Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 69. Pergi


__ADS_3

Genta hanya bisa menghela nafas gusar ketika mendengar jawaban dari putrinya. Dulu, ia memang melarang Gio untuk mencintai Ayanda karena Genta sudah menganggap Ayanda seperti putrinya yang sudah tiada, Giandra. Dengan melihat ketulusan cinta Giondra selama delapan tahun ini membuat hatinya melemah, putranya yang bad boy sekarang menjadi pria setia. Rela menjaga cintanya bertahun tahun hanya untuk satu wanita, yaitu Ayanda.


Ayanda pamit kepada Genta karena Echa sudah terbangun dari tidurnya dan mencarinya. Kini, hanya menyisakan Genta seorang diri di meja kantin. Ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Sejujurnya ia bahagia melihat kedekatan Giondra dan Ayanda selama di Singapura ini. Semua dokter dan Tim Medis di Rumah Sakit ini beranggapan jika Ayanda adalah istri dari penerus tunggal Wigumart dan Echa adalah anak mereka.


Semoga keputusanmu ini benar, Gi. Ayah selalu mendoakan kebahagiaanmu. Jika dia memang takdirmu pasti akan kamu dapatkan, jika bukan takdirmu kamu harus bisa merelakan. Ayah tau kamu pria sejati, dan kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Monolognya dalam hati.


Remon menghampiri Giondra yang sedang memejamkan matanya seraya bersandar di kursi kerjanya.


"Boss!" panggilnya ragu.


Gio membuka matanya pelan, melihat kearah Remon dengan sorot mata seolah berbicara.


"Kapan kita berangkat ke Ausi?" tanya Remon.


Gio menghela nafas kasar, ia memijat pelipisnya yang terasa sangat berat.


"Apa kamu bersedia ikut?" tanya Gio.


Remon hanya menganggukkan kepalanya dibalas dengan senyuman dari wajah Gio.


"Atur keberangkatan kita besok siang, dua minggu sekali kamu boleh mengunjungi keluargamu selama dua hari," ujarnya.


Wajah Remon langsung berbinar mendengar ucapan sang Bossnya. Ia tau jika Bossnya akan memberikannya family time. Hati Bossnya benar-benar baik hanya saja ia tidak suka jika ada yang mengusik kehidupannya, dalam sekejap siapa pun orang yang berani menyentuh kehidupannya akan ia kirim langsung ke pemakaman.


"Besok pagi kita menemui Ayah dulu," katanya.


Remon hanya dapat menuruti perkataan dari Boss mudanya ini.


"Apa Boss tidak ingin pamit kepadanya?" tanyanya tiba tiba.


Hh,


"Biarkan aku pergi dan menghilang dari hidupnya tanpa jejak. Agar tidak menyisakan kenangan pahit nantinya," balasnya dengan lirih.


Mulut Remon langsung terkunci ketika melihat perubahan wajah Bossnya yang mulai sendu. Baru kali ini ia melihat seorang Giondra sehancur ini.


*****


Arya sudah sampai di Toko Pusat dan langsung menuju ke ruangan sahabatnya. Dilihatnya sahabatnya sedang berbaring di sofa.


"Nih!" ucapnya setelah meletakkan map hijau diatas meja.


Rion membuka matanya, melihat kearah map itu.


"Apa itu?" tanyanya.


"Berkas dari si Endro," sahutnya sambil menselonjorkan kakinya yang terasa pegal.


"Gua akan batalin gugatan cerai ini," jelasnya ketika map itu sudah ia banting di meja.


Arya hanya mengernyitkan dahinya, ia mengerti apa yang dimaksud dari ucapan sahabatnya ini. Hanya saja mulutnya enggan menjawab. Sudah terlalu lelah otaknya berfikir untuk kelangsungan hidup Rion yang kecerdasan otaknya dibawah rata rata.


"Bisa-bisanya si jal*Ng bohongin gua," ucap Rion kepada Arya.


