Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 47


__ADS_3

Seperti yang diucapkan oleh Ais jika malam ini Adam pulang. Dan itu artinya mulai kedepannya Ais dan Hanafi tak lagi menunggu rumah Adam, karena sang pemilik sudah pulang.


“Ais, Mas punya sesuatu untukmu. Anggap saja itu adalah hadiah atas pernikahanmu,” ujar Adam saat berada di meja makan.


Kedua alis Ais langsung menaut saat mendengar kata hadiah, karena meskipun Adam sangat menyayangi Ais, tetapi pria itu jarang-jarang akan memberikan sebuah hadiah pada sang adik. Hanya momen-momen tertentu saja Adam mau memberikan hadiah untuk Ais.


“Serius, Mas?”


“Sejak kapan mas tidak pernah serius. Mas selalu serius dengan ucapan Mas. Tuh hadiah kamu masih ada di dalam tas. Nanti setelah makan kamu ambil!” ucap Adam.


Hanafi yang berada satu meja dengan Adam sedikit merasa canggung. Yang awalnya teman biasa, kini menjadi kakak iparnya. Bahkan sekarang Hanafi pun harus memanggil Adam dengan sebutan mas karena Adam adalah kakak dari Ais.


“Sorry Han, aku enggak ada hadiah untuk kamu, karena aku rasa hadiah yang aku berikan untuk Ais juga bermanfaat untuk kamu,” kata Adam pada Hanafi yang berada didepannya.


“Iya, enggak apa-apa,” balas Hanafi dengan senyum kecil di bibirnya.


“Baguslah. Oh iya ... kalian masih mau menginap atau pulang? Kalau mau pulang, aku nitip oleh-oleh untuk Tante Maryam ya. Tapi kalau masih mau nginap disini juga enggak apa-apa. Itung-itung biar rumah enggak sepi.”


Ais dan juga Hanafi langsung bersitatap seolah sedang berkomunikasi lewat pandangan mata, sebelum memberikan sebuah jawaban.


“Kalau Ais sih masih mau nginap disini, Mas. Tapi Ais ngikutin sama Mas Hanaf. Mas Hanaf masih mau nginap atau pulang ke rumah ibu?” tanya Ais pada suaminya.


“Terserah kamu aja, Ais. Apapun keputusanmu, aku akan ikuti,” ujar Hanafi.


Ais mengangguk dengan pelan. “Kalau terserah Ais, berarti kita masih nginep dong.”


Bagi Hanafi kebahagiaan Ais adalah prioritas utamanya. Sebisa mungkin Hanafi harus bisa membalut luka Ais sesuai dengan keinginan Adam.


Karena malam ini masih menginap di rumah kakaknya, Ais pun langsung membersihkan meja makan, karena mereka telah selesai menyantap makan malamnya. Ais juga juga sudah tidak sabar untuk mengambil hadiah yang telah disiapkan oleh kakaknya.

__ADS_1


“Kira-kira apa ya hadiah yang Adam siapkan sama Mas Adam? Tumben banget dia mau kasih hadiah,” gumam Ais setelah selesai membersihkan perkakas yang kotor.


Di ruang tengah, dua orang pria duduk disebuah sofa sambil menonton acara televisi. Hanafi masih terdiam saat Adam baru saja mengatakan jika dalam waktu dekat dia akan dipindahkan ke luar kota fan tidak mengajar lagi di kampus Ais.


Memang keputusan yang sangat berat, tetapi mau bagaimana lagi Adam tidak mempunyai kuasa untuk menolak karena dia masih sangat membutuhkan pekerjaan.


“Untuk kedepannya kamu harus bisa menjaga Ais dengan baik. Jika kamu memang tidak sanggup, tolong kamu lepaskan dari sekarang agar aku tak menyerahkan Ais pada orang yang salah. Aku tidak mau mendengar pengaduan dari Ais jika kamu menyakitinya,” ucap Adam dengan serius.


“Mas Adam ... kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Ais dengan baik. Kali ini aku akan menjaganya bukan sebagai seorang adik, tetapi sebagai seorang istri. Meskipun pernikahan kami hanya karena sebuah kesalahpahaman, tetapi aku akan berusaha untuk mencintainya. Aku juga berjanji akan membahagiakan dia. Aku akan membalut lukanya,” terang Hanafi dengan kesungguhan.


Adam bernapas lega. Sebenarnya dia yakin jika Hanafi bisa bertanggung jawab dan bisa menjaga adiknya dengan baik, karena Adam telah lama mengenal Hanafi sejak lama. Namun, dia juga butuh pengakuan dari bibir Hanafi sendiri jika dia benar-benar bisa menjaga Ais dengan baik.


