
Ketukan pintu membuat Sabian hanya menghela napas panjangnya. Baru saja ingin tidur ada saja orang yang menggangunya. Saat Sabian memilih untuk mengabaikan, pintu itu terus diketuk.
“Siapa, sih?” gerutu Sabian dengan kesal. Karena merasa penasaran, Sabian langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu. Betapa terkejutnya Sabian ketika melihat wajah gurunya telah tepat di hadapannya.
“Bu Iza ..... ” Bola mata Sabian membulat dengan lebar.
“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Iza langsung.
“Ibu ngapain kesini? Bukanya tadi bilang lagi sibuk?”
“Sebenarnya iya, tapi demi kamu. Sekarang kenapa? Ada apa? Apa kamu buat ulah lagi?”
Sabian pun langsung ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Meskipun tak ada kata menyilahkan Iza untuk masuk, tetapi wanita tetap masuk untuk mendengarkan keluh kesah muridnya itu.
“Sekarang mau cerita apa? Kalau enggak ada, ibu mau pulang. Ibu masih punya pekerjaan yang harus ibu selesaikan.”
Bian menarik napas panjangnya dan kemudian menatap Iza yang berdiri di sampingnya. “Bian enggak mau di jodohkan!”
Iza hanya mengernyit. Dia sudah tahu jika saat ini Bian telah dijodohkan oleh anak dari seorang pemilik pesantren yang lumayan besar di kotanya. “Kenapa?”
“Bu, ini bukan zaman Siti Nurbaya! Udah enggak jamannya lagi zaman jodoh-jodohan! Aku berhak punya pilihan, Bu! Pokoknya aku enggak mau dijodohkan dengan perempuan itu! Mau diletakkan dimana harga diriku saat bersanding dengan anaknya pak haji, sementara ilmu agama aja hanya setipis tisu! Pokoknya Bu Iza harus membujuk ayah dan nenek untuk membatalkan perjodohan ini!”
Iza sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa tentang perjodohan Bian, karena itu adalah urusan keluarganya, sedangkan Iza hanya orang lain yang memang telah diberi kepercayaan untuk ikut mendidiknya. Namun, sebenarnya Iza juga tidak setuju dengan perjodohan, karena Bian memang berhak untuk menentukan sendiri pilihan. Iza hanya tidak ingin apa yang pernah dialami akan dialami oleh Bian juga. Sakit rasanya ketika harus menikah tanpa dilandasi dengan rasa cinta.
“Bagaimana kalau ku nikahi Bu Iza aja biar perjodohan ini batal. Bu Iza mau kan?”
__ADS_1
Seketika Iza langsung membulatkan matanya dengan lebar. “Bian ... ini tidak lucu!” ucapnya sambil tertawa pelan.
Bian mulai menatap Iza dengan tatapan mendalam. Mungkin terdengar lucu, tetapi hanya dengan cara itu Bian bisa terlepas dari perjodohannya dengan Aluna. “Apanya yang lucu? Aku sedang tidak bercanda, Bu! Aku serius!” tegasnya.
Kepala Iza menggeleng dengan pelan. Tetap saja dia merasa lucu dengan keinginan Bian, sedangkan selama ini Iza telah menganggapnya sebagai seorang anak, karena perbedaan usia mereka yang terpaut 11 tahun. Dan rasanya tidak mungkin jika mereka berdua menikah.
“Bian ... ibu tahu hati kamu masih labil, jadi kamu belum bisa memahami isi hatimu yang sebenarnya. Saat ini kamu masih mengikuti apa yang kamu pikirkan. Bian ... sebenarnya Ibu tidak setuju dengan perjodohan, tapi mungkin nenek kamu telah memikirkan dengan sangat matang. Ibu percaya semua ini juga demi kebaikan kamu. Toh nikahnya kan masih lama,” komentar Iza yang sama sekali tidak terpengaruh dengan permintaan Bian.
“Jadi jawaban ibu enggak mau ku nikahi?”
Bibir Iza tersenyum tipis dan berusaha untuk tidak melukai hatinya Bian, karena Iza tahu yang saat ini dibutuhkan oleh Bian itu adalah kasih sayang yang tulus.
