
Hay, aku up lagi,,
Tadi aku udah janji akan up lagi, anggap aja ini sebagai pelunasan hutangku ke kalian karena kemarin aku gak up.
Jangan emosi dulu sebelum membaca kelanjutan ceritanya, karena banyak kejutan di setiap bab-nya. Banyak hal tak terduga, karena otakku dan jariku tidak pernah sejalan. Kadang juga aku aneh dibuatnya.
Oke, happy reading semua,,
******
Disinilah Giondra, di atap tertinggi Rumah Sakit. Kesakitannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kesedihannya sudah melewati batas rata-rata.
Ingin sekali rasanya Giondra berteriak sekencang-kencangnya meluapkan semua kesakitannya, menumpahkan air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi karena sudah tidak mampu untuk menanggung semua kepiluannya sendiri.
Ia terduduk di lantai dengan menelungkupkan wajahnya pada kakinya. Isak tangis lirih terdengar sangat memilukan bagi siapapun yang mendengarnya. Tak terkecuali Remon yang kini berada tak jauh dari Bossnya.
Hati Remon ikut sakit dan sedih, karena baru kali ini ia melihat Bossnya serapuh ini hingga ia mengeluarkan air mata. Ingin sekali ia mendekat tapi terlalu lancang baginya. Ia hanya bisa menghela nafas kasar, membiarkan Bossnya sendiri dulu. Mungkin itu bisa membuatnya lebih baik.
Di ruangan Echa terasa hening, mereka hanya bisa terdiam ketika melihat kembali kedekatan Ayanda dan juga Rion. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Mata Ayanda seolah sedang mencari seseorang di ruangan ini, ia mencari sosok yang belum lama ini kembali untuknya.
"Gi kemana, Yah?" tanyanya.
"Gi tadi keluar bersama Remon," jawab Sang Ayah.
Hati Ayanda menjadi gusar, rasa bersalah kini menyelimutinya. Pikiran jelek menghantuinya sekarang. Tanpa pamit kepada orang-orang yang berada disana ia mencari Giondra seorang diri dengan wajah yang masih terlihat pucat.
Ayanda menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah tertatih. Ia mencari ke setiap sudut tapi tidak ada. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit.
Sudah ia kelilingi taman rumah sakit namun tak kunjung menemui Gio. Langkahnya terhenti karena sudah sangat lelah, dan badannya pun bergetar. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi taman.
Mengatur nafasnya perlahan karena sudah terasa sesak. Hingga sosok yang ia kenali lewat dihadapannya.
"Remon!" panggil Ayanda dengan suara yang sudah lelah.
Remon menghentikan langkahnya, dilihatnya Ayanda yang sedang duduk di kursi taman seorang diri dengan wajah yang sudah pucat sekali.
Ia pun menghampiri Ayanda, duduk disampingnya.
"Gio dimana, Mon?" tanya Ayanda dengan suara pelan.
"Ibu saya anter ke dalam, ya. Kondisi ibu sepertinya memburuk," ucapnya.
Remon tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayanda. Namun, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan wanita yang disayangi Bossnya ini karena sudah sangat lemah.
Ayanda hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. "saya ingin bertemu dengan Gio," ujarnya.
"Tapi, Bu ... " balas menggantung Remon.
"Antar saya bertemu dengan Gio, saya mohon," katanya dengan nada yang sangat berharap.
Sebenarnya Remon tidak mau mempertemukan Ayanda dengan Bossnya, karena Bossnya sekarang sedang hancur dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi ia juga tak tega melihat wajah Ayanda yang memohon dengan tulus kepadanya.
"Ya sudah, tapi saya ambil kursi roda dulu buat Ibu," ucapnya.
__ADS_1
Remon pun bergegas mengambil kursi roda ke dalam Rumah sakit untuk Ayanda. Karena tidak mungkin jika Ayanda berjalan ke lantai paling atas rumah sakit dengan keadaan lemah seperti ini.
Tak perlu lama menunggu Remon pun kembali dengan kursi roda didorongnya.
"Ayo, Bu," katanya dengan memapah tubuh lemah Ayanda untuk duduk di kursi roda. Ia pun mendorong kursi roda yang diduduki Ayanda masuk ke dalam lift.
Ayanda mengernyitkan dahinya ketika Remon menekan angka yang paling atas.
"Gio ada dimana, Mon?" tanyanya dengan perasaan was-was.
Remon tidak menjawab, ia hanya terdiam menikmati lift yang melaju ke lantai atas.
Pintu lift pun terbuka, Remon mendorong Ayanda ke lantai atas yang tak beratap. Lantai ini diperuntukkan untuk pasien-pasien darurat yang dibawa oleh helikopter ataupun private jet.
Mata Ayanda membulat besar ketika melihat sosok yang gagah kini sedang menenggelamkan kepalanya pada kakinya. Hatinya terasa sakit melihat pria itu.
Remon terus mendorong tubuh Ayanda menuju keberadaan Gio kini. Namun, Ayanda mengangkat tangannya menandakan sudah cukup. Remon pun menghentikan dorongannya.
"Saya bisa sendiri," ucapanya yang sedang mencoba bangun dari kursi roda.
