Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 59


__ADS_3

Seperti biasa, setelah pulang mengajar Hanafi langsung Ais di kampusnya. Dia harus bersabar, meskipun harus menunggu satu jam lamanya untuk menunggu sang istri pulang, karena akhir-akhir ini jam kuliah Ais mulai bertambah.


Bagi Hanafi satu jam hanya seperti satu menit, karena Hanafi menunggu sambil tidur di mobil.


Ketukan kaca terdengar dan membuat Hanafi langsung membuka pintu mobil agar sang istri bisa langsung naik ke mobil.


“Mas Hanaf udah lama?” tanya Ais setelah masuk kedalam mobil.


“Gak kok, mungkin cuma sekitar satu jam.”


“Apa? Satu jam? Kan tadi Ais udah bilang kalau Ais bakalan pulang lama. Seharusnya Mas Hanaf langsung pulang aja tadi dan istirahat di rumah. Ais bisa pulang naik ojek.”


“Udah, enggak usah banyak protes. Pasang yang benar saat pengamannya!”


Ais pun langsung memasang sabuk pengaman karena mobil perlahan sudah mulai berjalan. Ais hanya bisa menghalangi napas panjang, karena terasa sangat lelah. Bahkan matanya terasa sangat berat, tetapi Ais mencoba menahan agar dia tidak tidur, karena jika eia tidur dalam hitungan menit kepalanya akan terasa sakit. Padahal dulu Ais sering tidur di mobil dalam hitungan menit tetapi dia baik-baik saja. Mungkin saat ini daya tubuhnya sedang turun dan mudah lelah.


“Mas, kita mampir ke Mixue, ya!” pinta Ais dengan pelan.


“Mixue?” cicit Hanafi yang merasa heran, karena selama ini Ais tidak pernah mau jika diajak ke tempat itu. Entah angin apa yang membuat Ais mengajaknya untuk singgah ke sana. Dengan sebuah anggukan kecil, Hanafi mengiyakan permintaan Ais. “Baiklah, kita akan singgah Mixue. Tumben, ada angin apa?”


Ais hanya menggelengkan kepalanya karena dia tidak tahu mengapa tiba-tiba dia ingin singgah ke Mixue. Hanya saja dalam bayangannya dalam cuaca panas enaknya makan yang dingin-dingin. Dan bayangan es krim yang ada di Mixue muncul dalam pikiran Ais.


“Enggak tahu, Ais cuma pengen aja.”


Dan tak berapa lama mobil Hanafi pun telah sampai di depan sebuah toko dengan tulisan Mixue. Dengan cepat dia turun dan membukakan pintu untuk sang istri.


“Ayo!” kata Hanafi.


“Mas Hanafi yang turun ya! Ais nunggu sini aja. Males mau turun, panas banget,” ujar Ais saat enggan untuk turun.

__ADS_1


“Panas?” cicit Hanafi dengan heran, padahal saat ini dia berada di parkiran yang teduh. “Panas darimana? Ini tempat yang teduh. Bahkan jalan untuk masuk aja teduh, Ais!”


“Pokoknya Ais tunggu disini. Jangan lama-lama ya, Mas.” Senyum Ais mengembang lebar sambil mengedipkan matanya untuk merayu Hanafi.


“Iya, iya. Tapi jangan marah kalau lama ya! Kamu tahu sendiri kan kalau di Mixue ini ngantri lama!”


Ais pun hanya mengangguk dengan pelan. “Iya, iya, Mas! Ais tahu. Udah buruan sana!”


Bukan hal yang baru jika berada di Mixue harus sabar untuk menghadapi antrian para pembeli. Dan itulah satu-satunya yang menjadi alasan Ais tidak pernah mau jika diajak untuk singgah ke Mixue. sudah hampir lima belas menit Ais bersabar untuk menunggu kedatangan Hanafi tetapi, tak kunjung juga sang suami keluar dari toko itu.


“Heran, deh! Ngapain juga tadi aku minta es krim di sini sih? Padahal udah tahu ngantrinya bisa salah satu jam!” Ais merutuki keinginan yang secara tiba-tiba menginginkan es krim.


Karena sudah tidak mood, Ais mencoba untuk menghubungi suaminya untuk mengatakan jika dia sudah tidak menginginkan es krim lagi. Namun, terlambat karena saat ini Hanafi terlihat keluar dari toko dengan membawa satu buah es krim yang menjulang tinggi.


