
"Aku harap kamu bisa melupakanku, Mas. Aku sudah bahagia dengannya," ucap Ayanda kepada Rion.
Rion hanya terdiam mendengar ucapan mantan istrinya, ia tidak bisa menjawab apapun. Melihat cincin yang melingkar di jari manis Ayanda membuat hatinya sakit dan hancur seketika. Harapannya untuk kembali lagi, memulai rumah tangganya dari awal dengan Ayanda dan juga Echa pupus sudah. Hanya penyesalan yang sangat ia rasakan.
"Aku permisi, Mas," pamitnya.
Rion mencegah Ayanda dengan menarik tangannya. Ayanda pun mematung di tempatnya.
"Apa aku boleh memelukmu untuk terakhir kalinya?" tanyanya.
Air mata Ayanda mulai terjatuh mendengar ucapan dari sang mantan suami. Hatinya merasakan sakit sama seperti yang dirasakan oleh Rion. Rasa cintanya belum sepenuhnya hilang, karena egolah ia akhirnya pergi.
Ayanda membalikkan tubuhnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, dihadapannya mantan suaminya pun sudah tak bisa membendung tangisannya. Ayanda langsung memeluk tubuh Rion dengan isak tangis lirih.
"Aku merindukanmu."
"Aku mencintaimu," ucap Rion.
Bulir air mata Ayanda semakin deras membasahi pipinya, ia mengeratkan pelukannya kepada tubuh Rion.
"Aku harap, kamu bahagia dengannya," ujarnya.
Ayanda melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Rion dengan tatapan sendu.
"Semoga kamu bahagia dengan jodohmu kelak Mas, yang bisa mengerti kamu dan juga lebih sabar menghadapi kamu tidak seperti aku," timpalnya.
"Aku tidak berniat untuk mencari pendamping lagi, hanya kamu satu-satunya untukku dan selalu ada dihatiku. Biarkan aku hidup sendiri dalam sebuah penyesalan karena kesalahan," jelasnya.
Hati Ayanda perih mendengar pernyataan Rion yang sangat amat memilukan. Ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya.
Di jendela luar sang Mamah menitikan air matanya, hatinya ikut sedih melihat anak dan menantunya kini. Jika boleh memohon kepada Tuhan, tolong putar kembali waktu yang sudah berlalu agar mereka tidak saling menyakiti diri sendiri.
Sang Mamah mulai masuk ke ruang rawat putranya dengan senyuman seolah tidak melihat apapun tadi. Dilihatnya Ayanda duduk disamping ranjang kesakitan anak sulungnya.
"Teteh, makan dulu," ucap sang Mamah sambil meletakkan bungkusan makanan di atas meja.
"Iya Mah, makasih," jawabnya.
"Kamu udah makan, Mas?" tanyanya.
Rion hanya menggelengkan kepalanya, Ayanda pun mengambil makanan yang dibelikan sang Mamah. Ia tersenyum lebar ketika melihat isi dari kotak makannya.
"Ini kesukaan Mas Rion, Mah," ujarnya.
"Itu kesukaan teteh juga,kan," balas sang Mamah.
Ayanda pun tersenyum, ia menghampiri Rion dengan membawa kotak makan.
"Makan, Mas. Aku suapin, ya," ucapnya. Seulas senyum terukir dari bibir Rion dan Mamah pun ikut bahagia melihatnya.
Ayanda mulai menyuapi Rion dengan telaten, Rion sangat bahagia ternyata Ayanda masih sama seperti dulu masih lembut.
"Teteh!" panggil Nisa dengan lantang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat kakaknya bersama Arya.
"Ini," Nisa memberikan sebuah amplop cokelat panjang kepada Ayanda.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Tidak tau, dari Abang ojol itu," sahutnya.
Ayanda pun membuka isi amplop itu, ia mengernyitkan dahinya.
"Kartu debit platinum," ujar Nisa. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya.
"Teh, sepertinya handphone teteh bunyi," ucap sang Mamah.
Ayanda menyudahi acara suap menyuapinya, Rion merasa kecewa dan wajahnya kembali sendu.
Ayanda membuka tas untuk mencari ponselnya. Bibirnya melengkung sempurna ketika melihat ID penelepon.
📞"Iya, Gi."
📞 "Sudah sampaikah platinum card yang aku kirim?"
📞 "Oh itu dari kamu, sudah baru saja aku buka. Kanapa harus memberiku platinum card? Black card darimu saja belum aku pakai."
Semua orang yang berada di sana membelalakkan matanya tak percaya termasuk Rion. Selama jadi suaminya ia hanya mampu memberikannya silver card.
📞 "Itu untukmu Sayang jika kamu tidak ingin menggunakan black card yang aku kasih kamu bisa menggunakan kartu itu. Aku sudah memesankan makan siang untukmu dan juga orang-orang yang berada di sana. Mungkin sebentar lagi sampai, jangan lupa makan ya Sayang."
📞 "Makasih Gi, aku pasti makan kok, kamu hati-hati ya. Jangan kecapean."
📞 "Iya Sayang, aku tutup ya. Aku mau lanjut meeting. Bye Sayang."
📞 "Bye,Gi."
Ayanda pun mengakhiri panggilannya. Nisa langsung duduk disampingnya dengan wajah penuh ke-kepoan.
"Dia itu pewaris tunggal Wigumart," jawab Arya.
"Serius, a?" tanyanya tak percaya.
"Ngapain gua bohong sih," sahutnya sambil menjitak pelan kepala Nisa.