“Bian ... ibu sudah menganggapmu seperti anak ibu sendiri, lalu bagaimana ibu bisa menikah denganmu? Namun, sekalipun ibu tidak mau menikah denganmu, bukan berarti Ibu tidak menyayangimu. Ibu tetap menyayangimu sebagai anak ibu. Kamu masih muda, Bian. Tak seharusnya ada perjodohan seperti ini, karena kamu berhak bahagia dengan jalan sendiri.”
“Argh ... sudahlah, Bu! Percuma saja ibu datang kalau enggak bisa membantu untuk menyelesaikan masalah ini! Pulang sana! Jangan lupa tutup pintunya!” usir Bian dengan rasa kesalnya.
“Baiklah, ibu pulang. Enggak usah kamu pikirkan terlalu mendalam tentang perjodohanmu. Jalani aja seperti biasa dan yang paling penting tetaplah berdoa untuk meminta petunjuk dari Allah,” pesan Iza sebelum meninggalkan kamar Bian.
Siapa yang menyangka saat keluar dari kamar Bian, sosok ayah Bian telah berdiri di samping pintu kamar Bian. Tubuhnya masih membeku saat mendengar pengakuan anaknya yang ingin menikahi gurunya itu. Bahkan dia sempat menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa memahami perasaan anaknya dan malah memaksa Bian untuk menerima Aluna sebagai calon istrinya kelak.
“Pak Raka ... ” Iza terkejut saat melihat ayah Bian di samping pintu. “Pak Raka sedang apa disini? Apakah Pak Raka sedang menguping?”
Mata Raka menatap Iza dengan dalam. Entah magnet apa yang ada di tubuh wanita itu sehingga mampu untuk menariknya jatuh cinta. Dan bukan hanya dia saja yang tertarik dengan magnet di tubuhnya, sang anak pun juga ikut tertarik. Bahkan Raka kalah cepat dari Bian yang terang-terangan telah berani untuk mengajak wanita itu menikah, ya meskipun pada akhirnya tidak diterima.
“Ah tidak! Aku baru saja sampai. Gimana dengan Bian? Apakah dia sedang dalam masalah?”
__ADS_1
“Pak Raka .... bisa kita berbicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku katakan dan itu mengenai Bian.”
“Ya udah ayo kita bicara di ruang kerja.”
****
Sebenarnya Ais sudah disuruh untuk mengambil cuti, mengingat perutnya sudah besar dan seringkali merasakan kelelahan. Namun, Ais belum ingin mengambil cutinya jika belum mendekati waktu melahirkan. Jika Ais mengambil cuti lebih awal, dia hanya akan merasa bosan di rumah sendiri saat ditinggal oleh suaminya bekerja.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Hanafi saat melihat Ais tengah membereskan tempat tidur.
“Alhamdulillah semua baik-baik aja, Mas.”
“Syukurlah kalau begitu. Sekali lagi aku minta maaf karena enggak bisa nganterin kamu cek up. Lain kali aku akan usahain untuk bisa antarin kamu.”
Bibir Ais tersenyum kecil saat merasakan pelukan hangat dari belakang. Perlahan gerakan tangan mulai melingkar di perut dan mulai mengelus dengan lembut untuk menyapa bayinya yang masih berada di dalam perut.
“Assalamualaikum, Sayang. Maafkan ayah ya, tadi siang benar-benar tidak bisa mengantarkan bundamu untuk memeriksa keadaanmu. Ayah berjanji lain kali akan berusaha untuk mengantarkan Bundamu. Rasanya ayah sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan di dunia. Tapi kelak jika kamu telah lahir, jangan ambil bunda sepenuhnya ya! Karena bunda juga milik ayah.”
Ais menahan tawanya. Bagaimanapun untuk beberapa bulan pertama yang pasti Ais akan menjadi milik anaknya seutuhnya. Terlebih calon baby-nya adalah twins. Sudah bisa dipastikan waktu Ais hanya akan digunakan untuk mengurus baby-nya. Namun, sebagai seorang istri Ais tidak akan melupakan kodratnya sebagai sosok istri yang tetap harus mengutamakan suaminya.
“Masa iya, bapaknya enggak mau ngalah, sih?” cibir Ais.
“Ya .... gimana lagi, kalau enggak ada bapaknya mana mungkin ada anaknya. Jadi apapun yang terjadi, bapaknya harus tetap mendapatkan bagiannya. Kan enggak adil udah dibantu buatin ujung-ujungnya diabaikan.”
“Iya ... iya ... enggak bakalan diabaikan kok.”
__ADS_1