"Karena dia lebih pintar dari lu," jawab Arya ngegas.


"Lu ngatain gua beg*?" tanyanya dengan sedikit emosi.


"Kenyataannya emang begitu, masih gak terima juga," sahut Arya sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak usah lu nyalahin si ular sawah itu, semuanya terjadi karena kebodohan lu, Rion Juanda," ucap Arya emosi.


"Kalo lu pintar lu gak akan terjebak dalam situasi ini dan hampir mengorbankan anak semata wayang lu," ujarnya lagi.


"Udahlah lu gak usah nyeramahin gua terus, sekarang bantu gua buat balik lagi sama Yanda," pintanya pada Arya.


"Kenapa gua yang harus mikir? Buat apa lu punya otak kalo gak dipake buat mikir?" sahutnya.


"Udah cape gua nyelamatin hidup lu terus, kalo begini terus mah mending lu mati ajalah. Punya teman juga gak nguntungin, nyusahin doang," terangnya, dan berlalu meninggalkan ruangan Rion.


"Besok pagi kita berangkat ke Singapura," teriak Rion pada Arya yang baru saja menutup pintu ruangannya.


Selalu saja gua yang direpotin, tampang doang ganteng tapi otak kosong, dengusnya kesal.


Pagi hari Giondra sudah siap berangkat ke Singapura untuk menemui ayahnya sekaligus berpamitan dengannya.


Sesampainya di Rumah Besar, Giondra langsung masuk menemui ayahnya yang sedang berada di taman belakang.

__ADS_1


"Ayah!" sapanya.


Genta menoleh ke asal suara, ia segera meletakkan surat kabar yang sedang ia baca.


"Duduklah, Gi!" ajaknya.


"Gi, apa kamu serius dengan keputusanmu?" tanya Genta.


"Sudah final, Ayah. Biarkan aku pergi untuk mengubur rasa ini," jawab Giondra yakin.


"Jika Ayah memperbolehkanmu memperjuangkan Ayanda, apakah kamu akan tetap disini?" tanyanya lagi.


Giondra hanya menghela nafas berat, mau berjuang sampai titik darah penghabisan pun tidak akan merubah hati Ayanda, karena yang dicintainya bukan dirinya melainkan suaminya.


"Gi, Ayah mohon,," pintanya dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Ayah, tugas aku sudah selesai. Saatnya aku pergi," ujarnya sambil tersenyum.


"Gi, kenapa kamu memilih menyakiti dirimu sendiri? Kenapa tidak kamu perjuangkan cintamu?" tanya sang Ayah.


"Biarkanlah aku yang tersakiti, Yah. Dia terlalu berharga untuk disakiti," jawabnya pilu.


Melihat wajah Giondra, hati Genta sakit tak terkira. Terlihat sangat jelas wajah putranya dipenuhi dengan guratan kesedihan dan kepiluan.


"Gi, sebelum kamu pergi pamitlah kepada Ayanda dan juga Echa. Mereka perlu tau kepergianmu," jelas sang Ayah.


"Tapi, Yah ..."


"Tidak ada bantahan," tegas Genta.


Mau tidak mau Gio harus menuruti perintah Ayahnya. Sebenarnya ia ingin menghindar dari Ayanda, ia tak sanggup untuk bertemu Ayanda saat ini.


Di Rumah Sakit, Ayanda sedang menemani Echa sambil bercanda. Tiba tiba suara pintu terbuka, dengan wajah yang berseri Rion mendekati anak dan istrinya diikuti Arya dari belakang.


"Sayang!" panggilnya kepada Ayanda dan langsung memeluk tubuhnya. Ayanda hanya mematung, sama sekali tidak membalas pelukan Rion.


Tidak ada pergerakan dari Ayanda, Rion pun melepaskan pelukannya. Ia melihat kearah Echa dan tersenyum, tapi Echa seolah acuh karena hatinya masih kecewa.


