Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 95. Alasan


__ADS_3

Ayanda keluar dari area mall dengan air mata yang mengalir deras. Sesekali ia mengusap air matanya. Rasa kesal dan kecewa kini memenuhi hatinya. Bukan tanpa alasan ia menjadi seperti ini. Ia memesan taksi dan mengarahkan ke arah pantai yang lumayan terpencil.


Di sinilah Ayanda sekarang di pantai Punggol. Suara deburan ombak yang membisingkan telinga mampu meredam semua rasa yang ada di dada. Ayanda duduk seorang diri di tepian pantai di bawah pohon kelapa yang menjulang. Hatinya terasa tercabik-cabik saat ini. Rasa sakit yang baru saja hilang kini hadir kembali, tapi dengan orang yang berbeda.


"Untuk apa kamu melamar ku jika kini kamu sendiri yang tidak yakin dengan hatimu?" gumamnya pelan. Ia menatap hamparan pantai nan biru dengan ombak yang menari-nari di atasnya.


"Tuhan, apa aku ini ditakdirkan untuk tidak bahagia?" tanyanya dengan memandang langit cerah.


"Jika aku memang ditakdirkan untuk sendiri, biarkanlah aku hidup bahagia hanya dengan putriku," lirihnya.


Di lain tempat Gio tengah sibuk mencari Ayanda dengan menurunkan semua anak buahnya. Sudah berjam-jam ia mencarinya, namun belum juga ada titik terang.


"Sial," umpatnya.


"Kenapa gua harus terhasut dengan perkataan wanita itu?"


# flashback on.


Gio menikmati makan siangnya seorang diri di salah satu restoran. Wajah murungnya sangat terlihat jelas, dunianya seakan muram. Seseorang duduk tepat disampingnya dengan menunjukkan senyum semanis mungkin.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Gio dengan wajah tak senang.


"Ya mau ketemu kamu lah," jawabnya dengan dibuat semanja mungkin.


Cuih!


"Aku sudah punya calon istri, jadi menjauh lah sebelum aku berbuat kasar kepadamu," ujar Gio.


Cantika tersenyum miring. "calon istri yang kamu rebut dari suaminya, iya? Apa kamu tidak sadar jika yang kamu lakukan itu salah? Kamu sudah merenggut kebahagiaan keluarga kecil mereka. Dengan teganya kamu memisahkan ayah dan juga anaknya yang terbaring sakit. Dan sekarang kamu bahagia di atas penderitaan pria lain, hah?"


"Kamu tak lebih dari seorang Pe-bi-nor. Dengan bangganya kamu memamerkan hasil rebutan mu itu kepada khalayak umum. Tak tahu malu," ucapnya dengan penuh penekanan.


Ucapan Cantika mampu menyulut amarah seorang Giondra. Tangannya dengan sangat keras menampar pipi Cantika. Suara tamparan mampu membuat orang-orang di sekeliling mereka melihat ke arahnya.


"Pergi kamu dari sini!" bentaknya dengan suara yang menggema ke semua penjuru restoran.

__ADS_1


# flashback off.


Itulah alasan kenapa Gio akhir-akhir menghindari Ayanda. Tak sepenuhnya ia berbohong, kerjaan Gio memang sangat banyak dan jadwalnya sangat padat karena mengejar cuti setelah menikah. Di lain sisi, ketika pekerjaannya sudah selesai ia sengaja berlama-lama menghabiskan waktu di kedai kopi hanya untuk tidak bertemu dengan Ayanda. Ia merasa bersalah karena telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ayanda. Ya, ia terhasut oleh ucapan Cantika. Pada kenyataannya perpisahan Ayanda dengan Rion murni karena kesalahan Rion. Rion terus menerus menyakiti Ayanda hingga Ayanda memilih mundur.


Sudah empat jam Ayanda berada di pantai ini. Selama itu pula ia bergelut dengan pikiran dan hatinya.


# flashback on.


Ayanda membawakan makan siang ke kantor Gio yang tak jauh dari kantornya bertugas. Ia sengaja tidak memberi tahu Gio terlebih dahulu. Ayanda ingin memberikan kejutan.


Setelah sampai di depan ruang Gio, dilihatnya pintu ruangannya terbuka setengah. Ketika Ayanda hendak masuk terdengar samar-samar obrolan antara dua orang lelaki.