“Hanaf, terima kasih. Sebenarnya aku tidak rela jika Ais menikah kembali sebelum dia lulus, karena aku takut apa yang dia alami akan terulang kembali. Tolong, jika kelak Ais belum bisa memberikan momongan, jangan berikan dua pilihan yang memberatkan. Aku percaya jika Ais itu buka wanita mandul. Dia bisa memberikan kamu anak, tapi tolong beri dia sedikit waktu, karena saat ini dia masih kuliah,” lanjut Adam lagi.


“Mas Adam tenang aja, aku tidak akan menuntut apapun dari Ais, karena aku sendiri memiliki banyak kekurangan.”


“Cih ... mas Adam! Geli tahu! Panggil aja seperti biasanya, meskipun pada kenyataannya sekarang aku adalah kakak iparmu! Satu lagi, bersikaplah seperti biasanya juga, karena aku perhatikan sejenak tadi kamu seperti orang canggung. Aku tidak mau karena kamu menikahi Ais lalu kamu menjaga jarak dariku. Selamanya kamu adalah teman untukku!”


“Ais, ada apa?” tanya Hanafi dan juga Adam secara bersamaan ketika mereka berdua telah sampai di kamar Ais.


Dengan cepat Ais menyembunyikan sesuatu ke belakang badannya. Dadanya naik turun saat melihat dua pria yang berada diujung pintu.


Adam yang menyadari apa yang telah terjadi memilih untuk berlari untuk meninggalkan kamar Ais.


“Mas Adam ..... ” teriak Ais dengan kuat saat melihat Adam yang berlari meninggalkan kamarnya.


“Ais, kamu kenapa? Ada apa?” tanya Hanafi yang merasa heran dengan Ais.


“Mas Hanaf mau tahu ada apa denganku? Lihatlah apa yang diberikan Mas Adam untukku!” Ais langsung menujukan sesuatu yang disembunyikan dibelakang punggungnya.

__ADS_1


Dengan bola mata yang membulat lebar, Hanafi mengambil sesuatu itu dari tangan Ais. “Ini apa, Ais? Jaring-jaring untuk menangkap ikan?” tanya Hanafi dengan heran.


“Mas Hanaf enggak usah ngelawak! Ini gak lucu, Mas! Sini!” Ais segera merampas jaring-jaring itu dari tangan Hanafi dan segera memasukkan lagi ke dalam sebuah kotak. Entah apa tujuannya sang kakak memberikan jaring-jaring ikan untuknya.


“Apakah ini adalah hadiah yang dikatakan oleh Adam tadi? Ini untuk apa Ais? Untuk kamu pakai? Apakah Adam sudah gila menyuruh kamu untuk memakai pakaian seperti ini?”


Ais hanya bisa menghela napas panjangnya. Entah bener-bener tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu agar dirinya tidak membuatnya tambah merasa malu.


“Apakah Mas Hanaf benar-benar enggak tau apa tujuan mas Adam memberikan jaring-jaring untukku?”


Hanafi hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, karena sebelumnya dia belum pernah melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian jaring-jaring seperti itu.


“Apakah Mas Hanaf juga tidak tahu apa nama kain jaring-jaring itu?”


Lagi-lagi Hanafi hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, karena memang dia tidak tahu apa namanya.


“Ya ampun Mas Hanaf! Selama ini Mas Hanaf tinggal di mana sehingga tidak dengan pakaian haram ini, Mas? Ini adalah lingerie, pakaian untuk wanita penggoda,” ucap Ais dengan helaan napas panjangnya.


“Astaghfirullahaladzim, Ais! Apa kamu bilang? Pakaian untuk wanita penggoda? Mengapa Adam begitu tega menyuruhmu untuk menjadi wanita penggoda. Padahal beberapa menit yang lalu Adam memintaku untuk menjagamu. Lalu mengapa dia malah menyuruhmu untuk menjadi wanita penggoda?”


Rasanya ingin menangis ketika sang suami sama sekali tidak tahu sama sekali tentang apa itu lingerie. Namun, Ais mencoba untuk bersabar saat mengingat jika pria yang ada didepannya saat ini bukanlah pria yang memiliki wawasan luas tentang pakaian haram yang saat ini sudah dia simpan kembali.


“Mas Hanaf mau tau mengapa mas Adam memberikan pakaian jaring-jaring ini untukku? Ya udah jelas untuk menggoda mas Hanaf. Mas Hanaf mau melihatku untuk memakai pakaian jaring-jaring itu?”


“Astaghfirullahaladzim, Ais. Gak boleh! Kamu enggak boleh pakai pakaian ini. Dosa Ais!”


“Kan aku cuma pakai di depan mas Hanaf aja. Apanya yang dosa? Kan kita udah sah.”


“Pokoknya kalau aku bilang enggak ya enggak! Buang jauh-jauh jaring-jaring itu!”

__ADS_1


...###...


__ADS_2