Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 60


__ADS_3

“Assalamualaikum.” Hanafi mengucapkan salam saat dia masuk ke dalam rumahnya. Terasa hening tak ada jawaban salam dari dalam, membuat Hanafi langsung bergegas untuk menuju kamarnya. Dia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Ais.


“Assalamualaikum,” ucap Hanafi saat masuk ke dalam kamar. Dilihatnya sang ibu yang sedang mengupaskan buah mangga untuk Ais, sementara itu Ais hanya terbaring diatas tempat tidur.


“Wa'alaikumsalam,” jawab kedua wanita itu secara serempak, sambil menoleh kearah Hanafi yang masuk ke dalam kamar.


“Ais, bagaimana keadaanmu? Kita ke rumah sakit ya.” Hanafi benar-benar sangat khawatir kepada Ais yang terlihat sangat lesu.


“Ais enggak apa-apa kok, Mas. Mungkin cuma kecapekan aja karena beberapa hari terakhir ini jadwal kuliahnya sang padat. Gak usah ke rumah sakit, ini juga udah mendingan.”


“Bu, kok Ais malah dikasih makan mangga, sih? Gimana kalau Ais punya riwayat penyakit asam lambung? Apa enggak bahaya?” Hanafi memprotes sang ibu.


“Tapi Ais sendiri yang minta. Ibu hanya membantu untuk melepaskan saja,” jawab sang ibu.

__ADS_1


“Mas Hanaf, jangan salahkan ibu. Ini memang murni keinginan Ais. Tadi tuh pas Ais diantar pulang oleh Jelita, Ais lihat ada buah mangga di pinggir jalan. Karena Ais pengen, Ais petik minta aja. Alhamdulillah yang punya pohon mangga orangnya baik. Ais dikasih satu kantong plastik. Tuh sisanya ada didalam kulkas,” ujar Ais.


Hanafi membuang napas kasarnya, di saat dia sedang mengkhawatirkan keadaan istrinya, tetapi sang istri sama sekali tidak mempedulikan keadaan dirinya sendiri.


“Ais, kamu itu sedang sakit perut. Enggak lagu jika kamu akan buah yang masam seperti ini. Bu, ibu ini gimana sih? Udah tahu Ais muntah-muntah malah ibu kupasin mangga! Sini!” Hanafi mengambil paksa mangga yang belum selesai dikupas oleh ibunya. Dia idak mengizinkan Ais untuk makan buah mangga yang dianggap masam.


“Hanaf ... kamu itu terlalu protektif. Santai sedikit kenapa sih? Ibu ini pernah muda dan pernah menjadi pengantin baru, jadi ibu tahu apa yang sedang dialami oleh Ais. Selain melayani suami tercinta dia juga harus mengurus rumah sebelum berangkat kuliah. Belum lagi tugas kuliah yang menumpuk. Jadi kamu sebagai seorang suami, jika melihat istrimu kelelahan, segera bantu dia. Tidak akan menurunkan derajat sebagai kepala rumah tangga hanya karena membatu istrinya di dapur, karena itu adalah tugas bersama. Tapi kalau kamu tidak mau membantunya, ya kamu jangan bikin dia capek. Ngerti kan?” oceh ibunya panjang lebar.


“Lho, kalian kok malah bengong. Apakah ucapan ibu ada yang salah?” tanya ibunya Hanafi yang merasa heran pada anak dan menantunya yang saling membeku.


“Enggak. Ucapan ibu enggak ada yang salah,” timpal Hanafi.


“Nah ... kalau ucapan ibu enggak ada yang salah berati setiap malam kamu membuat Ais kelelahan, kan? Hanafi ... ibu tahu bagaimana rasa yang menggebu dalam hatimu, tapi kamu juga harus memikirkan tentang tenaga Ais yang tidak seberapa. Ibu enggak mau tahu, pokoknya kamu juga harus ikut andil dalam menata dan membersihkan rumah ini. Kalau enggak sanggup, mending Ais pulang aja ke rumah ibu.”

__ADS_1


Hanafi pun langsung terbelalak. “Lho, mana bisa gitu? Ais itu istrinya Hanafi, Bu. Jadi dia harus ikut kemanapun Hanafi pergi. Ibu ngerti kan surganya seorang istri ada di telapak kaki suaminya?”


Jika meladeni Hanafi sang ibu tidak bisa menang, untuk melawannya, karena memang apa yang keluar dari mulut ibu Hanafi memang benar apa adanya.


“Ya sudah, berhubungan kamu sudah pulang ibu juga mau pulang. Kasian bapak kamu di rumah sendiri. Bisa-bisa nanti bapak kamu salah masuk. Kan jadi ribet,” ujar Ibunya.


“Ya sudah. Ibu hati-hati di jalan. Makasih udah jagain anak Ais. Oh, iya, kalau ibu mau bawa aja mangganya.


“Eh ... enggak bisa gitu,” cegah Ais. “ Itu punya Ais, jadi tanpa seizin dari Ais, siapapun enggak bisa ngambil buah mangga di dalam kulkas!” ujar Ais.


“Kamu tenang aja Ais, ibu tidak akan meminta apa-apa dari kalian berdua, karena yang Ibu inginkan itu cucu ibu, bukan makanan yang enak.”


Entah mengapa ibu yakin jika saat ini Ais sedang hamil. Ya Allah semoga saja dugaan ini benar, sehingga Ais bisa menampar keluarga Azam.

__ADS_1


__ADS_2