
Ayanda pergi ke kedai kopi favoritnya, seperti biasa meja dekat kaca adalah tempat duduk favoritnya. Ia menyenderkan kepalanya ke kaca dengan tatapan penuh luka. Tanpa ia sadari seseorang menarik kursi disampingnya. Sontak ia menoleh. Matanya langsung berkaca kaca dan langsung berhambur memeluknya.
"Ada apa Ay?" Tanya Maya, karena tiba tiba ia langsung dipeluk Ayanda.
Ayanda tidak menjawab apapun, hanya air mata yang mengalir begitu deras di pipinya. Maya membiarkan sahabatnya itu menuangkan kesedihannya, karena ia tak akan bisa seperti ini kepada orang yang tidak benar benar dekat dengannya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dengan tatapan penuh luka juga.
Setelah Ayanda tenang Maya pelan pelan bertanya pada Ayanda. "Apa yang terjadi?" Dijawab hanya dengan gelengan kepala dan senyuman palsu.
"Ay, orang lain bisa lu bohongin tapi gua gak akan pernah bisa lu gituin."
"Gua gak apa apa May, Cuma lagi melow aja." Jawabnya pelan.
"Ay, liat mata gua." Perintah Maya, namun Ayanda tidak mau. Maya pun menangkup wajah Ayanda agar melihatnya.
"Ada apa? Cerita sama gua." Ayanda mulai terisak kembali. Maya mencoba menenangkannya dan memeluknya lagi.
"Rion may," ucapnya lirih dan masih terisak.
"Kenapa dengan laki lu?" Tanyanya heran. Ayandapun menceritakan semuanya pada Maya. Maya pun kaget dibuatnya ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"Gua gak tau harus bilang apa, lu wanita kuat Ay lu wanita tangguh gua akuin itu. Gua gak akan bisa kayak lu, udah disakitin di depan mata masih aja lu mau balik lagi? Gua kira laki lu baik ternyata brengsek," ucapnya sedikit emosi.
"Gua cuma pengen buat Echa bahagia, apapun akan gua lakuin meskipun nyawa taruhannya" jawabnya masih dengan terisak. Maya pun tidak bisa meladeni pernyataan Ayanda. Itulah supernya seorang ibu, bisa berkorban apapun demi anaknya.
"Sekarang lu mau gimana?" Dijawab dengan gelengan kepala.
"Lu mau gini terus, sedih gak berujung?" Tanyanya lagi.
"Rion mau Test DNA," ucapnya lirih.
"Jika itu bener bener anak Rion gimana?"
Ayanda hanya bisa menghela nafas kasar, "Gua yang akan ngalah, gua gak mau anak lain ngerasain hal yang sama dengan Echa kecil."
"Maksud lu, lu mau cerai?" Lagi lagi dijawab dengan gelengan kepala.
"Biarkanlah tetap seperti ini, berumah tangga dengan pura pura bahagia," tersenyum kecut.
"Lu masih mau nutupin ini dari anak lu?"
"Harus, orang yang sangat mencintai Rion itu Echa. Gua gak mau dia kecewa dan membenci ayahnya. Seberengsek apapun Rion, ia tetap ayah kandung Echa."
__ADS_1
"Apa lu sanggup hidup begitu? Lambat laun Echa pasti akan tau masalah ini." Cecarnya.
"Mungkin gua di takdirkan untuk hidup seperti ini May, udah biasa buat gua." Seulas senyum yang penuh luka tersungging di bibirnya. "Biarkanlah Echa tau dengan sendirinya, yang penting gua gak ngasih tau ke dia, Biarlah gua yang nanggung luka dan pedihnya sendiri."
"Ay, kenapa sih lu seneng banget hidup di dalam keribetan? Lu jelasin pelan pelan ke Echa, dia pasti akan ngerti."
"Nggak May, biar waktu yang mengungkap semua kebenarannya." jawabnya pasrah.
"Ya Allah Ay, gua gak ngerti jalan pikiran lu." Ucapnya sambil geleng geleng kepala. Hanya dijawab dengan seulas senyum.
"Lu sendirian?" Tanya Maya, namun lagi lagi dijawab dengan anggukan kepala.
"Kok gua berasa ngomong sama boneka yang biasa nangkring di dashboard mobil ya, cuma ngangguk atau geleng geleng." Kesalnya. Ayanda pun akhirnya tertawa.
