Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 107. The Power Of Love


__ADS_3

Waktu terasa lamban sekali untuk bergerak. Rasa gundah kini melanda hati Ayanda. Semua orang yang berada di sana hanya bisa memberikan ketenangan pada dirinya.


"Teh, makan dulu. Dari pagi Teteh belum makan," ucap Bu Dina.


Ayanda hanya menggelengkan kepalanya, ia bersandar di bahu tegap Andri. Mulutnya terasa sangat pahit. Sepahit hatinya yang tak karuhan saat ini. Pikiran jelek menyelimuti otaknya, ia takut terjadi apa-apa karena dengan tergesanya Remon memindahkan Gio ke Singapura.


"Mah, Echa yakin Papa baik-baik aja," ucap Echa dengan menggenggam tangan mamahnya. Memberikan kekuatan pada Ayanda. Di balas dengan senyuman tipis olehnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Mereka mengantarkan Ayanda dan juga Andri ke Bandara. Ayanda memilih pergi bersama Andri karena dirasa lebih aman. Tubuh kekar Andri mampu menjaga Ayanda.


"Semoga Mamah cepat bertemu dengan Papa," Doa Echa untuk sang mamah. Ayanda memeluk anak gadisnya.


"Mas, aku titip Echa ya. Jaga dia," pinta Ayanda pada Rion.


"Aku akan selalu menjaga anak kita. Kamu hati-hati," balas Rion. Ayanda menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tulus ke arah Rion.


"Eh, manusia siluman. Jaga Yanda baik-baik. Lecet dikit gua presto lu biar makin lembek," ucap Arya pada Andri.


"Dih, aa tamfann. Bilang aja aa gak mau jauh dari Andriyani kan. Jangan munafik a," sahutnya manja dan mengedipkan kedua matanya kepada Arya.


"Amit-amit jabang orok. Naudzubillahi mindzalik, jangan sampe nurun ke Angora gua," ujarnya bergidik ngeri. Semua orang tertawa akan tingkah Arya dan juga Andri.


Ayanda dan Andri sudah masuk ke dalam pesawat. Andri sangat merasakan jika sahabatnya satu ini sedang khawatir. "relax aja, dia pasti baik-baik aja," ucapnya pada Ayanda.


Selama dalam perjalanan Ayanda hanya terdiam. Bayang wajah pucat Gio selalu menghiasi pikirannya.


Aku takut jika terjadi apa-apa denganmu, batinnya.


Setelah dua jam mengudara akhirnya mereka tiba di Singapura. Rasa lelah tidak dirasa oleh Ayanda. Berbeda dengan Andri, yang tubuhnya terasa remuk.


"Ay, udah malam. Tubuhmu juga perlu istirahat. Besok baru kita lanjut ke rumah sakitnya," ucap Andri.


Akhirnya Ayanda menuruti perkataan dari Andri. Sebenarnya, ia ingin sekali bertemu dengan Gio malam ini juga. Jika ia terus memaksa tanpa ada jeda istirahat, akan dipastikan dirinya juga akan masuk rumah sakit.


------


Giondra berdiri menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tubuhnya sedang sakit. Hatinya pun kini ikut sakit. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pribahasa itu yang cocok untuk menggambarkan penderitaan Giondra.


"Boss ...."


"I'm okay, don't worry," ujarnya.


Remon hanya menatap iba kepada bossnya. Ucapan dan hatinya berbeda. Ucapannya bisa saja tidak apa-apa, tapi hatinya? Sudah dipastikan pedih dan sakit, teramat sakit. Raut wajah Giondra tidak bisa membohongi Remon.


Dari awal, bisa saja Remon menyuruh anak buahnya untuk menculik Ayanda sebelum pernikahannya terlaksanakan. Hanya saja, otak licik Remon sudah terbaca oleh Gio. Ia tidak ingin Ayanda terluka, dan Bossnya menginginkan agar dirinya yang berjuang sendiri untuk mengejar cintanya. Pada akhirnya, kekalahan menghampiri Bossnya.


"There are winner and loser. Now, I have to accept my defeat," lirihnya.


(Ada pemenang dan ada juga yang kalah. Sekarang, aku harus menerima kekalahanku)


"I hope you Will be happy with your soul mate," ucap Remon tulus.

__ADS_1


(Saya harap Anda akan bahagia dengan jodoh Anda)


Gio hanya mengangguk pelan, raganya boleh tegar tapi hatinya sudah hancur berkeping-keping. Mencari jodoh bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit, sangat sulit.


--------


Ayanda enggan memejamkan matanya, makanan yang Andri pesankan pun tak ia sentuh. Ia ingin segera menjelang pagi, pergi menemui Gio.


Gelap pun perlahan berubah menjadi terang. Senja masih malu-malu menampakkan wajahnya namun Ayanda sudah bersiap untuk meninggalkan hotel. Dengan susah payah ia membangunkan Andri, hanya umpatan demi umpatan yang Andri lontarkan.


"Masih pagi buta begini, Ay. Emangnya kita cleaning service apa datang sepagi ini," ucapnya kesal.


