Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 47. Secercah Titik Terang


__ADS_3

Arya bergelut dengan pikirannya sendiri, ia bingung harus memberitahu Rion atau tidak tentang kepergian istri dan anaknya ke Singapura. Hanya ia yang belum tau kabar tentang ini.


Gua harus gimana sekarang? Gua diam aja, lambat laun juga lu akan tau, gua kasih tau pasti lu bakal drop lagi.


Arya meyenderkan kepalanya pada sofa, sekarang ia sedang berada di sebuah cafe seorang diri. Tugasnya sekarang ini semakin berat, selain harus meladeni tingkah Bossnya yang gila dan bodoh sekarang ia diberi amanah untuk mengelola keuangan keluarga Bossnya.


Dari kejauhan ia melihat wanita yang sangat ia kenali dengan seorang lelaki muda. Mereka layaknya sepasang kekasih.


Dasar liar! Bukannya urusin anak lu yang sakit malah asik asikan disini. Ibu modelan apa lu kayak gitu? Sekarang lu boleh diatas awan, tapi ingat permainan kita baru akan dimulai.


Senyuman jahat terukir dibibir Arya. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar wanita itu dengan laki lakinya, suatu saat gambar itu akan bisa ia jadikan permainan yang menyenangkan.


"Kenapa lu?" Seorang laki laki masih dengan pakaian rapinya duduk di hadapan Arya.


"Nggak, cepetan pesen makan. Gua tau lu udah lapar." Masih terus memandang ke arah wanita itu dengan tatapan licik. Dokter Eki pun mengikuti pandangan Arya ia memicingkan matanya, sosok wanita itu tidak asing baginya dan ia sering melihatnya berkeliaran di Rumah Sakit tempat ia praktek.


"Wanita itu gak asing deh buat gua." Membuat Arya terlonjak kaget dengan ucapan Eki. Arya mengerutkan dahinya meminta penjelasan lebih dari itu.


"Dia sering menemui Erlan, eh maksud gua dokter Erlan." Arya mulai menemukan titik terang dari teka teki ini.


"Apa sebelum kita ketemu dia sering datang menemui Erlan?" Mencari tau kepada Eki, sedangkan Eki sibuk memilih milih menu yang mau ia pesan.


"Iya," Jawaban yang sangat singkat tapi memiliki arti ambigu untuk Arya. Arya membiarkan dulu Eki memilih milih makanannya, setelah ia selesai barulah Arya menanyakannya kembali.


"Gua di mode serius nih." Eki menerka nerka apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini.


"Oh, iya serius dia sering nemuin Erlan dari sebelum kita ketemu. Desas desusnya sih si cewek itu pacarnya Erlan."

__ADS_1


"Seriously?" Matanya hampir jatuh mendengar jawaban Eki.


"Biasa aja tuh mata, ntar loncat males gua nangkapnya." Sambil meminum jus pesanan.


"Emang mata gua kodok, bisa loncat." Menyeruput kopi yang sedari tadi ia anggurin.


"Ya kali mata lu sekarang udah sakti, bisa loncat loncat sama bisa lari. Kan gua udah lama gak ketemu lu siapa tau ada yang berubah dari lu." Dengan kekehan renyahnya yang dibalas dengan jitakan keras oleh Arya.


"Ki, apa Tes DNA bisa di rekayasa?" Membuat Eki menghentikan kunyahannya.


"Kenapa lu nanya begituan? Curiga nih gua." Memicingkan matanya menatap dengan penuh curiga.


"Gua lagi jadi detektif Tin Tin." Selorohnya sambil melanjutkan makannya.


"Bisa aja, tapi kalo ketauan itu akan kena masalah karena udah ngelanggar kode etik kedokteran." Eki mencoba menjelaskan kepada Arya dan Arya hanya bisa mengangguk menandakan ia mengerti.


Secepatnya gua harus cari tau semua ini. Gua harus buktiin kalo dugaan gua selama ini benar.


*****


Singapura


Ayanda, Gio, Ayah dan Remon sudah berada di salah satu Rumah Sakit ternama dan terbaik di Singapura. Mereka menunggu kedatangan Echa. Setelah menunggu 1 jam barulah Echa tiba, ia langsung dibawa ke ruang perawatan VVIP yang sudah diatur sedemikian rupa agar Ayanda nyaman berada di kamar itu untuk terus menemani Echa hingga pulih.


"Ayah, apa boleh untuk hal ini ayah rahasiakan dari siapapun. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan Echa." Sang ayah hanya tersenyum mendengarnya.