Arya yang melihat pemandangan didepannya hanya tersenyum tipis. Ingin rasanya ia tertawa terbahak bahak karena seorang Rion Juanda didiamkan oleh dua wanita sekaligus.


"Raska bukan anakku," ucapnya. Rion memberikan hasil Tes DNA yang asli pada Ayanda.


"Wanita itu sudah membohongi kita semua, dia sudah merekayasa hasil Tes DNA. Aku harap kita bisa bersama lagi," ujarnya dengan wajah yang berbinar.


Ayanda dan Echa hanya terdiam, tidak menjawab ucapan dari Rion.


"Dek, Ayah janji akan menemani kamu terus," ucapnya pada Echa.


"Sudah kewajiban Ayah untuk menjaga Echa, tapi Ayah kemana selama ini? Membiarkan mamah berjuang sendiri disini," sahutnya dengan nada lirih.


Semua orang yang berada di ruang rawat Echa tak menyangka Echa akan berkata seperti itu kepada Rion.


"Kenapa Ayah ninggalin Echa di rumah sendiri ketika Mamah gak ada, kenapa? Echa sendiri di rumah, sedangkan Ayah membawa anak itu bermain bersama Ayah," katanya lagi. Kini air mata sudah membasahi pipinya.


"Tapi dia bukan anak Ayah," jelasnya.


"Justru karena dia bukan anak Ayah harusnya Ayah mementingkan Echa bukan dia, dan kemarin pun sama, Ayah lebih mementingkan dia dibanding Echa," jawabnya dengan suara berat.


"Aku bisa menahan semua rasa sakit ini sendiri, Mas. Dan aku sudah meminta kepadamu jangan pernah sakiti dan kecewakan Echa. Tapi apa yang sudah kamu lakukan?" ucap Ayanda pada Rion.


"Aku menyayangi kalian," ujar Rion.


"Jika kamu menyayangi kami, kamu akan mempertahankan kami dan berjuang untuk kami. Bukan seolah pasrah dan lebih memilih wanita itu dibanding kami," jawab Ayanda diiringi air mata yang sudah menetes.


Rion hanya terdiam, semua yang diucapkan anak dan istrinya benar. Sekarang ia hanya seorang lelaki bodoh yang sudah menyiakan nyiakan permata berharga miliknya. Bukannya menjaganya malah tidak merawatnya.


Air mata Ayanda dan putrinya sudah tak terbendung lagi, inilah ungkapan hati seorang istri dan juga anak dari Rion Juanda.


Suara langkah kaki terdengar masuk ke kamar rawat Echa, seketika Ayanda langsung berhambur memeluknya dengan linangan air mata.


Gio hanya terdiam, isakan tangis sangat terdengar di telinganya. Ayanda semakin mengeratkan pelukannya. Rion hanya menatap marah pada istrinya yang sedang memeluk pria lain dihadapannya.


"Ada apa, Yank?" tanyanya, menghapus air mata yang telah membasahi pipi tirusnya.


"Papa Gi," panggil Echa dengan air mata yang bercucuran.


Gio menatap tajam kearah Rion yang juga sedang menatapnya tak kalah tajam. Ia beralih pada Arya, Arya hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Gio melihat Ayanda memegang kertas putih ditangannya. Ia meraihnya, ia tersenyum ketika membaca isi kertasnya.


"Kenapa kamu menangis? Harusnya kamu bahagia," ucapnya pada Ayanda yang masih melingkarkan tangannya pada pinggang Gio.


Rion dan Arya nampak kaget dengan ucapan uang keluar dari mulut Giondra.


"Kamu, Echa dan suamimu akan bersama kembali dan akan menjadi keluarga bahagia," ujarnya lagi.


Hatinya sangat perih ketika berucap seperti itu. Ucapannya tak sejalan dengan hatinya. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa sakit dan perih hatinya.


"Boss, sudah waktunya kita berangkat," ucap Remon yang baru saja masuk ke ruangan.


