
Setelah sampai rumah, Nisa melangkah ke kamar kakaknya. Di depan pintu kamar sang kakak, ia ragu untuk langsung masuk atau mengetuk pintu dulu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok,
"A, ini Nisa." Tidak ada jawaban dari dalam. Nisa mencoba membuka handle pintu dan ternyata tidak di kunci. Hatinya sangat teriris melihat kondisi kakaknya yang sedang tertidur meringkuk. Ia menghampiri tempat tidur kakaknya, dilihatnya sang kakak sedang memeluk foto istri dan anaknya yang sedang tertawa bahagia. Air mata Nisa pun jatuh tak tertahan.
"Apa Nisa salah jika mendukung teteh untuk berpisah dengan aa? Apa Nisa salah jika Nisa ingin melihat teteh dan keponakan Nisa bahagia dan tidak disakiti lagi oleh aa? Apa Nisa salah a?" Ucapannya terdengar sangat lirih namun sangat pelan.
"Penyesalan aa saat ini gak ada gunanya a, gak akan mengembalikan hati teteh yang udah hancur berkeping keping, dan hal yang paling fatal karena perbuatan aa keponakan Nisa harus terbaring koma." Air matanya meluncur deras di wajahnya, sebenarnya Nisa tak tega melihat kakaknya seperti ini tapi Nisa juga tak mau jika kakak ipar dan keponakannya disakiti terus menerus oleh sang kakak.
Pundak Nisa dirangkul oleh sang Mamah agar menjauh dari tempat tidur sang kakak. Sang mamah menutup pintu kamar Rion dengan sangat pelan dan membawa Nisa ke ruang tamu.
"Bukan hanya kamu yang tidak tega melihat kakakmu seperti itu, Mamah juga sakit Nis. Tapi kita harus membiarkannya." Mencoba menenangkan hati Nisa. Nisa memeluk tubuh sang mamah.
"Biarkan ini jadi pelajaran yang paling berharga dalam hidup si aa. Ketika sudah kehilangan orang orang yang ia sayangi, ia akan menyadari betapa pentingnya mereka dalam hidupnya. Hanya ini satu satunya cara agar si aa berubah." Dengan lembut mengelus punggung Nisa.
"Mah, tadi Nisa ketemu a Arya." Sang mamah mengernyitkan dahinya sedikit bingung.
"A Arya bilang, kalo a Arya curiga jika anak laki laki itu bukan anaknya aa." Sang mamah semakin tidak mengerti dengan apa uang dikatakan Nisa.
"Biarkanlah itu menjadi urusan si aa dengan wanita itu. Mau itu anak kandung atau bukan tak akan pernah bisa mengembalikan yang sudah hilang kan." Nisa menganggukkan kepalanya bertanda ia setuju dengan apa yang diucapkan sang mamah.
*****
Sepuluh hari berlalu, tapi belum ada tanda tanda perkembangan yang baik pada tubuh Echa. Setiap hari Ayanda selalu mengajak bicara sang putri dari hal hal yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Namun sama sekali tak ada pergerakan darinya. Setiap hari Ayanda tak pernah lelah membersihkan tubuh Echa yang semakin hari semakin kurus. Kegiatan inilah yang akan membuat air matanya tumpah dan mengalir sangat deras.
"Tubuhmu semakin kurus saja dek, bangun yuk kita makan makanan kesukaanmu. Kita beli apa yang kamu mau. Kita beli minuman yang kamu suka. Semuanya akan mamah belikan untukmu." Ucapan yang akhirnya berujung dengan tangisan. Ia sangat terisak karena ia merasa telah gagal menjaga sang putri dan malah membuatnya kecewa dan pada akhirnya berujung pada koma.
Akses Ayanda untuk mengetahui dunia luar pun sengaja ia batasi, terlebih banyak penjagaan ketat dari sang ayah agar tak satupun orang terdekat putri angkatnya itu tau tentang keberadaanya. Cukup dengan mengirim gambar kondisi anak dan cucunya kepada orang-orang yang ia anggap tulus menyayangi Ayanda. Seperti Nisa, Mbak Ina, dan juga Sita. Setiap hari ayah Genta akan mengirimkan gambar kondisi terkini anak dan cucunya pada orang orang tersebut tapi dengan nomor yang berbeda beda setiap harinya dan tidak akan bisa dilacak oleh siapapun.