"Sialan lu!" Masih terus tertawa
Tertawa lu itu cuma kedok Ay, hanya untuk menyembunyikan sedih dan luka lu sekarang. Tapi gua bisa apa sekarang? Menatap ke arah Ayanda yang sedang tertawa.
"Bu, ayo kita pulang." Ajak suami Maya yang menghampiri meja mereka.
"Iya yah, Ay gua pamit dulu ya si Tuan udahan ngopinya." Ucap Maya sambil memeluk Ayanda.
"Hati hati May, Jaga Maya om." Ucapnya.
Drrrtt,
Sayang jangan lupa makan siang, isi chat dari Rion.
Ayanda hanya membacanya, enggan untuk membalasnya. Hatinya masih kacau ditambah pertemuannya dengan Raska yang membuatnya semakin nelangsa. Ibarat makan buah simalakama, ia menyayangi Raska dan ia pun tak mau kehilangan Rion.
Hingga suara kursi yang ditarik membuyarkan lamunannya.
"Udah ngelamunnya," ucap seseorang.
"Ck, kenapa kayak hantu sih. Dimana mana selalu ada." Ucapnya kesal.
"Berarti kita sehati dong, dimana ada Ayank disitu pasti ada Gio" Jawabnya.
"Gembel lah,"
"Masih sedih aja lu," ucapnya sambil meminum es kopi milik Ayanda.
__ADS_1
"Kebiasaan deh Gi, itu kan punya gua." Sambil merebut es kopi miliknya. "Udah jatuh miskin lu sampe gak kebeli es kopi beginian?"
"Sembarangan lu kalo ngomong," menjentikkan jarinya ke kening Ayanda. "Kalo lu mau, seratus kedai kopi beginian bisa gua beli." sombongnya.
"Iya dr. Giondra Aresta Wiguna yang paling tajir," ucap Ayanda penuh dengan penekanan.
"Bagus," sambil menepuk nepuk kepala Ayanda.
"Ngapain lu disini? Lu mata matain gua ya?" Tuduh Ayanda.
"Rajin amat gua mata matain lu, kurang kerjaan. Oh iya lu mau ikut gua gak? Ke suatu tempat yang pasti lu suka, mumpung hari ini jadwal gua lagi kosong."
"Kemana? Gua harus balik lagi ke tempat kerjaan."
"Yaelah, lu kan Bossnya suka suka lu donk. Dijamin semua beban pikiran lu ilang kalo ngeliat tempat itu," ucapnya dengan penuh keyakinan, tanpa basa basi ia langsung menarik tangan Ayanda agar mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam mobil. Gio pun melajukan mobilnya ke tempat yang dituju.
"Ini namanya penculikan Gi." Ucap Ayanda sedikit emosi.
"Udah lu diem ajalah, ntar juga lu suka." Ayanda hanya memonyongkan bibirnya mendengar ucapan Gio. Dari dulu sampe sekarang masih aja sifat pemaksanya gak berubah.
Satu setengah jam berkendara sampailah mereka di tempat tujuan. Gio pun memberhentikan mobilnya di sebuah villa megah miliknya.
"Mau ngapain kita kesini Gi?" Ayanda sedikit takut.
"Positif thinking lah, lu mah parnoan." Membuka seatbelt lalu keluar dari mobilnya dan diikuti Ayanda.
Tibalah mereka di sebuah Taman yang berada di belakang villa megah itu, banyak buka yang sedang bermekaran, pohon pohon rindang, dan juga kolam ikan buatan yang dipenuhi ikan ikan koi.
Rona bahagia dan kagum terpancar dari wajah Ayanda. "Lu suka kan?" Sambil merangkul pundak Ayanda.
"Suka banget Gi, makasih." Mengalungkan tangannya di pinggang Gio.
"Gua gak mau liat lu sedih Ayank, lu hanya pantas untuk bahagia." Ucapnya tulus.
Ayandapun mulai berkaca kaca, ia merasa bersyukur di setiap kerapuhannya Tuhan selalu mengirimkan orang orang yang baik untuk menemaninya, dan orang itu masih sama yaitu Gio.
*****
Happy reading,,
Jangan lupa like, comment and vote ya,,
__ADS_1
Aku padamu para readersku,,,😘