
Giondra terdiam ketika mendengar ungkapan cinta dari Ayanda. Jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik. Ia berusaha untuk tidak terlalu senang dulu takutnya ini hanya sebuah mimpi atau khayalannya saja.
"Gi!" panggil Ayanda.
Gio masih shock, ia belum bisa mencerna kata-kata dari wanita yang ia cintai. Ayanda mengibaskan tangannya ke depan mata Gio agar tersadar dari lamunannya namun Gio masih mematung.
"Gi!" panggilnya lagi sambil mengguncang-guncang tubuh Gio baru Gio mulai tersadar.
"Eh, i-iya," sahutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ayanda. Gio hanya menggelengkan kepalanya, bola matanya masih menatap Ayanda dalam.
Mata mereka terkunci, Ayanda menatap wajah Gio tanpa sadar tangannya menyentuh wajah tampan Giondra. "aku mencintaimu," ungkapnya.
Gio tersenyum mendengarnya, ia merengkuh pinggang Ayanda agar berhimpitan dengannya. Tangan Gio memegang dagu Ayanda. "seriously?" tanyanya lagi.
Ayanda mengangguk pelan, dengan tersenyum bahagia Gio mendekatkan wajahnya pada Ayanda. Hembusan nafas Gio membuat Ayanda memejamkan matanya.
Cup,
Gio mencium pipi dan kening Ayanda. "aku tidak akan mencium bibirmu sebelum kamu sah menjadi milikku," ujarnya.
Wajah Ayanda bak kepiting rebus menahan malu dan Gio pun tertawa melihatnya.
"Sepertinya calon istriku ini sudah lama jarang dibelai, jadi otaknya sedikit harus di sapu," ejeknya.
Ayanda mencubit perut Gio dengan keras hingga yang empunya meringis kesakitan. "ampun Sayang, ampun," ujarnya.
Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk Ayanda dan juga Giondra. Mereka menghabiskan malam dengan memandangi lautan luas yang dihiasi kerlipan bintang dan terangnya bulan.
Gio memasangkan jaket di tubuh Ayanda karena angin malam di tepi pantai sangatlah menusuk tulang. Ayanda terus menyandarkan kepalanya di bahu Gio dengan Gio merengkuh pinggang kekasihnya dengan posesif.
"Sayang!" panggil Gio.
"Hmm," jawab Ayanda yang sedang menutup matanya menikmati udara malam ini.
"Masuk yuk, udah malam," ajak Gio.
"Aku masih ingin disini Gi," jawabnya.
Gio hanya bisa menuruti keinginan Ayanda. Ia memeluk erat tubuh Ayanda yang sudah dingin. Ayanda menelusupkan wajahnya ke dada bidang Gio. Tidak lama berselang, dengkuran halus terdengar. Gio tersenyum bahagia, dilihatnya sang kekasih sudah terlelap dalam dekapannya.
"Senyaman inikah dadaku untukmu, hingga kau begitu nyenyak begini," gumamnya pelan.
Akhirnya Gio membawa tubuh Ayanda menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, ia langsung merebahkan tubuh kekasihnya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Di pandangnya wajah Ayanda yang begitu damai dan sangat cantik.
"Aku mencintaimu," ucapnya pelan. Mencium kening Ayanda dan menyelimuti badan kekasihnya agar hangat.
Gio pun merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di dalam kamar hotel. Ia tak mungkin meninggalkan Ayanda tanpa mengunci kamar yang ditempati kekasihnya. Pikiran jelek masih menghantui Gio, kejadian tadi sore membuatnya harus terus waspada dan pengawalan kepada dirinya, Ayanda, dan juga Echa harus diperketat lagi.
Waktu menunjukkan pukul 03.45 Ayanda terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya dan melihat dirinya yang sudah tertutup rapat selimut. "ternyata aku di kamar hotel," ujarnya.
Ayanda turun dari tempat tidurnya namun matanya terperangah ketika melihat Gio yang sedang tidur di sofa dengan tangan yang dilipatkan di atas dada karena dinginnya suhu AC. Ia menghampiri Gio sambil membawa selimut untuk kekasihnya. Setelah selesai menyelimuti Gio, Ayanda duduk di bawah sofa. Dipandanginya wajah Gio yang sangat tampan ketika sedang tidur.
"Maafkan aku yang terlambat mencintaimu," ucapnya pelan.
Ayanda bangun dari duduknya dan hendak melangkahkan kaki ke kamar mandi, namun tangannya ditarik oleh kekasihnya hingga ia terjatuh di atas tubuh kekar Giondra.
