
Keadaan Rion masih sangat lemas, banyak pertanyaan yang dilontarkan mamah dan adiknya tapi tak satupun ia jawab. Untuk saat ini ia hanya ingin melihat istri dan anaknya. Ia menatap langit langit atap kamar Rumah Sakit dengan tatapan kosong, ia merasa sudah menjadi suami yang gagal untuk Ayanda dan menjadi ayah yang jahat untuk Echa. Buliran bening jatuh diujung matanya.
Arya membuka pintu kamar perawatan dengan pelan, tapi tetap saja membuat orang orang yang berada di kamar itu menoleh ke arahnya. Arya masuk ke kamar perawatan itu dan diikuti oleh Ayanda.
"Sayang," Rion sangat bahagia akhirnya ia bertemu dengan istrinya lagi. Senyumnya merekah menghiasi wajah Rion, tapi tidak untuk Ayanda. Wajah dingin dan datar yang ia perlihatkan.
"Teteh darimana aja sih? Suami sakit juga teteh gak ada, dihubungin susah. Istri macam apa sih teh? Kalo gak ada a Arya mah gak kebayang nasib aa aku kayak gimana?" Ayanda hanya tersenyum tipis mendengar ocehan adik iparnya. Tidak ada bantahan dan tidak ada juga sanggahan, tetapi tidak dengan Arya ia sangat gemas ingin memelintir mulut pedas adik dari Bossnya itu.
"Kamu kalo udah gak mau ngerawat anak mamah bilang, biar mamah yang ngerawatnya." Sang mertua pun ikut ikutan memarahi Ayanda. Ayanda tetap tidak bergeming ketika dua wanita di depannya memarahinya dan memakinya. Ia tetap membiarkannya.
Rion menatap wajah Ayanda dengan intens, pandangan mereka terkunci. Masih ada cinta yang sangat dalam dari mata Rion, tapi hanya tatapan selamat berpisah yang Ayanda berikan untuk Rion. Hatinya sudah terlalu sakit dan sekarang sudah membeku, tidak ada sayang dan cinta yang matanya pancarkan. Hanya kekecewaan yang matanya katakan.
"Ayah!" Bocah laki laki berlari menghampiri Rion dan memeluk erat tubuh tak berdaya Rion. Arya, Nisa dan Sang Mamah benar benar kaget dibuatnya. Nisa dan mamah mertuanya melihat ke arah Ayanda, tapi hanya dibalas dengan senyuman tipis. Tak lama seorang wanita ikut masuk, tak hanya sekali kejutan yang diterima oleh sang mamah dan juga Nisa tapi ada kejutan lainnya yang datang.
"Kamu!!" Dijawab dengan senyuman penuh kemenangan oleh Dinda.
"Teh, jelasin ini ada apa?" Sang mamah terlihat bingung dengan keadaan ruang rawat inap anaknya yang dipenuhi dengan kejutan.
"Mamah tanya aja sama anak lelaki mamah," dengan seulas senyum dibibirnya. Membuat mamah dan Nisa semakin bingung.
"Tante!" Berjalan ke arah Ayanda. Ayanda mensejajarkan tubuhnya dengan Raska.
"Kamu senang kan bisa bertemu dan berkumpul dengan ayahmu?" Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Raska.
"Tante ikut senang karena kamu sudah menemukan kebahagiaanmu sekarang." Mendekap erat tubuh kecil Raska. Arya yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kehadiran bocah itu membawa kesedihan untukmu Bu Boss, tapi kenapa kau nampak sangat sayang terhadap bocah itu? Hanya lelaki bodoh yang akan menyia nyiakan wanita sepertimu.
"Maaf semua, saya harus segera pergi dari sini. Saya permisi." Ucapannya membuat semua orang kaget, jangan ditanya bagaimana reaksi Rion. Ayanda melangkahkan kakinya ke arah luar setelah mendekap tubuh Raska. Arya yang merasa aneh dengan Bu Bossnya mengikutinya dari belakang, daripada harus mendengarkan interview antara ibu dan anak ditambah pasti akan dibuat pusing dengan kehadiran bocah botak peliharaan Rion.
"Bu Boss!" Sedikit berlari untuk menghampirinya. Ayanda pun menghentikan langkahnya.
"Jaga Bossmu dengan baik, dan saya titipkan Toko Pusat dan Toko Cabang padamu dan juga Sita." Ditepuknya bahu Arya.
__ADS_1
"Maksud Ibu Boss apa?" Bingung bercampur heran.
"Saya akan membawa Echa berobat ke Singapura. karena kondisi Echa sedang koma." Raut wajahnyà menjadi sayu.
Deg,
Hati Arya kini merasakan kesakitan dengan apa yang Bu Bossnya katakan. Mencegahnya hanya akan menambah lukanya, membiarkannya hanya akan membuat Bossnya terluka.
"Saya pamit, saya belum bisa memastikan kapan saya akan kembali ke Indonesia. Uruslah semua Toko ini agar kelak menjadi Toko yang dikenal oleh dunia." Ayanda langsung pergi menjauh dari hadapan Arya.
*****
Ayanda tiba di rumahnya, ia menyuruh mbak Ina untuk menyiapkan semua keperluannya dan juga Echa. Kakinya melangkah menuju kamar utama, matanya berkeliling ke semua sudut kamarnya. Tempat inilah menjadi saksi bisu akan cinta mereka berdua. Canda tawa dan rasa cinta ada di kamar ini, tapi itu dulu, ketika semuanya baik baik saja.
Aku akan pergi dan akan menghapus semua kenangan kita. Biarkan aku melupakanmu dan menyembuhkan setiap goresan goresan luka yang kamu buat di hatiku.
