pengen tau siapa lelaki itu? Lelaki itu yang mencintai istri lu selama 8 tahun ini. Tapi istri lu selalu menolaknya karena lu yang selalu jadi alasannya, dia sangat mencintai lu tapi apa balasan lu? Lu cuma nyakitin dia lagi dan lagi. Sekarang anak lu koma aja lu gak pernah ngeliatnya kan. Ayah macam apa lu?" mendorong tubuh Rion hingga tersungkur. Rion hanya terdiam dan menunduk menangis.
Apa yang dikatakan oleh Arya fakta semua. tidak ada yang bisa ia bantah dan juga sanggah. Ia hanya bisa pasrah dengan air mata yang terus berurai membasahi pipinya.
Arya menjauhi Rion, menenangkan emosinya dengan duduk di sofa ruang tamu dengan memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.
"Lepaskan istrimu a, lepaskan!" ucapan sang mamah seperti Boomerang di telinganya.
"Nggak mah nggak! Aa gak akan pernah lepasin Yanda dan juga Echa. Gak akan pernah!" teriaknya sambil menangis.
"Aa gak bisa hidup tanpa mereka mah," lirihnya.
"Lu gak bisa hidup tanpa mereka tapi lu bisa nyakitin mereka! Lu udah kayak pohon pisang, punya jantung tapi gak punya hati." sahut Arya yang masih emosi.
"Gua udah berusaha Bas cari tau anak dan istri gua tapi gak ada satu pun info tentang mereka. Selama ini gua gak diam aja, gua juga nyari tanpa lu tau tanpa siapapun tau karena ini semua kesalahan gua jadi gua yang harus bertanggung jawab sendiri tanpa melibatkan lu dan juga keluarga gua." Rion mencoba menjelaskan kepada Arya dan juga sang mamah beserta adiknya.
"Kalo dari awal lu gak terikat perjanjian dengan si kecoak gila itu semua ini gak akan pernah terjadi, setidaknya anak lu masih sehat," setiap ucapan yang keluar dari mulut Arya sukses membungkam mulut Rion dan membuatnya semakin merasa bersalah.
"Apa lu merasa ada ikatan batin dengan si gundul?" tiba tiba Arya menanyakan hal diluar topik pembahasan mereka, dijawab dengan gelengan kepala oleh Rion.
"Hati gua hampa dan mulut gua terkunci kalo bersama anak itu. Mungkin gua terlalu membencinya, terlebih ibu kandungnya." jawabnya membuat hati sang mamah merasa iba kepada anak lelaki yang malang itu.
__ADS_1
Bodoh dan beg* emang lu, masih aja belum sadar itu artinya apa. Tepok jidat dah gua, kayaknya Tuhan ngasih otak cuma seperempat deh ke lu.
Umpatnya dalam hati.
"Jika itu anak aa, akuilah! Jangan perlakukan anak itu seperti Echa dulu. Bagaimanapun itu anak aa, darah daging aa." sang mamah mencoba memberikan nasihat untuk putranya.
"Terimalah dia pelan pelan, bukalah hati aa sedikit demi sedikit untuknya." timpal sang mamah lagi. Rion hanya terdiam mendengar ucapan demi ucapan dari sang mamah.
"Melupakan itu sulit, tapi cobalah untuk mengikhlaskan," perkataan Nisa sontak membuat Rion menatap tajam ke arahnya.
"Nisa tau aa gak akan pernah bisa lupain teteh, tapi ikhlaskanlah si teteh a. Mungkin si teteh hanya jadi tempat pelabuhan sementara untuk aa, agar aa bisa menemukan rumah yang sebenarnya harus aa isi dan tinggali. Itu bukan teteh," Nisa mencoba menjelaskan maksud dari perkataannya dan membuat Arya tersenyum tipis.
"Kenapa kalian menyuruh aa untuk meninggalkan anak dan istri aa kenapa?" tanyanya sedikit emosi.
"Karena lu g*blog! Untuk kesekian kalinya lu masuk ke dalam jurang kesalahan yang sama. Gak pernah belajar dari kesalahan masa lalu, dan sekarang penyesalan menyelimuti lu." sahut Arya dan langsung meninggalkan Rion dan juga keluarganya tanpa merasa berdosa.
Arya menuju lantai atas ke kamarnya. Dari atas ia melihat sahabatnya itu sedang menangis layaknya anak kecil. Dalam hatinya merasa kasihan melihat sang sahabat kacau seperti itu, tapi mulutnya selalu saja ingin memaki maki kebodohan demi kebodohan yang sudah Rion lakukan.
Sebenarnya gua gak tega, tapi inilah cara gua untuk menyadarkan lu dari kebeg*an hakiki yang udah mendarah daging di diri lu. Percuma lu punya wajah ganteng, sukses tapi otak lu gak penuh. Batinnya.
Suara ponsel Arya berbunyi menandakan ada pesan masuk, senyuman tersungging dari bibirnya.
Hari ini lu sukses kecoak gila! Tapi ingat permainan kita baru saja dimulai. Gundul maafkan gua, gua jadiin lu umpan dulu dalam permainan ini. Biar lu tau siapa emak lu sebenarnya? Iblis berkedok manusia.
*****
Hay, aku up lagi😁
Semoga kalian gak bosen baca cerita remahan peyek aku ya sayang😁
Maaf untuk besok sepertinya aku gak up ya🙏
Kesehatanku mulai menurun karena aktifitasku yang padat ditambah cuaca yang tak bersahabat, ini juga aku di mode maksa nulisnya. Maaf jika sedikit hambar.🙏 Aku mau istirahat dulu untuk beberapa hari ke depan, jika kesehatanku sudah pulih pasti aku up lagi,
Jangan lupa like, comment, and vote ya ,,
Jangan bosen baca dan mampir ke karya aku sayang,,
__ADS_1
Happy reading,
Aku padamu😘😘