Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 38. Senja


__ADS_3

Malam pertama Ayanda menginap dikediaman Genta Wiguna, pelayan memperlakukannya dengan spesial atas permintaan Tuan Besarnya. Ayanda memandang keindahan langit Singapura di malam hari. Hatinya sedikit tenang tapi terasa hampa. Separuh jiwanya pergi, dan kini tak ada lagi tempat yang nyaman untuk bersandar dan tangan untuk menggenggam. Sekarang ia harus terbiasa sendiri, meskipun statusnya sekarang ini masih sebagai seorang istri. Esok atau lusa status itu akan berubah, entah ia yang akan mengakhiri atau diakhiri. Takdir Tuhan memang kejam dan jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan yang kita dapatkan sekarang. Tuhan akan mengambil semuanya tanpa tau waktu dan tempat, termasuk hati dan perasaannya sekarang ini.


Akan ku kubur dalam dalam rasa ini, ternyata aku salah telah membuka hatiku. Hatiku hanya kamu jadikan tempat persinggahan sementara dan rumah aslimu berada pada dirinya.


Maafkan mamah nak jika esok atau lusa mamah menyerah dan membuatmu marah, karena sesungguhnya mamah sudah tidak sanggup dengan luka yang terus menerus ayahmu torehkan. Jika kamu membenci mamah, mamah ikhlas karena mamah yang sudah membuatmu kecewa.


Nyatanya batinnya itu terasa sakit dan sesak jika harus mengingat anak dan suaminya. Tapi inilah hidup, harus tetap dijalani meskipun ujian hidup tiada henti. Tekadnya sekarang ini adalah menjadi wanita tegar dan mandiri, harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Semakin ia rapuh takdir semakin menertawakannya dan akan terus mempermainkannya.


Pagi pagi wajah Genta sudah sangat ceria seperti matahari yang baru menampakkan wajahnya di bumi. Senyumnya selalu mengembang di bibirnya karena hari ini ia tidak akan merasakan kesepian disetiap waktu makannya. Meskipun ada puluhan pelayan tapi tetap saja rumahnya terasa sepi.


"Pagi yah," sambil menarik kursinya.


"Ayanda mana Gi?" sambil meminum teh hijau kesukaannya.


"Pagi Ayah, pagi Gio," dengan memamerkan senyum indahnya yang menyejukkan siapapin yang melihatnya di pagi hari.


"Semangat dah kalo tiap pagi dikasih senyuman manis kayak gini." Menatap wajah Ayanda secara intens. Ayanda hanya menanggapinya dengan cebikkan bibir, mungkin jika wanita lain terkena gombalan seorang Giondra akan baper tapi tidak dengan Ayanda yang menganggap setiap gombalan Gio adalah receh.


Remon yang baru saja bergabung dengan keluarga Wiguna di meja makan memandang Ayanda dengan tak berkedip, karena senyuman manis dan indahnya yang berhasil mengalihkan dunianya. Gio yang menyadari itu langsung menyikut Remon.


"Biasa aja liatnya, gua bilangin ke bini dan anak lu baru nyaho lu." Remon hanya berdelik kesal karena Bossnya ini bisanya hanya mengancam. Jika tidak dipotong gaji ya dilaporkan kepada Nyonya rumah dan kedua malaikat penghuni rumahnya yang membuatnya bergidik ngeri.


"Gi, selesai sarapan temani ayah ke kantor untuk meeting penting." Sambil mengunyah sarapannya.


"Apakah pertemuan itu penting yah? Gi mau ajak Ayank jalan jalan hari ini," dijawab dengan anggukan oleh ayahnya. Jika ayahnya sudah berkata A maka tidak ada bantahan lagi, mau tidak mau suka tidak suka harus mengikuti ayahnya. Gio hanya menghela nafas berat menggambarkan kekecewaannya.


"Kan pulang meeting kita masih bisa jalan jalan." Sambil memegang lembut tangan Gio seraya tersenyum.


Pantes aja Boss gantengnya ini gak bisa move on, terlalu cantik dan baik jika harus dilepaskan.


*****


Di Jakarta, Kediaman Ayanda dan Rion.

__ADS_1


Pagi ini Echa sarapan seorang diri, sang mamah pergi ke luar negeri karena ada urusan bisnis dan ayahnya mungkin belum bangun dari tidurnya. Mbak Ina yang tak tega melihat anak majikannya sarapan dengan tidak lahapnya menemani Echa sarapan.


"Mbak, apa ayah pulang semalam?" Mbak Ina hanya terdiam tak bisa menjawab apa apa.


"Mbak?" melihat wajah Echa yang ingin mendapatkan jawaban mbak Ina pun mulai membuka suara.


