
Di Toko Pusat Rion tampak mencari cari keberadaan Arya.
"Arya!!" Panggilnya, sontak membuat Arya kaget dan menumpahkan kopi dicangkirnya.
"Bisa gak sih gak teriak teriak, tumpahkan kopi gua."
"Tinggal bikin lagi sih," sambil menarik kursi agar mendekati meja yang tersedia di pantry.
"Lu seriusan?" To the point.
"Kapan gua bercanda? Gua pengen masalahnya cepet selesai. Gua gak tega liat wajah Yanda penuh kepura-puraan." Ucapnya lirih.
"Maksud lu? Gua gagal paham."
Rion menghela nafas berat. "Tadi pagi gua liat matanya sendu, penuh dengan kesedihan dan kekecewaan meskipun ia sembunyikan tapi gua tetep bisa liat itu," ucapnya sedih.
"Apa lu sama dia baik baik aja? Kemarin dia kemana?" Tanya Arya penasaran.
"Kita lagi introspeksi diri masing masing, gua gak tau dia kemarin pergi kemana. Dia pulang udah malam."
"Maksudnya introspeksi diri? Pisah ranjang?" Dengan sangat penasaran.
"Iya, tapi Yanda minta kalo di depan Echa bersikaplah biasa. Jujur gua gak bisa, hati gua juga sakit."
"Sakitan mana sama Ayanda? Ibarat kata disamber petir di siang bolong, untung aja gak langsung pingsan."
Yang dikatakan Arya memang benar, bagaimana jika ia yang berada di posisi Ayanda saat itu? Belum tentu ia setegar dan sekuat Ayanda.
"Seandainya nanti hasil Test DNA gak sesuai dengan yang lu harapkan, apa yang akan lu lakukan? Siapa tau aja bocah itu anak lu, dan lu gak inget udah tidur sama si liar itu" Tanya Arya serius,
"Kalo anak itu bener anak gua kenapa dulu dia ninggalin gua? Kenapa dia gak nyari gua dan gak minta pertanggung jawaban gua?"
"Iya juga ya, tapi kenapa dia bilang bocah itu anak lu?"
"Bisa aja kan dia mau misahin gua sama Yanda, karena sekarang usaha gua maju lagi."
"Iya sih, tapi? Taulah rumit banget sih masalah hidup lu," frustasi Arya.
"Makanya bantuin gua," pinta Rion.
__ADS_1
"Lu pelakunya, ngapain bawa bawa gua. Kenapa juga gua harus ngurusin hidup lu, untungnya apa buat gua?" Kesalnya.
"Lu beruntung punya teman kayak gua." Jawabnya asal.
"Sial punya temen macam lu mah, gua pastiin kalo Test DNA itu positif lu bakalan miskin semiskin miskinnya." Emosinya.
"Gua gak peduli, gak apa apa gua miskin yang penting Yanda dan Echa ada disamping gua. Mereka adalah harta yang paling berharga buat gua."
Arya tidak bisa berbuat apa apa ketika mendengar ketulusan hati sahabatnya itu. Ia hanya takut Ayanda meninggalkan Rion, walaupun ia tau Ayanda tak akan tega mengambil alih semua asetnya.
"Oke, gua mau bantu lu, tapi dengan syarat. Apapun hasilnya harus lu terima. Jika keluarga lu hancur lu juga harus terima, karena ini semua salah lu." Tegasnya
"Gua akan tetap mempertahankan Rumah Tangga gua, meskipun diambang kehancuran. Gak akan gua biarkan mereka pergi lagi untuk kedua kalinya." Tegasnya.
"Baiklah, gua akan cari tau dimana si liar itu," berlalu meninggalkan Rion.
******
Di Toko Cabang pun Ayanda sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia memutuskan untuk pergi keluar untuk menghirup udara segar.
"Sita, saya mau keluar dulu sebentar." Ucapnya setelah menutup pintu ruangannya.
"Menghirup udara luar dulu," langsung berlalu meninggalkan Sita.
Bu Boss sepertinya sedang tidak baik baik saja, ternyata yang dikatakan Bu Boss benar, apa yang kita lihat indah pada kenyataannya belum tentu seperti itu
Ayanda keluar dari Toko disambut oleh bocah laki laki berkupluk. "Tante," panggilnya. Ayanda pun mencoba tersenyum kepadanya.
"Apa aku boleh bertanya?" Ucap Raska.
"Apa?"
"Apakah omnya Tante benar Ayah aku?"
