
Karena tidak sedang enak badan Hanafi melarang Ais untuk masuk kuliah. Dia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi.
“Ais aku tidak bisa izin, jadi maaf aku tidak bisa menemanimu di rumah. Nanti aku minta tolong ibu untuk datang kesini lagi. Jika rasa mualnya tidak juga berkurang, sepulang sekolah kita ke rumah sakit,” ucap Hanafi sebelum berangkat.
“Iya, Mas. Enggak apa-apa. Maaf ya aku enggak bisa menyimpan bekal untukmu, karena perutku terus bergejolak jika mencium aroma makanan.”
Hanafi mengangguk pelan. Dia sama sekali tidak keberatan saat Ais tidak bisa menyiapkan tempat untuknya karena memang keadaan dia sedang tidak sehat. Dan untuk pagi ini Hanafi-lah yang menyiapkan sarapan pagi serta membereskan rumah yang sedikit berserakan.
“Engak apa-apa. Kan kamu lagi enggak enak badan. Kamu istirahat aja nggak usah pikirin masalah rumah, aku bisa mengatasinya, kok. Oh iya ... nanti kalau sakitnya tambah parah kamu telepon ya!”
“Iya, Mas.”
Ais pun mengantar Hanafi sampai ke depan pintu. Seperti biasanya Ais selalu mengalami tangan Hanafi sebelum mereka berpisah untuk melakukan aktivitasnya.
“Assalamualaikum,” kata Hanafi.
“Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas!”
Sepeninggal Hanafi ke sekolahan, Ais langsung menutup pintu dan memutuskan untuk mendekam di kamar karena perutnya masih terus bergejolak, terlebih dia baru saja menemani Hanafi sarapan. Sebenarnya Ais ingin muntah saat mencium aroma hidangan yang berada di atas meja, tetapi dia menahan karena tak ingin membuat Hanafi khawatir berlebihan.
“Kayaknya asam lambungku lagi, deh!” Ais menghela panjangnya.
Saat ingin menarik lagi selimutnya, tiba-tiba Ais mengingat jika di dalam kulkas masih ada sisa mangga yang dikupas oleh ibu mertuanya. Bahkan sebelum pulang ibu mertuanya menyiapkan sambal rujak. Dengan cepat Ais menyibakkan selimut dan terkekas untuk dapur.
“Ibu tahu aja kalau mangga kayak gini emang enak di cocol sama sambal rujak. Mana dikupasin banyak banget lagi. Semoga saja sayangnya ibu untukku enggak berubah.”
Ais tidak peduli meskipun perutnya sama sekali belum terisi oleh nasi, tetapi dia sudah makan buah mangga yang masam. Karena hanya mangga yang bisa masuk kedalam perutnya.
***
Disisi lain, ibu Hanafi sudah bersiap hendak ke rumah Ais, karena baru saja mendapatkan kabar dari Hanafi jika saat ini Ais sedang beristirahat di rumah sendirian. Tentu saja wanita tengah kaya itu merasa sangat senang karena dia begitu yakin dengan dugaan. Jika Ais benar-benar hamil itu tandanya bibit yang dimiliki oleh Hanafi sangatlah unggul. Buktinya saja belum ada dua bulan setelah menikah, bibitnya sudah jadi.
“Tumben pagi ini bersemangat, Bu? Apakah memang arisan?” tanya suaminya.
__ADS_1
“Emangnya hanya menang arisan aja yang bisa membuat ibu bersemangat? Bapak salah besar!”
“Terus apa, dong? Biasanya kan seperti itu!”
“Sudahlah, Pak. Nanti bapak juga tahu. Pokoknya ini akan menjadi sebuah kejutan besar.”
“Tersera Ibu aja, lah! Jadi sekarang kita mau ke mana?”
Ibu Hanafi langsung menyebutkan kita sebelum ke rumah Ais dia ingin tinggal sebentar ke toko buah untuk membeli buah-buahan yang segar, karena menurut pengalamannya dulu saat dia sedang hamil muda bawaannya ingin makan buah-buahan yang segar.
“Emangnya Ais sakit apa, Bu? Kata Hanafi dia terus muntah-muntah.” tanya suaminya ditengah-tengah perjalanan.
“Biasalah penyakit kayak gitu emang seringkali menyerang pengantin baru. Anginnya masuk karena tiap malam nggak pernah pakai baju.”
Sang suami pun mengangguk dengan pelan. “Oh ... jadi sama kayak penyakit Ibu dulu ya. Apakah anak kita bisa melakukan setiap malam? Bapak enggak yakin, karena dia terlalu pemalu.”