"Aku ganggu kamu, ya," ujar Ayanda.
"Tidak Sayang," balas Gio yang sedang memeluk erat Ayanda yang sedang berada diatas tubuhnya.
"Ya sudah kamu lanjut tidur, ya," ucapnya sambil bangun dari rengkuhan Giondra dan membenarkan selimutnya.
Ayanda melangkahkan kakinya ke kamar mandi sedangkan Gio terlelap kembali. Ayanda pun melanjutkan tidurnya.
Matahari sudah memancarkan cahayanya, Gio meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tidur di sofa. Ia melihat wanita yang ia cintai
masih bergulung dengan selimut.
__ADS_1
Gio menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri. Setelah selesai ia bersantai di balkon kamar Ayanda ditemani secangkir kopi panas. Udara yang sangat segar dengan kicauan burung dan suara deburan ombak serta angin sejuk yang sangat melengkapi indahnya pagi ini.
Gio sedang duduk santai menghadap ke arah laut, suara langkah seseorang membuatnya melihat ke asal suara. Wanita yang sangat ia sayangi yang baru saja bangun dengan wajah bantal dan natural tetapi masih sangat cantik.
"Sudah bangun," tanya Gio.
"Hu'um," jawabnya sambil menguap.
Ayanda duduk di samping Gio dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Gio. "kalo masih mengantuk tidur lagi aja," ujar Gio sambil mengelus rambut sang kekasih.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk pinggang Gio dari samping. Menelusupkan wajahnya ke dada bidang Gio.
"Tumben manja begini," imbuhnya.
"Entah, dekapanmu menjadi candu untukku sekarang," jawab Ayanda.
Gio tersenyum lebar mendengarnya, berulang kali mengecup ujung kepala Ayanda. Mereka melewati pagi dengan saling mendekap seperti pasangan yang tidak bisa di pisahkan.
Di lain negara seorang pria sedang menikmati sarapannya seorang diri. Rumah yang cukup besar hanya diisi olehnya dan juga dua asisten rumah tangganya. Suasana rumah yang dulu ramai dengan teriakan sekarang sunyi bagai tak berpenghuni. Terlalu banyak kenangan manis disini, kenangan bersama anak dan mantan istrinya. Jika ia bisa memutar waktu, ia ingin sekali kembali bersama Ayanda dan juga Echa untuk membangun keluarga kecil bahagia.
Apa lah dayanya sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Luka yang ia torehkan membuat mantan istrinya menyerah lalu meninggalkannya. Kesalahannya dulu, kini menyisakan sebuah penyesalan tiada akhir. Ia tersiksa karena kesalahannya sendiri.
Rion bergegas berangkat ke Toko Pusat. Sesampainya di sana ia menyenderkan kepalanya di kursi dengan memejamkan matanya. Wajah cantik Ayanda selalu memenuhi kepalanya, wajah riang Echa pun selalu di ingatnya.
"Tumben masih subuh lu udah datang," ejek Arya yang baru masuk ruangan Rion.
"Suasana rumah bikin gak nyaman," sahutnya.
Arya mengernyitkan dahi tak mengerti. "maksudnya?" tanya dirinya.
"Setiap pagi suara kebisingan mereka di rumah masih terdengar jelas di telinga gua, tapi ketika gua sadar ternyata mereka gak ada bersama gua. Gua hanya sendiri di sana, rumah yang besar tapi seperti rumah tak berpenghuni," ungkapnya dengan lirih.
"Bukan tanpa alasan mereka ninggalin lu, sudah sangat jelas kesalahan fatal lu yang membuat mereka pergi. Dan sekarang mungkin mereka sudah bahagia dengan Andra," balas Arya.
"Kenapa Yanda gak mau nunggu sebentar aja dan gak mau mencari tau tentang kebenarannya?" tanyanya pada Arya.
"Bukan dia gak mau mencari tau hanya dia sudah tau kalo lu masih menyimpan rasa meskipun hanya sedikit untuk si ular sawah. Apalagi dia melihat sendiri lu memeluk hangat si kecoa centil itu," jawab Arya,
"Tapi lu gak kasihan sama anak dan istri lu, memilih lebih percaya kepada ular sawah itu dibanding mempertahankan berlian yang sedang lu genggam. Hingga anak lu koma lama," balas sengit Arya.
Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari Arya. Semua yang dikatakan oleh Arya benar adanya. Dirinya yang terlalu bodoh hingga kembali dibutakan oleh rasa yang hanya tertinggal sedikit di hatinya untuk seorang pelakor.
