
Satu Minggu telah berlalu. Tak terasa ujian akhir semester juga telah usai dan hanya tinggal menunggu hasilnya. Dalam masa ini tentu saja Hanafi sangat sibuk, hingga dia tidak bisa menjemput Ais, karena harus segera menyiapkan rapor yang akan dibagikan dalam waktu dekat. Beruntung saja Ais bisa memahami keadaan suaminya sekalipun dia sendiri sedang ingin diperhatikan.
Kehamilannya kadang membuat mood-nya naik turun, tetapi dia berusaha untuk tetap mengendalikan diri agar tidak membenahi suaminya. Dan untuk mengusir kejenuhannya Ais sering ikut pulang ke rumah Jelita, untuk sekedar main sebelum suaminya pulang.
Siang ini Ais telah berada di rumah Jelita. Entah sudah berapa kali singgah ke rumah sahabatnya itu tetapi tak satupun dia pernah melihat foto Jelita dipajang di rumah itu. Yang sering Ais lihat hanya foto kakak laki-laki dan juga foto orang tuanya. Ais tak ingin berburuk sangka, mungkin saja Jelita memang tidak suka di foto karena tidak percaya diri.
“Lit, aku ke kamar mandi dulu ya,” pamit Ais.
“Iya. Kamu tahu kan di mana letak kamar mandinya?”
Ais mengangguk dengan pelan, “Iya, aku tahu.”
Ais pun segera terlalu ke kamar mandi karena dia sudah tidak tahan lagi untuk menahan air kencing yang sejak tadi ditahannya.
Rumah Jelita besar yang besar dan luas, tetapi setiap kali Ais ke singgah, sama sekali dia belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Jelita. Dalam hati Ais hanya bisa membatin mungkinkah orang tua Jelita benar-benar orang pekerja keras sehingga tidak mempunyai sedikit waktu untuk duduk di rumah.
Setelah keluar dari kamar mandi, mata Ais langsung menyapu setiap sudut rumah itu. Ais hanya mampu men-sholawati rumah Jelita, berharap kelak di kemudian dia juga bisa memiliki rumah yang besar untuk ditinggali bersama dengan keluarga kecilnya. Namun, mata Ais tertuju pada salah satu bingkai foto yang menurutnya tidak asing. Ais berusaha mendekat untuk melihatnya dengan jelas.
“Ini kok mirip banget sama Lita, ya? Cuma bedanya yang di foto cantik enggak punya tompel dan enggak pakai kacamata. Apakah ini kembaran Lita? Tapi Lita tidak pernah mengatakan jika dia mempunyai kembaran,” gumam Ais.
Rasa penasaran itu kian besar, hingga Ais memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang pembantu di rumah itu.
“Mbak ... Mbak ... ” panggil Ais saat melihat salah satu wanita yang bekerja di rumah Jelita.
Dbak-mbak yang dipanggil oleh Ais segera mendekat dan bertanya, “Mbak, ini foto siapa, kok mirip sama Lita? Apakah Lita punya kembaran? Kok aku enggak pernah lihat?”
Emak-emak hanya mesem saat mendengar pernyataan Ais. “Non Lita enggak punya kembaran. Dan itu adalah fotonya Non Lita.”
__ADS_1
Bola mata Ais langsung membulat dengan lebar mendengar penjelasan dari embak-embak itu. Bagaimana bisa foto yang sedang berada di tangannya itu adalah Jelita. Jelas-jelas jika yang ada di dalam foto tidak memiliki tompel, sedangkan Jelita memiliki tompel di pipinya.
Rasa penasaran semakin membubung tinggi membuat Ais memutuskan untuk bertanya secara langsung kepada Jelita sambil membawa bingkai bingkai fotonya.
Terlihat Jelita sedang memainkan ponselnya di atas sofa. Eengan cepat Ais menyodorkan bingkai itu ke depan wajah Jelita.
“Lit, apakah ini adalah foto kamu?”
Jelita yang melihat fotonya telah berada di tangan Ais langsung mendelik dengan lebar sambil menelan kasar ludahnya. Jelita tidak menyangka jika Ais akan menemukan salah satu foto miliknya.
“Maa—maksud kamu apa, Ais? Ini bukan fotoku!” kilah Jelita dengan gugup.
“Benarkah? Tapi kata embak-embak tadi ini adalah foto kamu. Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu? Lita, aku hanya ingin bertanya apakah ini benar-benar fotomu atau bukan?”
Jelita terdiam untuk beberapa saat. Helaan panjang juga terdengar begitu berat. Matanya pun langsung menatap Ais dengan lemah. “Iya, ini adalah aku.”
"Masya Allah, Lita,” gumam Ais setelah melihat wajah asli dari sahabatnya. Hampir 10 bulan Ais berteman baik dengan Jelita, tetapi dia sama sekali tidak menyadari jika Jelita menyembunyikan wajah aslinya. “Kamu kenapa menyembunyikan wajah aslimu?”
