Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 40. Konser


__ADS_3

Echa duduk melamun seorang diri di taman belakang, otaknya masih memikirkan keanehan keanehan antara ayah dan mamahnya. Kemesraan yang selalu mereka perlihatkan, dalam satu bulan ini bagai hilang ditelan bumi. Tidak ada kebucinan ayahnya tidak ada lagi keposesifan ayahnya sekarang. Hatinya merasa sangat sepi, karena sesungguhnya yang ia inginkan hanyalah suara riuh penuh gelak tawa dan juga perdebatan kecil yang manis untuk menghidupkan suasana rumah ini.


Sudah dua hari ini bapak tidak pulang semenjak keberangkatan ibu ke Singapura. Sebenarnya apa yang terjadi antara bapak dan ibu sekarang? Test DNA? Apa maksud dari perkataan itu? Akhir akhir ini Ibu selalu tidur di kamar atas dan bapak di kamar utama, rumah ini bagai rumah tak berpenghuni, sepi sunyi tidak seperti dulu yang ramai akan kebisingan keluarga kecil nan bahagia. Kasian non Echa. Sambil memperhatikan Echa yang sedari tadi melamun di Taman belakang.


Ada apa sebenarnya? Andaikan Echa dapat menanyakan hal itu pada kalian, tapi pada nyatanya Echa tak memiliki keberanian. Echa harap mamah dan ayah baik baik saja, tidak ada masalah apapun pada kalian. Echa mencoba mengubur kenangan pahit masa kecil karena kalian sangat penting untuk Echa. Echa mohon kalian tetaplah disini menemani Echa hingga Echa dewasa nanti. Bahagia Echa ada pada kalian, I Love ayah dan mamah.


Mbak Ina sangat melihat jelas kepedihan di mata anak majikannya itu, bukan hanya Echa yang merasakan suasana rumah ini berbeda tapi orang orang yang bekerja disini pun ikut merasakannya.


"Echut, I'm coming." Suara cempreng nan berisik khas Mima, Sasa yang mendengarnya pun menutup telinganya karena teriakan Mima akan membuat gendang telinga rusak. Echa tersenyum bahagia melihat kedua sahabatnya datang.


Kalian selalu datang di waktu yang tepat. Sambil menyunggingkan bibirnya.


*****


Hari kedua Ayanda di Singapura sama seperti hari kemarin. Melakukan aktifitas pagi seperti biasanya dan juga ditinggalkan Gio dan ayah pergi ke Kantor. Tapi tak masalah bagi Ayanda, tanpa ia keluar pun disini banyak pemandangan indah di halaman belakang yang menjadi favorit ayahnya.


"Gua berangkat ya." Menghampiri Ayanda yang sedang duduk seraya menikmati udara pagi hari sambil memejamkan mata. Hanya dijawab dengan anggukan kepala. Tanpa permisi Gio mencium kening Ayanda yang membuat si pemilik kening membuka matanya dan merasa aneh.


"Kecupan untuk sang calon istri," dengan menyunggingkan senyum manisnya di pagi hari.


"Kalo gua gak mau gimana?” Berdiri menghadap Gio.


"Gua akan terus kejar lu kemana pun, genggaman tangan gua akan membawa lu menyusuri setapak demi setapak kebahagiaan dan membawa lu pergi jauh meninggalkan semua kepedihan." Sambil menggenggam erat tangan Ayanda. Mata Ayanda berkaca kaca mendengar ketulusan ucapan Gio.


"Thank you." Langsung memeluk tubuh Gio. Gio pun merasa bahagia dan membalas pelukan Ayanda.


"Ayank, kenapa lu nangis sih? Kemeja gua jadi basah kan." Melepaskan pelukannya sambil mengecek bajunya.


"Suruh siapa lu bikin gua melow?" Tak mau kalah. Gio pun akhirnya mengalah, karena ia tau hati Ayanda sedang sangat sensitif, kesenggol sedikit aja bisa patah.


"Iya, gua yang salah. Jangan nangis lagi ya, kalo lu mau keluar bilang ke gua ntar gua suruh beberapa orang jagain lu." Mengusap jejak air mata di pipi Ayanda.


"Gua mau di rumah aja, gak akan kemana mana," seraya duduk kembali di kursi yang ia duduki tadi.


"Ya udah kalo gitu, oiya nanti sore gua mau ajak lu nonton konser Sheila On 7 dandan yang cantik jangan malu maluin gua." Setelah mengatakan semuanya ia meninggalkan Ayanda sendiri di rumah, tidak sendiri tapi dengan puluhan pelayan di rumah.