"Tanpa kamu minta, semua Sudah ayah atur. Tidak ada satupun orang yang bisa melacakmu dan juga cucu ayah." Ayanda sangat bahagia karena ayahnya sangat mengerti apa yang ia mau tanpa ia harus meminta.

__ADS_1


Ketika Genta melihat tubuh cucu angkatnya terbaring tak berdaya, hatinya teramat sesak dan sakit. Ia menggenggam tangan Echa dan tak terasa air matanya tumpah. Keadaan Echa membuatnya teringat akan putrinya Giandra.


Setelah ayah Genta pamit pulang, tinggal Ayanda dan Gio disini. Ayanda menatap intens tubuh tak berdaya Echa. Air matanya jatuh kembali,


Kenapa Engkau memberiku cobaan diluar batas kemampuanku? Tak cukupkah aku saja yang tersakiti disini? Kenapa Echa harus ikut dalam penderitaan ini? Sesungguhnya aku lelah Tuhan, aku bisa menahan semua sakit yang aku dapatkan tapi aku tidak bisa jika melihat harta yang paling berharga dalam hidupku terbaring tak berdaya seperti ini. Hatiku seribu kali sangat sakit dibandingkan dengan kesakitan kesakitanku yang dulu. Hatiku seketika hancur ketika mengetahui kenyataan pahit ini. Dalam tangisku ini aku berharap Engkau menyembuhkan anakku, mengembalikan gadis bawel ku untuk berkumpul bersama ku. Permintaan sederhana yang terkadang memaksakan Takdir baik untuk berpihak padaku.


Gio yang melihat Ayanda menangis, menghampirinya dan memeluknya. Ia tau ini adalah masa tersakit dari semua masa masa kesakitan yang pernah Ayanda lalui.


"Echa akan kembali bersama kita." Hanya itu yang bisa ia katakan untuk menenangkan hati Ayanda yang sudah sangat sangat rapuh ini.


Setelah dirasa Ayanda cukup tenang, Gio membawa tubuh Ayanda duduk di sofa. Nampak sekali garis kesedihan dan kesakitan di wajah wanita yang ia sayangi. Matanya masih membengkak karena terlalu banyak menangis dan tubuhnya sedikit kurusan karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Apa ini keputusan finalmu?" Membuat Ayanda menoleh ke arah Gio.


"Karena keegoisanku akhirnya terjadi seperti ini, benar apa yang kamu bilang hanya ada dua pilihan dalam hidup. Menang atau pulang, dan sekarang memang sudah waktunya untukku pulang. Menjauh dari bayang bayang masa lalu yang hanya menggoreskan luka dihatiku, dan sekarang sepertinya ia ingin membunuh Echa perlahan." Matanya memancarkan kekecewaan yang teramat dalam.


"Biarkan aku menata hidupku dari awal lagi disini, melupakan apa yang seharusnya aku lupakan, menjauh apa yang seharusnya aku jauhi dan meninggalkan apa yang seharusnya aku tinggalkan. Hanya wanita bodoh yang akan terjerumus dalam jurang yang sama untuk ketiga kalinya, cukup sampai disini kebodohanku ini. Biarkan lukaku mengering karena hembusan angin, dan biarkan kesakitanku terkikis oleh sang waktu. Sudah saatnya aku mencari kebahagiaanku sendiri, selalu pura pura bahagia menjadikanku lupa akan bahagia yang sesungguhnya." Gio menggenggam tangan Ayanda dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Bahu ini akan jadi tempatmu untuk bersandar ketika kamu lelah dengan semuanya, genggamanku akan menjadi genggaman terhangat yang akan menyentuh tanganmu dikala semua orang meninggalkanmu, dan badanku akan jadi pelindungmu ketika ada yang mengusikmu. Aku janji padamu." Mengecup ujung kepala Ayanda. Hanya tetesan air mata yang keluar dari matanya menandakan ia sangat berterimakasih.


Kamu terlalu baik untukku Gi, dan aku tau kamu sangat menyayangiku dan juga Echa. Tapi sekarang aku tidak butuh seseorang untukku jadi bahagia. Hatiku sudah mati rasa, dan mungkin sudah mati untuk selamanya. Aku hanya ingin sendiri memeluk tubuhku yang lemah ini.


****


Happy reading semua,,


Maaf untuk part kali ini aku belum bisa ngasih cerita yang maksimal karena otakku lagi di mode buntu😪

__ADS_1


Ke depannya pun mungkin aku gak akan up tiap hari, karena memberikan rasa pada sebuah cerita itu perlu banyak inspirasi. Doakan aku biar imajinasi dan inspirasiku berjalan dengan lancar, agar bisa memuaskan kalian para pembaca setiaku,,


Aku padamu😘😘


__ADS_2