Setelah puas memandangi kamar utama ia melangkah kamar atas. Ia berdiri di depan kaca jendela kamar menatap pemandangan indah ke depan.
Mulai hari ini, aku ingin bahagia dulu sebentar. Melepaskan apa yang harus dilepaskan dan menggenggam apa yang seharusnya aku genggam. Melepaskanmu adalah cara terbaik untuk sekarang ini agar hatiku tidak terluka semakin dalam lagi, dan kini aku hanya ingin menggenggam kebahagiaan bersama anakku dan orang orang yang menyayangiku. Selamat tinggal, untuk kamu yang tak pernah berhenti menyakitiku. Semoga kamu bahagia.
merasakan kesakitan demi kesakitan yang selama ini ia dapatkan.
Tok, Tok, Tok,
"Bu, maaf ada Ibunya Bapak sama neng Nisa dibawah." Ayanda bergegas turun ke bawah menemui ibu mertua dan adik iparnya.
"Teh," Nisa berhambur memeluk tubuh Ayanda dengan menangis. Ia bingung dengan apa yang dilakukan adik iparnya ini, baru saja ia memaki maki dirinya dan sekarang malah ia yang memeluk erat tubuhnya. Sang Mamah mendekati Ayanda, buliran kristal bening jatuh dari matanya.
"Maafin mamah teh," menunduk dalam mengisyaratkan penyesalan.
"Kenapa dengan mamah dan Nisa?" Ayanda mengajak mereka duduk di Ruang Tamu.
"Teteh kenapa gak bilang kalo aa punya anak dari wanita itu? Kenapa teteh simpan sendiri masalah ini?" Ayanda hanya tersenyum dan menggenggam tangan Nisa.
__ADS_1
"Teteh hanya ingin waktu yang akan memberitahu kalian tentang hal ini, dan sekarang waktulah yang membongkar semuanya kan." Dengan seulas senyum di wajahnya.
"Teh," Nisa sangat merasakan apa yang Kaka iparnya rasakan, ia memeluk tubuh Ayanda dengan berlinang air mata.
"Yang terjadi biarkanlah terjadi, sesuatu yang hancur tidak akan pernah bisa menjadi utuh kembali kan? Itulah yang teteh rasakan sekarang." Mengusap lembut punggung adik iparnya. Ayanda pun melepaskan pelukannya.
"Yang tersakiti disini bukan hanya teteh, tapi juga Echa." Menunduk dalam ketika menyebut gadis kecilnya dan tak terasa air matanya pun membasahi pipinya.
"Echa koma," membuat Nisa dan sang mamah kaget bukan kepalang dan memeluk tubuh Ayanda yang sudah bergetar karena tangisnya.
"Sekarang terserah teteh, yang dilakukan anak mamah sudah sangat keterlaluan, teteh masih bisa bertahan sampai detik ini juga mamah sangat berterimakasih." Menggenggam tangan Ayanda, Ayanda pun turun dari sofa bersimpuh dihadapan sang mertua.
"Mah, teteh mau izin pamit. Sore ini teteh akan membawa Echa ke Singapura untuk menjalani perawatan disana. Teteh ingin melakukan yang terbaik untuk Echa karena yang sekarang teteh punya hanyalah Echa." Sang mamah mertua pun hanya menganggukkan kepalanya tak bisa berbicara apa apa karena dadanya sudah teramat sesak mengetahui kenyataan pahit yang dialami menantu dan cucunya.
"Teteh minta maaf, karena belum bisa jadi istri yang baik untuk anak mamah dan menjadi menantu yang baik untuk mamah. Maafkan segala kekurangan teteh selama ini. Terimakasih sudah menjadi mamah mertua yang baik untuk teteh." Sang mamah pun memeluk erat tubuh Ayanda dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Nisa pun memeluk tubuh Ayanda dan menangis dalam pelukannya.
"Maafkan Nisa teh, yang udah salah sangka sama teteh." Ayanda tersenyum mendengarnya.
"Izinkan teteh pergi meninggalkan kakakmu ya, teteh hanya ingin bahagia bersama Echa. Teteh juga yakin kakakmu akan bahagia dengan putranya." Tangis Nisa tak terbendung lagi.
"Makasih teteh udah mau nerima aa lagi. Udah mau mendampingi aa dari nol hingga saat ini. Makasih udah sabar menghadapi aa. Sekarang aku dan mamah gak bisa berbuat apa apa. Teteh udah banyak banget berkorban demi keluarga kecil teteh. Kami akan menerima semua keputusan teteh." Terus menggenggam tangan kakak iparnya.
"Sekarang teteh hanya ingin fokus kepada penyembuhan Echa, setelah Echa sadar mungkin teteh akan mengurus semuanya ke kantor Pengadilan Agama. Maaf, teteh gak bisa lagi bertahan. Bukan hanya teteh yang tersakiti disini tetapi juga Echa sampai ia koma seperti ini." Menatap hangat mertua dan adik iparnya dengan pancaran mata yang penuh luka.
Sang mamah mertua dan adiknya harus menerima setiap keputusan Ayanda, mereka tidak bisa ikut campur terlalu dalam. Sudah banyak luka dan sakit yang Rion berikan untuk menantu dan kakak iparnya. Sekarang waktunya Ayanda bahagia bersama cucu dan keponakannya.
*****
Happy reading semua ,,
Maaf ya yang minta crazy up aku belum bisa, waktuku untuk nulis aja nubruk nubruk. Demi kalian para reader kesayanganku, selelah apapun aku setelah menjalani aktifitasku tiap harinya, aku akan berusaha up tiap hari untuk kalian agar kalian enak bacanya.
Semangatin aku terus donk biar viewsnya makin naik tiap harinya😁
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and vote ya para kesayanganku,,
Aku padamu😘😘