Deg,
Hatinya remuk seketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil Raska.
"Tante tidak tau," terpaksa untuk tersenyum dan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Kalo om itu ayah Raska, berarti Ayah, ibu dan aku akan tinggal bersama dong." Mendengar ucapan anak itu air matanya mulai terjatuh tanpa aba aba.
"Hore! Aku tinggal sama ayah dan ibu." Senangnya sambil melompat lompat. Pedih yang sekarang Ayanda rasakan. Keinginan anak itu sama dengan keinginan Echa kecil. Apakah ia harus merelakan kebahagiaannya untuk Raska? Atau ia tetap egois dengan kepemilikan Rion. Hatinya saling beradu argumen.
"Tante, kenapa nangis?" Mengusap air mata Ayanda yang membasahi pipi dengan tangan mungilnya.
"Tante hanya nangis bahagia untukmu Raska." Ucapnya lirih, lalu pamit kepada Raska.
Di dalam mobil ia hanya melihat ke kaca jendela, menatap ke arah jalanan. Tak terasa air matanya jatuh dan ia pun buru-buru menghapusnya.
Pak Encep yang memperhatikan majikannya dari spion depan pun tidak tega melihat wajah cantik sang majikan berurai air mata, meskipun ia tidak tau apa permasalahannya. Pak Encep pun merasa aneh, jarang sekali majikannya ini menggunakan jasanya sebagai sopir pribadi, karena sudah lima tahun ini ia tak pernah melihat majikannya datang ke villa. Tugasnya hanya sebagai pengurus villa megah milik majikannya dan sopir pribadi jika majikannya datang ke villa.
Tuhan, permainan takdir apa yang kau berikan untukku? Jika boleh aku mengeluh, aku lelah Tuhan. Tak terasa air matanya semakin deras terjatuh.
*****
Gio merutuki kebodohannya sambil menoyor noyor kepalanya sendiri. "Bodoh bodoh kenapa gua gak minta nomor Ayank sih?" Ucapnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ayanda. Pikirannya kacau dan akhirnya ia terdampar di kedai kopi. Mungkin secangkir espresso panas bisa membuatnya lebih tenang. Karena hidup ini bagaikan kopi, tak selamanya manis harus ada pahit pahitnya juga.
Ia duduk dalam kesendirian, meneguk pahitnya secangkir espresso dan perlahan pikirannya tenang. Dari kejauhan ia melihat sosok yang sangat ia kenali dan sangat ingin ia lihat hari ini. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
Dari meja dari tempat Gio duduk ia memperhatikan Ayanda intens, yang sedang duduk di kursi samping kaca. Ia sangat melihat guratan kesedihan di wajah wanita yang ia cintai itu. Ingin rasanya ia menghampiri dan memeluknya, tapi ia cukup tau diri ia bukan siapa siapa. Ia pun sangat mengenal Ayanda sangat baik, ketika sedih yang diinginkan Ayanda hanyalah sendiri sampai saat ini pun masih sama.
Dirimu terlalu berharga untuk disakiti, harusnya kamu bahagia kembali bersamanya bukan malah seperti ini. Hatiku sakit melihat kesedihanmu Yank, batinnya.
Tak lama ia melihat seorang wanita menghampiri Ayanda. Ayanda langsung berhambur memeluknya sembari menangis.
Melihat dirimu menangis hatiku sangat teriris, kenapa kamu masih mau kembali kepada lelaki brengsek itu Yank? Kenapa? Kenapa kamu tidak memilih aku? Aku akan membuatmu bahagia dan tak akan pernah aku sia siakan dirimu Yank. Terlebih aku sangat menyayangi incess kita, sudah menganggap anakmu seperti anakku sendiri. Kalian berdua matahari dalam hidupku. Apakah rasa cintamu akan membiarkanmu terus disakiti seperti ini? Terlalu besarkah cintamu kepadanya? Apa dia juga mencintaimu? Jika iya, sebesar apa cintanya? Apakah sebesar cintaku dan setulus hatiku padamu? Hingga aku pun rela terluka karenamu Yank.
******
Gio atau Rion yang memiliki cinta yang sangat besar untuk Ayanda?? 🤔
Siapa yang lebih tulus mencintai Ayanda???
Sama sama ganteng sama sama tajir, bingung juga ya😁
Semangatin aku donk dengan jempol dan coment kalian, kalo ada poin vote juga lah😁
Akhir akhir ini semangatku memudar ntah karena apa,,😢
__ADS_1
Happy reading sayang sayangkuh😘