Semakin hari pikiran Ayanda semakin fokus pada perkembangan kesehatan putrinya, bayang bayang tentang suaminya perlahan lahan memudar meskipun tidak ia pungkiri sesekali bayangan itu datang mengisi pikirannya.
Gio, hanya Gio yang kini setia mendampingi dan menemani Ayanda di Rumah Sakit. Setiap pulang kerja ia akan menemani Ayanda di Rumah Sakit dan paginya ia akan diantarkan pakaian kerja oleh asistennya. Begitulah rutinitas Gio hampir dua Minggu ini. Tidak ada penolakan dan juga bantahan dari Ayanda, karena sesungguhnya ia juga membutuhkan orang untuk menemaninya jika sewaktu waktu hal buruk menimpa Echa. Terlebih dulunya Gio adalah seorang dokter. Ia merasa sangat nyaman dan terlindungi jika berada disamping Gio.
Seperti sekarang ini, Ayanda sedang menatap langit malam dari balik jendela kaca, ada tangan yang memeluknya dari belakang dan mengecup kepalanya. Ayanda pun tersenyum dan sangat merasa nyaman bersandar di dada bidangnya.
__ADS_1
"Apa kamu lelah?" Membuat Ayanda bebrbalik menghadap Gio.
"Tidak ada kata lelah untuk putriku sendiri." Gio tersenyum mendengar jawaban dari Ayanda dan memeluk erat tubuhnya.
"Aku gak salah menyimpan cinta untuk malaikat tak bersayap sepertimu." Mengecup ujung kepala Ayanda. Ayanda hanya diam tidak bisa menjawab apa apa. Sesungguhnya hatinya kini sudah tertutup untuk siapapun. Ia hanya ingin bahagia dengan anaknya.
"Istirahtlah!" Perintahnya setelah melepaskan pelukannya. Ayanda pun menuruti perintah Gio karena setiap harinya ia selalu berbagi tugas dengan Gio. Ayanda pernah melarangnya karena siangnya ia sudah capek bekerja dan malamnya harus menjaga Echa. Namun Gio selalu merasa tak lelah. "Echa putriku juga." Itulah yang selalu ia ucapkan kepada Ayanda dan akam membuat Ayanda terdiam tak bisa berbuat apa apa.
Ketika Ayanda sudah terlelap ia mengecup kening Ayanda sangat dalam, ia menyentuh bibir merah Cherry milik Ayanda.
Aku ingin melakukannya, tapi aku bukanlah pria brengs*k yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku menginginkan ini ketika kamu menerimaku sepenuh hatimu.
Tangannya terus menyentuh bibir Ayanda. Nafsunya sudah menderu tapi logikanya masih normal. Ia meninggalkan Ayanda yang sudah terlelap dan duduk disamping ranjang pesakitan Echa. Tak lupa ia mencium kening Echa.
"Bangun incess, apa kamu tidak kangen dengan Papa Gi. Papa Gi ada disini selalu menemanimu dan juga mamahmu. Bangun yuk, nanti kita liburan bareng lagi seperti waktu itu. Papa Gi janji akan menuruti semua keinginan incess Papa. Apapun akan Papa Gi belikan untukmu sayang. Bangunlah nak," Sambil mengusap lembut rambut Echa. Jiwa dokternya masih sangat ada di dalam diri Gio meskipun ia sudah meninggalkan dunia kedokteran itu dan memilih jadi penerus tunggal usah retail ayahnya. Gio hanya bisa menghela nafas kasar.
Hanya keajaiban yang akan membangunkan mu dari tidur panjangmu ini.
Sementara di Jakarta Rion sudah memulai beraktifitas seperti biasanya. Ia perlahan mulai bangkit meskipun hatinya sangat sakit. Ia sangat profesional mengenai pekerjaan tapi setelah semua pekerjaannya selesai ia kembali menjadi Rion yang lemah, yang terpuruk, yang hancur dan tak banyak bicara. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iba. Termasuk Arya sahabatnya.
Arya mengikuti mobil Rion setelah pulang kerja, mobilnya mengarah pada rumah yang ditempatinya bersama Ayanda dan juga Echa. Arya terus memperhatikannya ketika ia sudah turun dari mobilnya. Arya bergegas masuk ke dalam rumah Rion.