*****
Giondra mengajak Ayanda untuk menikmati sarapan yang sudah terlewat. Jam 10.00 waktu Singapura mereka baru keluar dari kamar karena Ayanda yang tak mau melepaskan pelukannya kepada Gio.
Gio menggenggam tangan Ayanda keluar dari hotel dan berjalan menuju bibir pantai. Ayanda membulatkan matanya ketika sudah ada beberapa meja, bunga dan hiasan lainnya di tepi pantai. Ditambah alunan piano yang menambah keromantisan tempat ini.
"Ini apa Gi?" tanya Ayanda yang sudah menghentikan langkahnya.
"Kita mau makan," jawabnya santai.
"Tapi kok ...."
"Biar romantis," bisiknya pada Ayanda.
Gio menarik tangan Ayanda yang sudah ia genggam sedari tadi. Ia menggeserkan kursi untuk Ayanda duduki.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya pada Ayanda.
"Aku hanya ingin secangkir mocachino, karena aku tidak bisa makan berat di pagi hari," imbuhnya.
"Sama roti bakar ya Sayang, biar perutmu tidak terlalu kosong," ujar Gio.
Ayanda hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka pun menikmati sarapan menjelang makan siang diiringi lagu yang sangat romantis.
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu, ya," pamitnya.
Ayanda mengiyakannya dan memainkan ponselnya. Roti yang sedari tadi di pesannya sama sekali tidak di sentuh. Hanya secangkir kopi yang mengisi perutnya. Ayanda tetap fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Untuk wanita yang sangat aku cintai Ayanda Rishani.
Ayanda tertegun ketika mendengar namanya dipanggil. Ia pun melihat ke asal suara. Di panggung kecil sudah ada Gio yang sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya.
Delapan tahun sudah aku menantimu, menanti balasan cintamu. Meskipun aku tahu jika itu mustahil, tapi aku tetap yakin dan selalu setia menunggumu untuk menjadi milikku.
Lelah, sakit, remuk selalu aku rasakan ketika kamu tak kunjung membalas cintaku ini. Entah kenapa hatiku sudah tertutup untuk wanita lain setelah aku mencintaimu.
Delapan tahun kamu mendominasi hatiku, sering meluluh lantakan dan memporak porandakan hatiku tapi aku sendiri tak tahu kenapa aku selalu merasa tidak apa-apa. Mungkin benar dengan ucapan 'semua kan indah pada waktunya' karena aku merasakan itu sekarang.
🎵🎵🎵🎵🎵
Ku ingin mempersuntingmu,
untuk yang pertama dan terakhir,,
Jangan kau tolak dan buatku hancur,
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Aku lah yang terbaik untukmu,,
🎵🎵🎵🎵🎵
Gio menghampiri Ayanda yang sedang mematung di tempat duduknya dengan berurai air mata haru. Gio pun bersimpuh di hadapannya.
"Will you marry me?" tanya Gio sambil membuka kotak kecil berwarna merah berisi cincin bermata berlian.
Ayanda menutup mulutnya tak percaya.
Terima,
Terima,
Terima,
Suara teriakan itu tidak asing untuknya, ia mencari asal suara ternyata Ayah dan putrinya. Ayanda melihat ke arah Echa, ia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Yes, I do," jawab Ayanda yang masih meneteskan air matanya.
Gio terharu, tak terasa air matanya jatuh. Ia memasangkan cincin di jari manis Ayanda dan langsung memeluknya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Gio.
Ayanda hanya mengeratkan pelukannya dan terisak dalam pelukan Gio. Echa pun berlari ke arah Papa dan Mamahnya dan bergabung dalam pelukan mereka.
"I love you both," ujarnya yang sudah tak mampu membendung air matanya.
"I love you, my princess," jawab Gio. Echa langsung mengeratkan pelukannya kepada Ayanda dan juga Gio dengan senyuman bahagia yang melengkung sempurna dari bibir Ayanda.
Genta yang menyaksikan kejadian ini tak kuat menahan haru. Butiran bening terjatuh di ujung matanya.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan jodoh terbaik untuk putra putriku.
*****
Hay,,
Maaf baru up,
Sekarang aku ganti jadwal up ya, aku up 2 hari sekali untuk sekarang Karena views yang terus anjlok dan jempol semakin berkurang.
Aku mau nanya donk, jika Air Mata Ayanda udah end kalian mau dilanjut dengan cerita Arya yang Ganteng-Ganteng Mubazir apa sudah off aja.
Tulis keinginan kalian di kolom komentar ya,,
Jangan lupa like, komen dan juga vote biar makin semangat,,
__ADS_1
Happy reading semua,,,