"Bener teh?" tanya Nisa yang masih belum percaya.
Ayanda hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Rion yang sedang duduk meneruskan makannya seorang diri hanya bisa terdiam. Dadanya terasa sesak dan panas.
"Hambar ya bro makanannya," ejek Arya. Rion hanya melirik tajam ke arah Arya dan dijawab dengan kekehan kecil oleh Arya.
"Misi Bu, benarkah di sini ada yang bernama ibu Ayanda?" tanya security.
"Iya Pak, saya." jawabnya.
"Ada kiriman makanan Bu, dari Pak Gio," ucap security Sambil memberikan beberapa kantong besar makanan.
"Ini buat Bapak," ujar Ayanda yang memberikan satu kotak makanan kepada security.
"Terimakasih,Bu," ucapnya.
Ayanda membawa beberapa kantong besar yang berisikan makanan ke meja.
"Itu buat bekal satu Minggu, Teh," imbuh Nisa.
"Ya begitulah Gio, tidak akan pernah sedikit jika membelikanku sesuatu," ungkapnya.
__ADS_1
Uhuk, Rion tersedak makanannya sendiri.
"Minum air tuh, jangan minum racun serangga lagi," kata Arya. Perkataan Arya membuat semua orang tertawa.
Mereka pun menikmati makanan yang dibawakan Gio. Di sela makan sang Mamah mulai membuka pembicaraan. "teh, untuk malam ini menginap ya di sini temani si aa. Mamah gak kuat lama-lama di rumah sakit, bau obat bikin mamah pusing."
Ayanda hanya terdiam, tak bisa menjawab apapun.
"Iya teh, temani aa untuk malam ini aja," pinta Nisa.
"Maaf, tapi aku gak bisa. Sore ini aku harus pulang ke Singapura," jelasnya.
Raut wajah Rion, Nisa dan Mamahnya sedikit kecewa tapi apalah daya mereka sekarang ini. Kenyataannya bahwa Ayanda hanya mantan istri dari putra dan kakaknya.
Sore hari Gio datang ke rumah sakit untuk menjemput kekasihnya. Di sana masih ada Nisa, Mamah, Arya dan juga Rion.
"Sudah waktunya terbang," ujar Gio.
Wajah-wajah kecewa sangat nampak pada mereka disana. Hati Ayanda pun sebenarnya tidak ingin pulang, masih ingin disini bersama mereka terlebih menemani Rion.
Perubahan wajah mantan suaminya membuat hatinya teriris, perih dan juga sakit. Apalagi ia melakukan percobaan bunuh diri karena depresi berpisah dengan dirinya. Rasa bersalah kini menghantui Ayanda.
"Nak Gio, apakah Ayanda boleh menginap di sini untuk malam ini?" tanya Ibunya Rion.
Ayanda melihat ke arah Gio dengan tatapan sendu membuat Gio tak kuasa melarangnya. Dengan mantap ia menganggukkan kepalanya.
Ayanda memeluk pinggang sang kekasih dengan senyuman khasnya.
Ada satu orang yang tidak senang dengan kebahagiaan Ayanda saat ini yaitu Rion. Pemandangan di depannya bagai hukuman yang harus dibayar lunas untuknya. Perih, sakit, hancur, remuk yang kini ia rasakan. Hatinya porak poranda sekarang.
"Besok pagi baru kita pulang," ujarnya.
Ayanda menganggukkan kepalanya, "aku tidur di hotel dekat sini saja, ya."
"Kenapa tidak disini, Gi?" tanya Ayanda.
"Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Sayang," jawabnya.
Ayanda pun pasrah dengan keinginan Giondra. Gio pun pamit untuk beristirahat di hotel dekat rumah sakit. Satu per satu orang-orang yang berada di sana pergi meninggalkan kamar perawatan Rion. Saat ini, hanya menyisakan Ayanda dan juga Rion.
- Di Hotel -
Giondra menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Hatinya terasa nyeri ketika melihat kekasihnya dan mantan suaminya masih saling menatap dalam. Sangat terlihat jelas masih ada cinta diantara mereka, masih saling merindukan satu sama lain.
Kejadian siang tadi membuat Gio sangat yakin jika kekasihnya masih sangat mencintai suaminya, apalagi air matanya mengalir deras ketika berada di pelukan Rion. Tanpa semua orang sadari Gio mengirimkan beberapa orang untuk memantau terus kekasihnya. Bukan karena posesif, tapi karena takut jika ketika dirinya tak berada disamping Ayanda hal buruk menimpanya.
Apakah aku hanya ditakdirkan untuk menjadi boneka penghiburmu? Apa aku hanya jadi pemeran tambahan ketika kamu ingin menyempurnakan aktingmu?
Apa aku harus menyerah sekarang ini? Mengembalikan hatimu ke tempat asalnya. Sekarang ini aku hanya memiliki ragamu tapi tidak dengan hatimu yang masih milik orang lain. Cintaku ini seperti boneka, ada bentuk namun tidak ada nyawa.
Helaan nafas kasar berhembus dari mulut Gio, berkali-kali ia mengatakan cinta kepada Ayanda berkali-kali itu juga ia tidak pernah membalas ungkapan cintanya. Mencintai sendiri ternyata tak seindah yang dibayangkan. Cinta karena terbiasa itu hanya kiasan, nyatanya jarang ada yang berhasil dan nihil.
*****
Jangan lupa, like, komen and vote setelah mampir dan baca ya sayang ,,
Happy reading,,
__ADS_1