Ayanda membesarkan matanya kepada Gio, meminta penjelasan.


"Aku akan pergi ke Ausi, mungkin akan menetap disana," jelasnya, dengan mencoba tersenyum dihadapan Ayanda.


Hati Ayanda seperti dihantam batu besar, dadanya terasa sesak dan air matanya pun jatuh kembali.


"Kamu gak boleh pergi, Gi," pintanya dengan bermandikan air mata.


"Papa Gi, gak boleh pergi," sahut Echa di kasurnya.


Mendengar ketidak setujuan akan kepergiannya membuatnya semakin berat meninggalkan kedua wanita spesial dihatinya.


"Aku harus pergi, Ayank. Jaga diri kamu baik-baik, dan jaga incess cantik aku," katanya dengan memeluk tubuh Ayanda.


Ayanda semakin terisak mendengar ucapan dari Gio. Ia tak rela jika harus ditinggalkan oleh Gio.


"Kamu harus temani aku terus, Gi. Lihatlah Echa! Kamu yang berjuang untuk kesadarannya dan kamu juga yang harus membantu aku memulihkan keadaannya," lirihnya.


"Kamu tidak sendiri, hari ini dan selamanya akan ada suamimu yang berada disampingmu. Dia akan menjaga dan membahagiakanmu beserta Echa," ungkapnya.


Ayanda hanya menggelengkan kepalanya seolah tidak mau. Gio meraih kedua tangan Ayanda, menggenggamnya dengan erat.


"Kamu akan selalu dihatiku, selamanya," serunya. Mengarahkan kedua tangan Ayanda ke dada Gio.


Arya seolah terhipnotis dengan pemandangan didepannya. Teman playboynya kini berubah menjadi pria sejati.


Gue gak akan bisa seperti lu, rela berjuang dan siap juga untuk mundur, batinnya.


"Aku pergi, ya," pamitnya.


Gio memeluk erat tubuh Ayanda, sejujurnya ia tak ingin berpisah sedetik pun dengan wanitanya. Hanya saja takdir Tuhan begitu kejam kepadanya, sehingga ia harus melepaskannya.


"Aku sangat menyayangimu," bisiknya.


Ayanda semakin terisak, hatinya sakit mendengar ucapan Gio. Ucapan yang terdengar sangat tulus di telinganya.


Gio melapaskan pelukannya, menghapus jejak air mata Ayanda lalu mengecup keningnya dalam.


"Jangan pernah menangis lagi, aku yakin kamu akan bahagia bersama anak dan suamimu," ucapnya sambil tersenyum.


Lalu ia menghampiri Echa yang sedari tadi sudah menangis di tempat tidurnya.


"Maafkan Papa, Sayang," ucapnya sambil mengecup kening Echa.


"Kamu akan terus bersama dengan Ayah dan Mamahmu yang sangat menyayangimu. Sama halnya seperti Papa Gi yang menyayangi kamu," jelasnya.


"Papa Gi pergi, ya," pamitnya. Diiringi isakan keras Echa.


Gio menepuk pelan pundak Rion. "jaga mereka," pintanya.


Gio melangkahkan kakinya keluar, namun seseorang memeluknya erat dari belakang.


"Jangan pergi, aku mohon," pinta Ayanda lagi dengan terus menangis membuat kemeja yang dikenakan Gio basah.


Hatinya teramat sakit mendengar Isakan tangis dari Ayanda. Namun, inilah yang harus ia lakukan.


Gio membalikkan tubuhnya, menangkup wajah Ayanda yang sangat pilu. Ia tersenyum kepada Ayanda.


"Aku harua tetap pergi," serunya.


Giondra perlahan melepaskan pelukan Ayanda dan melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar dengan hati yang sangat hancur.


*****


Happy reading semua,,,

__ADS_1


Seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah mampir dan baca cerita AMA (Air Mata Ayanda) ya dengan like, komen dan juga vote.


Terimakasih semuanya,,


__ADS_2