"Jaga dia, suruh makan tepat waktu. Jika terjadi apa apa dengannya kalian akan saya pecat." Beberapa pelayan menundukkan kepalanya karena takut dengan perkataan Tuan Mudanya. Dibalik ketampanan dan kebaikan Tuan Mudanya ada sisi killer untuk siapapun yang mengganggu atau merusak hidupnya. Tak main main Tuan Mudanya akan langsung mengirim mereka ke tempat peristirahatan terakhir.


*****


"Lu gak pulang?" Ketika melihat Rion masih menggunakan pakaian yang kemarin ia kenakan.

__ADS_1


"Untuk apa gua pulang?" Masih dengan posisi rebahan di sofa.


Arya hanya menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan jalan pikiran Boss gilanya ini.


"Lu terlalu fokus sama bocah botak itu sampe lu lupain anak kandung lu sendiri." Sinisnya. Rion merubah posisinya menjadi duduk dan mengacak acak rambutnya. Ia merogoh sakunya mengeluarkan benda pipihnya. Ia mencari nomor Echa di kontaknya, ia mencoba menghubungi anaknya namun tidak diangkat. Berkali kali ia mencoba menghubungi berkali kali juga tanpa jawaban.


"Kefokusan lu ke bocah botak itu nantinya hanya akan membuahkan penyesalan." Meninggalkan clue di ucapannya tersebut agar Rion mengerti dan berlalu meninggalkan Rion seorang diri.


*****


Hingga sore tiba Ayanda masih betah berada di halaman belakang. Merasakan kedamaian hati dan melupakan sejenak kesedihannya.


Aku harus mengakhiri semua ini, aku lelah pura pura tertawa dan menangis tanpa suara.


Memandang langit sore yang indah, hingga suara orang yang sangat ia kenali memecah lamunannya.


"Udah siap?" Menghampirinya di halaman belakang. Dijawab dengan anggukan kepala. Gio menggenggam tangan Ayanda seolah menunjukkan pada siisi rumah Jika Ayandalah miliknya. Mereka menuju tempat konser.


Setelah sampai di tempat diselenggarakannya konser Sheila On 7 Gio menggenggam tangan Ayanda dengan sangat posesif.


"Giondra!" Suara panggilan itu menghentikan langkah Gio dan Ayanda. Tiba tiba wanita cantik berkulit putih dan berambut indah menghampiri Gio dan Ayanda.


"Kenalin calon istriku." Sambil menggenggam tangan Ayanda dan yang punya tanganpun membelalakkan matanya dan melirik ke arah Gio dengan tatapan membunuh.


"Jadi kamu ... "


"Iya, aku udah punya calon istri dan aku sangat mencintainya. Sekarang berhentilah mengejarku karena yang sudah putus tidak akan bisa disambungkan lagi, meskipun bisa tapi rasanya pasti akan berbeda." Berlalu meninggalkan wanita itu yang mematung tak percaya dengan ucapan yang terucap dari mulut orang yang sangat ia cintai.


"Cewek itu siapa?" Setelah duduk di kursi VVIP.


"Masa lalu." Singkatnya.


"Kenapa lu bilang gua calon istri lu?" Menatap tajam ke arah Gio.


"Biar dia berhenti ngejar ngejar gua, gua bukan layangan putus." Sambil menyenderkan kepalanya di kursi. Ayanda mengerti apa yang dirasakan Gio saat ini, walaupun ia sama sekali tidak mengenal wanita itu.


Konser pun dimulai, lagu demi lagu sudah dibawakan band asal Yogya tersebut dan membuat wajah Gio sangat bahagia semua bebannya hilang seketika, karena band ini adalah band favorit seorang Giondra. Hingga lagu terakhirpun dinyanyikan.


Aku tak percaya lagi


Dengan apa yang kau beri

__ADS_1


Aku terdampar disini


Tersudut menunggu mati


Aku tak percaya lagi


Akan guna matahari


Yang dulu mampu terangi


Sudut gelap hati ini


Aku berhenti berharap


dan menunggu datang gelap


Hingga nanti suatu saat


Tak ada cinta ku dapat


Kenapa ada derita


Bila bahagia tercipta


Kenapa ada sang hitam


Bila putih menyenangkan


Aku pulang,,


Tanpa dendam


Ku terima kekalahanku


Ada air mata yang terjun bebas mengiringi lagu tersebut, air matanya mengalir sangat deras karena lagu ini menjadi soundtrack untuk hatinya sekarang ini. Tubuh Ayanda bergetar dengan kepala menunduk dalam, menyiratkan kepedihan yang sangat dalam. Gio yang tak sengaja melirik ke arahnya pun langsung memeluk tubuh gemetar Ayanda, dan mencoba menyalurkan ketenangan.


****


Happy reading kesayanganku😘😘


Jangan lupa like, komen and vote ya biar aku makin semangat nerusin ceritanya,,

__ADS_1


__ADS_2