Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 100


__ADS_3

Hening, begitulah suasana di meja makan. Setelah menghela napas panjangnya, Raka menatap ibu dan anaknya secara bergantian yang sama-sama membisu.


“Bu, apakah perjodohan Bian tidak bisa dibatalkan?” tanya Raka untuk memecahkan suasana hening.


Mendengar pernyataan Raka, ibunya langsung mendongak sambil menautkan kedua alisnya. “Kamu kok bertanya seperti itu, Ka? Apakah ada masalah? Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat dengan perjodohan ini? Lalu kenapa tiba-tiba kamu tanya seperti ini?”


Raka menarik napas panjang. Kata-kata Iza masih melekat di dalam pikirannya. Seharusnya Raka tidak begitu gegabah untuk mengambil sebuah keputusan, terlebih untuk masa depan Bian. Karena Bian masih punya mimpi dan mempunyai jalan sendiri.


“Raka berubah pikiran, Bu! Bian masih muda dan perjalanannya juga masih panjang. Sepertinya kita terlalu egois jika memaksakan Bian untuk segera menikah, sekalipun niat kita baik untuk mengubah Bian untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak dengan cara menikah. Biarkan Bian mencari jati dirinya terlebih dahulu. Jika hanya ingin mengubah Bian untuk menjadi lebih baik, kita sekolahan Bian di pesantrennya aja, tanpa harus menikah.”


Bian yang mendengar panjang lebar ucapan ayahnya langsung mengernyit. Entah jin apa yang telah membisiki hati ayahnya sehingga sang ayah tiba-tiba membela dirinya. Dalam hati Bian tertawa puas karena sang ayah berada di pihaknya. Itu artinya sang ayah masih waras.


Begitu juga dengan ibunya Raka yang hampir tidak percaya dengan penjelasan anaknya, dimana tiba-tiba dia berubah pikiran dan memilih mundur dari rencana awal. Toh terjadinya perjodohan juga karena sebuah kesepakatan bersama, tetapi entah mengapa Raka tiba-tiba ingin membatalkan rencana perjodohan antara Sabian dengan Aluna.


“Maksud kamu apa, Ka? Kamu jangan bercanda, deh! Keluarganya pak haji udah setuju kalau putrinya di jodohkan dengan Sabian. Ini kesempatan langka, lho! Pokoknya perjodohan ini akan tetap berjalan!”


Raka hanya menghela napas panjangnya ketika tidak bisa meyakinkan ibunya. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap memperjuangkan pilihan Sabian, sesuai dengan arahan dari Iza.


“Ibu tidak akan memaksa Bian untuk segera menikah asalkan kamu mau menikahi Iza Bagaimana?” tawar ibunya.


Raka dan juga Sabian seketika tersedak saat mendengar nama Iza disebutkan. Terutama dengan Sabian yang mirip-mirip sangat terkejut dengan ucapan neneknya.


Hukkk .. hukkk ...


Sabian langsung mengambil air minum yang ada didepannya.


“Nenek ngomong apa? Ayah disuruh menikahi bu Iza? Enggak! enggak boleh! Sabian enggak setuju!” tolak Bian dengan kuat.


Raka hanya menyessap air putih yang yang ada di tangannya. Tentu saja Sabian akan menolak dengan keras, karena kemarin dia baru saja mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Iza. Namun, sayangnya Iza menolak keinginannya.

__ADS_1


“Kamu kenapa ngotot enggak setuju sih, Bi? Bu Iza itu orangnya baik dan penyayang. Buktinya saja kamu udah merasa nyaman dengannya kan? Lalu apalagi? Tidak mudah lho bisa bertemu dengan orang seperti dia. Bian .... dengerin nenek! Dengan ayah kamu menikahinya, kamu bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu dan tentunya ayah kamu tidak akan pernah merasa kesepian lagi, karena ada teman hidupnya. Apakah kamu tidak kasihan melihat ayah kamu duda karatan?”


Sabian yang benar-benar tidak setuju dengan keinginan neneknya memilih untuk meninggalkan meja makan dan segera berlalu ke dalam kamar. Bahkan karena rasa kesal yang begitu menumpuk di dalam dadanya, Bian membanting pintu kamarnya hingga terdengar sampai di lantai bawah.


Braaaakkkk !!


Raka hanya bisa membuang napas sesaknya. Seharusnya malam ini tidak ada pembicaraan tentang perjodohan di depan Bian.


“Bu ... tolong jangan buru-buru, baik itu tentang perjodohan Sabian ataupun tentang perjodohan Raka dengan Iza! Sabian masih butuh waktu!“ ucap Raka.


Ibunya pun juga menghela napas panjangnya. “Sampai kapan? Sampai kamu tua dan tidak akan ada yang menerimamu lagi? Raka .... Sabian itu sudah dewasa! Sebentar lagi dia 18 tahun. Apakah masih kurang waktunya? Seharusnya anak seusianya sudah bisa berpikir lebih matang. Semua ini salah ibu yang terlalu memanjakannya sehingga dia tidak mempunyai sedikitpun rasa tanggung jawab kepada dirinya sendiri! Sudahlah Raka, ibu capek. Ibu mau istirahat!” Ibunya pun berlalu meninggalkan Raka seorang diri di meja makan.