“Ais, maaf lama. Di dalam banyak antrian. Ini es krimnya.” Hanafi langsung menyadarkan es krim yang bertanya kepada Ais, tetapi karena Ais sudah tidak menginginkan es krim itu dia menggelengkan kepala.


“Buat Mas Hanaf aja, Ais udah gak pengen.”


“Enggak. Ais nggak marah hanya saja rasanya udah nggak pengen lagi untuk makan es krim. Kayaknya enak deh kalau makan bakso. Cari bakso aja ya, Mas. Ais juga udah lama nggak makan bakso.”


“Terus ini gimana?” Hanafi menatap nananr pada es krim yang ada di tangannya.


“Ya udah, mas Hanaf makan aja,” kata Ais seolah tanpa rasa bersalah.


***


Hanafi yang mendapatkan kabar dari Ais jika saat ini dia sudah berada di rumah langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran karena saat ini masih pukul sembilan pagi, tetapi mengapa Ais sudah berada di rumah. Rasanya ingin pulang untuk memastikan tentang keadaan Ais, tetapi saat ini dia masih mengajar dan tidak mungkin untuk meninggalkan kelasnya.


Perasaannya semakin lama semakin tidak enak, terlebih saat ini Ais berada di rumah sendirian. Bagaimana jika Ais membutuhkan sesuatu? Karena Hanafi cukup mengkhawatirkan keadaan sang istri, dia pun memutuskan menghubungi ibunya agar ke rumahnya untuk melihat keadaan Ais. Hanafi takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Ais.

__ADS_1


“Pak, Bapak baik-baik saja?” tanya seorang siswa yang sejak tadi memanggil, tetapi Hanafi tidak meresponnya.


“Ah, iya. Ada apa?”


“Kami sudah siap mengerjakan tugasnya. Apakah kami sudah bisa langsung istirahat?”


Helaan napas berat terdengar sangat panjang. Hanafi pun mengangguk dengan pelan. “Iya, bagi yang sudah selesai mengerjakan tugasnya silakan beristirahat. Dan bagi yang belum selesai selesaikan dulu sampai bel berbunyi.”


Terlihat beberapa siswanya maju ke depan untuk mengumpulkan lembar tugas yang baru saja mereka kerjakan, tetapi ada pula yang masih mengerjakan karena belum selesai. Hanafi pun masih menunggu beberapa murid yang belum selesai karena memang waktu istirahat belum tiba. Pikiran semakin tidak tenang ketika mendapat pesan dari ibunya jika Ais terus menerus muntah.


“Apakah Ais ada salah makan? Mengapa dia muntah-muntah, padahal tadi pagi kami sarapan dengan menu yang sama, tetapi aku baik-baik saja. Apakah Ais ada membeli makanan dari laur?” gumam Hanafi sambil menghela napas panjangnya.


Untuk hari ini selama mengajar Hanafi tidak konsen dan sering mendapat teguran dari siswanya karena sering melamun.


“Hanaf, kamu sakit?” tanya Iza saat berpapasan dengan Hanafi.


Hanafi menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, aku tidak sakit.”


“Lalu? Apakah Ais marah saat mengetahui kamu membantuku?”


Lagi-lagi Hanafi menggelengkan kepalanya. “Tidak juga. Ais tidak marah, asalkan aku tahu batasannya.”


“Oh .... ” Seketika Iza langsung terdiam. Seharusnya dialah yang harus tahu batasan untuk tidak mendekati Hanafi, karena hanya akan membuat sebuah kesalahpahaman.


“Lalu kenapa kamu terlihat seperti sedang ada masalah? Kamu bisa cerita sama aku, siapa tahu aku bisa membantumu.”


Hanafi tersenyum kecil. “Iza, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang mengkhawatirkan Ais yang sedang sakit di rumah. Kata ibu sejak tadi muntah-muntah. Aku hanya takut jika dia sedang keracunan.”


“Oh ... mungkin Ais hanya masuk Angin. Aku juga sering seperti itu. Atau mungkin Ais mempunyai riwayat penyakit asam lambung dan dia telat makan, akhirnya kambu.”

__ADS_1


“Bisa jadi. Akhir-akhir ini Ais memang jarang sarapan di rumah karena dia mengejar waktu agar tidak telat masuk kuliah.”


...###...


__ADS_2