“Ais, maaf jika aku telah menyembunyikan kebenaran ini. Aku sengaja mengubah diriku menjadi jelek, karena aku merasa lelah karena terus dimanfaatkan oleh orang-orang sekitar. Terutama orang yang aku cintai.”
Cerita pun langsung menceritakan alasan apa yang membuat dirinya memilih untuk mengubah wajahnya menjadi jelek. Semua itu dilakukan untuk melihat sifat asli dari orang-orang yang hanya mau memanfaatkan dirinya saja. Dan terlihat dengan jelas ketika tak ada yang mengenalinya, satu persatu dia mulai tahu bagaimana sifat asli mereka, terutama sifat asli pria yang pernah berpacaran dengannya. Dengan menggunakan wajah jeleknya, Jelita bisa melihat dengan jelas perselingkuhan pacar dan sahabatnya sendiri. Sungguh menyakitkan, hingga Jelita enggan untuk menunjukkan wajahnya aslinya lagi.
Ais yang tersentuh dengan cerita sahabatnya langsung memberikan sebuah pelukan untuk menenangkan dan memberikan sedikit kekuatan. Ternyata masih banyak di luaran orang yang terus nyakitin hanya karena cinta. Hanya saja dengan jalan yang berbeda.
“Lita, kamu harus kuat. Kenyataan itu kadang memang menyakitkan. Jika kita tidak bisa bertahan, kita akan hancur. Sekarang kamu tidak akan sendirian, karena akan ada aku disisimu. Bukankah kita sahabat? Bukankah kita sudah sepakat untuk berbagai cerita? Lita, lupakan masa lalu yang menyakitkan dan tataplah masa depan, karena didepan sana ada sebuah kebahagiaan yang sedang menantinya.”
Cukup lama Ais menghabiskan waktunya bersama dengan Lita, hingga tak terasa hari juga sudah mulai sore. Beberapa panggilan dari suaminya sempat terabaikan karena ponsel Ais dalam mode silent sehingga tidak mendengar jika ada panggilan masuk. Sudah bisa ditebak jika saat ini suaminya sudah pulang.
__ADS_1
“Lit, aku pulang dulu ya! Kayaknya Mas Hanaf udah pulang,” pamit Ais.
Jelita mengangguk dengan pelan. “Iya, hati-hati di jalan, ya!”
Namun, sebelum Ais benar-benar keluar, Jelita memohon kepada Ais untuk tetap merahasiakan apa yang saat ini sedang disembunyikannya, karena Jelita masih belum siap untuk tampil sebagai Jelita yang lama.
“Ais, tolong jaga rahasia ini sampai aku benar-benar siap untuk kembali,” pintanya.
“Kamu tenang saja aku pasti akan menjaga rahasia ini dengan baik. Lita, percayalah jika rencana Allah itu lebih indah. Jadi kamu harus yakin Allah sedang menyiapkan rencana yang indah untukmu. Hanya saja kamu harus bersabar hingga waktu itu tiba.”
Lagi-lagi Jelita mengangguk dengan pelan. Dia bener-bener merasa bersyukur ditemukan dengan Ais yang begitu baik padanya. Bahkan saat tak ada satupun orang yang mau mendekat, Ais adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. Mungkinkah ini juga bagian dari rencana Allah?
Sebenarnya jarak tempuh dari rumah Jelita ke rumah hanya memakan waktu lima belas menit. Namun karena mata Ais ternoda dengan penjual jajanan di pinggir jalan, dia harus membutuhkan banyak waktu Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi yang pasti Hanafi akan mendumal, karena Ais telat.
“Pak, tolong berhenti sebentar ya saya ingin beli dulu!” pintanya pada pak sopir.
“Baik, Buk.”
Jajan yang jarang dia dapatkan dari suaminya, karena saat Ais meminta, Hanafi tidak mengizinkan dengan alasan itu makan tidak sehat.
“Sepertinya aku tidak boleh membawa makanan ini pulang ke rumah, jika tidak ingin mendapat ceramah dari Mas Hanaf. Maaf Mas untuk kali ini Ais tidak bisa menahan diri untuk jajan di pinggir jalan.”
“Pak, jalannya pelan-pelan ya. Soalnya saya mau abisin makanan ini. Nanti kalau sampai ketahuan suami saya, dia pasti akan mendumal,” pinta Ais. “Nanti saya tambahin tipnya.”
...###...
( Didalam cerita ini enggak hanya fokus sama Ais dan juga Hanafi, ya! Akan ada cerita Iza dan juga Bian. Ada juga Jelita dan juga Adam. Kenapa cerita ini jadi satu? Karena othor lagi males buat judul baru. Jadi mohon dukungannya ya 🙏 Untuk yang sudah memberikan vote, bunga dan kopi, othor ucapin makasih banyak 🥰 )
__ADS_1