Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 61. Tak terbalas


__ADS_3

Disinilah Gio, di lantai atas Rumah Sakit yang menjadi tempat pendaratan pasien darurat yang dibawa helikopter.


Ia berdiri dibawah senja nan indah, tapi tak seindah hatinya saat ini. Kesembuhan Echa adalah kebahagiaan untuknya. Disisi lain ada luka yang ia rasakan ketika melihat Rion datang, tatapan Ayanda pun menyiratkan kerinduan yang amat sangat dalam.


"Kenapa mencintainya sesakit ini, Tuhan," teriaknya kepada langit.


"Memang dia diciptakan bukan untukmu," suara berat terdengar dari arah belakang.


Gio menghela nafasnya sangat dalam, seraya menundukkan kepalanya.


"Kamu yang datangkan dia kemari," tanya Genta, ayahnya.


Gio hanya menganggukkan kepalanya, pandangannya masih menatap ke depan. Sang Ayah sangat jelas melihat kesedihan dan kesakitan putranya.


"Dia memang bukan jodohmu," ujarnya sambil menepuk pundak Gio.


Gio tidak bisa berbuat apa apa sekarang, melihat kedua pandangan mereka membuatnya merasakan sakit yang amat perih.


# flashback on,


Rion melangkahkan kakinya kedalam ruangan perawatan Echa, suara lirihnya membuat Ayanda cepat melihat keasal suara.


"Mas," ucap Ayanda. Terdengar sangat jelas di telinga Gio.


Rion melihat kearah Ayanda yang sedang memandangnya karena terkejut, tatapan mereka terlihat sekali saling merindukan dan masih sangat saling menyayangi satu sama lain.


Gio hanya terdiam melihatnya, hatinya bagai ditusuk pedang yang sangat amat tajam.


Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah, batinnya lirih.


Dokter Lie tersenyum dengan hasil pengecekan tubuh Echa yang kembali normal meskipun belum ada tanda tanda kearah yang lebih baik.


Ayanda dan Rion saling tatap dan tersenyum, Rion menggenggam tangan Ayanda erat. "kita berjuang sama sama untuk kesembuhan putri kita," serunya pada Ayamda. Ayanda pun menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih telah datang," ucapnya dengan air mata yang menetes, Rion langsung menghapus air matanya dan memeluk tubuh Ayanda erat, tak disangka Ayanda pun membalas pelukan Rion dengan mengeratkan tangannya pada pinggang Rion. Rasa rindu mereka yang membuncah kini terobati.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sangat teramat tersakiti disini. Hingga ia berlalu pergi meninggalkan semuanya yang sedang menikmati kebahagiaan.


# flashback off,


"Kamu pria hebat, berkorban demi orang yang kamu cintai meskipun ia tak akan pernah membalas pengorbananmu," kata sang Ayah.


Ucapan ayahnya sangat menusuk hatinya, tidak bisa ia pungkiri juga memang itu kenyataannya.


"Echa tidak bisa dipisahkan dari ayahnya, sama seperti aku yang tidak bisa dipisahkan dengan Ayah. Kita adalah paketan yang takkan pernah terpisahkan," balasnya dan mencoba tersenyum.


Percuma kamu tersenyum, Ayah masih bisa melihat dan merasakan kesedihanmu, Gi. Anak yang malang.


Di ruangan rawat Echa Rion, Ayanda dan juga Arya tengah memperhatikan tubuh Echa yang masih belum terbangun.


"Berjuanglah, Dek. Ayah dan Mamah akan selalu berada disampingmu hingga kamu sembuh," ucap Rion seraya mengelus rambut Echa.


"Makasih sudah sabar dalam menjaga dan menemani Echa dikondisi Echa seperti ini," ungkapnya.


Ayanda hamya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Arya yang melihat kejadian itu ikut bahagia.

__ADS_1


"Ayah pulang ya, Nak," ujar sang Ayah tiba tiba yang sudah masuk ke ruangan Echa.


"Ayah jaga kesehatan, ya. Jangan sampai sakit," balasnya.


Genta hanya menganggukkan kepalanya, melangkahkan kakinya keluar.


"Ayah!" panggilnya.


Langkah Genta pun terhenti, Ayanda menghampiri sang Ayah.


"Gi, kemana Yah," tanyanya.


"Gi ada urusan mendadak dan tidak bisa diwakilkan," kilahnya.


"Sampaikan ucapan terimakasihku untuknya, Yah. Berkat dia Echaku kembali lagi," jelasnya dengan mata yang berbinar.


"Pasti akan Ayah sampaikan," jawabnya sambil menepuk lembut kepala puterinya.


Dibalik pintu ada yang sedang mendengarkan perbincangan mereka.


Ternyata aku selalu jadi tempat singgahmu hanya ketika hatimu terluka,


*****


Di Jakarta ada seseorang yang sedang menyesali perbuatannya. Masuk ke dalam ruang perawatan bocah laki laki dengan air mata yang berlinangan.