Ayanda tidak menjawab apa yang dikatakan Andri. Ia hanya ingin segera bertemu dengan kekasihnya. Setengah jam kemudian, mereka berangkat menuju rumah sakit tempat keluarga Wiguna biasa di rawat.


"Can you tell me where ia Giondra Aresta Wiguna's Ward?" tanyanya pada resepsionis.


(Bisakah Anda memberitahu saya dimana Giondra Aresta Wiguna dirawat?)


"There are no patients here, Miss," jawab resepsionis.


(Di sini tidak ada pasien atas nama itu, nona)


"I am the future daughter in law of the Wiguna family. You can ask your manager," balasnya.


(Saya calon menantu dari keluarga Wiguna. Anda bisa tanyakan kepada manager Anda)


Resepsionis pun terkejut mendengar pengakuan dari Ayanda. Hanya saja, memang tidak ada keluarga Wiguna yang di rawat di rumah sakit ini. Jika ada, pengawalan ketat pasti sudah disiapkan. Ayanda tidak percaya, hingga akhirnya ia bertemu dengan manager rumah sakit dan mencari setiap ruangan yang biasa keluarga Wiguna gunakan jika sedang dirawat di rumah sakit milik mereka.


(Kami tidak berbohong. Di sini tidak ada pasien dari keluarga Wiguna)


Ayanda hanya mengangguk, lalu meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaan hampa.


"Kamu di mana, Gi?" tanya batinnya.


"Kita kemana lagi?" tanya Andri.


"Ke rumah besar. Siapa tau dia di sana," ucapnya sedikit ragu.


Ayanda sangat tau jika Gio tidak akan menyusahkan ayahnya. Apalagi kondisinya dan juga ayahnya sedang sakit, tapi tidak ada pilihan lain. Dengan ia pergi ke rumah besar pasti akan mendapat informasi tentang Gio.


Mereka telah tiba di rumah besar. Disambut hangat oleh para pelayan.


"Ini rumah udah kayak istana Presiden ya, gede bener," gumam Andri.


"Tuan ada di taman belakang, nona," ucap seorang pelayan wanita.


Ayanda melangkahkan kakinya ke taman belakang, dilihatnya seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi roda.


"Ayah," panggil Ayanda.


Genta menoleh ke asal suara. Senyuman bahagia melengkung di wajah senjanya. Ayanda berhambur memeluk tubuh renta ayah angkatnya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ayanda.


"Baik Yah," jawabnya dengan tatapan sendu.


Genta menyadari jika ada hal yang tak beres dengan putrinya ini. Selama ia sakit, ia melonggarkan pengawasan terhadap Ayanda dan juga Echa.


"Ada apa?" tanya ayahnya.


"Apa Gi ada di sini?" tanyanya dengan sangat lirih.


"Tidak, Gio belum ke rumah ini semenjak Ayah pulang dari Canberra,” jawab Genta.


Tubuh Ayanda seketika lemah, tubuhnya seolah tak bertenaga. Hanya bulir air mata yang kini membasahi pipinya.


"Nak ...."


"Maafkan aku Ayah, aku sudah membuat Gi kecewa," ujarnya.


Genta hanya tersenyum, ia mengusap rambut putrinya dengan lembut.


"Ayah yakin, kekuatan cinta kalian akan menyatukan kalian kembali," kata Genta seraya tersenyum.


*****


Hay,,,


**Notes.


Hargai karya para author kesayangan kalian. Lebih baik diam jika tak suka ceritanya daripada berkomentar tak enak yang bisa saja membuat author murka. Suka lanjutkan tidak suka abaikan.


So Simple** ...


Aku cuma mengingatkan ke kalian para reader yang pintar. Jangan baru sekali baca udah komen yang gak ngenakin. Ini cerita aku mikir susah payah, tapi dengan entengnya tuh jari komen cerita Indosi*r.


Astaghfirullah ..😤


Gini ya, tidak ada waktu untuk ku berleha-leha nonton cerita begituan. RL ku terlalu sibuk bukan hanya ongkang-ongkang kaki mantengin hp dan tv. Itu bukan diriku ....


Bukan ceritaku yang kaya indosi*r tapi yang komen itu otaknya alumnus sekolah indosi*r apa-apa dihubungkan dengan cerita yang ost. ku menangis ....


Aku ini aslinya bodo amatan, tapi kalo ada komen yang seolah menjatuhkan atau menyudutkan biasanya aku balas pake kata-kata pedas. Maaf, aku bukan author penyabar. Otakku aku peras untuk melanjutkan cerita ini tapi komenan kalian sangat tidak menghargai.


Hargai karya orang lain, jangan hanya bisa nyinyirin karya orang lain. Sebelum nyinyir sok ngaca dulu, sudahkah Anda bisa seperti mereka yang memiliki karya??


"Think before talking"


Aku tidak minta banyak kepada kalian, cukup like, komen dan juga vote biar cepet nih cerita tamatnya ...


Happy reading semua ....


Mon maaf jika curhatan aku rata-rata emosian terus. Author juga manusia punya batas kesabaran.

__ADS_1


Hatur nuhun,


__ADS_2