"Bapak tidak pulang non." Seketika Echa langsung meletakkan sarapannya dan pamit pergi ke sekolah. Ada rasa sedikit kecewa kepada ayahnya. Seperti biasa ia diantar oleh Pak Mat. Selama perjalanan Echa hanya melamun, memikirkan apa yang sedang terjadi dengan kedua orangtuanya sekarang? Kejanggalan demi kejanggalan ia rasakan, kemarin ia berusaha menepisnya tapi sekarang rasa curiganya semakin besar.


"Non, sudah sampai." Echa tersadar dari pikiran pikiran jeleknya dan turun dari mobil masuk ke sekolah.


*****


"Lu temenin gua ke Rumah Sakit sekarang," seraya memaksa Arya untuk bangkit dari kursi kerjanya dan laporan laporan yang sedang ia periksa dengan seksama.


"Ngapain?" Tetap tak bergeming dari kegiatan awalnya dan mengabaikan Rion di depannya.


"Temenin gua." Dijawab dengan senyuman sinis oleh Arya.


"Gak perlu gua temenin, disana kan ada anak lu dan ibu dari anak lu. Istri lu aja pergi gak lu cari." Sindirnya yang sangat menusuk ulu hati Rion. Rion tak bisa berkata-kata dan tak bisa berbuat apa apa jika kata kata pedas nan menusuk sudah keluar dari mulut Arya. Iapun pergi ke Rumah Sakit seorang diri.


Jika Ibumu mengizinkan Papa jujur pada semua orang kamu tidak akan tersiksa seperti ini nak, bagaimanapun kondisimu Papa akan menyayangimu. Tidak hanya ragamu yang sakit tapi hatimu juga akan sakit jika kamu tau yang sebenarnya, dia tidak ada ikatan apa apa denganmu.


Tak lama Bossnya pergi, Arya menyusul Bossnya ke Rumah Sakit. Ketika ia mencari cari keberadaan Bossnya ia melihat seseorang yang ia kenal sedang memperhatikan Bossnya, Raska dan Dinda. Samar samar ia mendengar gumaman demi gumaman dari mulut orang itu.


Kayaknya ada yang gak beres nih. Arya mulai curiga.


*****


Selama ditinggal Ayah dan Gio meeting Ayanda menghabiskan waktunya di halaman belakang yang sangat sejuk, ia nyaman berlama lama disana bergelut dengan pikirannya sendiri.


Drrrtt,, Drrrtt,,


Halo,,

__ADS_1


........


Stadium 4?


"Apa stadium 4?" Tiba tiba Gio datang menghampirinya. Buru buru Ayanda mematikan telponnya.


"Siapa yang telpon?" Curiga dengan gelagat Ayanda. Ayanda langsung mengalihkan pembahasannya.


"Katanya mau ajak gua ke pantai, cepetan dong BT seharian di rumah terus." Ucapnya yang dibuat semanja mungkin agar Gio luluh. Benar saja hati Gio luluh seketika. Ia bergegas mengganti pakaiannya.


Ayanda sedang berbincang dengan ayahnya sambil menikmati teh hijau. "Ayo Yank," menghampiri Ayanda dan ayahnya.


"Mau kemana Gi?" Melihat Gio sudah menggunakan pakaian santainya.


"Tanjong Beach yah, jalan jalan sebentar menikamti sunset." Wajahnya tampak bahagia karena hari ini ia bisa melihat indahnya sunset di pantai terindah di Singapura bersama wanita yang ia sayangi. Mereka pun pamit kepada ayah.


Sesampainya di Tanjong Beach Ayanda merasakan ketenangan karena hembusan angin yang sejuk. Mereka memilih duduk di pasir dibawah pohon kelapa sambil menikmati kesejukan angin yang bertiup dan bisingnya gemuruh ombak.


Senja menampakkan dirinya dengan malu malu. Perlahan lahan birunya langit berubah sedikit demi sedikit, hingga senja yang sempurna tiba. Ayanda memandang takjub akan keindahan ciptaan Tuhan.


"Kenapa lu suka senja?" Memecah keheningan antara dirinya dan Ayanda. Ayanda berdiri dan berjalan menuju bibir pantai diikuti Gio dari belakang.


"Senja mengajarkan kita bahwa apapun yang terjadi hari ini pasti esok akan kembali indah." Seraya tersenyum memandang kesempurnaan senja.


"Tapi sekarang ini, senja yang gua sukai menjadi senja yang membawa luka, perlahan lahan ia akan hilang, digantikan oleh keremangan malam yang hanya menyisakan kehampaan dan kepedihan." Menundukkan kepalanya menahan semua kesakitan yang ia rasakan kini.


*****


Hay para readers,,


Yang kemarin bilang kecewa, baca dengan seksama part ini, jangan pernah bilang kecewa dulu karena ceritanya masih sangat sangat panjang. Cukup aku saja yang kecewa jika tak bisa memberikan rasa pada ceritaku ini😢


Jangan lupa like, komen dan vote biar aku makin semangat nulisnya ya, agar aku bisa bikin kalian bucin dan mewek.

__ADS_1


Happy reading kesayangan kesayanganku😘😘


__ADS_2