Dipandangnya wajah pucat Raska, badannya semakin hari semakin kurus membuat ia tak sanggup untuk menyimpan kebohongan lagi selama ini.


"Maafkan Papah, Nak," ujarnya sambil mengelus kepala Raska dengan lembut dengan tumpahan air mata yang tiada henti.


"Gua akan urus semua urusan yang ada di Jakarta. Kalo udah selesai pasti gua balik lagi kesini," ujarnya.


Arya pun kembali ke Jakarta, selama diperjalanan tiba tiba Arya teringat akan Raska.


Kok gua inget ke si Gundul, ya, gumamnya pelan.


Rion memandang wajah Ayanda yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Guratan kesedihan dan kelelahan nampak pada wajahnya.


Maafkan aku, karena aku kalian menderita seperti ini. Terimakasih, Tuhan, Engkau telah mempertemukanku lagi dengan anak dan istriku.


Rion mendekati ranjang kesakitan sang putri, ia duduk disampingnya.


"Selamat pagi, Dek. Ayah masih disini menemani kamu. Bangun yuk, Dek. Ayah dan Mamah merindukan kamu," ucapnya yang menggenggam tangan Echa.


"Ayah janji, Ayah tidak akan meninggalkan kamu dan Mamah lagi," lanjutnya.


Ayanda yang baru saja membuka matanya, mendengar ucapan terakhir dari mulut Rion menyeka air matanya. Ucapannya sangat tulus dan penuh dengan penyesalan.


Ayanda hendak bangun, entah kenapa kepalanya sangat berat. Ia mencoba untuk berdiri perlahan.


Prank!


Suara gelas terjatuh, Rion langsung berhambur kearah Ayanda. Dilihatnya serpihan gelas dan Ayanda yang sedang berdiri memegangi kepalanya dengan wajah pucat.


"Sayang, kamu kenapa?"

__ADS_1


Deg!


Panggilan dari Rion untuknya membuatnya terdiam.


Rion mendekat kearahnya, menuntunnya duduk di sofa.


"Wajahmu pucat, badanmu juga panas," ujarnya.


"Kamu istirahat dulu, biar aku yang menjaga Echa," sambungnya lagi.


Ayanda hanya menganggukkan kepalanya. Rion mengelus rambutnya dan tersenyum padanya.


Gio membuka handle pintu, belum juga masuk ia melihat Rion sedang mengusap lembut rambut Ayanda dan mereka saling tersenyum. Terlihat sangat bahagia.


Ia melihat kearah Echa, sangat jelas terlihat ada peningkatan dari kondisi Echa. Gio tersenyum, meskipun hatinya sekarang ini sedang menangis.


Ia menutup kembali pintu dengan perlahan. Ia duduk di kursi di depan ruangan menyenderkan kepalanya ke dinding.


Kehadirannya membuat kalian bahagia, matahari kalian sudah kembali, batinnya sambil tersenyum kecut.


Aku masih jadi tempat persinggahan kedua untukmu. Sampai saat ini dirinya masih mendominasi hatimu. Sampai kapan pun aku tak kan pernah bisa masuk ke hatimu, karena ruangannya terlalu sempit dan mungkin tak ada celah untukku sekedar hanya ingin mampir lalu pergi lagi.


Dari kejauhan Remon melihat wajah sendu Bossny, semenjak Rion datang Bossnya terlihat selalu menghindar. Seperti ada rasa risih dan tidak suka yang Bossnya rasakan.


"Boss!" panggilnya. Panggilan Remon menghentikan lamunan Gio.


"Kenapa disini? Kenapa tidak masuk?" Cecarnya.


Gio hanya terdiam dan tak menjawab, membuat Remon semakin yakin jika Bossnya ini tidak suka dengan adanya Rion disini sekarang.


"Ayo, kita berangkat," ajaknya, bangun dari sofa, melangkahkan kakinya ke pintu keluar.


Jika Anda tidak suka, kenapa Anda menyuruhku untuk mwnjempuntnya, Boss, tanyanya dalam hati.


Terkadang Remon tidak bisa menebak jalan pikiran Bossnya. Hati dan pikirannya tidak sejalan, sering bertolak belakang.


Selama ia masih menjadi Aspri dari Gio, mau tidak mau ia harus mengikuti setiap perintah darinya.


*****


Hay readers,,


aku telat up-nya,


kalo ada waktu mampir dan baca karya baru aku ya, ceritanya lebih ringan dan kita kembali ke masa muda๐Ÿ˜


mbaknya: ciye , authornya udah tua,,๐Ÿ˜‚


akunya : sembarangan! aku masih muda tapi sudah berbuntut๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Jangan lupa like, coment dan vote ya semuanya biar aku semangat lanjutin ceritanya,,


Happy reading semuanya,๐Ÿ˜˜


__ADS_1


__ADS_2