"Boss, pulang lah. Kasian calon istrimu yang selalu menunggumu boss," pinta Remon.


"Jangan paksa gua, gua belum siap ketemu Ayank. Gua masih ragu," bentaknya.


Bak disambar petir di siang bolong. Mendengar ucapan Gio membuat Ayanda tersenyum getir. Senyum yang menyiratkan akan kepedihan dan luka. Diurungkan niatnya dan kembali ke kantornya.


# flashback off.


Niat Ayanda ingin membicarakan hal ini dengan baik-baik kepada Gio. Hingga ia rela menunggu kepulangan Gio. Akan tetapi, apa yang didapatnya? Lagi-lagi Gio menghindar.


Selama satu Minggu ini Ayanda berusaha bersabar, seolah ia tak tahu apa-apa. Kenyataannya, Ayanda sudah mengetahuinya. Ia hanya ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut Gio. Hanya itu.


"Mungkin ini jalan terbaik," gumamnya seraya tersenyum.


Senja perlahan menampakkan wajahnya menandakan akan bergantinya terang menjadi gelap. Gio sudah frustasi, karena belum juga menemukan Ayanda. Ingin rasanya ia pulang ke rumah besar, namun ia sedikit risau. Takut jika akan memperkeruh keadaan. Hanya saja, kini tidak ada pilihan lain. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumahnya dan para anak buahnya tetap mencari Ayanda.


Sesampainya di rumah, Gio langsung berhadapan dengan ayahnya. "ada apa?" tanya Genta.


Gio hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya. "ada apa?" teriak Genta yang membuat semua penghuni rumah keluar dari sarangnya. Tak terkecuali Echa.


"Ayank pergi, Yah," akui Gio.


Plak!

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi putranya. Ya, begitulah Genta. Ia tak segan menerapkan hukuman keras kepada putranya jika salah.


"Ayah sudah peringatkan, jaga Ayanda!" tegas sang ayah.


Mendengar nama ibunya disebut Echa langsung turun menghampiri Papa dan kakeknya.


"Mamah kemana?" tanya Echa dengan mata nanar.


Tidak ada seorang pun yang menjawabnya. "Mamah kemana, Pa?" tanya Echa dengan suara bergetar.


"Papa tidak tau, anak buah Papa sedang berusaha mencarinya," jawab Gio. Hatinya sangat sakit melihat Echa yang menitikan air mata.


"Ada apa, Pa? Jika Papa benar-benar mencintai Mamah, Papa akan terus mencari Mamah. Kenapa Papa malah pulang?" tanyanya dengan bercucuran air mata.


"Papa sangat mencintai Mamahmu, Sayang," ujarnya, dan meraih tangan Echa.


Gio menggenggam tangan Echa dengan lembut. "Papa kesini hanya untuk memastikan Mamah sudah kembali atau belum. Pasti Papa akan mencari Mamah sampai ketemu. Papa janji," ungkapnya pada Echa.


"Jika Papa tidak sungguh-sungguh dengan Mamah, lepaskan Mamah. Echa tidak ingin Mamah menangis lagi karena disakiti. Cukup hanya Ayah saja yang menyakiti Mamah. Biarkan Mamah bahagia, sudah banyak penderitaan yang Mamah alami. Tanpa Papa, Mamah dan Echa bisa bahagia," kata Echa dengan sedikit emosi. Ia berlari menuju kamarnya dengan air mata yang membasahi pipinya.


Isakan tangis terdengar dari kamar gadis cantik ini. Ia menelungkupkan wajahnya di atas lututnya.


"Echa tau Mamah sedang tidak baik-baik saja, Echa mohon pulanglah. Kita menata hidup dari awal lagi berdua, seperti waktu dulu," ucapnya dengan isakan tangis.


"Echa akan terus buat Mamah bahagia, dan gak akan pernah membuat Mamah menangis. Pulang lah, Mah. Kita pergi jauh dari sini. Kita bisa bahagia tanpa Ayah dan juga Papa."


"Echa tidak akan membiarkan Mamah disakiti lagi untuk kedua kalinya."


*****


To be continued,


Menuju End,


Jangan lupa kencengin like, komen dan juga vote yaa,,

__ADS_1


__ADS_2