“Bapak terlalu meremehkan Hanafi. Meskipun terlihat malu-malu seperti itu tetapi Hanafi itu pria normal, Pak. Buktinya saja saat ini bibitnya udah menetas.”
“Menetas?” cicit suaminya. “Jadi maksud ibu sekarang Ais sedang hamil?”
“Wah ... syukur Alhamdulillah kalau Ais memang benar-benar hamil, Bu. Jadi dengan begitu segala tuduhan yang diberikan oleh mantan mertuanya itu bisa ditampik. Mudah-mudahan aja Ais benar-benar hamil, ya.”
Kebahagiaan pun juga dirasakan oleh bapak mertua Ais. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Ais, tetapi dia juga sangat menyayangi menantunya. Karena saat melihat Ais, dia akan langsung mengingat adik Hanafi yang telah tiada.
***
Mata panda terlihat begitu jelas di wajah Hanafi, karena hampir satu malaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semua itu karena tubuh Ais yang demam, sehingga dia harus terjaga dan mengompres Ais.
“Selamat pagi Pak Hanaf,” sapa salah seorang guru yang berpapasan dengannya.
“Selamat pagi juga.”
Tak berselang lama dia pun berpapasan dengan Iza yang hendak menuju ke kelasnya.
__ADS_1
“Hanafi ... kamu kenapa? Sakit?” tanya Iza, yang melihat wajah Hanafi terlihat pucat.
“Eh Iza ... Aku enggak apa-apa, kok. Cuma kurang tidur aja, karena tadi malam nungguin Ais yang demam.”
Seketika Iza langsung menunduk. Dengan senyum tipis dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas, sementara Hanafi pun melanjutkan kembali langkahnya untuk ke ruang guru.
“Assalamualaikum selamat pagi anak-anak ibu,” sapa Iza saat pertama kali masuk ke dalam ruang kelas.
“Waalaikumsalam Ibu guru.”
“Bu ... sejak kapan ibu nikah sama bapak-bapaknya kami? Emangnya ibu sanggup menjadi madu ibu kami?” celetuk salah seorang siswa dari arah paling belakang. Seketika kelak tawa pun memenuhi kelas.
Iza hanya menggelengkan kepalanya sambil membuang napas kasar. Sekalipun Iza menyapa dengan sebutan anak-anak berarti dia menikahi bapak-bapak mereka. “Udah, stop! Coba mana suaranya yang bicara seperti itu!”
Hanya dalam hitungan detik suara tawa pun meledak dan seketika menjadi hening. Sosok yang baru saja berbicara seperti itu pun ntar ragu-ragu untuk mengangkat tangannya.
“Saya.”
Iza pun langsung mandi saat melihat siapa pelakunya. Ternyata dia adalah orang yang kemarin membuat masalah dengan teman perempuannya.
“Kamu, maju sini!”
Dengan cepat Bian pun berjalan ke depan sesuai dengan perintah gurunya. Diasama sekali tidak merasa takut jika dia akan mendapat hukuman karena baginya hukum itu sudah menjadi makanan pokok untuk dirinya.
“Ibu, mending kalau ibu mau kasih hubungi hukuman, cari yang berat dikit, Bu! Saya sudah capek sama hukuman yang ringan-ringan,” ujarnya.
Iza mengambil napas dan membuangnya perlahan. Memang benar menghadapi menjadi seorang guru harus banyak bersabar dan meredam rasa emosinya karena harus menghadapi berbagai macam sifat dari anak didiknya.
“Mengapa kamu begitu yakin jika saya akan memberikan hukuman kepadamu?” tanya Iza saat Bian telah berdiri di depan kelas.
“Itu sudah lagu lama, Bu. Kalau nggak percaya tanya aja sama teman-teman. Jadi sekarang apa hukuman untuk saya?”
“Tunggu, Ibu pikiran dulu. Sambil ibu berpikir kamu berdiri dulu disitu. Yang lain, baca doa dan setelah itu buka buku pelajaran kalian!”
__ADS_1
...###...
Halo semuanya ... lama tidak menyapa kalian semua. Semoga saja kalian baik semua ya. 😊 Sambil nunggu bab ini update lagi boleh dong bagi bintang Lima-nya untuk novel ini. Soalnya dari seribu yg masukkan ke daftar favorite hanya 51 orang yg kasih bintang lima 😔 Dilarang memberikan bintang selain bintang lima. Jika tidak suka dengan alurnya, dengan sangat memohon tolong jangan berikan rate rendah ya 🙏 Semoga yang memberikan rate lima ⭐⭐⭐⭐⭐ selalu di mudahkan segala urusan. Aminn 🤲