Raka hanya tersenyum getir. Seharusnya dia yang meninggalkan ibunya, karena telah membuat suasana menjadi panas.


“Huh .... apa-apa ini!” gerutunya yang kemudian juga meninggalkan meja makan.


***


Banyak para tamu undangan yang datang. Mulai teman-teman orang tua Hanafi dan juga rekan guru pun turut hadir dalam acara tasyakuran yang digelar dengan sangat meriah. Tak lupa juga anak-anak yang seiring ngaji dengannya pun ikut diundang untuk meramaikan acara.


Begitu juga dengan Iza yang mendapatkan undangan langsung dari Ais untuk turut hadir dalam acaranya. Dengan berjalannya waktu Ais telah melupakan rasa sakit dalam hatinya mulai berdamai dengan masa lalunya ataupun masa lalu suaminya, karena saat ini dialah masa depan yang sesungguhnya untuk suaminya.


“Ais, apakah Pak Adam benaran akman datang? Kok dari tadi aku nggak lihat ya? Apakah dia sibuk sehingga enggak bisa datang. Huhh ... jadi udah gagal deh mau lita wajahnya pak Adam.” gerutu Jelita yang kini baru saja menghampiri Ais.


Bibir Ais menyunging kecil saat melihat wajah sahabatnya yang semakin teduh, karena semenjak pulang dari rumah Ais beberapa bulan yang lalu Jelita pun memutuskan untuk hijrah dan mulai menutup auratnya sama seperti Ais.


“Berdoa saja, semoga bisa datang. Kemarin si bilangnya mau datang, tapi nggak tahu juga.”


Jelita mengangguk dengan pelan. Meskipun penantiannya gagal, tetapi dia yakin akan ada jalan ninja untuk bertemu dengan Adam. Hanya saja untuk saat ini memang belum ada waktunya.

__ADS_1


Iza dan Raka pun telah tiba di kediaman rumah Hanafi. Tak lupa bayi besarnya pun turut serta karena tidak ingin ditinggal sendirian di rumah. Padahal biasanya dia tidak peduli dengan kesendiriannya di rumah.


Sontak kedatangan Iza pun menjadi pusat perhatian beberapa orang tetangga dan beberapa semua rekan guru yang turut hadir. Mereka sangat terkejut karena Iza datang bersama dengan Raka dan juga Sabian. Banyak pertanyaan yang ingin ditodongkan kepada Iza, tetapi waktunya tidaklah tepat.


“Ais, sekali lagi selamat ya, atas kehamilanmu. Semoga selalu diberi kesehatan dan diberi kelancaran saat waktunya tiba,” ucap Iza pada Ais.


Ais mengangguk dengan pelan. “Iya, terima kasih atas doanya. Ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa?” Mata Ais melirik kearah Raka.


“Oh ini ... kenalin ini Pak Raka, salah satu donatur tetap di sekolahan. Pak Raka, perkenalkan ini Ais, istrinya Pak Hanafi, salah satu guru di sekolahan.”


Raka ikut mengangguk dengan pelan lalu tersenyum pada Ais. “Oh, pantas saja tadi Aku melihat beberapa orang guru yang turut hadir di sini. Ternyata ini acara dari salah satu guru ya. Kenapa tidak bilang sejak awal agar aku bisa menyiapkan hadiah,” ujar Raka.


“Tidak perlu repot-repot, Pak. Dengan kehadiran bapak saja sudah membuat kami bahagia. Tapi untuk sebelumnya saya minta maaf karena Mas Hanaf masih kebelakang. Iza silahkan duduk dan nikmati hidangannya,” timpal Ais.


Namun, pada saat Iza dan jyga Raka beranjak dari hadapan Ais, tiba-tiba saja Sabian mendekat. Betapa terkejutnya Sabian saat melihat Ais dengan perut membuncit. Padahal beberapa bulan yang lalu Sabian mengira jika wanita itu masih singgel, namun ternyata ....


“Ternyata ibu udah nikah ya ... aku pikir masig gadis,” celetuk Sabian saat melihat Ais.


Raka dan juga Iza langsung membulatkan matanya saat mendengar ucapan Sabian.


“Bian!” tegur ayahnya. “Maafkan anak saya ya!” lanjutnya pada Ais yang kemudian menyeret Sabian untuk menjauh.


“Bian! Kamu ini apa-apaan sih? Bukankah tadi dari rumah kamu sudah setuju jika kamu tidak akan aneh-aneh? Kamu ngapain ngomong kayak gitu, Bian? Bikin ayah malu aja!” gerutu ayahnya setelah menjauh dari keramaian.


“Ayah apaan, sih! Bian kan cuma terkejut aja karena beberapa bulan yang lalu ibu itu ke sekolahan dan belum terlihat hamil. Lagain apa salahnya cuma ngomong seperti itu. Iya kan, Bu?” Sabian meminta dukungan dari Iza.


Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, enggak apa-apa.”


“Tuh, dengerin Yah!” Sabian pun langsung meninggalkan ayahnya dan menuju ke tempat hidangan, karena ditempat itu banyak berbagai macam makanan yang telah disediakan. Sayang jika hanya dilihat tanpa dicicipi.

__ADS_1


...###...


[ masih lanjut enggak? tapi kalaupun lanjut, akan fokus pada Iza, Bian, sama bapaknya, karena Ais dan Hanafi udah bahagia. ]


__ADS_2