Ayanda berjalan dengan langkah pendek ke arah Gio. Remon hanya bisa melihatnya, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Terdengar isakan kecil nan lirih di telinga Ayanda. Ia cukup lama berada di belakang Gio yang sedang menangis dengan pilunya. Air matanya pun tak bisa ia tahan, kini sudah terjun bebas membasahi pipinya.
Ayanda memeluk tubuh Gio dari belakang, Gio yang merasakan ada yang merengkuhnya mengangkat kepalanya. Menoleh ke arah belakang.
"Ayank," ucapnya dengan suara berat.
Giondra langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Ayanda dengan air mata yang mengalir.
Gio hanya terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan Ayanda melepaskan pelukannya, baru kali ini ia melihat Giondra menangis hingga air matanya membasahi wajah tampannya.
Ayanda menghapus jejak air mata Gio, ia mencium kening Gio sangat dalam dan lama. Menyalurkan ketenangan untuk pria dihadapannya. Gio pun memejamkan matanya, merasakan kecupan hangat dari wanita yang sangat ia cintai. Ini pertama kalinya Ayanda mencium keningnya.
Setelah ia melepaskan kecupannya, Ayanda menatap dalam mata Giondra.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
Gio menangkup wajah Ayanda, memandangnya pekat.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku yang seharusnya ... " ungkapnya, namun terputus karena Ayanda segera memeluk tubuh Gio dan menenggelamkan wajahnya di dada Giondra.
Giondra hanya terdiam dengan perlakuan Ayanda saat ini, tidak seperti biasanya wanita yang disayanginya seperti ini.
"Ada apa, Yank?" tanyanya sambil mengelus pelan rambut Ayanda.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. "izinkan aku seperti ini dulu," jawabnya.
Giondra hanya bisa menghela nafas kasar. Inilah akhir cerita tentang dirinya bersama Ayanda. Cerita dari pertemuan tak terduga hingga berakhir sia-sia.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Gi," ucapnya.
Gio semakin tidak mengerti apa yang dikatakan Ayanda. Yang sekarang ia bisa lakukan hanyalah menuruti keinginan Ayanda.
__ADS_1
Mungkin ini tangisan terakhirku untukmu. Esok dan seterusnya kamu akan menjadi adikku. Setidaknya aku bisa bahagia karena aku akan selalu menjagamu meskipun hanya sebatas kakak, batinnya.
Ayanda mengangkat kepalanya, Gio terus memandang wajah Ayanda seolah ini terakhir kalinya untuk bertemu dengannya.
"Wajahmu pucat, kita kembali ke ruangan Echa aja, ya," pintanya.
Ayanda menggelengkan kepalanya, dan mulai bersandar di bahu Gio dengan bergelayut manja di lengannya.
"Ayank, kamu harus istirahat. Suhu badanmu sudah mulai tinggi lagi dan wajahmu sudah pucat sekali," ujar Gio.
Tanpa aba-aba Gio menggendong tubuh lemah Ayanda menuju ruang rawat Echa. Ia tak mempedulikan tatapan orang-orang di sekelilingnya.
Banyak mata yang melihat dan memperhatikannya. Terutama kaum hawa, mereka kagum dengan tindakan Giondra dan berbisik-bisik jika Giondra adalah suami idaman semua wanita.
Wajahnya yang tampan, penampilannya yang serba branded dan juga perhatiannya yang luar biasa pada istrinya. Mereka menganggap jika wanita yang sedang digendong Giondra adalah istrinya.
"Good husband, I really like it," ucap seorang perempuan.
Gio sama sekali tak mengindahkan ucapan dan bisikan wanita-wanita yang berada disana. Ia tetap menggendong Ayanda dengan langkah panjang agar segera sampai ke ruangan Echa dan mengistirahatkan tubuh lemah Ayanda, ia khawatir keadaannya semakin memburuk.
Giondra dengan susah payah membuka pintu, ketika ia baru saja masuk, keadaan ruangan seolah sedih. Apalagi ketika ia melihat Echa yang meneteskan air mata setelah dipeluk oleh Ayahnya.
Rion menatap Giondra dengan tatapan hangat dan bersahabat. Ia pun tersenyum ke arah Gio, membuat Giondra semakin bertanya-tanya dan tetap mematung pada tempatnya.
Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi? tanyanya dalam hati.
Gio menatap Rion dengan tatapan tak terbaca dan tetap menggendong Ayanda yang sudah terlelap. Pandangannya beralih ke Echa, dengan air mata yang membasahi pipi kurusnya Echa pun tersenyum padanya. Gio semakin bingung dibuatnya.
Rion menghampiri Gio yang sedang menggendong istrinya. Ia tersenyum, lalu menepuk bahunya pelan.
"Jaga mereka untukku," pinta Rion.
*****
Nah,,
Apa yang terjadi?
Apakah ada pebinor?
Siapa yang dipilih?
Siapa yang memilih?
Siapa yang disakiti?
Siapa yang menyakiti?
Jawabannya di bab berikutnya sayang,,
Jangan menjudge cerita yang masih menggantung, karena banyak kejutan di bab-bab selanjutnya.
Terimakasih sayang udah setia baca karya remahan ini, I love you,,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya dengan cara like, komen dan juga vote.
__ADS_1
Aku padamu,,