"Pak Arya!" Sapa Mbak Ina.
"Pak Boss ada."
"Ada pak, mau saya panggilkan?"
"Tidak usah. Saya ingin bicara sama mbak Ina." Membuat mbak Ina sedikit takut karena tidak biasanya sahabat majikannya ini banyak bicara selain dengan majikannya.
"A-a-da apa pak?" Gugupnya sambil duduk di kursi taman belakang disebelah Arya sambil terus meremas remas jarinya karena takut.
Arya yang sadar dengan tingkah laku asisten Rumah Tangga Rion berdesis sebal.
"Saya udah jinak, jadi gak usah takut begitu." Membuat mbak Ina semakin ngeri.
__ADS_1
"Apa semenjak Bu Boss Dan Echa pergi Pak Boss sering pulang kesini?" Memulai menginterogasi ART Rion.
"Sudah seminggu ini bapak selalu pulang kesini, tapi tidak mau makan dan sulit sekali bicara akhir akhir ini. Setelah beliau pulang, beliau langsung masuk kamar utama ataupun kamar non Echa. Paginya beliau akan pergi ke kamar atas, tempat kerja Ibu dulu." Raut kesedihan nampak pada wajah Mbak.Ina jika membicarakan perihal majikannya.
"Tadi saya dapat kiriman bantal dengan foto ibu dan juga non Echa, kata pak kurirnya Bapak yang pesan." Mbak Ina sedikit demi sedikit mulai membuka perilaku majikannya setelah ditinggal pergi istri dan anaknya.
Arya hanya menggelengkan kepala merasa tak percaya, penyesalan sahabatnya itu ternyata sangat dalam.
"Apa kamu tau dimana Echa dirawat?" Mbak Ina hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa Bu Boss tidak pernah menghubungi kamu selama ia pergi?" Dijawab dengan gelengan kepala.
"Jika saya tau, saya pasti akan langsung bilang ke Bapak. Setidaknya bisa membuat Bapak menemani Ibu dan juga non Echa."
Arya hanya menghela nafas kasar. Ia beranjak dari duduknya menghampiri Rion. Perlahan ia membuka pintu kamar utama tapi tidak ada siapa siapa. Ia berjalan ke arah kamar Echa, perlahan ia membuka pintu, hanya cahaya lampu kamar yang temaram yang menghiasi kamar itu. Arya perlahan mendekat ke tempat tidur Echa, hatinya sangat perih ketika melihat sahabatnya itu sedang memeluk dua bantal yang bergambarkan Echa dan juga Ayanda.
Sebenarnya ini yang gua inginkan, ego gua kuat tapi gua lebih berfikir dengan logika. Bagaimanapun lu adalah sahabat gua.
Andaikan gua bisa membantu lu pasti akan gua bantu. Tapi maaf keberadaan Ayanda sangat sulit untuk dilacak. Mereka hanya memberi kabar tanpa meninggalkan jejak.
Berdoalah semoga semuanya akan kembali seperti semula. Tapi mungkin tidak untuk hati istri lu. Nikmatilah penyesalan lu sekarang ini. Gua gak tega tapi gua bisa apa?
Arya pun menutup pintu kamar pelan pelan. Ia menghembuskan nafas kasar. Rasa iba menyelimuti hatinya.
"Pak, bagaimana Bapak?" Entah darimana mbak Ina dan Pak Mat muncul.
"Jaga Pak Boss, demi Echa dan juga Bu Boss." Tanpa pamit Arya pergi meminggalkan rumah Rion.
Apa yang lu rasain tak sebanding dengan luka yang lu berikan kepada mereka. Terlebih jika dugaan gua selama ini benar. Seumur hidup lu akan diselimuti dengan penyesalan.
*****
Happy reading semua,
Maafkan aku ya niat hati mau nulis 2000 kata tapi hanya mampu 1500 kata karena aku lagi berada di mode sibuk sayang. Ini aja aku menyempatkan nulis disela sela kesibukanku. Semoga kalian menikmati ceritaku ya,,
__ADS_1
Jangan lupa like, comment Dan vote jika kalian memiliki poin lebih๐
Aku padamu sayang,,๐